You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Keutamaan Shalawat Fatih : Lathifah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Keutamaan Shalawat Fatih : Lathifah

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah ditanya tentang perkara ghaib, yaitu tentang malaikat; apakah malaikat adakalanya berhenti membaca shalawat tersebut, sehingga satu waktu mereka membacanya dan di waktu lain mereka membaca yang lainnya, bahkan meski itu sekejap saja sampai seterusnya? Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menjawab, “Kami tegaskanı, mereka tidak pernah berhenti membaca shalawat fatih sekejap matapun, dimana mereka pun tidak sibuk kecuali dengannya, sejak Allah ciptakan mereka hingga mereka kekal di surga; artinya sejak mereka ada hingga seterusnya.”

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pun pernah ditanya, apakah semua isim yang muncul dari setiap tajally-Nya Allah sejak awal penciptaan alam semesta, darinya tercipta malaikat sejumlah isim tersebut yang berkhidmah sesuai dengan banyaknya tajalli-Nya Allah ataukah yang lainnya? Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menjawab, “Benar, sebagaimana yang telah kami sebutkan bahwa semua isim yang muncul dari setiap tajally-Nya Allah sejak awal penciptaan alam semesta, darinya tercipta malaikat sejumlah isim tersebut yang berkhidmah sesuai dengan banyaknya tajalli-Nya Allah.

Dan tercipta pula shalawat dari setiap malaikat yang tercipta dari tajalli-Nya Allah Swt sejak penciptaan alam semesta hingga selamanya. Dan pahala semua shalawat sejak awal penciptaan awal semesta hingga selamanya berikut shalawat yang muncul dari shalawat malaikat-malaikat sebelumnya sejak awal penciptaan hingga selamanya, kesemua pahala dari shalawat tersebut di berikan kepada orang yang bershalawat 1 kali kepada Nabi Muhammad Saw.

Perkara inipun berlaku bagi setiap tajalliyat-Nya Allah, sisi tawalludat-nya malaikat dan sisi tarqiyyat hingga selamanya. Ini semua berlaku pada setiap shalawat yang dibaca oleh seseorang. Sebab Allah memberikan keutamaan pada orang yang bershalawat dengan shalawat ini, agar Allah menjadikan Nabi Saw sebagai teman ngobrolnya dan sebagai bentuk pengutamaan dari-Nya, sebab shalawat ini tercipta dari-Nya, sehingga Diapun mengutamakan orang yang bershalawat ini.

Dari tanya jawab diatas, maka aku simpulkan bahwa shalawat yang disebutkan dari perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra ini adalah shalawat yaqutatil faridah -semoga Allah tidak mengharamkan kita memperoleh ragam keutamaan yang telah disebutkan dengan kemuliaan sosok yang dikhususkan dengannya.-Aamin.

Sengaja aku sebutkan lathifah ini disini karena kulihat ada ragam kebaikan yang tidak bisa diukur kaifiyyah-nya. Semoga Allah tidak mengharamkan kebaikan tersebut bagi kita dan juga para pecinta Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.-

Sebagian orang yang sepakat dengan kami menyebutkan bahwa, seluruh malaikat yang jumlahnya sebanyak hitungan hari dalam 1 tahun, setiap lisan mereka berdzikir dengan dua dzikiran yang agung secara bersamaan pada satu waktu, dari setiap huruf dari huruf-huruf dzikiran itu Allah ciptakan darinya malaikat saat huruf-huruf itu keluar dari lisan malaikat, dimana jumlah malaikat sebanyak jumlah hari dalam 1 tahun. Seperti inilah yang terjadi dalam kaidah taulid (sesuatu melahirkan sesuatu). Kemudian ia berkata: Martabat inilah yang tidak bisa diraih kecuali oleh Sayyidi Syaikh Ra atau orang yang Allah khususkan dari kalangan orang yang dicintai-Nya. -Semoga Allah jadikan kita bagian dari orang yang mendapatkan kekhususan ini. Aamiin.-

Sayyidi Ali Harazim Ra berkata: “Aku pernah bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tentang pahala ibadah para malaikat itu untuk siapa; andai kita katakan bahwa pahala ibadah tersebut untuk mereka para malaikat, padahal sesungguhnya mereka tidak butuh balasan surga karena syahwat (keinginan untuk masuk surga) yang telah Allah persiapkan, bukan merupakan tabiat para malaikat. Andai kita katakan pula bahwa mereka diberikan pahala selain surga, Allah tentu bisa melakukan ini, akan tetapi belum ada khabar mengenai hal ini. Andai kita katakan bahwa tidak ada pahala bagi ibadah mereka, maka ini tidak cocok dengan kebiasaan seorang hamba dari tuannya, sebagaimana yang tertera dalam syari’at semua nabi terdahulu. Dan Rabb memiliki pilihan yang sempurna yang tidak perlu diperdebatkan lagi dan tidak perlu dipertanyakan lagi mengapa Dia melakukan hal tersebut.

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra memberikan

kepadaku jawaban sebagaimana berikut, yaitu: Pahala ibadah para malaikat itu untuk Nabi Saw. Sayyidi Umar Al Futi menyebutkan dalam Ar-Rimah dengan redaksi berikut:

“Faedah: Terkait dengan banyaknya malaikat, dimana mereka adalah tentara Allah Swt yang paling banyak. Dalam hadits Nabi Saw, bahwa beliau pernah bersabda,

أَطَتِ السَّمَاءُ وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَىِٔطَ، مَا فِيْهَا مَوْضِعُ قَدَمٍ إِلَّا وَفِيهَا مَلَكٌ سَاجِدًا وَ رَاكِعًا

“Sungguh langit berderit menanggung beban (berat) dan pantaslah sekiranya langit berderit, karena tidaklah ada satu jengkalpun (dilangit) melainkan pasti ada malaikat yang sedang sujud dan rukuk.”

