
Elsubha.com – Jawaban Ragam Syubhat Seputar Maqam Khatmiyyah dan Katmiyyah
Dalam kitab Futûhât al Makkiyah, Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby mengatakan, “Aku telah berjumpa dengannya; maksudnya wali khatam dan aku melihat tanda yang Allah Swt sembunyikan dari pandangan para hamba-Nya. Allah tampakkan bagiku bahwa sosoknya berada di kota Fess; aku pun melihat penutup kewalian sisi al Muhammady dari beliau; aku pun melihat bahwa beliau diuji dengan banyaknya pengingkaran terhadapnya terkait dengan ‘ulûm rabbani yang ada dalam sirr beliau.”
Kita pun tidak ragu lagi bahwa perjumpaan demikian merupakan perjumpaan barzakhi, sebagaimana yang dikatakan oleh pengarang al Jawab al Muskit.
Sementara terkait dengan maqam katmiyyah, pengarang kitab Bughyah al Mustafid mengatakan dengan redaksi berikut: “Berdasarkan pendapat ahl at-tahqiq, bahwa sosok wali Quthub al Maktum mengindikasikan pada dua maqam quthbaniyyah yang dimiliki; pertama adalah sosok yang Allah Swt tampakkan dengan gambaran seorang imam yang adil dengan kewalian yang nampak pada umat ini khususnya di akhir zaman selain Imam Mahdi al Muntazhar, akan tetapi Imam Mahdi al Muntazhar bukanlah sosok yang memiliki pangkat derajat quthbaniyyah. Hal inilah yang Allah Swt tampakkan kepada Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby terkait dengan nama negara, nasab beliau dan semua ahwal beliau, namun dilarang untuk disebarluaskan, sehingga beliau disebut sebagai wali maktum (wali tersembunyi).
Oleh karena itu, terkait dengan makna al Quthub al Maktum yang dibicarakan oleh para wali, sekalipun setiap wali ingin menggapai maqam tersebut, namun tidak satupun wali yang mampu mengetahui hakekat wali al Quthub al Maktum tersebut. Puncak pengetahuan mereka hanya sampai pada; bahwa sang wali tersebut berada diakhir zaman di kota Maghrib. Sisi dimana sang wali disebut sebagai wali maktum (tersembunyi yaitu bahwa sosoknya memiliki martabat bathin yang hakekatnya tidak diketahui oleh seorangpun kecuali Allah dan juga Nabi Muhammad Saw, dimana Allah Swt berikan pengetahuan tersebut kepada sosok yang memiliki maqam itu.
Diantara kekhususan pemilik maqam tersebut adalah, bahwa Allah Swt ber-tajalli untuknya pada sekejap mata sebanyak 100.000 tajalli, di mana Allah Swt berikan pada setiap tajalli berupa perkara yang Allah berikan kepada penghuni surga sebanyak 100.000 kali atau lebih, hal tersebut terjadi satu kali dalam sekejap mata saja. Kemudian pada kejapan mata yang kedua, Allah Swt ber-tajalli untuknya dengan semua gambaran tajalli sebelumnya; yang merupakan satu dari 100.000 bagian tajalli dalam satu kali tajalli, begitulah yang terjadi pada kejapan mata selanjutnya sampai waktu yang tidak terhingga.
Ketahuilah, bahwa maqam khatmiyah dan juga katmiyyah meskipun memiliki pemahaman yang berbeda, namun inti keduanya adalah satu, sosok wali Allah yang disifati dengan maqam khatmiyyah, maka iapun disifati dengan maqam katmiyyah, dimana sebelumnya telah disebutkan bahwasanya Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra telah mengatakan hal tersebut secara gamblang, “Rasulullah Saw telah mengabarkan kepadaku bahwa akulah sang wali Quthub al Maktum. Perkataan itu dari beliau Saw kepadaku secara langsung dalam kondisi yaqzhah dan tidak dalam kondisi tertidur,”
Kami pun telah suguhkan perkataan Syaikh al Kattani yang cocok dengan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, di mana Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menggapai maqam tersebut pada tanggal 18 Shafar 1214 H. Pada bulan Muharram sebelumnya, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menggapai maqam ghautsiyyah, maka jarak antara Sayyidi Ahmad At-Tijany Ra menggapai maqam ghautsiyyah dan maqam khatmiyyah sekitar 1 bulan dan 1 malam. Inilah yang dikatakan Ibnu Bâbâ asy-Syinhithi dan juga al ‘Allamah Sayyidi Muhammad al Musyri dalam Al Jâmi.
