
Elsubha.com – Hizib Bahr
“Untuk mengamalkan wirid ikhtiyari, alangkah lebih bijak jika dikonsultasikan terlebih dahulu kepada muqaddam masing-masing”
Dalam Jawahir al Ma’ani disebutkan, bahwa hizi Bahr ini merupakan amalan yang didiktekan langsung oleh Rasulullah Saw kepada Syaikh thariqah. Sebenarnya yang dimaksud syaikh disini adalah Syaikh Abul Hasan asy-Syadzili, kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra mengambilnya juga dari Rasulullah Saw.
Kekhususan hizib ini sebagaimana yang tertera dalam ar-Rimah:
1. Tidaklah hizib ini dibaca di suatu tempat kecuali yang membacanya akan selamat dari ragam penyakit dan terjaga dari virus yang membahayakan.
2. Orang yang membacanya pada setiap hari kala matahari terbit, niscaya Allah akan ijabah do’anya, melapangkan kesulitannya, angkat derajatnya, lapangkan kalbunya dengan tauhid, permudah urusannya yang sulit, cukupkan dari keburukan manusia dan jin, amankan ia dari keburukan siang dan malam, dimana orangpun akan menyukainya.
3. Orang yang membacanya setiap habis shalat, Allah akan cukupkan dari kebutuhannya pada manusia, amankan ia dari ragam kejadian buruk sepanjang zaman, mudahkan ragam sebab kebahagiaan baginya; baik kala ia bergerak, maupun diam.
4. Orang yang ingin menggapai apa yang ia inginkan, hendaknya membaca setelah shalat Shubuh, berupa surah Yasin 10 kali, kemudian membaca hizib bahr ini sebanyak 70 kali. Dengan izin Allah, Dia akan menggaoai apa yang diingini.
5. Orang yang membaca hizib ini diawal hari Jum’at, Allah akan buat banyak orang mencintainya.
6. Sedangkan untuk tasharruf dengan hizib ini, maka itu tergantung pada niatannya dan himmah yang terkumpul dalam rangka, mengharap kebaikan dan menolak keburukan, juga hendaknya disebutkan maksudnya kala membaca, wa sakhkhir lana hadza al bahra..”(ar Rimah).
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
يَا عَلِيُّ (1)
يَا عَظِيمُ يَا حَلِيمُ يَا عَلِيمُ، أَنْتَ رَبِّي وَعِلْمُكَ حَسْبِي، فَنِعْمَ الرَّبُّ رَبِّي وَنِعْمَ الْحَسْبُ حَسْبِي، تَنْصُرُ مَنْ تَشَاءُ وَأَنْتَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ، نَسْأَلُكَ (2)
الْعِصْمَةَ فِي الْحَرَكَاتِ وَالسَّكَنَاتِ وَالْكَلِمَاتِ وَالْإِرَادَاتِ وَالْخَطَرَاتِ مِنَ الشُّكُوكِ وَالظُّنُوْنِ وَالْأَوْهَامِ السَّائِرَةِ لِلْقُلُوْبِ عَنْ مُطَالَعَةِ الْغُيُوبِ، فَقَدِ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا.
Wahai Tuhan yang Maha Mulia, wahai Tuhan yang agung, wahai Tuhan yang Maha pemurah, wahai Tuhan yang Maha Mengetahui, engkau adalah Rabbku, cukuplah bagiku ilmu-Mu, maka sebaik-baiknya Rabb adalah Rabbku, sebaik baik yang mencukupi adalah Tuhanku yang mencukupiku, Engkau menolong orang yang Engkau kehendaki dimana Engkau adalah Dzat yang Perkasa lagi Penyayang. Kami memohon penjagaan-Mu dalam beragam gerakan, dalam kondisi diam, dalam beragam kalimat yang terucap, dalam keinginan dan detikan dari ragam keraguan, praduga dan prasangka yang menutupi kalbu dari melihat ghaib. [Orang-orang mukmin benar-benar telah diberi cobaan dan diguncangkan dengan guncangan yang sangat dahsyat].
