
Elsubha.com – Keutamaan Berdzikir secara Umum.
Terkait dengan keutamaan berdzikir, sebagaimana yang telah tercantum dalam ayat-ayat Al Qur’an, atsar, hadits dan juga akhbar dari Nabi Muhammad Saw, yaitu:
Dalil Keutamaan Dzikir dari Al Qur’an:
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَا ذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَا شْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
fazkuruuniii azkurkum wasykuruu lii wa laa takfuruun
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 152)
Dalam Tafsir Al Khazin dijelaskan, “Berdzikir itu dilakukan dengan tiga hal:
1). Dengan lisan; yaitu ia membaca tasbih, tahmid, takbir dan untaian pengagungan terhadap Allah dan beragam dzikir lainnya.
2). Dengan kalbu; yaitu dengan berpikir pada keagungan Allah Swt dan ragam dalil yang menunjukkan keesaan Allah Swt.
3). Berdzikir dapat juga dilakukan dengan tubuh, yaitu tenggelam dalam ragam perintah Allah, seperti shalat dan ragam ketaatan lain yang dilakukan oleh tubuh.
Sedangkan dalam Ihya Ulumuddin dijelaskan sebagai berikut:
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَا ذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَا شْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
fazkuruuniii azkurkum wasykuruu lii wa laa takfuruun
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 152); niscaya Aku ingat (pula) kepadamu,” maksudnya adalah hadirkanlah keperkasaan dan keagungan-Ku dalam kalbu kalian, niscaya Aku ingat kalian dengan sisi kelembutan dan ihsan-Ku.
Tsabit Al Bunani pernah mengatakan, “Sungguh aku tahu kapan Rabbku Azza wa jalla ingat padaku,” para sahabatnya pun terkejut mendengar itu dan berkata, “Bagaimana engkau bisa tahu itu?” Beliau menjawab, “Yaitu ketika aku berdzikir mengingat-Nya.”
Syaikh Murtadha Az-Zabidi ketika mensyarah kitab Ihya Ulumuddin, beliau mengatakan: “Atsar ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilyah, beliau mengatakan:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَحْمَدَ بْنِ الْحُسَيْنِ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَحْمَدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: حَدَّثَنَا بَكِيْرُ بْنِ مُحَمَّدٌ، قَالَ: جَعْفَرُ، قَالَ: حَدَّثَنَا ثَابْتُ الْبُنَانِي، عَنْ رَجُلٍ مِنَ الْعِبَادِ، قَالَ : قَالَ يَوْمًا لإِخْوَانِهِ: إِنِّي لَأَعْلَمُ حِيْنَ يَذْكُرُنِي رَبِّي، قَالَ: فَفَزِعُوْا مِنْ ذلِكَ، فَقَالُوا: تَعْلَمُ حِيْنَ يَذْكُرُكَ رَبُّكَ؟ قَالَ : نَعَمْ، قَالُوا : وَمَتَى؟ قَالَ: إِذَا ذَكَرْتُهُ ذَكَرَنِي، قَالَ: وَإِنِّي لَأَعْلَمُ حِيْنَ يَسْتَجِيْبُ لِي رَبِّي، قَالَ: فَعَجِبُوْا مِنْ قَوْلِهِ، قَالُوا: تَعْلَمُ حِيْنَ يَسْتَجِيبُ لَكَ رَبُّكَ عَزَّ وَجَلَّ، قَالَ: نَعَمْ، قَالُوا: وَكَيْفَ تَعْلَمُ ذَلِكَ؟ قَالَ: إِذَا وَجِلَ قَلْبِي وَاقْشَعِرَ جِلْدِي وَفَاضَتْ عَيْنَايَ وَفَتَحَ لِي فِي الدُّعَاءِ فَثُمَّ أَعْلَمُ أَنْ قَدِ اسْتُجِيْبَ لِي، قَالَ : فَسَكَتُوْا
‘Abdullah bin Muhammad menceritakan kepada kami, Ahmad bin Al Husain menceritakan kepada kami, Ahmad bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Bakar bin Muhammad menceritakan padaku, Ja’far berkata padaku, Tsabit Al Bunani menceritakan padaku dari seorang lelaki dari kalangan hamba Allah, dimana pada suatu hari ia pernah berkata kepada saudara-saudaranya, “Sungguh aku tahu bagaimana Rabbku mengingatku?” ia berkata, “Para saudaranya pun terkejut mendengar itu,” Mereka berkata, “Berarti engkau tahu kapan Rabbmu mengingatmu?” ia berkata, “Iya,” Mereka menimpali “Kapan?,” ia menegaskan, “Ketika aku mengingat-Nya, Diapun mengingatku,”
la melanjutkan, “Akupun tahu kapan Rabbku memberikan ijabahnya padaku, “Mereka merasa heran dengan ucapannya seraya berkata, “Berarti engkau tahu kapan Rabbmu memberikan ijabah padamu?” ia mengatakan, “Iya,” Mereka menimpali, “Lantas bagaimana engkau tahu itu?” ia menjawab, “Jika kalbuku merasa malu, kulitku bergetar, mataku berlinang air mata dan dibukakan bagiku pintu do’a. Kemudian disinilah aku tahu bahwa Allah telah mengabulkan permintaanku,” merekapun akhirnya diam.
