
Elsubha.com – Keutamaan Shalawat kepada Nabi Saw secara Umum : Ulasan Pelengkap
(Sebagian karomah shalawat, ragam kebaikan, mampu menghilangkan kesusahan, nampak ragam keberkahan dengan sebab shalawat kepada Nabi Muhammad Saw -Semoga Allah Swt senantiasa berkenan bershalawat kepada beliau dan juga kepada keluarga beliau pada setiap waktu dengan jumlah hembusan nafas dan detikan waktu.-)
Sebagian sufi mengatakan: “Aku punya tetangga yang menzhalimi dirinya, dalam mimpi aku melihatnya berada di Darussalam, aku katakan padanya, ‘Dengan apa engkau bisa mendapat tempat itu?” la menjawab, “Aku menghadiri majelis dzikir, kala itu aku mendengar sang muhaddits menyampaikan hadits dari Rasulullah Saw, yaitu “Barangsiapa yang bershalawat padanya (pada Nabi Saw) dengan mengeraskan suaranya, maka ia wajib mendapatkan balasan surga,” kemudian sang muhaddits pun mengeraskan suaranya ketika bershalawat dan akupun ikut mengeraskan suara begitu juga semua orang yang hadir, maka dosa-dosa kamipun diampuni pada hari itu.”
Diriwayatkan bahwa ada seorang wanita yang melihat anaknya setelah sang anak meninggal dunia, dimana sang anak ketika itu sedang diadzab, sang ibu pun bersedih melihat kondisi itu dan menangis, kemudian setelah sekian lama, sang wanita kembali bermimpi melihat anaknya dalam nuansa terselimuti cahaya dan rahmat Allah, maka sang wanita tadi pun bertanya tentang perkara itu. Periwayat berkata: “Suatu ketika ada seseorang yang lewat kuburan dan ia bershalawat pada Nabi Saw, dimana ia menghadiahkan shalawat tersebut bagi orang-orang yang sudah meninggal dunia, maka akupun mendapatkan bagianku dari ampunan tersebut, sehingga Allah mengampuniku.”
Sufyan Ats-Tsauri pernah mengatakan: “Ketika aku thawaf, aku melihat seorang lelaki yang tidak mengangkat kaki dan tidak pula menaruh kakinya kecuali ia bershalawat pada Nabi Saw. Aku katakan padanya, ‘Wahai orang ini, sungguh engkau ini telah meninggalkan bacaan tasbih dan tahlil dan malah bershalawat pada Nabi Saw, adakah alasanmu untuk ini?” Lelaki tadi menimpali, “Siapa engkau ini? -Semoga Allah senantiasa memberimu afiyah.” Aku berkata, “Aku adalah Sufyan Ats-Tsauri,” Lelaki itu melanjutkan, “Jika bukan karena engkau adalah orang asing pada zamanmu ini, aku tidak akan beritahukan engkau terkait dengan kondisiku dan tidak perlihatkan jati diriku,” lelaki itu melanjutkan, “Pada suatu waktu aku bersama ayahku pergi haji, ketika berada di sana, tepatnya sedang bermalam di beberapa rumah, tiba-tiba ayahku sakit dan aku berupaya mengobatinya, dimana ketika ayahku meninggal dunia kala itu aku sedang memangku kepalanya dan wajahnya menghitam; akupun berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’an, ayahku meninggal dunia dan wajahnya menghitam, sehingga wajahnyapun kututup dengan kain, kemudian tiba-tiba akupun mengantuk dan tertidur. Dalam tidurku, aku bersama seseorang yang tidak pernah kulihat orang yang lebih ganteng darinya, berpakaian paling bersih, berparfum paling wangi, ia mengangkat dan menaruh kaki hingga dekat dengan ayahku, ia membuka kain penutup wajah dan mengusapkan tangannya ke wajah ayahku dan wajah ayahku memutih kembali, kemudian sosoknya pun pergi, sebelum ia pergi, aku pegang bajunya seraya berkata kepadanya, ‘Siapa engkau? Semoga Allah senantiasa merahmatimu- Allah memuliakan ayahku dengan keberadaanmu di alam qurbah ini.” Sosok tersebut berkata, “Tidakkah engkau mengenalku, Aku adalah Muhammad bin ‘Abdillah. Memang ayahmu adalah orang yang berbuat zhalim, akan tetapi dia banyak bershalawat kepadaku. Ketika kondisi ayahmu sekarang, ia ber-istighatsah dengan perantara aku, dimana aku adalah penolong orang yang banyak bershalawat kepadaku, maka aku usap wajahnya dan wajahnya pun kembali memutih.”
