You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Kenali Perkara Yang Terjadi di Alam Semesta dan Yang Menunggumu : Kenali Ragam Sunah Nabimu

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Kenali Perkara Yang Terjadi di Alam Semesta dan Yang Menunggumu : Kenali Ragam Sunah Nabimu

Pertama; Meminta izin

Abu Dawud meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Busr, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,

إِذَا أَتَى بَابَ قَوْمٍ ، لَمْ يَسْتَقْبِلِ الْبَابَ مِنْ تِلْقَاءِ وَجْهِهِ، وَلَكِنْ مِنْ رُكْنِهِ الأَيْمَنِ أَوِ الأَيْسَرِ، وَيَقُولُ: السَّلامُ عَلَيْكُمُ السَّلامُ عَلَيْكُمْ. وَذَلِكَ أَنَّ الدُّورَ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا يَوْمَئِذٍ سُتُورٌ

“Apabila beliau mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajah ke arah pintu, akan tetapi beliau palingkan ke sisi kanan atau kiri seraya mengucapkan, ‘Assalamualaikum, Assalamualaikum. Hal itu karena ketika itu belum ada tirai penghalang.”

Nabi Muhammad Saw juga pernah meminta izin kepada istri-istri beliau agar beliau dirawat di rumah ‘Aisyah. Maksudnya adalah istri-istri beliau memberikan izin kepada ‘Aisyah Ra untuk merawat Nabi Saw beberapa hari.

Kedua; Bergaul dengan orang fakir.

Tidak ada orang yang meminta sesuatu kepada beliau Saw kecuali beliau Saw memberikan apa yang diminta atau beliau juga hanya diam;

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ الذِّكْرَ، وَيَقِلُّ اللَّغْوَ، وَيُطِيلُ الصَّلاةَ، وَيُقَصِّرُ الْخُطْبَةَ، وَلَا يَسْتَنْكِفُ أَنْ يَمْشِيَ مَعَ الْعَبْدِ وَالْأَرْمَلَةِ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ

“Rasulullah Saw banyak berdzikir dan menyedikitkan candaan; beliau biasa memperpanjang shalat dan memendekkan khutbah; Beliau tidak kasar; Beliau pun tak segan untuk berjalan bersama orang-orang miskin dan juga para hamba sahaya sampai beliau pun mampu mengabulkan hajat yang diinginkan olehnya.”

(HR. Al Hakim dalam al Mustadrak, dari riwayat Anas. As-Suyuthi menilai hadits ini shahih.)

Ketiga; Dalam urusan perdagangan.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِي إِلَى أَجَلٍ وَرَهَنَهُ دِرْعًا مِنْ حَدِيدٍ

“Sungguh Nabi Saw pernah membeli makanan dari seorang Yahudi secara berhutang, seraya menggadaikan baju besinya kepada Yahudi tersebut.”

(HR. An-Nasa’l; Al Hakim dalam al Mustadrak dari riwayat Ibnu Abi Aufa. Al Hakim dalam al Mustadrak meriwayatkan dari Abu Sald. Begitu pula As-Suyuthi menilai hadits ini shahih.)

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ مَشَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِخُبْزِ شَعِيرٍ وَإِهَالَةٍ سَنِحَةٍ، وَلَقَدْ رَهَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دِرْعًا لَهُ بِالْمَدِينَةِ عِنْدَ يَهُودِي وَأَخَذَ مِنْهُ شَعِيرًا لِأَهْلِهِ، وَلَقَدْ سَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: مَا أَمْسَى عِنْدَ آلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعُ بُرٌ وَلَا صَاعُ حَبِّ وَإِنَّ عِنْدَهُ لَتِسْعَ نِسْوَةٍ

Diriwayatkan dari Anas Ra bahwa ia pernah berjalan kepada Nabi Saw dengan membawa roti gandum dan selai, dimana nabi telah menggadaikan baju perang beliau di kota Madinah kepada seorang Yahudi dan mengambil dari gadaian itu berupa gandum untuk keluarganya. Aku pun pernah mendengar Nabi Saw bersabda, “Tidaklah ada pada suatu sore di keluarga Muhammad Saw yang berupa satu sha’ bur, tidak pula satu sha’ bebijian, dan sungguh beliau Saw memiliki tanggungan 9 wanita.”