Diriwayatkan bahwa jumlah seluruh anak cucu Adam itu sepersepuluh dari jumlah seluruh jin, dimana jumlah seluruh jin dan anak cucu Adam itu sepersepuluh dari jumlah seluruh hewan darat, jumlah mereka semua (seluruh jin, anak cucu Adam, hewan darat) itu sepersepuluh jumlah seluruh hewan laut, jumlah mereka semua (seluruh jin, anak cucu Adam, hewan darat, hewan laut) itu sepersepuluh jumlah seluruh malaikat yang diutus ke bumi, jumlah mereka semua (seluruh jin, anak cucu Adam, hewan darat, hewan laut, malaikat yang diutus ke bumi) itu sepersepuluh jumlah seluruh malaikat dunia, jumlah mereka semua (seluruh jin, anak cucu Adam, hewan darat, hewan laut, malaikat yang diutus ke bumi dan malaikat dunia) itu sepersepuluh jumlah seluruh malaikat langit kedua, demikian seterusnya hingga langit ke tujuh, Semua malaikat yang ada dilangit ketujuh digabung dengan semua malaikat yang ada dibumi; di langit 1-6, jin, manusia, semua hewan darat dan hewan laut hanya segelintir jika di banding dengan jumlah malaikat yang ada di Kursi. Kemudian semua malaikat yang ada dikursi sepersepuluhnya malaikat yang ada dalam satu kemah dari kemah-kemah yang ada di ‘Arsy; yang jumlah kemah tersebut adalah 600.000 kemah; panjang, lebar dan tingginya kemah-kemah tersebut jika dibandingkan dengan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi hanyalah seperti ukuran sesuatu yg kecil. Semua kemah kemah tersebut di penuhi dengan malaikat; ada yang sujud, ruku’ atau berdiri. mereka semua bertasbih dan memuji Allah Swt. Kemudian semua malaikat yang ada dikemah-kemah tersebut jika dibandingkan dengan para malaikat yang berkeliling disekitar ‘Arasy seperti tetesan-tetesan hujan yang ada di laut, tidak ada yang mengetahui berapa banyak jumlah mereka kecuali Allah Swt.

Dikatakan bahwa disekitar ‘Arsy ada 70.000 shaf malaikat yang mengelilinginya; mereka ber-tahlil dan ber-takbir. Dibelakang mereka ada 70.000 yang berdiri, mereka meletakkan kedua tangan mereka diatas pundak-pundak mereka seraya ber-tahlil dan bertakbir dengan suara yang keras. Dibelakang mereka ada lagi 100.000 shaf malaikat; mereka meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri mereka; tidak ada seorangpun dari mereka kecuali bertasbih dengan bacaan tasbih yang sama dengan yang lainnya. Semua malaikat tersebut adalah sebagian kecil dari malaikat lauh (para malaikat yang ada di lauhul mahfuzh); dimana mereka adalah pengikutnya malaikat Isrofil As.

Dikatakan bahwa jarak antara dua tiang dari tiang-tiang ‘Arsy seperti terbangnya burung yang sangat cepat selama 80.000 tahun. Dikatakan pula bahwa ‘Arsy memiliki 366 tiang; ukuran setiap tiang itu seperti 60.000 kali besarnya dunia. Diantara dua tiang ada 60.000 gurun/tanah lapang; setiap gurun/ tanah lapang ada enam puluh ribu alam.

Diatas ‘Arasy ada 70 hijab, setiap hijab berjarak 70.000 tahun, diantara setiap hijab ke hijab yang lain berjarak 70.000 tahun. Semua hijab tersebut dipenuhi dengan para malaikat yang mulia, begitu juga diatas tujuh puluh hijab dari alam Ar-Raqa (alam ilahiyyah). Semua malaikat tersebut bershalawat sepuluh kali pada orang yang bershalawat pada Nabi Saw satu kal, begitulah seterusnya dan selama-lamanya; banyak atau sedikitnya. Ini untuk selain shalawat fatih.

Sedangkan untuk shalawat fatih, maka sungguh barangsiapa yg bershalawat satu kali dengan shalawat fatih, maka akan ditulis baginya pahala semua shalawat yang muncul dari semua malaikat di alam semesta ini dengan 600.000 shalawat ditambah lagi sepuluh kali shalawatnya semua malaikat untuknya; perkara ini untuk orang-orang beriman secara umum.

Sedangkan shalawat fatih, maka ia memiliki tiga martabat: Martabat zhahirah (yang nampak); martabat bathin (yang tersembunyi); dan martabat bathin bathin (super tersembunyi).

Pada kesempatan ini aku akan menjelaskan semuanya itu, dengan menyebutkan ragam hijab dan hal-hal aneh, akan tetapi ada sesuatu yang menghalangiku melakukannya; yaitu banyak orang yang tidak mengetahui hakekat dari itu semua, dengan demikian maka aku cukupkan diri untuk memaparkan apa yang ada dalam kitab Jawahirul Ma’ani, yaitu menyebutkan apa yang dapat kukumpulkan dari martabat zhahirah (yang nampak) dari shalawat fatih. Akhirnyapun aku katakan seraya memohon taufik dari Allah Swt.

Sayyidi dan sandaran kami Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengatakan: “Terkait dengan shalawat fatih, akupun pernah bertanya langsung kepada Nabi Muhammad Saw, dan beliau mengabarkan padaku bahwa pertama, 1 kali bacaan shalawat fatih itu setara dengan 600.000 shalawat selain shalawat fatih.” Dan aku kembali bertanya kepada Nabi Muhammad Saw, “Apakah setiap 1 shalawat fatih yang dibaca setelahnya mendapat pahala 600.000 shalawat seperti sebelumnya?” Nabi menjawab, “Ya, pada setiap bacaan shalawat tersebut ada pahala orang yang bershalawat sebanyak 600.000 shalawat.”

