
Elsubha.com – Keutamaan Shalawat kepada Nabi Saw secara Umum : Lathifah
Diriwayatkan bahwa penyebab Imam Al Jazuli mengarang kitab Dalâ ‘il al Khairât adalah karena pada suatu hari dalam sebagian perjalanan beliau, ketika itu beliau mendapati waktu shalat, beliau menemukan perigi berisi air, namun tidak menemukan alat untuk mengambil air tersebut, beliau pun berputar-putar di sekeliling tempat air itu dan bertemu dengan seorang budak wanita kecil, sang gadis berkata pada beliau, “Engkau sedang apa?” beliau menjawab dengan memperkenalkan diri agar mendapat solusi dari kondisinya tersebut, “Aku adalah Al Jazuli dan aku tidak menemukan sebuah alat untuk mengambil air, sementara waktu untuk shalat sudah sempit.” Lalu sang budak itupun mendekati perigi dan meludah ke dalamnya hingga tiba-tiba air di perigi tersebut meluap ke atas dan sang budak tadi langsung pergi dengan cepat. Imam Al Jazuli pun berwudhu dan shalat. Kemudian Imam Jazuli pun pergi ke arah rumah sang budak tadi seraya berdo’a dan ber-tawassul dengan kemuliaan Nabi Saw, agar sang budak tadi mau keluar dari rumah dan bertemu dengannya, maka budak wanita tersebut pun keluar dari rumahnya dan menemui beliau, namun dalam batin Al Jazuli ia terus saja ber-tawassul, memohon syafa’at dari Nabi Saw, agar budak wanita tadi mengungkapkan rahasia perbuatannya (meludahi perigi dan airnya meninggi), maka budak wanita tadipun berkata, “Jika bukan lantaran engkau ber-tawassul memohon syafa’at pada Nabi Muhammad Saw, maka aku tidak akan memberitahumu; aku bisa melakukan itu lantaran aku banyak bershalawat pada Nabi Saw.” Setelah mendengar itu, Al Jazuli pun pulang dan bersegera mengarang kitab Dalâ’il al Khairât.
Al ‘Allamah Syaikh Ahmad bin Muhammad bin “lyad Asy-Syafi’i dalam Al Mafakhir Al ‘Aliyyah fil Ma’atsir Asy-Syadziliyyah An Abil Hasan Asy-Syadzili, ia mengatakan: Dalam perjalananku di suatu malam, aku pernah bermalam di tempat yang banyak hewan buasnya, dimana hewan buas tersebut sedang mengincarku, akupun duduk di bawah sebuah bukit kecil seraya berkata, “Demi Allah, aku akan bershalawat pada Rasulullah Saw, sebab beliau Saw pernah bersabda, ‘Barangsiapa yang bershalawat padaku satu kali, maka Allah akan bershalawat padanya sepuluh kali dan aku dalam penjagaan Allah’, Akupun lakukan itu dan tidak takut pada apapun, hingga pada waktu menjelang pagi, akupun pergi ke sumber air untuk berwudhu dan shalat shubuh, dimana kala itu disana ada gerakan kencang dari seekor hewan, akupun terperanjat dan kembali ke tampat semula, dalam batinku aku bergumam, ‘Hai orang yang berdiam semalaman dan merasa aman dalam penjagan Allah hingga lolongan hewan buas pun tidak menakutinya, mengapa hari ini malah aku takut dari gerakan bulu burung puyuh’.”
Para ulama telah me-nash bahwa Nabi Saw adalah teman duduk bagi orang yang bershalawat padanya, penyambut orang yang sedang bepergian. Maka jika Nabi Saw yang menjadi teman duduk dan teman ngobrolnya, bagaimana bisa orang yang ada disekitar beliau adalah orang yang sengsara dengan hati yang sengsara?.
