
Elsubha.com – Kenali Apa Yang Kau Punya dan Bagaimana Berinteraksi Dengan Dosamu : Selalu Berbaik Sangka Pada Allah
Disebutkan dalam hadits qudsi,
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
“Aku sesuai dengan prasangka hambaku.”
Maka barangsiapa yang berprasangka baik pada Rabbnya, ia akan mendapat kebaikan pula dan barangsiapa yang bersangka terhadap Rabbnya selain hal itu, maka ia pun akan mendapatkan sesuai dengan prasangkanya itu. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُوْنَ اَنْ يَّشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَاۤ اَبْصَا رُكُمْ وَلَا جُلُوْدُكُمْ وَلٰكِنْ ظَنَنْتُمْ اَنَّ اللّٰهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيْرًا مِّمَّا تَعْمَلُوْنَ
wa maa kungtum tastatiruuna ay yasy-hada ‘alaikum sam’ukum wa laaa abshoorukum wa laa juluudukum wa laaking zhonangtum annalloha laa ya’lamu kasiirom mimmaa ta’maluun
“Dan kamu tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira Allah tidak mengetahui banyak tentang apa yang kamu lakukan.”
(QS. Fussilat 41: Ayat 22)
وَذٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِيْ ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ اَرْدٰٮكُمْ فَاَ صْبَحْتُمْ مِّنَ الْخٰسِرِيْنَ
wa zaalikum zhonnukumullazii zhonangtum birobbikum ardaakum fa ashbahtum minal-khoosiriin
“Dan itulah dugaanmu yang telah kamu sangkakan terhadap Tuhanmu, (dugaan itu) telah membinasakan kamu, sehingga jadilah kamu termasuk orang yang rugi.”
(QS. Fussilat 41: Ayat 23)
Nabi Saw bersabda ketika ditanya oleh seorang Al A’rabi, “Siapakah yang nanti menghisap makhluk pada hari Kiamat?”, Nabi Saw bersabda, “Allah,” Al A’raby kembali bertanya, “Dengan Dzat-Nya?” Nabi pun menjawab, “Ya, dengan Dzat-Nya,” Al A’raby pun tertawa terbahak-bahak, hingga Nabi Saw bersabda, “Apa yang engkau tertawakan wahai A’raby?” Al A’raby menjawab, “Sungguh Dzat Allah yang Maha Pemurah; apabila menghisab makhluk-Nya, Dia pun akan memberikan toleransi. Apabila dia mentakdirkan sesuatu, Dia pun memberi ampunan.” Maka Nabi pun diam atas jawaban Al A’raby itu dan meninggalkannya begitu saja dengan prasangka baik pada Allah dan tidak membantahnya.
Ada orang shaleh berkata: Sungguh aku pernah bermimpi Abu Nawas sepeninggalannya pada kondisi yang baik dan terpuji, aku pun bertanya padanya, “Apa yang Allah perbuat padamu?” ia menjawab, “Allah telah mengampuniku,” aku pun menimpalinya, “Dengan apa?” ia menjawab, “Dengan bait-bait yang aku ucapkan menjelang kematianku,” Aku pun kembali berkata, “Apa itu?” ia menjawab, “Yang ada di kepalaku; dibawah bantalku,” maka aku pun pergi mencarinya dan aku temui ada empat bait syair, yaitu:
يَا رَبِّ إِنْ عَظُمَتْ ذُنُوبِي كَثْرَةٌ # فَلَقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ عَفْوَكَ أَعْظَمُ
أَدْعُوْكَ رَبِّي كَمَا أَمَرْتَنِي تَضَرُّعًا # فَإِذَا رَدَدْتَ يَدِي فَمَنْ ذَا يَرْحَمُ
إِنْ كَانَ لَا يَرْجُوْكَ إِلَّا مُحْسِنُ # فَمَنِ الَّذِي يَرْجُو الْمُسْيْءُ الْمُجْرِمُ
مَا لِي إِلَيْكَ وَسِيْلَةٌ إِلَّا الرَّجَا # وَجَمِيْلَ ظَنِّى ثُمَّ إِنِّي مُسْلِمٌ
‘Wahai Rabb, andai dosa-dosaku banyak, maka aku telah tahu bahwa ampunan-Mu itu lebih besar
Aku telah berdo’a memohon pada-Mu wahai Rabb, sebagaimana yang telah engkau perintahkan dengan penuh kerendahan hati # apabila engkau tolak tanganku ini lantas siapa lagi yang akan menyayangi.
Andai hanya orang-orang yang baiklah yang berharap pada-Mu # maka siapa lagi yang bisa diharapkan oleh orang-orang yang bersalah lagi durjana
Aku tidak memiliki perantara kecuali hanyalah harapan# dan bagusnya prasangkaku, kemudian sungguh aku adalah orang yang berserah diri.”
Akan tetapi wajiblah pula dibedakan antara berbaik sangka kepada Allah Swt dengan pengetahuan bahwa masuknya ke dalam surga tak lain dengan keutamaan Allah Swt dan masuk ke dalam neraka pun tak lain dengan sisi keadilan-Nya. Maka janganlah engkau bersandar pada amal, akan tetapi bertawakallah pada Allah yang Maha Pemberi Karunia, sungguh amalanmu akan dimasukkan.
Dalam sebuah hadits disebutkan:
لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ ، قَالَ : وَلَا أَنَا ، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللهُ بِرَحْمَتِهِ.
Nabi Saw pernah bersabda, “Amalan salah seorang dari kalian tidak akan memasukkannya ke dalam surga,” para sahabat berkata, “Begitupun denganmu wahai Baginda Rasulullah Saw?” Nabi pun bersabda, “Tidak pula aku terkecuali Allah mengaruniaiku dengan rahmat-Nya.” Hadits ini merupakan dalil bahwa masuknya seseorang ke dalam surga adalah murni dengan keutamaan Allah Swt dan masuknya seseorang ke dalam neraka pun murni karena sifat adilnya Allah Swt.
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra, ketika ada seseorang menyebutkan suatu amal shaleh yang beliau Ra lakukan, beliau malah mencela orang tersebut lantaran menyebutkan perkara itu atau beliau juga malah menyebutkan kembali perkara lain yang tidak diketahui oleh orang tersebut. Sayyidi Syaikh Ra ingin mengeluarkan diri dari keterkaitan dengan amalan tersebut hingga nampak bagi beliau Ra, bahwa beliau Ra pun memiliki kekurangan, beliau Ra tidak ingin menyisakan orang yang bersandar pada beliau dan juga pada suatu amalan; tidak pula pada suatu kondisi yang membuat jiwanya tenang; tidak pula dengan tunduk kepada sesuatu kecuali adalah keutamaan Allah dan juga rahmat-Nya. Bahkan seringkali beliau Ra menguatkannya dengan perkataan, “Kami tidak memiliki apa-apa kecuali keutamaan dan rahmat-Nya Allah, serta syafa’at Rasulullah Saw.”