Akupun pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw: “Apakah setiap shalawat yang diuntaikan akan menjadi burung sebagaimana yang tertera dalam hadits:

setiap shalawat itu akan menjadi burung yang memiliki 70.000 sayap (Al Hadits); atau maksudnya setiap dari satu bacaan shalawat ada 600.000 burung untuk lafazh tersebut, berikut pahala yang besar bagi orang yang bershalawat pada Nabi Saw dengan redaksi shalawat fatih.” Nabi Saw bersabda, “Dari satu bacaan shalawat akan tercipta 600.000 burung berikut jumlah lisan tiap satu burung.” Sebagaimana Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra katakan ada 1 septiliun lisan hingga delapan tingkatan dan 8 septiliun lisan hingga terhitung tujuh tingkatan dan 700 triliun lisan hingga terhitung lima tingkatan. Inilah jumlah lisannya, dimana setiap lisan bertasbih pada Allah Swt dengan seribu bahasa dalam setiap detik, dimana pahalanya untuk orang yang bershalawat pada Nabi Saw satu kali. Ini pahala pada shalawat selain yaqutatil faridah (shalawat fatih). Sedangkan bagi orang yang bershalawat dengan shalawat fatih, maka dari satu kali bacaan akan tercipta 600.000 burung seperti gambaran yang telah disebutkan sebelumnya.

Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw tentang hadits yang menyebutkan bahwa pahala 1 bacaan shalawat fatih pahalanya setara dengan 400 perang yang diikuti, dimana setiap peperangan setara dengan 400 kali ibadah haji, apakah hadits ini shahih atau tidak?” Nabi Saw menjawab, “Shahih.”

Akupun bertanya kepada Nabi Saw tentang maksud jumlah peperangan ini, “Apakah 1 bacaan shalawat fatih yang memiliki pahala 400 peperangan setara dengan pahala 600.000 bacaan shalawat lain selain shalawat fatih?” Nabi Saw bersabda yang maknanya adalah, “Bahwa shalawat fatih lima ughliqa itu senilai 600.000 shalawat, dimana 600.000 shalawat selain shalawat fatih setara dengan 400 perang. Kemudian Nabi Saw bersabda setelah itu, “Bahwa orang yang bershalawat dengan shalawat fatih satu kali akan mendapatkan pahala sejumlah orang yang bershalawat dengan shalawat lain yang ada di alam ini dari kalangan jin dan manusia serta malaikat dengan 600.000 shalawat sejak awal penciptaan alam ini hingga ia mengucapkan shalawat tersebut; maksudnya seolah-olah dia membaca satu shalawat fatih setara dengan ia membaca 600.000 shalawat lainnya secara umum; baik dari kalangan malaikat, jin maupun manusia, dimana setiap shalawat yang terucap itu senilai dengan mengikuti peperangan sebanyak 400 kali. Setiap dari shalawat yang teruntai itu ada satu bidadari, ada sepuluh kebaikan, ada ampunan sepuluh kesalahan dan diangkat derajatnya sepuluh derajat. Sungguh Allah Swt dan para malaikatnya bershalawat pada setiap shalawat yang terucap itu sebanyak 10 kali bacaan shalawat.

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkata: Jika engkau pikirkan ini dengan kalbumu, maka engkau telah tahu bahwa tidak ada ibadah sunah yang bisa menggantikan shalawat ini, lantas bagaimana orang yang bershalawat berkali-kali, tentu ia mendapatkan keutamaan di sisi Allah Swt dan ini terjadi pada setiap kalian bershalawat. Maka untuk keutamaan ini, ada ulama yang menggubah sya’ir berikut:

أَيُّهَا الْعَاقِلُ الْمُحِبُّ لِفَضْلٍ # وَمُرِيدِ الْمُنَى وَنَيْلِ الْمَرَامِ

صَلِّ بِالْفَاتِحِ الرَّفِيعَةِ قَدْرًا # تَنَلْ الْكَمَالَ مَعَ ازْدِيَادِ

تُدْرِكُ الْمَرَامَ مِنَ الْجَمَالِ # وَتَفُوْزُ بِالْحُسْنَى فِي الْمَعَادِ

فَضْلُهَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ بَيَانًا # مُخْبِرًا يَقْظَةً لِقُطْبِ الْعِبَادِ

فَاغْتَنِمْ ذِكْرَهَا بِكُلِّ زَمَانٍ # وَالْزَمْ وِرْدَهَا تَفُقُ كُلَّ بَادِ

Wahai orang berakal, lagi pecinta keutamaan # yang ingin menggapai cita-cita dan menggapai apa yang diinginkan

Bershalawatlah dengan shalawat fatih yang memiliki kedudukan yang tinggi # engkau akan memperoleh kesempurnaan dengan ragam tambahan lainnya

Engkau dapat menggapai keinginan dari sisi jamal-Nya Allah # engkaupun akan menang dengan kebaikan di akhirat

Telah datang dari nabi penjelasan keutamaannya, # beliau mengabarkan secara yaqzhah pada wali quthubnya para hamba Allah

Maka gunakanlah setiap waktumu untuk menyebutnya # lazimkan dirimu membacanya, sebab itu melampaui segalanya.

Lalu Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkata: “Nabi Saw mengabarkan padaku bahwa shalawat fatih itu bukanlah gubahan Al Bakri, akan tetapi ia ber-tawajjuh pada Allah dalam jangka waktu yang lama agar Allah memberikan shalawat pada nabi yang memiliki pahala semua shalawat yang telah ada. Beliaupun menunggu larna untuk ini hingga Allah Swt kabulkan do’anya, maka datanglah malaikat dengan shalawat yang tertulis pada kertas dari cahaya.

Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkata: “Ketika aku merenungi shalawat ini, aku temui bahwa shalawat ini tidak tertandingi dengan ibadah semua jin, manusia dan malaikat.”

Lalu Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkata: “Bagi orang yang berdzikir dengan shalawat fatih, maka akan dituliskan baginya 6.000 kali dari dzikiran setiap hewan dan benda mati.” Dzikirannya benda mati adalah dengan menyebut nama yang membuat eksistensi benda itu tetap ada. Sebab setiap bagian terkecil dari alam ini memiliki nama yang membuat eksistensi dirinya ada. Sedangkan dzikirnya hewan itu berbeda-beda. Dimana satu kali bacaan shalawat fatih setara dengan setiap dzikiran, tasbih, istighfar dan do’a yang ada di alam ini; baik kecil maupun besar sejumlah 6.000 kali. Inilah yang dikhabarkan oleh Sayyidil Wujud Saw kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dari keutamaan shalawat fatih.