أَمَّا الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ فَسِيْرَةٌ # مَحْمُوْدَةٌ تُمْحَى بِهَا الْأَثَامْ
وَبِهَا يَنَالُ الْمَرْءُ عِزَّ شَفَاعَةٍ # يُسْدَى بِمَا الْأَعْزَازَ وَالْأَكْرَامَ
كُن لِلصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ مُلَازِمًا # فَبِصَلَاتِهِ لَكَ جَنَّةٌ وَسَلامُ
Shalawat pada Nabi merupakan laku # yang terpuji, dengannya dosa dihapus
Dengannya seseorang mendapat kemuliaan syafa’at # yang dengannya mampu menjadikan sosok yang mulia lagi dihormati
Jadilah engkau orang yang menjadikan shalawat sebagai kelazimanmu # sebab shalawatnya Allah untukmu surga dan keselamatan
Ada pula yang menggubah sya’ir berikut:
أَلَا أَيُّهَا الرَّاحِي الْمَثَوْبَةَ وَالْأَجْرَ # وَتَكْفِيْرَ ذَنْبٍ سَالِفٍ أَثْقَلَ الظَّهْرَا
عَلَيْكَ بِإِكْثَارِ الصَّلَاةِ مُوَاظِبًا # عَلَى أَحْمَدَ الْهَادِي شَفِيْعَ الْوَرَى طُرَّا
وَأَفْضَلَ خَلْقِ اللَّهِ مِنْ نَسْلِ أَدَمَ # وَأَزْكَاهُمْ فَرْعًا وَأَشْرَفَهُمْ فَخْرَا
فَقَدْ صَحَّ أَنَّ اللَّهَ جَلَّ جَلَالُهُ # يُصَلِّ عَلَى مَنْ قَالَهَا مَرَّةً عَشْرًا
فَصَلَاةُ اللَّهِ إِلَيْهِ مَاجَتِ الدُّنْيَا # وَأَطْلَعَتِ الْأَفْلَاكَ فِي أُفُقِهَا فَجْرَا
Wahai engkau sang pengharap pahala dan ganjaran # serta diampuni dosa lampau yang memberatkan punggung
Hendaknya engkau membiasakan diri memperbanyak shalawat # pada Ahmad sang pembawa hidayah, pemberi syafa’at semua manusia
Dialah paling utamanya makhluk Allah keturunan Adam # paling sucinya keturunan dan paling mulia nan menjadi kebanggaan
Telah benar adanya bahwa Allah Swt #bershalawat pada orang yang bershalawat pada beliau Saw sepuluh kebaikan
Shalawatnya Allah kepada beliau Saw menyibak kegelapan #nan menampakkan gugusan planet di rotasinya
Ada pula ulama yang menggubah sya’ir lainnya:
اَيَا مَنْ أَتَى ذَنْبًا وَفَارَقَ زَلَّةً # وَمَنْ يَرْتَجِي الْحُسْنَى مِنَ اللَّهِ الْقُرَبَا
تَعَاهَدْ صَلَاةَ اللَّهِ فِي كُلِّ سَاعَةٍ # عَلَى خَيْرِ مَبْعُوْثٍ وَأَكْرَمَ مَنْ نَبَا
فَتَكْفِيْكَ هَمَّا أَيَّ هَمْ تَخَافُهُ # وَتَكْفِيكَ ذَنْبًا حَيْثُ أَعْظَمَ بِهِ ذَنْبًا
وَمَنْ لَمْ يَكُنْ يَفْعَلُ فَإِنَّ دُعَاءَهُ # فَحِيْرَةٌ قَبْلَ أَيْ يَلْقَى إِلَى رَبِّهِ الْحُجُبَا
Wahai orang yang melakukan dosa dan sering jatuh dalam kesalahan # wahai orang yang mengharapkan kebaikan dari keburukannya
Biasakan (dirimu) melantunkan shalawat-Nya Allah pada setiap waktu # kepada utusan yang baik nan paling mulia diantara para nabi
Maka cukuplah dirimu dari kesedihan yang kau takutkan # cukup pulalah dari dosa dimana itu adalah dosa yang besar di hadapan Allah
Andai ia tidak melakukannya, maka do’anya # bingung sebelum itu bisa mengoyak tirai penghalang pada Rabb (Allah)