وَإِذْ يَقُوْلُ الْمُنَافِقُوْنَ وَالَّذِيْنَ فِي قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا، فَثَبِّتْنَا وَانْصُرْنَا وَسَخَّرْ لَنَا (هَذَا الْبَحْرَ) كَمَا سَخَّرْتَ الْبَحْرَ لِمُوْسَى (3)
وَسَخَّرْتَ النَّارَ لِإِبْرَاهِيمَ، وَسَخَّرْتَ الْجِبَالَ وَالْحَدِيدَ لِدَاوُدَ، وَسَخَّرْتَ الرِّيْحَ (4)
وَالشَّيَاطِينَ وَالْجِنَّ وَالْإِنْسَ (5)
لِسُلَيْمَانَ، وَسَخَّرْتَ الثَّقَلَيْنِ لِمُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ، (6)
سَخِّرْ (7)
لَنَا كُلَّ بَحْرٍ هُوَ لَكَ فِي الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ وَالْمُلْكِ وَالْمَلَكُوْتِ، وَبَحْرَ الدُّنْيَا وَبَحْرَ الآخِرَةِ . (8)
(وَسَخَّرْ لَنَا كُلَّ شَيْءٍ) يَا مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيئ.
[Dan ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang sakit hatinya berkata, Janji yang sudah Allah dan rasul-Nya janjikan pada kita adalah tipuan belaka’,] maka kokohkanlah kami, tolonglah kami dan tundukkanlah lautan ini sebagaimana Engkau telah tundukkan lautan untuk nabi Musa As, Engkau tundukkan bukit dan besi untuk nabi Daud As, Engkau tundukkan angin, syeithan, jin dan manusia untuk nabi Sulaiman As, Engkau tundukkan alam jin dan manusia untuk Nabi Muhammad Saw. Tundukkanlah untuk kami seluruh lautan milik-Mu yang ada di bumi dan langit, yang ada di alamnya manusia dan alamnya para malaikat, yang ada di lautan dunia dan lautan akhirat, tundukkanlah untuk kami segala sesuatunya wahai Dzat yang ditangan-Nyalah kerajaan segala sesuatu.
كٓهيعٓصٓ ، كٓهيعٓصٓ ، كٓهيعٓصٓ ، أَنْصُرْنَا فَإِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ، وَافْتَحْ لَنَا فَإِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ، وَاغْفِرْ لَنَا فَإِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ، وَارْحَمْنَا فَإِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ، وَارْزُقْنَا فَإِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ، وَاهْدِنَا وَنَحْنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ، وَهَبْ لَنَا رِيْحاً طَيِّبَةً كَمَا هِيَ فِي عِلْمِكَ، وَانْشُرْهَا عَلَيْنَا مِنْ خَزَائِنِ رَحْمَتِكَ، وَاحْمِلْنَا بِمَا حَمْلَ الْكَرَامَةِ مَعَ السَّلَامَةِ وَالْعَافِيَةِ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Kấf Ha Ya Aîn Shaad, Kất Ha Ya Aîn Shad, Kaf Ha Ya ‘Aîn Shad, tolonglah kami, sungguh Engkaulah sebaik-baiknya penolong, bukakan pada kami (rahmat-Mu), sungguh Engkaulah sebaik-sebaiknya pembuka, ampunilah kami, sungguh Engkaulah sebaik-baik pengampun dosa, sayangilah kami, sungguh Engkaulah sebaik-baik penyayang; anugerahilah kami rezeki, sungguh Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki, berikanlah hidayah pada kami, tolonglah kami dari orang-orang yang berbuat zhalim, hembuskanlah pada kami angin yang baik sebagaimana yang Engkau ketahui, tiupkanlah itu pada kami dari sisi perbendaharaan rahmat-Mu, bawalah kami dengan angin yang baik itu, dengan pembawaan mulia beserta keselamatan dan terhindar dari fitnah dalam agama, dunia dan akhirat, sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
أَللَّهُمَّ يَسِّرْ لَنَا أُمُوْرَنَا مَعَ الرَّاحَةِ لِقُلُوْبِنَا وَأَبْدَانِنَا، وَالسَّلَامَةِ وَالْعَافِيَةِ فِي دِينِنَا وَدُنْيَانَا، وَكُنْ لَنَا صَاحِبَاً فِي سَفَرِنَا وَخَلِيفَةً فِي أَهْلِنَا، وَاطْمِسْ عَلَى وُجُوهِ أَعْدَائِنَا، وَامْسَخْهُمْ (9)
عَلَى مَكَانَتِهِمْ فَلَا يَسْتَطِيعُوْنَ الْمُضِيَّ وَلَا الْمَجِيءَ إِلَيْنَا.