Sayyidi Muhammad Al ‘lyyasy Ad-Dukali mengatakan: “Satu kali bacaan shalawat fatih itu setara dengan 600.000 bacaan shalawat lainnya.” Dibenarkan pula bahwa perkataan tersebut bersumber dari Al Imam Al Muhaddits Syaikh Islam, ‘Allamah waqtihi, Sayyidi Ahmad bin Sayyidi Yusuf Al Fasi. Perkataan yang dinukil dari Sayyidi Yusuf tersebut pun dicantumkan dalam syarh kitab Ad-Dalil.

Kemudian Sayyidi Al ‘lyyasy berkata: “Aku melihat tulisan yang tertulis di bawah shalawat ini (Al Fatihi lima ughliqa) teks berikut: Dari Al Imam Al Wali Sayyidi Muhammad Al Bakri Al Mishri Ra, ia berkata: ‘Barangsiapa yang membaca shalawat ini dan tidak masuk surga, maka ia bisa menarikku di hadapan Allah Swt.”

Aku katakan: Aku juga melihat shalawat ini dinukil oleh Syaikh Al Manjur, bahwa beliau mengatakan, “Barangsiapa yang membaca shalawat yang penuh berkah ini satu kali semasa hidupnya dan ia masuk neraka, maka dia bisa menarikku di hadapan Allah Swt.”

Jasyus ketika ia mensyarah kiab Tasawuf Ibnu ‘Asyir, ia menuliskan dengan redaksi berikut: Aku telah melihat shalawat itu tertulis dengan tulisan tangan syaikh kami, syaikhnya syaikh kami Abu Abdillah Sayyidi Muhammad bin Sayyidi Abdul Qadir Al Fasi; Allahumma shalli ala sayyidina Muhammadinil fâtihi satu kali itu setara dengan 600.000 bacaan shalawat yang lainnya.

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah mengatakan, “Ketahuilah, bahwa jika engkau bershalawat dengan shalawat fatih satu kali, maka itu setara dengan 600.000 shalawat dengan lafazh lainnya yang pernah ada di alam ini dari kalangan jin, manusia dan malaikat. Kemudian jika engkau membacanya untuk yang kedua kalinya, maka engkau akan mendapat seperti yang didapatkan pertama kali dengan ditambah 600.000 sebanyak dua kali; yaitu 1.200.000, kemudian seperti inilah pelipatgandaannya hingga sepuluh kali, bahkan sampai seratus kali. Kemudian setelah seratus kali ditambah satu, maka yang satu itupun seperti pahala yang pertama sebelumnya.

Dalam shalawat fatih pahalanya adalah 600.000 x 100 60.000.000 (Enam puluh juta). Rahasia dibalik hitungan ini adalah bahwa dalam hitungan yang berurutan hingga 1001, maka dalam hal ini ia mendapatkan balasan 600.000 dikalikan 100, sehingga menjadi 60.000.000, demikianlah seterusnya. Dengan acuan ini, jika dia membacanya pada waktu sahur, maka satu kali bacaan bernilai 500. Jika ia membacanya 1001 kali, maka yang dibaca satu kali setelah seribu itu bernilai 3.000.000.000 (Tiga miliar) untuk tiga martabat, namun jika ia hanya membacanya sebanyak 1001 (tidak lebih dari itu), maka itu bernilai 150.000.000.000.000 (Seratus lima puluh triliun) untuk empat martabat dan 450.000.000.000 untuk tiga martabat. Ini khusus untuk shalawat fatih yang dibaca pada waktu sahur, sedangkan jika dibaca pada waktu lainnya, maka hitungannya seperti yang dipaparkan sebelumnya. Kemudian Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah ada seseorang bershalawat padaku dengan shalawat yang lebih utama dari shalawat fatih ini.”

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra lalu mengatakan, “Penduduk tujuh langit dan tujuh burni beserta isinya sepakat untuk mensifati pahala bacaan shalawat fatih, namun mereka tidak mampu melakukan itu.”

Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menyebutkan keutamaan shalawat ini, bahwa shalawat fatih memiliki tujuh atau delapan martabat, setiap keutamaan yang telah disebutkan; yang telah ditampakkan kepada para sahabat beliau adalah bagian dari martabat yang pertama, sedangkan selain itu, maka semua martabatnya itu tersembunyi.”

Lalu Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengatakan, “Bagi orang yang melazimkan shalawat pada Rasulullah Saw, maka keberkahannya akan didapati pula oleh anak-anak dan juga cucunya, sedangkan bagi orang yang melazimkan dirinya dengan shalawat fatih, maka ia menjamin kebaikan dunia dan akhirat, namun dengan syarat harus adanya izin yang shahih, sementara jika tidak ada izin, maka ia mendapatkan pahala yang telah disebutkan tanpa kekhususan pahala, “Menjamin kebaikan dunia dan akhirat.” Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menjelaskan makna, ‘menjamin kebaikan akhirat’, dengan berkata, ‘Orang yang melazimkan diri dengan shalawat fatih pasti meninggal dunia dengan membawa keimanan. Orang yang melazimkan diri membacanya satu kali dalam setiap harinya, kemudian ia membaca keutamaan yang telah disebutkan dalam shalawat fatih, maka ia tidak akan mendapatkan kautamaan tersebut kecuali dengan dua persyaratan; pertama, adanya izin shahih; dan kedua, ia meyakini bahwa shalawat fatih bagian dari kalamullah, layaknya hadits qudsi dan bukan dari gubahan pengarangnya (Syaikh Muhammad Al Bakri Al Kholwati).

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pun mengatakan, “Tidak ada seorangpun dimuka bumi ini yang bisa memberikan izin shalawat fatih (dengan keutamaannya) selain kami atau orang yang masuk dari kalangan sahabat kami…Wassalam.” (Dikutip dari kitab Al Jami).

