
Elsubha.com – Maqam Khatmiyyah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra Bagian 1
Sayyidi al ‘Arabi bin Sa ih pengarang Bughyah al Mustafid menuliskan jawaban yang ditujukan kepada sahabat khusus beliau:
“Wahai tuanku, pertama kali ketahuilah, bahwa maqam khatmiyyah itu sudah dibahas oleh sejumlah wali yang sudah wushul pada Allah Swt dan para pembesar wali quthub. Diantara mereka ada yang membuat tulisan khusus membahas hal tersebut namun berdasarkan isyarat ilahiyyah dan rumusan bahasa langit. Sosok ulama yang membahas itu adalah Syaikh Muhammad bin ‘Ali At-Tirmidzi, ulama tersohor pada abad ke-3. Para ulama pun telah memberikan kesaksian baik untuk beliau. hal ini telah dinukil oleh Syaikh Abdur-Rauf al Munawi pada syarah beliau terhadap kitab al Jami’ ash-Shaghir karya Imam as-Suyuthi: Diantaranya adalah pernyataan Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari terkait maqam khatmiyyah, dimana Imam asy-Syadzili dan al Mursi sangat menghormati beliau dan keduanya mengatakan, bahwa beliau termasuk salah satu wali autad yang empat.
Diantaranya adalah pernyataan Imam Al Qusyairi dalam Risalah al Qusyairiyyah, beliau menyebutkan, “Sosoknya termasuk pembesar masyayikh, ia pun sembari menyebutkan ragam pujian untuknya; Beliau adalah sosok yang diisyaratkan memiliki maqam khatmiyyah. Hal yang jelas menunjukkan itu adalah perkara yang aku telah ketahui terkait pertanyaan yang hanya mampu dijawab oleh pemilik pangkat wali khatam al akbar, yaitu pertanyaan yang berjumlah 155. Hal ini tentu menunjukkan luasnya ilmu pemberian Allah (Al Mauhubah) dan dzauq-nya yang dalam. Pernah dinukil, bahwa beliau pernah diusir dari negerinya lantaran dianggap kufur sebab perkataan beliau yang digiring pada makna yang tidak seharusnya.
Diantara ulama yang juga berbicara seputar maqam khatmiyyah adalah Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi dalam Futûhât al Makkiyyah pada pembahasan khusus dan juga pada kitab lainnya, bahkan beliau membuat kitab khusus yang membicarakan perkara ini; yaitu ‘Unaqa Maghrib fi Khatmi al Auliya wa Syams al Maghrib.
Aku (Sayyidi al ‘Araby bin Sa’ih) melihat buku itu telah di-syarahi dan aku pun telah menelaahnya, hanya saja ada perbedaan jauh antara naskah asli dengan syarah-nya (penjelasannya); adanya perbedaan jauh dari sisi jiwa dan dalamnya dzauq pemahaman, bahkan sosok yang memberikan penjelasan kitab tersebut malah condong dan menyatakan bahwa wali pemegang maqam khatam al akbar adalah sang pengarang kitab (‘Unaqâ`); yaitu Syaikh Muhyiddin Ibnu Araby al Hatimi. Hal tersebut lantaran aku melihat sisi ma’rifat beliau dalam maqam khatmiyyah dan kemampuannya dalam membedakan setiap maqamât yang ada. Bahkan dari isyarat kitab tersebut, sepertinya Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi menulisnya sebelum melakukan verifikasi bahwa maqam wali khatam tersebut dimiliki wali lain selain beliau.
Dinukil juga dalam kitab lain karya beliau, yang hasilnya adalah, bahwa Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi mengakui pangkat wali khatam untuk dirinya pertama kali, kemudian disusul sekelompok ulama lain yang mengakui itu. Ulama yang juga membicarakan maqam khatmiyyah adalah wali quthub Sayyidi ‘Ali bin Wafa yang mengakui, bahwa maqam itu milik ayahnya; yaitu al Quthub al Kabir Sayyidi Muhammad Wafa.