يَا مَنْ يُجِيبُ دُعَا الْمُضْطَرِّ فِي الظُّلَمِ # يَا كَاشِفَ الضُّرِّ وَالْبَلْوَى مَعَ السَّقَمِ
شَفِّعْ نَبِيَّكَ فِي ذُلّى وَمَسْكَنَتِي # وَاسْتُرْ فَإِنَّكَ ذُوْ فَضْلٍ وَذُو كَرَم
وَاغْفِرْ ذُنُوبِي وَسَامِحْنَى بِمَا كَرَمَا # تَفَضُّلًا مِنْكَ يَا ذَا الْفَضْلِ وَالنِّعَمِ
إِنْ لَمْ تُغِثْنِي بِعَفْرٍ مِنْكَ يَا أَمَلِي # وَأَخْجَلْتَنِي وَأَحْيَائِي مِنْكَ وَاَنْدَمِي
وَقَدْ وَعَدَنَا بِأَنْ نَدْعُوْا تُحِبْ لَنَا # وَقَدْ دَعَوْنَا فَجُدْ بِالْعَفْوِ وَالْكَرَمِ
“Wahai sosok yang menjawab do’a orang yang terdesak dalam kegelapan # wahai Dzat penyeka kemudharatan, cobaan dan juga penyakit
Jadikanlah nabi-Mu sebagai pemberi syafa’at dalam hina dan keterhinaan diriku, #maka tutuplah aibku, sebab Engkaulah pemilik keutamaan dan kemurahan
Ampunilah dosa-dosaku, maafkanlah aku yang dengannya aku memperoleh kemuliaan # sebagai bentuk pemuliaan dari-Mu wahai Dzat pemilik keutamaan dan ragam nikmat
Andai Engkau belum menolong aku dengan maaf darimu wahai cita-citaku #maka Engkau telah membuatku malu darimu dan juga membuatku menyesal
Sementara Engkau telah berjanji pada kami, agar kami berdo’a dan Engkau kabulkan untuk kami # kami telah berdo’a pada-Mu, maka berikanlah ampunan dan kemuliaan-Mu.”
Syaikh Ahmad Ibnu Hajar Al Haitami menjelaskan dalam kitab Al Adzkâr. Ada seorang wanita datang kepada Imam Hasan Al Bashri Ra, sang wanita berkata padanya, “Dalam mimpi aku melihat ibuku, ia mengenakan pakaian dari ter, lehernya dibelenggu dan kakinya diikat,” mendengar ini membuat Hasan Al Bashri pingsan sejenak dan bermimpi melihat ibu wanita tadi dalam kondisi baik; ia di surga diatas kasur, diatas kepalanya ada mahkota. Hasan Al Bashri berkata padanya, “Apa penyebab perkaramu ini?” Ibu sang wanita tadi berkata, “Ada seseorang yang berjalan melewati kuburan kami, ia bershalawat pada Nabi Saw, dimana di kuburan tersebut ada 560 orang yang sedang diazab, kemudian ada suara menyeru, “Angkatlah adzab dengan keberkahan shalawatnya seseorang pada sosok yang Ku cinta Muhammad Saw.”
Abu Hamid Al Qawaini dalam Mufid al ‘Ulûm wa Mubid al Humûm menyebutkan: Bahwa ada seorang lelaki bepergian dan ayahnya meninggal dunia dalam perjalanan, dimana kepalanya berubah menjadi kepala babi, maka sang anak pun menangis, kemudian ia berdo’a dengan merendahkan diri kepada Allah Swt, maka ada yang berkata padanya dalam mimpi, “Ayahmu itu dulu memakan hasil riba dan Kami telah jadikan Muhammad Saw pemberi syafa’at padanya, karena tidaklah ayahmu mendengar namanya (Muhammad Saw) kecuali ia pasti bershalawat pada beliau, maka Kami pun kembalikan wajah ayahmu seperti wujud yang pertama.”
At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al Hakim meriwayatkan dari Utsman bin Hunaif Ra, ia berkata:
أَنَّ رَجُلاً ضَرِيرَ الْبَصَرِ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ : ادْعُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَنِي، قَالَ : إِنْ شِئْتَ دَعَوْتُ لَكَ، وَإِنْ شِئْتَ أَخَّرْتُ ذَاكَ، فَهُوَ خَيْرٌ. فَقَالَ: ادْعُهُ، فَأَمَرَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ ، فَيُحْسِنَ وُضُوءَهُ، وَيُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ، وَيَدْعُوَ بِهَذَا الدُّعَاءِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ، وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، يَا مُحَمَّدُ ، إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ، فَتَقْضِي لِي اللَّهُمَّ شَفَعْهُ فِي.