Sayyidi Umar Al Futi memaparkan dalam Rimahu Hizbir-Rahim redaksi berikut: Ketahuilah bahwa Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah mengatakan: “Ketahuilah, bahwa Nabi Saw untuk menjelaskan hukum dua martabat dari shalawat fatih lima ughliqa, martabat zhahirah (martabat yang nampak) dan martabat bathinah (martabat yang tersembunyi). Maka ini aku melaksanakan apa yang beliau titahkan, akan tetapi aku perlu sampaikan pengantarnya sebagai pijakan agar dapat memahami martabat tersebut, sebab orang yang tidak membaca pengantar ini, ia pasti tidak akan paham dua martabat tersebut.”

Berikut pengantar ulasannya: Sungguh semua ruh yang ada di alam semesta ini sejatinya bisa berbicara dan juga bisa diam, ia bisa bergerak dan juga tidak bergerak, hewan ataupun benda mati semuanya sama di hadapan Allah Swt. Akan tetapi lisan mereka berbeda-beda dalam berbicara dan diam, berbeda dalam bergerak dan tidak bergerak, berbeda dalam sisi kehewanan dan sisi kebenda-matian dengan pengkhususan yang muncul dari kehendak ilahiyyah, ini berlaku pada semua ruh yang ada, hanya bedanya adalah pada jasad yang menjadi tempat ruh dan bukan pada ruh, sebab seluruh ruh; yang berbicara, yang diam, yang bisa bergerak, yang tidak bergerak, hewan dan benda mati hakekatnya berma’rifat pada Allah, beribadah pada Allah, senantiasa berdzikir mengingat Allah sepanjang masa tanpa ada jeda, dimana ilmu akan perkara ini sulit diketahui oleh manusia, jin, engkau sebagai manusia tidak mengetahui hal ini, begitu juga jin, yang mengetahui hanyalah kalangan Ash-Shiddiqin, para wali quthub dan para nabi As, tidak ada yang lainnya. Selain mereka, tidak ada yang mengetahui ilmu ini bahkan para wali Allah Swt sekalipun tidak mengetahuinya kecuali hanya orang yang telah wushul pada maqam Shiddiqiyyah.

Ketahuilah, bahwa ruh dalam ulasan kita ini semuanya sama, bahkan ruh manusia, ruh jin, ruh orang kafir dan ruhnya orang mukmin, semua ter-hijab dari Allah Swt, semua ruh mereka seperti yang kami gambarkan diatas, ruh mereka tidak mengetahui hakekat ini dari jasad mereka, ilmu akan kondisi ruh ini tertutup dari mereka. Ahli kasyaf sepakat bahwa setiap dari jin dan manusia pada alam ghaib adalah dzat yang bercahaya, yang dzatnya memiliki keterikatan; yaitu terbuat dari benang cahaya dan dzat yang bercahaya, ia sejatinya menyembah Allah Swt dalam alam ghaib dan melakukan perbuatan seperti yang dilakukan ruh. Namun karena ruhnya jin dan manusia itu terkerangkeng dalam jasad dan ternodai dengan ragam kotoran, sehingga ia terhijab dari kemampuannya melihat pada alam ghaib, sehingga dzat yang bercahaya itu tidak bisa lagi melihat alam ghaib dan tidak bisa lagi melakukan apa yang seyogyanya dilakukan oleh ruh. Semua jin dan manusia tidak mengetahui hakekat ini, bahkan ulama pun tidak mengetahuinya. Yang mengetahui perkara ini adalah ahli kasyaf wasy-syuhud. Jin dan manusia pun tidak mendapatkan manfaat dari ibadahnya ruh tersebut, sebab ruh pada hakekatnya tidak diciptakan kecuali untuk beribadah kepada Allah Swt tanpa adanya ketamakan dalam beribadah pada-Nya, dengan inilah hakekat dari firman Allah ini terwujud;

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
wa maa kholaqtul-jinna wal-ingsa illaa liya’buduun

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

Mahasuci Allah, sungguh tidak mungkin la menciptakan ruh untuk beribadah pada-Nya tapi malah menyeleweng, akan tetapi ruh dan jasad orang-orang yang telah dibebani beban syari’at terkena hukum qabdhotaini (dua genggaman) di alam azali, dimana Allah Swt berfirman pada segenggaman, ‘Giring ini ke surga dan Aku tidak peduli, giring juga sebagian lainnya ke neraka dan Aku tidak peduli’. Ruh ini pun terkena hukum ,firman Allah Swt,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَـعَلَ النَّا سَ اُمَّةً وَّا حِدَةً وَّلَا يَزَا لُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَ 
walau syaaa-a robbuka laja’alan-naasa ummataw waahidataw wa laa yazaaluuna mukhtalifiin

“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat),”
(QS. Hud 11: Ayat 118)

اِلَّا مَنْ رَّحِمَ رَبُّكَ ۗ وَلِذٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَاَ مْلَـئَنَّ جَهَـنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَا لنَّا سِ اَجْمَعِيْنَ
illaa mar rohima robbuk, wa lizaalika kholaqohum, wa tammat kalimatu robbika la-amla-anna jahannama minal-jinnati wan-naasi ajma’iin

“kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhanmu telah tetap, “Aku pasti akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.””
(QS. Hud 11: Ayat 119)

Ruh tersebut tidak bisa menentang hukum Allah Swt dan tidak bisa mendebat kehendak-Nya dari hakekat penciptaannya tersebut. Inilah pandangan ahli kasyaf dan ulama Allah Swt. Tidak ada yang menolak ilmu ini kecuali orang yang selalu melihat pada apa yang nampak, mereka sejatinya terhijab dan terbelenggu, maka jangan tanggapi perkataan dan keingkaran mereka.”

Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari dalam Al Hikam pernah mengatakan, “Makhluk di alam semesta ini yang belum Allah buka alam ghaib baginya, maka ia terbelenggu dengan ragam batasannya, terbatas pada bentuk dzatnya dan terpenjara dalam lingkup alam semesta ini.”

Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ مِنَ الْعِلْمِ كَهَيْئَةِ الْمَخْزُوْنِ لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا الْعُلَمَاءَ بِاللَّهِ، فَإِذَا نَطَقُوْا بِهِ لَمْ يُنْكِرُهُ إِلَّا أَهْلَ الْغِرَّةِ بِاللَّهِ

“Sesungguhnya diantara ilmu pengetahuan ada yang seperti sesuatu yang terpendam, tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang ahli makrifat kepada Allah (Arifbillah). Jika mereka mengucapkan ilmu tersebut, maka yang mengingkari hanyalah orang yang lalai pada Allah.”

Setelah apa yang kami paparkan, jelas sudahlah hakekat firman Allah Swt,

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَا لْاَ رْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ ۗ وَاِ نْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰـكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا
tusabbihu lahus-samaawaatus-sab’u wal-ardhu wa mang fiihinn, wa im ming syai-in illaa yusabbihu bihamdihii wa laakil laa tafqohuuna tasbiihahum, innahuu kaana haliiman ghofuuroo

“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 44)

Tasbih ini bersifat jelas nyata terucap dan bukan secara diam-diam sebagaimana yang disangkakan oleh ahli zhahir, akan tetapi menurut Ash-Shiddiqin adalah sebagaimana yang telah kami paparkan.

Kemudian ketahuilah bahwa setiap ruh memiliki kekuatan ilahiyyah, dimana Allah Swt ber-tajalli padanya dengan sifat kalam-Nya, maka setiap ruh di alam ini mampu berbicara dengan semua lafazh yang ada di alam ini, Setiap shiddiqin tahu akan perkara ini, berbeda dengan ahli zhahir (yang hanya memandang apa yang terlihat saja), mereka tidak tahu perkara ini karena mereka terpenjara dengan akal mereka, sehingga bagi mereka ruh dan jasad meski bisa berbicara, maka iapun akan terhijab melakukan yang lainnya sampai bicara satu kalimat itu usai, sedangkan bagi ahli kasyaf ruh itu mampu berbicara dengan semua lafazh bahasa alam ini dengan satu kalimat, sehingga iapun mampu berbicara satu kalimat dengan ragam perkara yang banyak nan jelas bahkan hingga tidak terhingga. Ruh mampu melakukan ini dilihat dari sisi kasyaf dan dzauq, sebab Allah Swt lah yang sejatinya ber-tajalli dalam ruh dan dengan itulah ruh mampu berbicara. Tidak ada yang mengingkari perkara ini, kecuali ia ingkar akan kemampuan Allah Swt pada perkara yang di luar nalar dan memposisikan kemampuan Allah hanya pada perkara yang biasa saja. Orang yang mengatakan ini sejatinya ia lalai kepada Allah Swt atau memang dia orang kafir yang pembahasan tentang hal ini bukanlah menjadi bahasan keimanannya. Jika demikian adanya, lantas bagaimana bisa dia lupa akan firman Allah Swt,

وَّا لْخَـيْلَ وَا لْبِغَا لَ وَا لْحَمِيْرَ لِتَرْكَبُوْهَا وَزِيْنَةً  ۗ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wal-khoila wal-bighoola wal-hamiiro litarkabuuhaa wa ziinah, wa yakhluqu maa laa ta’lamuun

“dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 8)

Aku katakan: Perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, “Tidak ada yang menolak ilmu ini kecuali ahli zhahir (orang yang selalu melihat pada apa yang nampak) dan tidak ada yang mengingkari perkara ini, kecuali ia ingkar akan kemampuan Allah Swt pada ragam perkara yang di luar nalar dan memposisikan kemampuan Allah hanya pada perkara yang biasa saja. Orang yang mengatakan ini sejatinya ia lalai kepada Allah Swt atau memang dia orang kafir yang pembahasan ini tidak menjadi pembahasan keimanannya,” adalah benar adanya.

Tidak ada orang yang mengingkarinya kecuali orang yang keras kepala dan fasik. Bagaimana tidak kita katakan demikian, sementara ia senantiasa meminta madad pada Rasulullah Saw dan mengambil ilmu ladunni dari beliau pada setiap kucuran ilahiyyah yang datang padanya dan yang berupa perkataan. Maka sebenarnya orang yang mengingkari perkara itu berarti ia mengingkari Rasulullah Saw dan itu termasuk keberanian dirinya yang mengarah pada kesengsaraan.

Perkara yang menunjukkan kebenaran perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah berupa kasyaf yang dengan itu beliau dapat melihat sesuatu dan juga memberi jawaban berkaitan dengan ayat-ayat Al Qur`an dan hadits Nabi Saw dengan ilmu Rabbani, kemampuan beliau menyelesaikan berbagai permasalahan dan memperjelas ragam makna, semua itu hadir lantaran kucuran madad nuraniyyah, yang ber-istimdad dari hadrah Nabi Muhammad Saw yang berupa ilmu pemberian Allah Swt. Maka orang yang ingin melihat kemampuan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, maka ia bisa melihatnya dalam ulasan panjang beliau, niscaya engkau akan temui berbagai pernyataan yang dapat mengobati keras kepalanya orang-orang durjana lagi keras melakukan kesalahan. Semoga Allah Swt menjadikan kita sebagai pengikut setia Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra hingga kita meninggal dunia berkat kemuliaan Nabi Saw.

Lalu Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany mengatakan: “Jika engkau telah mengetahui ini, maka ketahuilah bahwa ruh-ruh yang ada ini;, yaitu mereka sibuk dengan berdzikir shalawat fatih, surah Al Fatihah, semua isi Al Qur’an, nama yang Allah ciptakan darinya, isim a’zham al Kabir dan bacaan tasbih khusus isim a’zham. Dalam setiap waktu dan sepanjang zaman senantiasa sibuk dengan perkara ini dan tidak pernah lalai sedikitpun meskipun hanya sekedipan mata sekalipun”

Syaikh Umar Al Futi mengomentari: Yang dimaksud dengan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, “Isim Allah yang darinya Allah ciptakan ruh lain,” maksudnya adalah bahwa setiap ruh memiliki keterikatan dengan satu dari asma Allah Swt; Allah Swt menciptakan ruh dengan isim itu, sehingga isim Allah itu lah sumber ruh tersebut, karena tidak mungkin dua ruh atau lebih berasal dari satu isim Allah, dimana ruh ini dalam setiap kedipan mata mampu bershalawat dengan sempurna. Jika engkau telah mengetahui hal ini, maka engkau akan lebih paham apa yang akan kami sampaikan berikut ini:

Inilah saatnya kami masuk pada pembahasan utama, maka terimalah dan jangan engkau ingkari, sebab kami ambil ini dari rujukan yang tidak ada kebathilan di dalamnya, bahkan memberikan penjelasan layaknya sinar matahari di waktu siang musim panas.