Ulama yang juga turut membicarakan maqam khatmiyyah adalah Syaikh Abu Salim al ‘lyâsyi dalam tulisan rihlah beliau seraya menukil dari ulama lainnya dan juga menukil bahwa pangkat wali khatam itu milik ash-Shafi al Qasysyâni; sosok wali quthub terkenal yang para masyayikh-nya pun ternama.
Selain mereka, masih banyak ulama yang mem-bicarakan maqam khatmiyyah, hanya saja pernyataan mereka berbeda-beda; terkadang yang mereka maksudkan adalah maqam khatam sisi al Muhammady, terkadang wali khatam maqamât selain penutup maqamât yang awal; maksudnya adalah bahwa sosok wali yang datang belakangan memiliki maqam yang lebih tinggi dalam derajat maqam quthbaniyyah dan hanya ada beberapa wali afrad yang mendapatkan maqam ini.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pun pernah membicarakan maqam khatmiyyah ini dalam Jawahir al Ma’âni, tepatnya pada jawaban beliau tentang hakekat pangkat quthbaniyyah atau dalam pembahasan yang seirama dengan pembahasan tersebut. Pernyataan beliau ini dinukil oleh Syaikh ‘Ali Harazim, silahkan lihat kembali naskah dengan tulisan tangan yang dimiliki oleh As-Sayyid al Jalil Sayyidi Ahmad bin ‘Abdullah bin Bibrik, seorang berkebangsaan Sudan. Naskah Jawahir al Ma’âni tersebut merupakan naskah yang sangat bagus. Maqam ini dinamakan dengan penutup maqamât yang tidak khusus bagi satu wali quthub saja, tetapi ini bisa dimiliki oleh banyak wali Allah hingga maqam ini nantinya ditutup oleh sang wali khatam al akbar yang maqam-nya tidak disifati dengan kecuali memiliki dua makna maqam khatmiyyah, dialah sang wali khatam sisi al Muhammady.
Maqam khatmiyyah merupakan maqam yang memiliki makna; Pertama, para wali afrad siapapun bisa mendapatkan maqam tersebut. Kedua, Maqam ini pun memiliki makna, bahwa ia hanya dimiliki oleh wali khatam akbar, dimana semua wali ini memiliki derajat quthbaniyyah, hanya saja sosok pemilik maqam khatam yang kedua tentu memililki derajat yang lebih tinggi dari sebelumnya. Dengan pemaknaan demikian, maka sering kali terjadi kesalahan dalam pengakuan maqam tersebut, ada yang mengaku mendapati maqam khatmiyyah dengan makna kedua ketika ia baru sampai pada maqam khatmiyyah dengan makna yang pertama.
Oleh karena ini pula, Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani dalam Thabaqât-nya menukil dari Sayyidi ‘Ali bin Wafa, yang telah menisbatkan maqam khatmiyyah untuk ayah beliau; al Quthub al Kabir Sayyidi Muhammad Wafa. Maka aku katakan pula, bahwa ada sekelompok wali yang mengaku memiliki maqam khatmiyyah, yang jelas adalah bahwa setiap zaman ada wali khatam-nya.
Pernyataan Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani dalam Thabaqât-nya, “Setiap zaman ada wali khatam-nya,” ini menunjukkan pemaknaan wali khatam yang pertama, dimana para wali lain pun bisa memiliki maqam ini dan itu tidak menunjukkan pemaknaan wali khatam yang kedua; yang khusus. Begitu juga dengan perkataan Syaikh Ali Wafa, “Penampakan (kewalian) yang paling sempurna dalam setiap zaman, dialah yang nampak dengan kasyaf, iapun mampu menjelaskan perkara yang tidak disangka-sangka bagi penduduk zamannya; perkara yang datangnya dari Allah Swt. Ini adalah makna dari sisi ghaib Allah yang Allah tidak ditampakkan kecuali pada orang yang Dia ridhai.”