[وَلَوْ نَشَاءُ لَطَمَسْنَا عَلَى أَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَأَنَّى يُبْصِرُونَ (10)
وَلَوْ نَشَاءُ لَمَسَخْنَاهُمْ عَلَى مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوا مُضِيًّا وَلَا يَرْجِعُونَ (11)]
يسٓ (1) وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ (2) إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ (3) عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (4) تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (5) لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُوْنَ (6) لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ (7) إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُوْنَ (8) وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَ (9)
(شَاهَتِ الْوُجُوهُ، شَاهَتِ الْوُجُوهُ، شَاهَتِ الْوُجُوهُ )،
Ya Allah, mudahkanlah beragam urusan kami dengan perasaan lega/rehat di kalbu dan badan kami, keselamatan dan terhindar dari fitnah pada agama dan dunia kami, jadilah Engkau sebagai teman sewaktu perjalanan kami dan sebagai pengganti dalam keluarga kami, binasakanlah wajah musuh-musuh kami, lenyapkanlah mereka dari tempat mereka sehingga mereka tidak lewat dan kembali datang pada kami. [Jika Kami mau, maka Kami bisa hapus mata mereka, kemudian mereka berlomba-lomba meniti jalan, sementara mereka tidak bisa melihat. Jika kami mau, sungguh Kami akan lenyapkan mereka ditempat mereka, yang dengannya mereka tidak bisa pergi maupun kembali].
[Yâsîn.Demi al Qur’an yang penuh dengan hikmah. Sungguh Engkau salah seorang dari rasul-rasul. (yang berada) di atas jalan yang lurus; (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Agar kami memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, yang oleh karenanya mereka lalai. Sungguh telah berlaku dengan pasti firman (ketetapan, ketentuan Allah terhadap kebanyakan mereka, maka mereka tidak beriman. Sungguh Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka diangkat ke dagu, maka karena itulah mereka tertengadah. Dan Kami jadikan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), lalu Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak bisa melihat.] (Qs. Yaasin (36): 1-9).
(Semakin terpuruklah wajah-wajah mereka, semakin terpuruklah wajah-wajah mereka, semakin terpuruklah wajah-wajah mereka.)
وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا (111) ،
طسٓ ، حمٓ (1)
عٓسٓقٓ (2) ،
مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ (19) بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيَانِ (20)
*حمٓ حمٓ حمٓ حمٓ حمٓ حمٓ حمٓ * حُمَّ الأمرُ وَجَاءَ النَّصْرُ فَعَلَيْنَا لَا يُنْصَرُوْنَ * حمٓ (1)
تَنزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (2)
غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّولِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ (3) ،
بِسْمِ (10)
اللَّهِ بَابُنَا، تَبَارَكَ حِيْطَانُنَا (11)
يسٓ سَقْفُنَا، كٓهيعٓصٓ كِفَايَتُنَا ،
حمٓ عٓسٓقٓ حِمَايَتُنَا .
فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ، فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ، فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ،
((Tertunduklah wajah-wajah mereka kepada Tuhan Yang Maha Hidup lagi senantiasa berdiri sendiri, telah sia-sia orang yang berbuat kezhaliman.))