Ada seorang lelaki buta datang kepada Nabi Saw seraya berkata, “Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah agar Dia menyembuhkanku,” Nabi Saw bersabda, “Jika engkau mau, aku bisa menundanya untukmu (di akhirat) dan itu baik bagimu dan jika engkau mau, akupun bisa mendo’akanmu,” Lelaki tadi menjawab, “Doakan saja,” maka Nabi Saw pun memerintahkannya untuk berwudhu dan shalat dua raka’at serta berdo’a dengan do’a ini: Ya Allah, sungguh aku memohon pada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan nabi-Mu Muhammad; sang nabi rahmat; wahai Muhammad, sungguh aku menghadap kepada Rabbku denganmu pada suatu hajat agar dikabulkan. Ya Allah, jadikanlah syafa’atnya untukku.”
Umar Ra berkata: “Demi Allah, kami pun tidak berpisah hingga kondisi lelaki tadi tidak buta lagi.”
Disebutkan dalam sebuah khabar terkait do’a ketika melihat mayit, “Ya Allah, sungguh aku memohon pada-Mu dengan hak Nabi Muhammad Saw dan keluarga Muhammad, agar Engkau tidak mengadzab mayit ini, kecuali dengan itu Allah angkat adzab tersebut hingga hari ditiupkannya sangkakala, hal ini dengan keberkahan penghulu kami Muhammad Saw.” Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Al Adzkâr, dalam Lawâqih al Anwar bab Al Ad’iyyah; Al Adzkâr karya Syihabuddin Ahmad Al Qasthallâni.
Dikisahkan dari Sufyan Ats-Tsauri, ia pernah berkata: “Aku pernah melihat lelaki yang sedang menunaikan ibadah haji yang banyak bershalawat pada Nabi Saw, aku berkata padanya, “Ini adalah tempatnya pujian pada Allah Azza wa Jalla,” Lelaki tadi berkata, “Tidak maukah engkau kuberitahukan kondisiku di negaraku: Aku punya adik telah meninggal dunia, aku melihatnya ternyata wajahnya menghitam, aku berfikir bahwa itu dikarenakan rumah dalam kondisi gelap, akupun sedih melihat kondisi adikku tersebut. Ketika kondisiku demikian, tiba-tiba datang seorang lelaki yang masuk ke dalam rumah dan mendatangi adikku. Wajah lelaki tersebut seperti cahaya rembulan, ia pun kemudian mengusap wajah adikku dan warna hitam diwajahnya hilang, sehingga wajahnya menjadi seperti rembulan. Ketika aku melihat itu, akupun senang dan berkata pada lelaki tersebut, Siapa engkau?’ -semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas apa yang telah engkau lakukan,”- Lelaki tadi menjawab, “Aku adalah malaikat bagi orang yang bershalawat kepada Nabi Saw.
Aku berbuat demikian karena adikmu ini termasuk orang yang banyak bershalawat pada Nabi Saw, namun ada ujian yang menimpanya yang membuat wajahnya menghitam, kemudian Allah Swt menyingkap itu dengan keberkahan shalawatnya pada Nabi Saw.
Dikisahkan pula ada seorang lelaki dari Bani Isra’il pada zaman Nabi Musa As, dia kerap melakukan kejahatan dan tidak pernah berbuat kebaikan, sosoknya terkenal sebagai sosok yang sering melakukan pelanggaran, orang-orang pun mencemoohnya lantaran buruknya perbuatan yang ia lakukan. Dalam mimpi aku melihatnya setelah ia meninggal dunia dalam kondisi yang baik, kondisi sempuma dan dengan gambaran yang baik dan enak dilihat. Dikatakan kepadanya, “Darimana engkau dapatkan ini semua; Hiasan, kebaikan dan hal yang bagus ini, sementara engkau kemarin buruk dengan ragam perbuatan buruk, miskin dari amal shaleh,” lelaki tersebut berkata, “Sebab, pada suatu hari aku pernah membuka Taurat dan aku temukan didalamnya tertulis hal mengenai sifat Muhammad bin ‘Abdillah, akupun tulis nama beliau dan kuletakkan di atas kepalaku, dengan demikian Allah memperlakukanku dengan memuliakanku, mengampuniku dan merahmatiku dengan kecintaan-Nya sebagai bentuk pemuliaan dan pengagungan untuk Nabi Muhammad Saw; sosok yang Dia cintai serta hamba-Nya.”