Jika engkau telah mengetahui makna perkataan Sayyidi al ‘Araby bin Sa`ih, maka Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra meski beliau juga sampai pada maqam khatmiyyah ini seperti para wali lainnya, dimana maqam ini merupakan maqam yang biasa dimiliki para wali afrad, hanya saja ada nash yang menyatakan bahwa maqam khatmiyyah dengan makna kedua adalah khusus bagi empunya, hal ini termuat dalam jawaban Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra bagi orang yang mau mencermatinya.
Perkataan tersebut saling melengkapi dan mem-berikan kekhususan serta penjabaran detail sebagaimana telah diketahui.
Maqam khatmiyyah bermakna kedua; ini khusus dimiliki oleh penutup wali sisi al Muhammady al akbar, inilah sosok yang disebutkan oleh al Imam Muhammad bin ‘Ali at-Tirmidzi dalam pembahasan yang lalu, ini pula yang diakui oleh Syaikh Akbar; Muhyiddin Ibnu ‘Araby dalam kitab beliau; ‘Unaqa Maghrib dan diperbincangkan dalam Futûhât al Makkiyyah pada beberapa pembahasan, bahkan beliau juga menjelaskan perbedaan antara wali khatam sisi al Muhammady dan wali khatam secara umum; yaitu nabi Isa As.
Diantara ciri wali khatam al Muhammady yang disebutkan oleh Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi adalah sosoknya diuji dengan pengingkaran pada perkara yang Allah Swt berikan pada sirr-nya.
Diantara ciri lainnya adalah, apa yang telah dinukil oleh al Imam asy-Sya’rani dalam Thabaqât-nya dari pernyataan Sayyidi ‘Ali bin Wafa dengan redaksi: Penutup wali dengan kalbu penutup para nabi As, dimana tandanya adalah ia mampu mengejawantahkan seluruh ragam wijdan para wali dan ia pun mencukupkan diri dengan wijdan-nya sendiri, sebagaimana penutup para nabi (Nabi Muhammad Saw) yang mampu mengejawantahkan semua wijdan para nabi seraya mencukupkan diri dengan kekhususan yang ia miliki.
Makna wali khatam al akbar adalah penutup wali, hal ini tersirat dalam pernyataan Syaikh Marwaz Akbar Abâdi Ra ketika menjelaskan Akidah Sufi: “Bahwa sempurnanya penampakan wali al Muhammady telah terejawantahkan dalam dirinya, tidak ada lagi yang muncul selain dirinya.” Maksudnya, tidak ada lagi wali yang muncul dengan kewalian sisi al Muhammady setelahnya, maka pahami ini niscaya engkau paham makna khatmiyyah.
Sedangkan hakekat maqam khatmiyyah dengan makna yang kedua; yang khusus bagi penutup wali akbar, maka ini pun tersirat dalam kitab Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby selain Futûhât al Makkiyyah, bahwa pemilik maqam ini adalah sosok dimana semua wali meminta madad dari misykat cahaya kewaliaannya dan sebelum wujud jasadnya nampak, sebagaimana penutup para nabi, beliaulah tempat kembalinya para nabi (dalam hal kewalian) sebelum munculnya jasad Nabi Muhammad Saw. Hal ini karena Nabi Muhammad Saw pada alam ruh telah menjadi nabi dan mengetahui kenabian diri beliau Saw, berbeda dengan para nabi lainnya, mereka tidak mengetahui kenabian diri mereka kecuali saat mereka diutus oleh Allah Swt.
Begitu juga dengan wali khatam al Muhammady, dalam alam ruh sosoknya telah mendapatkan pangkat wali sekaligus mengetahui kewalian diri beliau Ra. Pahamilah ini dan tariklah tanganmu agar engkau tidak terbawa pada khayalan dan dugaanmu.