(Lihat, Tuhfah al Ahwadzi karya Al Mubarakfuri. Abu Isa berkata: Hadits ini hasan shahih.)

Ibnu Hajar berkata dan menarik kesimpulan dari hadits di atas, yaitu bolehnya bermu’amalah dengan orang kebanyakan hartanya haram. Hadits di atas juga menunjukkan sisi tawadhu’nya Nabi, zuhudnya Nabi pada dunia dengan berupaya untuk menyedikitkan dunia sesuai dengan kemampuan beliau, sisi kemurahan jiwa beliau sehingga tidak memiliki simpanan bahan makanan sampai harus menggadaikan baju besi miliknya. Hadits ini juga memberikan gambaran kesabaran beliau dengan sempitnya kehidupan dan sikap qana’ah (mencukupkan diri dengan hal-hal yang sederhana). Hadits ini juga mengindikasikan keutamaannya istri-istri Nabi karena kesabaran mereka semua dalam menghadapi kesulitan hidup.

Ada ulama yang berkata: Hikmah dari sikap Nabi Saw dalam transaksi adalah memberikan kemudahan para sahabat untuk ber-mu’amalah dengan orang-orang Yahudi. Perkara ini menjadi pertanda, baik perkara tersebut memang diperbolehkan atau karena mereka para sahabat ketika itu tidak memiliki makanan yang lebih dari kebutuhan mereka atau juga ditakutkan bahwa mereka mengambil harga tinggi sebagai ganti dari makanan tersebut meski tidak ada unsur himpitan hidup, sementara ketika itu tidak ada orang yang mampu mengatasi perkara itu. Atau lebih luas dari itu, bisa jadi ketika itu Nabi Muhammad Saw hanya melihat pada kondisi para sahabat yang pas-pasan.

Keempat; Mu’amalah beliau dengan keluarga.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْمَلُ عَمَلَ الْبَيْتِ وَأَكْثَرُ مَا يَعْمَلُ الْخِيَاطَةُ

“Rasulullah Saw senantiasa mengerjakan ragam pekerjaan rumah. Hal yang lebih banyak beliau kerjakan adalah menjahit.”

Nabi Saw sering kali melakukan pekerjaan rumahan seperti menambal baju yang sobek, memperbaiki sandal, memerah susu kambing serta beragam pekerjaan rumahan lainnya. Yang paling banyak beliau kerjaan di rumah adalah menjahit dimana hal ini mengindikasikan, bahwa menjahit adalah sebuah profesi yang tidak hina, hal tersebut pun tidak sampai mengurangi muru’ah dan tidak pula mempengaruhi jabatan.

كَانَ يَكْسُوْ بَنَاتَهُ خُمْرُ الْقَرَّ وَالْإِبْرِيْسَمْ

“Beliau biasa memakaikan putrinya tudung kepala terbuat dari sutra persia.” Dari sini pula dapat disimpulkan dibolehkannya menggunakan sutra bagi wanita

Kelima; Cara beliau makan.

Beliau biasa makan dengan dengan menggunakan tiga jari, lalu mengemut jari-jari tangan tersebut sebelum membersihkan ataupun mengusapnya.

Keenam; Saat bepergian.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ بَدَأَ بِالْمَسْجِدِ فَصَلَّى فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ يُشَنِّي بِفَاطِمَةَ، ثُمَّ يَأْتِي أَزْوَاجَهُ

“Ketika Rasulullah Saw datang dari sebuah perjalanan, beliau biasanya mampir pertama kali ke masjid, lalu shalat dua rakaat di dalamnya, kemudian memuji putri beliau; Fatimah, dan lalu datang kepada istri-istri beliau.”

(HR. Ath-Thabrani dalam al Kabir, Al Hakim dalam al Mustadrak dari riwayat Abu Tsa’labah. As-Suyuthi menilai hadits ini shahih.)

Dalam hadits lainnya disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ مُقِيمًا اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ، وَإِذَا سَافَرَ اعْتَكَفَ مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ عِشْرِينَ

“Ketika Nabi Saw mungkin tidak bepergian ke -mana biasanya beliau beri’tikaf 10 hari dari bulan Ramadan dan apabila beliau bepergian, maka pada tahun berikutnya beliau beritikaf sebanyak 20 hari.”

(HR. Ahmad dalam Musnad-nya dari riwayat Anas. As-Suyuthi menilai hadits ini shahih.)