Syaikh Al Mukhtar Al Kunti dalam kitab beliau Al Jur’ah Ash-Shafiyah wal Nafhah Al Kafiyah, tentang firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
فَا ذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَا شْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
fazkuruuniii azkurkum wasykuruu lii wa laa takfuruun
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 152)
Beliau menuliskan bahwa ayat ini memiliki 20 makna; yaitu
1. Berdzikir, ingatlah Aku dengan ikhlas, niscaya Aku ingat kalian dengan cara Aku berikan kekhususan kepada kalian.
2. Ingatlah Aku dengan hadirnya kalbu, niscaya Aku ingat kalian dengan mempermudah ragam urusan kalian;
3. Ingatlah Aku dengan niat, niscaya Aku ingat kalian dengan cara Aku berikan pemberian yang banyak;
4. Ingatlah Aku dengan kejernihan hatimu, niscaya Aku ingat kalian dengan memberikan pengampunan bagi kalian;
5. Ingatlah aku dengan kalbu kalian, niscaya Aku ingat kalian dengan memberikan ampunan atas dosa kalian;
6. Ingatlah aku dengan dhamir kalian, niscaya Aku ingat kalian dengan mengangkat kesulitan bagi kalian;
7. Ingatlah Aku dengan kalian mengangkat suara, niscaya Aku ingat kalian dengan mempermudah makanan sehari-hari bagi kalian;
8. Ingatlah Aku dalam khalwat kalian, niscaya Aku ingat kalian dengan memberi rahmat dan keberkahan shalawat;
9. Ingatlah Aku tanpa kalian lupa, niscaya Aku akan ingat kalian dengan ampunan kemaksiatan bagi kalian;
10. Ingatlah Aku pada waktu pagi dan sore, niscaya Aku akan ingat kalian dengan memberikan kelembutan dan kemenangan;
11. Ingatlah Aku dikala kalian sujud, niscaya Aku ingat kalian dengan memberikan nikmat dan sisi kedermawanan;
12. Ingatlah Aku dengan kecintaan kalian, niscaya Aku ingat kalian dengan memberikan ampunan bagi kalian;
13. Ingatkan Aku dengan kalian melaksanakan ragam shalat fardhu, niscaya Aku ingat kalian dengan memberikan nikmat yang nyata bagi kalian;
14. Ingatlah Aku pada waktu sahur, niscaya Aku ingat kalian dengan menanam pepohonan untuk kalian;
15. Ingatlah Aku dengan cara kalian beristighfar, niscaya Aku akan ingat kalian dengan memberi kemampuan bangun pagi;
16. Ingatlah Aku pada waktu yang sempit, niscaya Aku ingat kalian dengan mengenakan kalian ragam perhiasan;
17. Ingatlah Aku dengan bersabar terhadap cobaan yang menimpa kalian, niscaya Aku ingat kalian dengan memberikan kalian derajat yang tinggi;
18. Ingatlah Aku dengan kerinduan dan kecintaan kalian pada-Ku, niscaya Aku ingat kalian dengan memberikan kemampuan merasa dan kedekatan dengan-Ku;
19. Ingatlah Aku dengan sanubari kalian, niscaya Aku ingat kalian dengan tersingkapnya hijab,
20. Ingatlah Aku dengan berkelanjutan, niscaya Aku ingat kalian dengan memberikan kalian keutamaan-Ku.
Yang menakjubkan bukan pada penggalan ayat, فَا ذْكُرُوْنِيْۤ, “Ingatlah kamu kepada-Ku,” akan tetapi yang menakjubkan adalah pada penggalan ayat, اَذْكُرْكُمْ “Niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.”