((Tha Sîn Mim, Tha Sîn Mim, Tha Sîn Mîm, Ha Mîm ‘Aîn Sin Qâf. Dia membiarkan dua lautan mengalir yang kemudian keduanya bertemu, antara keduanya dan batasan yang tidak dilampaui masing-masing. (Qs. ar-Rahman [55]: 19-20)
((Ha Mim, Ha Mìm, Ha Mìm, Ha Mìm, Ha Mîm, Ha Mim, Ha Mim, perkara Allah telah ditetapkan dan telah datang pertolongan, maka tiada yang dapat memberi pertolongan atas Kami)).
((Ha Mim. Diturunkan kitab (Al Qur’an) ini dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, yang mengampuni dosa dan menerima tobat lagi sangat pedih siksa-Nya, serta memiliki ragam karunia, tiada ilah yang patut disembah melainkan Dia, yang hanya kepada-Nyalah semuanya kembali.)) (Ucapan) bismillah adalah pintu kami, (ucapan) Tabarak adalah pagar kami, (ucapan) Ya Sîn adalah atap kami, (ucapan) Kaf Ha Ya Aîn Shad adalah pelindung kami, (ucapan) Ha Mim ‘Aîn Sîn Qaf adalah penjaga kami, [maka Allah akan memelihara kamu dari mereka dan Dia Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.] (3x).
سِتْرُ اللَّهِ (12)
مَسْئُولٌ عَلَيْنَا، وَعَيْنُ اللَّهِ نَاظِرَةٌ إِلَيْنَا، بِحَوْلِ اللَّهِ
لا يُقْدَرُ عَلَيْنَا ،
وَاللَّهُ مِن وَرَابِهِم تُحِيطُ (20) بَلْ هُوَ قُرْءَانٌ تَجِيدُ (21) فِي لَوْحٍ تَحْفُوظ (22) ،
فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّحِمِينَ (64) 3x ،
إِنَّ وَلِيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ (196) 3x ،
حَسْبِي اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ 3x
Tirainya Allah diturunkan pada kami, mata-Nya Allah memandang kami dan dengan berkat kekuatan Allah mereka tidak mampu menguasai kami; ((Allah mengepung mereka dari belakang [sehingga mereka tidak dapat lolos]. Bahkan yang didustakan mereka adalah al Qur’an yang agung, yang tersimpan)) (Qs. al Buruj [85]: 20-22) ((Maka Dialah Allah sebaik-baiknya penjaga dan Dialah Dzat yang paling penyayang)) (Qs. Yusuf [12]: 64)[3X] ((Sungguh pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan al Qur’an dan Dialah yang melindungi orang-orang shaleh)) (Qs. al A’raf [7]: 196). [3x]
Cukuplah Allah bagiku, tiada ilah yang patut disembah selain Dia, hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dialah Rabb pemilik Arasy yang agung [3x]
Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan makhluk yang telah diciptakan [3x]
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ 3x ،
وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيُّ الْعَظِيمِ 3x .
Dengan menyebut nama Allah yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu apapun yang dapat membahayakan di bumi dan di langit, Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui [3x]
Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan dari Allah yang Maha Luhur lagi Maha agung [3x].
Catatan:
Sayyidi Basyir az-Zaituni Ra merupakan sahabat Sayyidi Ibrahim ar-Riyahi Ra, beliau mendapatkan hizib Bahr ini melalui talaqqi ruhani dari hadhrah al Muhammadiyyah, sebagaimana yang terjadi pada Syaikh Abu al Hasan asy-Syadzili Ra.
Do’a yang dibaca setelah hizb Bahr agar segera diijabah oleh Allah, demikian redaksinya:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
آمَنْتُ بِاللَّهِ، وَاعْتَصَمْتُ بِحَوْلِ اللهِ، وَتَحَصَّنْتُ بِحِصْنِ اللَّهِ، وَتَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، بِسْمِ اللَّهِ الْخَالِقِ الأَكْبَرِ وَهُوَ حِرْزٌ مَانِعٌ مِمَّا أَخَافُ وَأَحْذَرُ، لَا قُدْرَةً لِمَخْلُوقٍ مَعَ قُدْرَةِ الْخَالِقِ يُلْحِمُهُ بِلِجَامِ قُدْرَتِهِ، أَحْمَى حَمِينًا، أَطْمَى طَمِيئًا، وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا.