Dengan demikian, wali khatam al Muhammady ini adalah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, sebagaimana telah dijelaskan secara gamblang tentang hak beliau serta diperkuat dengan penyifatan para ulama ternama semisal Syaikh Ibrahim ar-Riyâhi at-Tûnisi dan kalangan pembesar wali yang telah futuh dari para sahabat beliau. Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan gamblang dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tjany Ra yang dinukil oleh sahabat sekaligus murid khusus beliau, seperti Sayyidi Ahmad al Filali dan yang lainnya. Semua pernyataan itu mengarah pada sisi tawatur (periwayatan dari banyak orang yang mustahil semuanya sepakat untuk berbohong). Hal ini juga ditunjukkan dari syathahat beliau yang menunjukkan, bahwa beliau adalah tempat kembalinya para wali sejak dahulu dan yang akan datang, seperti pernyataan beliau terkait ulama zamannya, dalam syathahat beliau menyatakan, “Seluruh masyayikh, telah mengambil dariku sejak (akhir) zaman sahabat nabi hingga sangkakala Kiamat ditiupkan.” Seorang sahabat beliau menimpali, “Bagaimana bisa demikian, sementara baginda ada di abad ke-12?” Beliau Ra menjawab, “Sejak Allah Swt ciptakan ruh, dimana ruh Nabi Muhammad Saw senantiasa memberikan madad kepada para utusan dan nabi Allah, maka ruhku pun senantiasa memberikan madad kepada para wali quthub dan para wali lainnya.”
Redaksi ini merupakan redaksi yang sangat jelas dalam menyifati Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, sebagaimana yang telah kami jelaskan dari pendapat Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi tentang makna khatmiyyah. Dalam pernyataan beliau tentu lebih gamblang dan jelas, hal ini tidak perlu lagi engkau ragukan, maka kamipun tidak akan berpanjang kalam tentang perkara ini.
Namun disini ada hal yang perlu diperhatikan, dimana aku (Al ‘Allamah Sayyidi Ahmad Sukairij) telah mengikuti pendapat sebagian tokoh khusus dalam mendefinisikan maqam Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, yang aku tangkap dari pernyataan mereka adalah, bahwa maqam khatmiyyah adalah maqam katmiyyah, maksudnya maqam katmiyyah yang Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah ungkapkan secara tegas mengenai itu, namun yang kami pastikan, bahwa maqam khatmiyyah dan maqam katmiyyah merupakan dua hakekat yang berbeda satu sama lain, dimana sosok yang memiliki sifat ini hanya ada satu orang; yaitu Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.
Hakekat maqam khatmiyyah adalah seperti yang telah kami paparkan, sedangkan hakekat maqam katmiyyah telah dijelaskan oleh al ‘Allamah Muhammad bin al Musyri as-Sa`ihi as-Siba’i; salah seorang tokoh thariqah at-Tijaniyyah ini; sosok yang dicintai oleh Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra sekaligus perbendaharaan asrar beliau Ra; yaitu dalam kitab beliau “Al Jâmi’ Lima Iqtarana Min Durar al ‘Ulûm al Få `idhati Min Bihar al Quthub al Maktum,” dengan redaksi yang maknanya adalah, bahwa Nabi Muhammad Saw memiliki hakekat yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, dan itu hanya ditampakkan kepada Nabi Muhammad Saw dan bukan pada para nabi dan utusan Allah Swt lainnya.
Begitu juga dengan pangkat wali quthub al maktum (yang tersembunyi), sosoknya memiliki hakekat yang tersembunyi, hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu serta Allah tampakkan pada pemilik maqam itu secara khusus, dimana tidak ada jalan bagi para wali Allah yang lain untuk mengetahuinya.
Ketahuilah, bahwa perbedaan antara dua maqam tersebut (maqam khatmiyyah dan maqam katmiyyah), meski yang disifati dengan keduanya adalah sama, tetapi Allahlah yang menunjukkan kita kepada hal itu. Sayyidi Muhyiddin Ibnu ‘Araby telah memberikan isyarat dalam Futûhât al Makkiyyah kepada maqam katmiyyah bahwa sosoknya berada di Maghrib, hal ini berdasarkan pada sabda Nabi Muhammad Saw,
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ
“Sekelompok orang dari umatku senantiasa nampak dalam kebenaran…”
Allah Swt jadikan sosoknya di Maghrib, Sebab disanalah tempatnya wali khatam dan wali katam, ini merupakan rahasia dan hanya Allah Swt yang tahu maksudnya.