Martabat yang nampak dari shalawat fatih, sekalipun yang membacanya hanya satu kali dengan persyaratan tertentu, maka Allah akan mancatatkan baginya semua dzikiran yang ada dari bacaan tasbih, tahlil, takbir, tahmid, istighfar, shalawat pada Nabi Saw, bacaan Al Qur’an dan bacaan semua kitab ilahiyyah, seperti dari Taurat dan Injil sejak alam ini diciptakan hingga keluarnya bacaan shalawat fatih dari lisan orang tersebut, dimana semuanya itu pahalanya terkumpul dan dilipatgandakan menjadi 6.000 kali, kemudian lisan semua makhluk selain Allah Swt pun dihitung dan dilipatgandakan, setelah terkumpul kemudian dilipatgandakan 6.000 kali, bahkan dilipatgandakan sesuai banyaknya jumlah isi semua alam selain Allah Swt. Lalu dilipatgandakan kembali yang ketiga kalinya sesuai dengan martabat setiap lisan yang membacanya. Sebab ada lisan yang hanya bisa berdzikirnya satu kali saja dari setiap lafazh, ada juga lisan lainnya yang mampu melakukannya berlipat ganda hingga seratus kali dalam setiap kalimat dzikir tersebut. Ada juga lisan lainnya yang mampu melakukannya berlipat ganda hingga sepuluh ribu kali lipat, ada juga yang mampu melakukannya berlipat ganda hingga satu juta kali lipat, sepuluh juta kali lipat, seratus juta kali lipat hingga satu miliar, bahkan ada yang mampu lebih dari itu sesuai kemampuan dirinya dalam berdzikir. Kemudian setiap lafazh yang terpisah-pisah dihitung juga setelah sebelumnya dilipatgandakan seperti diatas, lalu berlakulah aturan pemberian pahalanya sesuai dengan tuntunan syari’at, bahwa shalawat fatih memiliki kekhususan dalam pandangan syari’at; setiap shalawat itu berpahala bidadari dan istana di surga, diberikan sepuluh derajat, diberikan sepuluh kebaikan, dihapus sepuluh keburukan serta diberikan burung sebagai perwujudan dari dzikiran, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits Nabi Saw; yaitu burung yang senantiasa bertasbih memuji Allah hingga hari Kiamat dan pahalanya diberikan kepada orang yang bershalawat, juga akan mendapatkan sepuluh shalawatnya Allah dan malaikat; dimana shalawat yang datangnya dari Allah ini bukanlah shalawat dalam martabat bathin, sebab shalawat dengan martabat bathin bukanlah ini; dari setiap shalawat ini pun tercipta malaikat yang tenggelam dalam lautan sifat malu lalu ia menggigil, kemudian Allah Swt ciptakan dari setiap tetesan yang menetes dari malaikat tersebut berupa malaikat lain yang beristighfar bagi orang yang bershalawat tersebut hingga hari Kiamat. Lalu dari setiap shalawat tersebut mendapat pahala 400 perang dan juga pahala 400 haji yang diterima oleh Allah Swt (haji mabrur).

Sedangkan setiap bacaan tasbih, tahmid dan hailalah, maka seluruhnya berpahala bacaan Al Qur’an, sedangkan pahala Al Qur’an pada perkara ini selain pahala yang diperkirakan oleh Ahlu zhahir, bahwa pahala Al Qur’an dalam perkara ini adalah andaikan semua dzikiran dari setiap ruh di alam ini dikumpulkan, juga semua nama Allah Swt yang zhahir dan bathin, serta semua kebaikan dari semua yang ada di alam ini masing-masing, juga semua ibadah di alam ini dari setiap ruh yang berdiri masing-masing di alam ini. Semua pahala yang telah kami sebutkan ini tidak bisa menandingi pahala satu huruf dari Al Qur’an. Ini selain bacaan surah Al Fatihah.

Sedangkan pada bacaan surah Al Fatihah, maka pahalanya adalah pahala satu Al Qur’an lengkap dalam setiap satu kali membacanya. Dalam pahala satu kali bacaan surah Al Fatihah, ada yang pahalanya sebanyak 1.000.000 bidadari dan 1.000.000 istana, lalu 600.000 dan 700.000, dimana setiap istana itu lengkap dengan bidadari dan pelayan. Dalam bacaan surah Al Fatihah juga ada yang pahalanya seperti beribadah di malam lailatul qadar dengan lengkap. Diantara pahala lainnya adalah bahwa pahalanya lebih banyak daripada seluruh tasbih yang dibaca di alam ini dari semua dzikiran, semua pahala bacaan Al Qur’an dari setiap pembacanya dan juga semua ruh yang ada sejak awal penciptaan alam ini hingga waktu shalawat fatih ini dibaca. Inilah ragam pahala yang dapat kami sebutkan dari pahala bacaan surah Al Fatihah setelah dilipatgandakan tiga kali lipat seperti paparan terdahulu.

Begitu juga setiap jalur bacaan setiap orang yang membaca Al Qur’an sejak terciptanya alam ini hingga munculnya shalawat fatih akan dilipatgandakan dengan tiga kali pelipatgandaan, dimana pahala setiap jalur bacaan Al Qur’an ini sesuai dengan apa yang tadi sudah kami sebutkan terkait pahala bacaan Al Qur’an menurut versi ahli zhahir. Kiaskanlah semua dzikiran yang ada dengan bentuk ini dan aplikasikan pula dengan pelipatgandaan yang tiga tadi.

