
Elsubha.com – Do’a Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra (1)
“Untuk mengamalkan wirid ikhtiyari, alangkah lebih bijak jika dikonsultasikan terlebih dahulu kepada muqaddam masing-masing”
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ، عَدَدَ مَا فِي عِلْمِكَ، وَأَنْ تُعْطِيَنِي وَتُعْطِيَ فُلَانًا كَذَا وَكَذَا – جمْعًا أَوْ فَرْدًا – مِنْ كُلِّ مَا شِئْتَ مِنْ ابْتِدَاءِ خَلْقِكَ إِلَى انتِهَاءِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فِي كُلِّ مِقْدَارِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، لِكُلِّ وَاحِدٍ عَلَى انْفِرَادِهِ عَشْرِيْنَ فَيْضَةً مِنْ بَحْرِ رِضَاكَ. أَنْ تُعْطِيَ كُلَّ وَاحِدٍ فِي كُلِّ فَيْضَةٍ أَوْفَرَ حَظٍّ وَنَصِيْبٍ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ سَأَلَكَ مِنْهُ سَيِّدُنَا مُحَمَّدٍ نَبِيُّكَ وَرَسُوْلُكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
“Ya Allah, sungguh aku memohon pada-Mu agar Engkau menghaturkan shalawat kepada penghulu kami Muhammad dan keluarganya sebanyak apa yang terdapat dalam ilmu-Mu agar Engkau memberikan untukku dan juga memberikan ini dan itu kepada si fulan dengan setiap hal yang Engkau suka sejak permulaan penciptaan-Mu hingga selesai hari Kiamat, sesuai dengan takaran kedipan mata, dimana setiap orang memperhatikan kesendiriannya yang berupa dua puluh kucuran ilahiyyah dari lautan keridhaan-Mu, dan agar engkau memberi setiap orang satu kucuran ilahiyyah atau nasib baik yang lebih banyak, yang dipinta oleh Penghulu kami Muhammad; nabi dan rasul-Mu,
مَا عَلِمْتُ مِنْ ذَلِكَ وَمَا لَمْ أَعْلَمُ مِنْ خَيْرَاتِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَالنَّجَاةِ مِنْ كُلِّ شَرِّ اسْتَعَاذَكَ مِنْهُ سَيِّدُنَا مُحَمَّدٍ نَبِيُّكَ وَرَسُوْلِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مَا عَلِمْتُ مِنْ ذَلِكَ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، مِنْ شُرُوْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَغْفِرَةَ جَمِيعِ ذُنُوبِنَا، مَا تَقَدَّمَ مِنْهَا وَمَا تَأَخَّرَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَأَدَاءَ جَمِيعِ تَبِعَاتَنَا مِنْ خَزَائِنِ فَضْلِكَ وَكَرَمِكَ لَا مِنْ حَسَنَاتِنَا، وَالَّذِي فِي كُلِّ فَيْضَةٍ غَيْرُ الَّذِي فِي الْأُخْرَى. وَهَذَا كُلُّهُ غَيْرَ الَّذِي تَقَدَّمَ
apa yang aku ketahui dari itu dan apa yang tidak kuketahui dari ragam kebaikan dunia dan akhirat serta (keselamatan dari segala keburukan yang penghulu kami Muhammad; nabi dan rasul-Mu meminta perlindungan darinya; baik keburukan yang aku ketahui atau yang tidak kuketahui dari ragam keburukan dunia dan akhirat. (serta aku memohon pada-Mu) yang berupa ampunan dari semua dosa-dosa kami yang telah lampau maupun yang akan datang di dunia ini maupun di akhirat, dan juga kemampuan bagi kami dalam melaksanakan tuntutan bagi kami dari perbendaharaan keutamaan dan kemurahan-Mu dan bukan dari kebaikan yang kami miliki, yang mana perkara yang ada pada satu faidhah tidak sama dengan yang ada di faidhah lainnya dan ini semua selain yang sudah kami pinta sebelumnya.
وَأَسْأَلُكَ أَنْ تُعْطِيَنِي وَكُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ جَمِيعَ ذَا وَذَالِكَ، وَأَنْ تُحِيْبَنِي وَكُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ فِي جَمِيعِ ذَا وَذَلِكَ بِمَحْضِ فَضْلِكَ وَكَرَمِك
(Akupun memohon pada-Mu) agar Engkau memberikanku dan setiap orang dari mereka semua ini dan itu, dan agar Engkaupula menjawabku dan menjawab setiap dari mereka para perkara ini dan itu dengan keutamaan dan kemuliaan-Mu yang murni.”
Catatan:
Redaksi do’a diatas bukan untuk kebanyakan orang yang bertauhid muni, oleh karena itu disebutkan dengan redaksi, (مِنْ خَيْرَاتِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ) “kebaikan dunia dan akhirat,” sementara untuk yang sudah bertauhid murni, maka tidak perlu ada tambahan redaksi, (وَالنَّجَاة) “keselamatan.”
Kemudian lanjutan do’a setelah itu, “yang mana perkara yang ada pada satu faidhah tidak sama dengan yang ada di faidhah lainnya,” sebab redaksi do’a sisanya merupakan hal umum yang berlaku bagi yang berakidahkan tauhid (Islam); yang berupa do’a dengan pengetahuan bahwa Allah tidak akan berbuat demikian padanya, sama seperti halnya orang yang meminta pada Allah kenabian dan risalah setelah Nabi Muhammad Saw, maka orang ini jika toh dia tidak kufur, tetapi dirinya tidak jauh dari kekufuran, karena Allah Swt telah menentukan perkaranya demikan dan telah mengabarkannya pada kita (bahwa tiada nabi dan rasul setelah Nabi Muhammad Saw). Sungguh orang yang memohon pada Allah dengan permohonan yang bertentangan dengan apa yang sudah ditentukan untuknya, dia masuk ke ranah kekufuran, karena dia memohon pada Allah sesuatu yang nista, sementara Dzat allah suci dari kedurjanaan, dia seolah meminta kepada Allah agar tidak menjadikan Dzat-Nya sebagai Dzat yang suci, hal ini dikarenakan apa yang telah ditentukan oleh Allah, ini adalah inti keadilan Allah, sementara lawan dari keadilan adalah inti kedurjanaan
Didalam do’a ini ada tiga martabat: Pertama, martabat bagi semua orang bertauhid; Kedua, martabat bagi orang yang berdo’a, yang diniatkan untuk pembentengan diri; dan Ketiga, martabat untuk semua orang yang telah berbuat baik kepada si pendo’a atau orang yang ada rasa cinta antara keduanya atau yang memiliki keterkaitan dengannya. Maka orang yang hendak berdo’a dengan do’a ini yang memiliki tiga martabat, hendaknya menyesuaikan diri dengan permintaan yang cocok baginya. Pahamilah ini !.
