You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Penutup Kitab Az-Zuhrul Fâ`ih fi Fadhli Shalâtil Fâtih : Faedah Pertama

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Penutup Kitab Az-Zuhrul Fâ`ih fi Fadhli Shalâtil Fâtih : Faedah Pertama

Penyebab terpenting agar bisa melihat Nabi Muhammad Saw dalam mimpi adalah dengan banyak mencintai beliau dengan sempurnanya ketakwaan diri dan mengkonsistenkan menyebutkan dzat beliau, menyebutkan ragam perkara yang membanggakan, ragam kekhususan beliau Saw dan banyak bershalawat pada beliau secara lirih maupun dengan suara lantang, dengan tulus ikhlas. Wahai saudaraku, seyogyanya engkau banyak bershalawat pada Nabi Muhammad Saw siang dan malam dengan shalawat fatih yang memiliki keutamaan yang luhur, dimana setiap kalimatnya memiliki keutamaannya masing-masing sesuai dengan khabar dari Nabi Muhammad Saw bersamaan dengan merasakan sifat yang didzikiri sehingga itu bisa mengukir gambaran beliau Saw yang mulia di dalam kalbumu dan engkau menang dengan keuntungan yang besar, ketika engkau mampu melihat, maka hakekatnya engkau telah mendapat pahala yang banyak.

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Anas Ra,

مَنْ رَآنِي فِي المَنَامِ فَإِنَّهُ لَا يَدْخُلِ النَّارَ

“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, sungguh ia tidak akan masuk neraka.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ رَآنِي فِي المَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي اليَقَظَةِ وَلَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي

“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, niscaya ia akan melihatku dalam kondisi yaqzhah dan setan tidak bisa menyerupaiku.”

Yang dimaksud dengan yaqzhah disini adalah nanti di akhirat. Sedangkan yang dimaksud dengan ru’yah (melihat dalam mimpi) adalah bentuk melihat secara khusus dengan adanya kedekatan dari Allah Swt.

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Adh-Dhiya dari riwayat ‘Ubadah bin Ash-Shamit Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,

رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ كَلَامٌ يُكَلِّمُ بِهِ الْعَبْدُ رَبَّهُ فِي الْمَنَامِ

“Mimpi seorang mukmin adalah percakapan seorang hamba dengan Rabbnya dalam mimpi.”

Al Imam Al Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,

لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ إِلَّا الْمُبَشِّرَاتُ قَالُوا وَمَا الْمُبَشِّرَاتُ قَالَ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ

“Tidak ada yang tersisa dari kenabian kecuali Al Mubasysyirat,” para sahabat berkata, “Apakah Al Mubasysyirat itu wahai Rasulullah?” Beliau saw menjawab, “Mimpi yang baik.”

Imam Malik menambahkan dari riwayat ‘Atha’,
بَرَاهَا الرَّجُلُ الْمُسْلِمُ أَوْ تُرَى لَهُ

“Yang dilihat oleh lelaki muslim atau diperlihatkan baginya.”

Ad-Dailami dan Abdul Wahab meriwayatkan dari Anas bin Malik Ra, la berkata: Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَلَنْ يَدْخُلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, ia tidak akan pernah masuk neraka.”

مَنْ زَارَ قَبْرِي وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِي

“Orang yang menziarahiku setelah kematianku, ia wajib mendapat syafa’atku.”

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي حَقَّاً، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي

“Orang yang telah bermimpi melihatku, benar ia telah melihatku, karena sesungguhnya setan tidak bisa menyerupaiku.”

رُؤْيَا الرَّجُلُ الْمُسْلِمُ الصَّالِحُ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ

“Mimpinya seorang mukmin yang shaleh itu, satu dari tujuh puluh bagian kenabian.”

إِذَا اقْتَرَبَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ أَنْ تَكْذِبَ وَأَصْدُقُهُمْ رُؤْيَا أَصْدَقُهُمْ حَدِيثًا

“Jika zaman semakin mendekati (hari kiamat), mimpi seorang mukmin hampir tidak pernah berdusta (meleset). Orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur pembicaraannya.”

Sumber : BUKU KUPAS TUNTAS SHALAWAT FATIH (AZ-ZUHRUL FA`IH FI FADHLI SHALATIL FATIH) SAYYIDI MUHAMMAD BIN MUHAMMAD BIN AL HASAN IBNU ‘ABDILLAH AL FASI AT-TIJANY