Tidak ada yang dikecualikan dari kumpulan dzikiran diatas terkait pahala shalawat fatih dari pahala surah Al Fatihah dan semua dzikiran yang ada (maksudnya semua pahalanya sama) kecuali isim a’zham dan ragam dzikirannya Nabi Saw, sehingga tidak bisa dikatakan bahwa (isim a’zham dan ragam dzikirannya Nabi Saw) menjadi aib bagi shalawat fatih lantaran lebih tinggi dari semua dzikiran yang ada, akan tetapi sesuai dengan lisannya Nabi Saw bersama dengan lisannya alam ini dalam pelipatgandaan pahala yang didapat, maka Nabi Saw memiliki 200.000 dan 24.000 lisan, dimana setiap dari lisannya Nabi Saw mengumpulkan 101 pahala bacaan Al Qur’an dan satu kali bacaan tasbih, maka semua dzikiran yang ada di alam, bacaan surah Al Fatihah dan ayat Al Qur’an sejak diciptakannya alam ini hingga sangkakala ditiupkan tidak bisa menandingi apa yang Nabi Saw dzikirkan, apa yang beliau Saw baca dari Al Qur’an, bacaan surah Al Fatihah dan dari semua bentuk ibadah beliau Saw sejak awal alam ini tercipta hingga ditiupkannya sangkakala nanti.

Maka semua yang ada di alam ini tidak sebanding dengan satu bacaan tasbihnya Nabi Saw atau bacaan satu ayat dari Al Qur’an atau juga bacaan surah Al Fatihah beliau Saw. Kemudian seluruh lisan generasi setelah beliau Saw, maka semuanya itupun tidak sebanding dengan satu lisan Nabi Saw. Begitu juga dengan pahala lisannya Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra, dimana malaikat Jibril pernah berkata kepada Nabi Saw, “Andai aku tinggal bersarna kalian sebagaimana lamanya Nabi Nuh As tinggal bersama kaumnya dan disebandingkan dengan keutamaan Umar, maka keutamaan Umar pun tidak habis, sebab Umar adalah satu dari ragam kebaikannya Abu Bakar.” Meski Abu Bakar Ash-Shiddiq membaca semua dzikiran dengan lisannya, dimana pahala yang didapat sesuai dengan apa yang dirutinkan, maka seluruh pahala itu untuk pengamal shalawat fatih setiap kali beliau baca. Begitu juga dengan pahala bacaannya para malaikat dibalik Arasy, ketika salah seorang dari malaikat membaca satu kali dari semua wiridan yang ada dengan lisannya, maka itu bernilai 6.000 pahala. Maka jika bacaan Abu Bakar As dibandingkan dengan bacaan para malaikat, maka bacaan malaikat tentu tidak terhingga pahalanya. Begitupun andai setiap lisan yang dimiliki oleh Nabi Saw membaca semua dzikiran sebanyak 6.000 kali, maka meski lisan setiap nabi yang ada membaca kumpulan dzikiran ini yang setiap lisan mereka bernilai pahala bacaan 6.000 kali, maka tetap tidak bisa menandingi bacaan Nabi Muhammad Saw, bahkan pahalanya para nabi ini lebih dari pahalanya para malaikat, dimana pahala mereka ini sudah tanpa hitungan dan jumlah. Semua pahala ini adalah sebanding dengan satu kali bacaan shalawat fatih, maka lihatlah sebanyak apa pahala yang didapatkan.

Ini merupakan berita gembira bagi orang yang mempunyai izin membaca shalawat fatih.

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah ditanya tentang keutamaan shalawat fatih, beliau Ra menjawab, “Orang yang berdzikir membaca shalawat fatih sebanyak sepuluh kali misalnya, maka andai ada seorang yang Arifbillah hidup selama satu juta tahun berdzikir selain shalawat fatih dan yang berdzikir membaca shalawat fatih membacanya sepuluh kali, maka pahalanya itu lebih banyak daripada seorang Arifbillah satu juta tahun namun tidak berdzikir membaca shalawat fatih.”

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengatakan, “Sebenarnya aku ingin menunjukkan keutamaan shalawat fatih yang tersembunyi, namun aku dilarang untuk itu.”

Akupun berkata kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, “Apakah shalawat yang agung ini (shalawat fatih) termasuk amalan yang tidak ikut gugur lantaran perkara zhalim yang diperbuat, kami memohon kepada Allah keselamatan dan keterjagaan dari fitnah-” Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menjawab, “lya memang demikian,” Aku menimpali perkataan beliau Ra, “Tidak gugur pula amalan orang yang senantiasa menjaga shalat lima waktu.

Sedangkan bagi orang yang meninggalkan shalat, baik secara nampak ia benar meninggalkan shalat (tidak mengerjakannya) atau secara maknawi (dirinya shalat tapi tidak ada ruh dalam shalatnya), maka Allah Swt tidak melihat amalannya pada hari Kiamat, baik dari shalat yang ia kerjakan atau dari amalan lainnya, hal ini sesuai dengan hadits Nabi Saw,

أَوَّلَ مَا يُنْظَرُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي عَمَلِ الْعَبْدِ الصَّلَاةُ

“Perkara pertama yang Allah lihat pada amalan seorang hamba pada hari Kiamat adalah sholat.” Demikianlah pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Al Musyri dalam kitab Al Jami’.

Dalam Mawahib Al Mannan disebutkan, bahwa kekhususan shalawat fatih merupakan perkara yang ghaib (tidak diketahui). Orang yang membacanya dengan jumlah tertentu dengan syarat dia tidak memiliki detikan jiwa (khawathir) pada dirinya baik malam dan siang hari, niscaya Allah Swt memberikan futuh padanya.

Sumber : BUKU KUPAS TUNTAS SHALAWAT FATIH (AZ-ZUHRUL FA`IH FI FADHLI SHALATIL FATIH) SAYYIDI MUHAMMAD BIN MUHAMMAD BIN AL HASAN IBNU ‘ABDILLAH AL FASI AT-TIJANY