Yang menakjubkan bukan pada penggalan ayat, وَيُحِبُّونَهُ “Mereka mencintai-Nya” akan tetapi yang menakjubkan adalah pada penggalan ayat, يُحِبُّهُمْ “Dia mencintai mereka.”
Yang menakjubkan bukanlah orang miskin yang mencintai orang yang baik, akan tetapi yang menakjubkan adalah orang baik lagi kaya yang cinta pada orang-orang yang miskin.
Suatu ketika malaikat Jibril As datang kepada Rasulullah Saw seraya berkata, “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman padamu, ‘Aku telah berikan pada umatmu apa yang belum Aku berikan pada umat lainnya’, Rasulullah Saw menyela, ‘Apakah itu?’, Jibril menjawab, ‘yaitu firman Allah Swt,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَا ذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَا شْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
fazkuruuniii azkurkum wasykuruu lii wa laa takfuruun
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 152)
Telah banyak pemberian Allah Swt bagi orang yang mendapatkan manfaat ini. Dimana Allah telah menciptakan para malaikat dan gugusan galaksi; cahaya dan sinar; alam tinggi dan alam rendah; Arasy dan kursi, hewan ternak dan serangga; hewan buas dan hewan jinak, namun Allah Swt tidak memfirmankan pada mereka, فَا ذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ “Ingatlah pada-Ku niscaya Akupun ingat pada kalian” meski mereka semua sibuk bertasbih memuji-Nya selama-lamanya. Jika demikian kondisinya, maka sepatutnya kita bersyukur pada Allah Swt karena lebih mendahulukan manusia daripada makhluk Allah yang lainnya.-
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا
yaaa ayyuhallaziina aamanuzkurulloha zikrong kasiiroo
“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya,”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 41)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَيْسَ عَلَيْکُمْ جُنَا حٌ اَنْ تَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّکُمْ ۗ فَاِ ذَاۤ اَفَضْتُمْ مِّنْ عَرَفٰتٍ فَا ذْکُرُوا اللّٰهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَـرَا مِ ۖ وَا ذْکُرُوْهُ کَمَا هَدٰٮکُمْ ۚ وَاِ نْ کُنْتُمْ مِّنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الضَّآ لِّيْنَ
laisa ‘alaikum junaahun ang tabtaghuu fadhlam mir robbikum, fa izaaa afadhtum min ‘arofaating fazkurulloha ‘ingdal-masy’aril-haroomi wazkuruuhu kamaa hadaakum, wa ing kungtum ming qoblihii laminadh-dhooolliin
“Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu. Maka apabila kamu bertolak dari ‘Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram. Dan berzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu, sekalipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang yang tidak tahu.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 198)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ
allaziina yazkuruunalloha qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuubihim wa yatafakkaruuna fii kholqis-samaawaati wal-ardh, robbanaa maa kholaqta haazaa baathilaa, sub-haanaka fa qinaa ‘azaaban-naar
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 191)
Ibnu Abbas mengatakan, “Maksud ayat diatas adalah mereka berdzikir mengingat Allah pada waktu malam dan siang, di darat maupun di lautan, dalam perjalanan atau sedang bermukim, dalam kondisi sedang kaya ataupun sedang miskin; dalam kondisi sakit maupun kondisi sehat; dengan suara lirih ataupun dengan suara yang lantang.”
Allah Swt berfirman ketika mencela orang-orang yang munafik;
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَا دِعُهُمْ ۚ وَاِ ذَا قَا مُوْۤا اِلَى الصَّلٰوةِ قَا مُوْا كُسَا لٰى ۙ يُرَآءُوْنَ النَّا سَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًا
innal-munaafiqiina yukhoodi’uunalloha wa huwa khoodi’uhum, wa izaa qoomuuu ilash-sholaati qoomuu kusaalaa yurooo-uunan-naasa wa laa yazkuruunalloha illaa qoliilaa
“Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 142)
Masih banyak ayat yang menjelaskan perkara berdzikir, namun aku kira paparan ayat-ayat diatas sudah cukup.