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Aku telah beriman pada Allah, aku telah berpegang teguh pada kekuatan Allah, aku telah berlindung dengan bentengnya Allah, aku telah bertawakkal pada Allah, tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pencipta lagi Maha Agung, Dialah pelindung kokoh yang mengangkis setiap hal yang aku takuti dan khawatiri, tidak ada kekuatan makhluk bersama kekuatan Allah sang Pencipta, Dia mengendalikan makhluk dengan kendali kekuasaan-Nya, Allah lah yang Maha Kuat lagi Perkasa.
نَحْنُ فِي كَنَفِ اللَّهِ، نَحْنُ فِي كَنَفِ رَسُوْلِ اللَّهِ، نَحْنُ فِي كَنَفِ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، نَحْنُ فِي كَنَفِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. أَلْفُ أَلْفِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ فِي بَاطِنِي نُشِرَتْ، أَلْفُ أَلْفِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ فِي ظَاهِرِي نُشْرَتْ، أَلْفُ أَلْفِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللَّهِ تَحُوْلُ بَيْنِي وَبَيْنَ سَاعَةِ السُّوْءِ إِذَا حَضَرَتْ، أَلْفُ أَلْفِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللَّهِ تَدُورُ بِيَ سُوْرًا كَمَا دَارَ السُّوْرُ بِمَدِينَةِ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Kami berada dalam naungan Allah, kami berada dalam naungan Rasulullah, kami dalam naungan al Qur’an yang agung, kami dalam naungan ‘bismillahirrahmanirrahim’, sejuta untaian Lâ ilâha illallâh terbentang pada jiwaku, sejuta untaian Lâ ilaha illallah terbentang pada yang nampak dari diriku, sejuta untaian La ilaha illallah terbentang di antaraku dan kala waktu buruk datang, sejuta untaian Lâ ilâha illallah terbentang sebagai pagar yang mengelilingiku, sebagaimana ia mengelilingi kota Rasulullah; Madinah.
سُبْحَانَ مَنْ أَلْجَمَ كُلَّ مُتَمَرِّدٍ بِقُدْرَتِهِ، سُبْحَانَ مَنْ نَفَذَ فِي كُلِّ شَيْءٍ حُكْمُهُ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ وَمَبْلَغَ عِلْمِهِ وَأَيَاتِهِ.
اللَّهُمَّ صَلَّى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ والهَادِي إِلى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ وعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ ومِقْدَارِهِ العَظِيمِ
Maha Suci Dzat yang mengekang setiap orang yang durhaka terhadap kekuasaan-Nya dengan kemampuan-Nya, Maha suci Dzat yang hukumnya berlaku pada segala sesuatu, Maha suci Allah yang Maha Agung dan dengan memuji-Nya sebanyak bilangan makhluk-Nya, sesuai dengan keridhaan-Nya, seberat bobot Arasy-Nya, sebanyak tinta kalimat-kalimat-Nya dan sebanyak ilmu dan ayat-ayat-Nya.
Ya Allah, semoga Engkau berkenan menghaturkan shalawat kepada penghulu kami Muhammad, sang pembuka yang tertutup, penutup yang telah lampau, penolong kebenaran dengan cara yang benar, penunjuk ke jalan yang lurus, dan juga (limpahkan pula) bagi keluarga beliau yang memiliki hak dan derajat yang agung;
صَلَاةً تَفْتَحُ لَنَا بِهَا أَبْوَابَ الرِّضَى وَالتَّيْسِيْرِ، وَتَغْلِقُ بِمَا عَنَّا أَبْوَابَ الشَّرِّ وَالتَّعْسِيرِ، وَتَكُوْنُ لَنَا بِهَا وَلِيًّا وَنَصِيرًا، أَنْتَ وَلِيُّنَا وَمَوْلَانَا، فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرِ.