Sayyidi Maulana al ‘Araby bin Sa`ih dalam kitab Bughyah al Mustafid menyatakan, “Yang aku ingat dari diskusiku dengan sebagian ulama khusus sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, bahwa beliau (Sayyidi Ahmad At-Tijany Ra) menggapai maqam khatmiyyah pada tahun 1218 H. Hal ini diperkuat dengan fakta, bahwa pengarang Jawahir al Ma’âni; Sayyidi ‘Ali Harâzim belum bepergian pada tahun di mana Sayyidi ‘Ali Harazim meninggal dunia pada tahun tersebut, kecuali pada tahun 1215 H, namun sayangnya fakta ini tidak beliau sebutkan dalam Jawahir al Ma’ani lantaran beliau sangat fokus untuk menuliskan beragam manaqib Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Hal ini menunjukkan, bahwa Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menggapai maqam tersebut setelah tahun itu. Sementara apa yang tertera dalam Al Jami’ itu merupakan kesalahan dari orang yang menyalin ulang kitab tersebut.
Sedangkan tentang hal yang mengatakan, bahwa Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menggapai maqam tersebut pada abad ke-13, maka hal ini pun tidak menafikan apa yang sudah disebutkan oleh Syaikh al Kattani, bahwa zaman kemunculan sang wali khatam adalah pada abad ke-12. Karena maksud beliau adalah zaman keberadaan sosok sang wali khatam tersebut. Sebab Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany lahir pada tahun 1150 H, maka hal ini pun tidak menafikan, bahwa beliau dapat disifati dengan sifat wali khatam tersebut, maka pahamilah ini!. Bahwa ruh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra telah ditetapkan maqam tersebut untuk beliau pada alam arwah, sebagaimana telah dikukuhkan oleh Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi ketika beliau mengemukakan sabda Nabi Muhammad Saw, “Aku telah menjadi nabi sementara Adam masih diantara ruh dan jasad.” maknanya adalah, bahwa di alam arwah aku telah benar-benar mengetahui kenabianku setelah para nabi. Begitu pula dengan wali khatam, bahwa sosoknya telah mengetahui kewalian dirinya secara pasti, bahwa dialah yang memberikan madad kepada wali lain di alam ruh.
Sebelumnya telah disuguhkan pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, “Sejak Allah Swt ciptakan beragam ruh, ruhku dan ruh Nabi Muhammad Saw seperti ini”; yaitu menyatukan jari telunjuk dan jari tengah. Ruh Nabi Muhammad Saw senantiasa memberikan madad kepada ruhnya para nabi dan juga utusan Allah, sementara ruhku memberikan madad kepada para wali quthub dan juga orang-orang yang ‘Arifbillah. Inilah maksud dari hakekat maqam khatmiyyah dengan makna yang khusus, sebagaimana yang sudah kami sebutkan dalam faedah sebelumnya.
Sayyidi Ibnu ‘Araby bin Så ih pernah menyatakan pendapat beliau tentang sabda Nabi Muhammad Saw,
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ بِالْمَغْرِبِ
“Terus saja dari umatku ada sekelompok orang yang nampak dengan kebenaran di Maghrib,” kelompok yang dimaksud dalam hadits di atas adalah sekelompok orang di Maghrib. Hal ini karena disitulah tempat sang wali khatam dan katam, dimana tidak ada yang mengetahui hakekat ini kecuali Allah Swt.
Setelah ini akan kami paparkan jawaban atas beberapa hal penting dalam beberapa catatan!
(a). Catatan Pertama:
Terkait para wali sebelumnya telah sampai pada maqam wali khatam, namun wali setelahnya tidak ada lagi yang sampai pada maqam tersebut, sebab beliaulah wali khatam al akbar.
(b). Catatan Kedua:
Ra Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany mengatakan, “Tidak ada satupun para wali yang dapat memasukkan segenap sahabatnya ke dalam surga tanpa dihisab dan tanpa diberi hukuman kecuali hanya aku sendiri (yang dapat melakukan nya), sekalipun mereka (para sahabatku) berdosa dan banyak melakukan kemaksiatan.”
(c). Catatan Ketiga:
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengatakan, “Di akhirat nanti, maqam kami di sisi Allah tidak ada satupun wali yang mampu sampai kepada maqam kami, bahkan mendekatinya sejak zaman sahabat hingga ditiupkannya sangkakala…”
(d). Catatan Keempat:
Pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, “Terkadang yang ulama maksud dengan maqam khatmiyyah adalah maqam dimana Allah Swt tutup kewalian sisi al Muhammady.
(e). Catatan Kelima:
Tentang pernyataan al khatam dan al katam, meski memiliki pemahaman berbeda tetapi keduanya bersatu pada makna, bahwa yang disifati dengan maqam khatmiyyah, ia pula disifati dengan maqam katmiyyah.