Dalam hadits lainnya juga disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُسَافِرَ يَوْمَ الْخَمِيسِ

“Rasulullah Saw suka memulai perjalanan pada hari Kamis.”

(HR. Ath-Thabrani dalam al Kabir dari riwayat Ummu Salamah. As-Suyuthi menilainya sebagai hadits hasan.)

Ketujuh; Dalam menuliskan surat.

Nabi Saw memulainya dengan menuliskan siapa yang menulis kemudian ditujukan untuk siapa; Fulan kepada Fulan. Diriwayatkan dari Nafi’, bahwa para pekerjanya ‘Umar ketika mereka menuliskan surat, mereka mengawalinya dengan tulisan surat tersebut. “dari siapa.”

Disebutkan dalam kitab al Muhallab, bahwa bagian dari sunnah itu sendiri adalah memulai tulisan dengan “dari siapa,” bahkan dalam berbagai tulisan-tulisan Nabi Muhammad Saw mengatakan, “Subhanallah dimana malam ketika masih berada pada siang hari.”

Para sahabat mengatakan: Heraklius menulis surat kepada Nabi Saw, “Mereka menyeruku kepada surga yang luasnya seluas langit-langit dan burni, maka diriana neraka itu?,” maka para sahabat pun menyebutkannya.

(HR. Ahmad dalam al Musnad dari riwayat at-Tanukhi. As-Suyuthi menilainya sebagai hadits shahih.)

Kedelapan; Saat Nabi Saw berbicara.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

كَانَ يُحَدِّثُ حَدِيثًا لَوْ عَدَّهُ الْعَادُّ لَأَحْصَاهُ

“Nabi Saw senantiasa berbicara, jikalau seseorang menghitungnya, maka perkataan beliau Saw pun dapat dihitung dengan jari.”

(HR. Ahmad dalam Musnadnya dari riwayat Abu Darda’. As-Suyuthi menilainya sebagai hadits hasan.)

Maksud dari redaksi, ‘Nabi Saw berbicara’, yaitu dengan perkataan yang tidak cepat, tidak pula perkataan yang terpotong-potong antara satu dan kalimat yang lain, akan tetapi beliau mengatakan dengan kata-kata yang fasih dan juga jelas.

Maksud dari redaksi, ‘Jikalau seseorang menghitungnya, maka perkataan beliau Saw pun dapat dihitung dengan jari’; maksudnya adalah, jika pendengar mau menghitung jumlah kalimat dan hurufnya, maka mereka pun dapat dengan mudah menghitungnya. Dari hadits ini dapat diambil pelajaran, bahwa seorang guru tidak perlu berkata-kata dengan kata-kata yang cepat, tetapi hendaknya dengan kata-kata yang tersusun rapi dan mampu memancing siswanya untuk berpikir. Ketika Sang Guru selesai dari membicarakan suatu masalah la pun akan diam sejenak untuk memberikan jeda. Dari sini pun dapat diambil pelajaran bahwa Nabi Saw tidaklah berkata-kata kecuali dalam kondisi tersenyum.

عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ قَالَتْ : كَانَ أَبُو الدَّرْدَاءِ لَا يُحَدِّثُ حَدِيثًا إِلَّا تَبَسَّمَ فِيْهِ، فَقُلْتُ لَهُ: إِنِّي أَخْشَى أَنْ يُحَمِّقَكَ النَّاسُ، فَقَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ لَا يُحَدِّثُ بِحَدِيْثٍ إِلَّا تَبَسَّمَ فِيْهِ”

Diriwayatkan dari Ummu Ad-Darda ia berkata: “Tidaklah Abu Darda berkata kecuali sambil tersenyum,” suatu ketika aku berkata padanya, “Aku takut jika orang menganggapmu orang yang bodoh ataupun tidak waras,” maka Abu Darda berkata, “Rasulullah Saw tidaklah berkata-kata kecuali sambil tersenyum.”

(HR. Ahmad dalam Musnadnya; dan Ath-Thabrani dalam al Kabir.)

Sumber : BUKU NAFA `IS SUKAIRIJIYYAH (AN-NAFA `IS AS-SUKAIRIJIYYAH) SYAIKH AHMAD BIN AL ‘IYASY SUKAIRIJ AT-TIJANY