Sebagai shalawat yang dengan perantaranya terbukalah bagi kami pintu-pintu keridhaan dan kemudahan, tertutuplah dari kami pintu-pintu keburukan dan kesulitan, shalawat yang dengannya Engkau menjadi pelindung dan penolong kami. Engkaulah pelindung kami, Engkaulah sebaik-baiknya pelindung dan penolong.
كَمْ أَبْرَأَتْ (13)
وَصِبًا بِاللَّمْسِ رَاحَتُهُ وَأَطْلَقَتْ أَرِبًا مِنْ رِبْقَةِ اللَّمَمِ مَنْ يَعْتَصِمْ بِكَ يَا خَيْرَ الْوَرَى شَرَفًا فَاللَّهُ حَافِظُهُ مِنْ كُلِّ مُنْتَقِمٍ وَمَنْ تَكُنْ بِرَسُوْلِ اللَّهِ نُصْرَتُهُ إِنْ تَلْقَهُ الْأُسْدُ فِي أَجَامِهَا تَحِمٍ
Betapa banyak orang yang sembuh dengan sentuhan telapak tangan (Nabi Saw) # dan membebaskan orang yang cerdas (akan perkara akhirat) dari jeratan dosa
Barangsiapa yang berpegang teguh denganmu wahai sebaik-baiknya makhluk yang memiliki kemuliaan # maka Allahlah yang meliharanya beliau dari setiap penuntut balas
Barangsiapa yang mendapatkan pertolongan dari Rasulullah # andai ia berjumpa dengan singa di rimbanya, maka singa akan terdiam dan menjauh.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada penghulu kami; Muhammad dan juga bagi keluarga dan para sahabat beliau. Maha Suci Allah Tuhan pemiliki kemuliaan dan suci dari apa yang telah disifati oleh orang-orang kafir dan semoga salam terlimpah atas para rasul (utusan Allah)…Segala puji hanya bagi Allah Rabb alam semesta.
Catatan :
1. Dalam riwayat Sayyidi al Basyir az-Zaituni disebutkan dengan redaksi, اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ يَا اللّٰهُ يَا اللّٰهُ يَا اللّٰهُ يَا عَلِيٌّ
2. Dalam al Kharidah disebutkan dengan redaksi, أَسْأَلُكَ
3. Dalam sebagian naskah sahabat khusus Sayyidi Syaikh Ra disebutkan dengan redaksi, بعد كل نبي عليه السلام
4. Dalam riwayat Sayyidi al Basyir disebutkan dengan redaksi, الرِّيَاحَ
5. Redaksi, وَالْإِنْسَ terhapus pada naskah thariqah asy-Syadziliyyah.
6. Kalimat ini terhapus dalam naskah asli thariqah asy-Syadziliyyah, sedangkan dalam riwayat Sayyidi al Basyir Az-Zaituni, disebutkan dengan redaksi, وَسَخَّرْتَ الْبُرَاقَ لِنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
7. Ini merupakan riwayat Sayyidi al Basyir az-Zaituni dan naskah asli thariqah asy-Syadziliyyah.
8. Dalam riwayat Sayyidi al Basyir az-Zaituni setelah redaksi tersebut ditambahkan redaksi, إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
9. Dalam al Kharidah disebutkan dengan redaksi, امْسَخْ عَلَى مَكَانَتِهِمْ
10. Dalam al Kharidah disebutkan dengan redaksi, بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، تَبَارَكَ حِيْطَانُنَا. Bisa jadi memang ada yang dihapus.
11. Ada informasi yang telah sampai pada kami bahwa Sayyidi al Basyir membacanya, حَايِطِنَا
12. Ini merupakan riwayat Sayyidi al Basyir, sedangkan naskah asli thariqah asy-Syadziliyyah disebutkan dengan redaksi, سِتُرُ الْعَرْش
13. Kata, الْوَصَبُ berarti penyakit, sedangkan kata, الْوَصِبُ memiliki arti orang yang sakit.