Maka ingatlah bagaimana bentuk pemuliaan Allah Swt terhadap derajat nabi yang agung ini dan apa yang sudah Allah Swt janjikan bagi orang yang mencintai dan menghormati beliau dengan ragam kebaikan yang banyak. -Semoga Allah melipatgandakan kecintaan kita kepada beliau dengan keutamaan yang Allah Swt berikan pada kita, dan semoga Allah mengucurkan ragam keberkahan dan pemberian-Nya pada kita.-
رُوِيَ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يَجِيْنُ أَصْحَابُ الْحَدِيْثِ وَمَعَهُمُ الْمَحَابِيْرَ، فَيَقُوْلُ اللَّهُ لَهُمْ: أَنْتُمْ أَصْحَابُ الْحَدِيْثِ طَالَ مَا كُنْتُمْ تَكْتُبُونَ الصَّلَاةَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْطَلِقُوْا إِلَى الْجَنَّةِ.
Diriwayatkan bahwa jika hari Kiamat nanti datang, maka ahli hadits akan datang, mereka bersama peralatan tulis mereka, Allah Swt berfirman pada mereka, “Kalian ahli hadits; karena lamanya kalian menulis shalawat pada Nabi Saw (dalam kitab-kitab kalian), pergilah kalian ke surga. (HR. Ath-Thabrani).
Diriwayatkan dari Syaikh ‘Ali bin ‘Abdil Karim Ad-Dimasyqi, ia pernah berkata: “Aku pernah bermimpi melihat Muhammad Imam Zakiyyuddin setelah ia meninggal dunia, yaitu sesampainya Malikush-Shalih dan kota dihias sedemikian rupa. Muhammad Imam Zakiyyuddin berkata, “Kalian senang dengan sultan yang datang?” Aku berkata, “Iya, orang-oang senang dengan itu,” Muhammad Imam Zakiyyuddin menimpali, “Sedangkan kamipun dimasukkan ke dalam surga dan kamipun telah mencium tangannya; maksudnya tangan Nabi Saw seraya berkata, “Beritakanlah kabar gembira pada setiap orang yang menulis dengan tangannya. Rasulullah Saw bersabda, “la bersamaku di Surga.”
Imam Ahmad dan At-Tirmidzi meriwayatkan hadits seraya mengatakan, “Hadits hasan shahih.” Al Hakim mengatakan, “Shahih.”:
عَنْ كَعَبْ بْنِ عُجْرَةَ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَكْثَرُ الصَّلَاةِ عَلَيْكَ، فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي؟ فَقَالَ: مَا شِئْتَ قَالَ : قُلْتُ : الرُّبْعُ، قَالَ: مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ، قُلْتُ : النِّصْفُ، قَالَ: مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ، قُلْتُ: أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا، قَالَ: إِذَا تُكْفَى هَمكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ.
Diriwayatkan dari Ka’ab bin ‘Ujrah, ia berkata: “Aku berkata kepada Rasulullah, wahai Rasulullah Saw, aku banyak bershalawat untukmu, lantas berapa jumlah yang harus aku baca?” Rasulullah Saw bersabda, “Terserah engkau,” aku menimpali, “Seperempat?” Rasulullah Saw bersabda, “Terserah engkau, andai engkau tambah itu lebih baik untukmu,” aku menimpali, “Setengah?” Rasulullah Saw bersabda, “Terserah engkau, andai engkau tambah itu lebih baik untukmu,” aku katakan, “Aku jadikan semua shalawatku untukmu.” Rasulullah Saw menjawab, “Dengan demikian, keinginanmu akan terpenuhi dan dosamu akan diampuni.”
Dalam riwayat lain disebutkan: “Dengan demikian niscaya Allah mencukupkan bagimu dari urusan dunia dan akhiratmu.”
Terkait dengan redaksi, “Lantas berapa jumlah yang harus aku baca?” Al Hafiz Al Mundziri menjelaskan, maksudnya adalah berapa banyak do’a yang perlu kupanjatkan dalam aku bershalawat padamu.
Syaikh Abul Mawahib Asy-Syadzili berkata: “Aku pernah melihat Nabi Saw kemudian aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa makna perkataan Ka’ab bin ‘Ujrah, ‘Lantas berapa jumlah yang harus aku baca?” beliau Saw bersabda, “Yaitu engkau bershalawat padaku dan menghadiahkan pahala itu untukku dan bukan untuk dirimu.”
