You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Catatan Berharga Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra : Pentingnya Izin Khusus

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Catatan Berharga Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra : Pentingnya Izin Khusus

Seorang salik tidaklah sampai pada hadhrah Allah dan hadhrah sifat dan asma-Nya sekalipun ia mengumpulkan semua ilmu generasi awal dan suhbahi banyak golongan orang serta menghamba senilai penghambaan alam semesta kecuali ia bersama para masyaikh yang memiliki izin khusus.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِيْۤ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِا لْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ ۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ
huwallaziii arsala rosuulahuu bil-hudaa wa diinil-haqqi liyuzh-hirohuu ‘alad-diini kullihii walau karihal-musyrikuun

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 33)

Disebutkan dalam Al ‘Arâ ‘is, bahwa Allah Swt menciptakan suatu sunah pada masa azali yaitu agar salah seorang diantara kalian tidaklah menemukan jalan-Nya kecuali orang yang Allah Swt tambatkan padanya seorang guru yang ‘Arifbillah lagi mengetahui rahasia agama dan sisi Rububiyah-Nya Allah, sehingga beliau menunjukkannya manhaj beribadah serta miliki kalbunya untuk menyaksikan sisi Rububiyah-nya Allah, dimana sang guru merupakan perantara antara dirinya dengan Allah Swt. Meski memang keutamaan ditangan Allah; Dia bisa berikan pada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa adanya alasan dan sebab, akan tetapi Allah jadikan sang guru sebagai perantara untuk beradab dan bukan untuk mendekatkan diri pada-Nya. Sang guru termasuk orang yang memberikan syafa’at pada perkara-perkara pidana dan bukan orang yang turut ikut memberikan hidayah.

Disebutkan pula dalam Al A’raj pada penjelasan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰٮهُمُ اقْتَدِهْ ۗ قُلْ لَّاۤ اَسْـئَلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا ۗ اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٰى لِلْعٰلَمِيْنَ
ulaaa-ikallaziina hadallohu fa bihudaahumuqtadih, qul laaa as-alukum ‘alaihi ajroo, in huwa illaa zikroo lil-‘aalamiin

“Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak meminta imbalan kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur’an).” Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk (segala umat) seluruh alam.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 90)

Dikatakan bahwa dalam ayat ini tidak benar keinginan seseorang kecuali ia mengambil dari imam-imam sebelumnya.

Tidakkah engkau lihat bagaimana Nabi Muhammad Saw dikalangan para sahabatnya pernah bersabda,

اقْتَدُوا بِالَّذِينَ مِنْ بَعْدِي أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ

“Ikutilah orang-orang yang akan datang setelahku; Abu Bakar dan Umar.”

Maka seorang Syaikh atau guru senantiasa menyuruh sang murid untuk menghilangkan beragam rintangan satu demi satu hingga tidak tersisa lagi kecuali satu rintangan sang guru pun akan katakan padanya, “Hilangkanlah rintangan itu, dan kini, inilah aku dan hadhrah Rabb-mu.”

Jika bukan karena perkara tersebut adalah jalan ghaib, dimana seseorang tidak mampu melewatinya (meski menyeru pada Allah Swt itu memiliki faedah dari para nabi dan para wali dan juga ulama), maka dari itu dibutuhkan tambahan sisi khusus, maka janganlah seseorang beranggapan, bahwa ragam jalan tersebut mampu dilewatinya tanpa adanya petunjuk, sehingga mudah saja baginya melewati jalan itu. Orang yang ditakdirkan muncul sifat ujub pada dirinya, ia akan berseloroh, “Orang yang ingin mencari kebahagiaan dan keselamatanku tidaklah sampai pada keduanya ketika masih ada sisi jinsiyyah (sisi kemanusiaan), dimana mendekati Allah sampai kondisi paling dekat tak lain dengan adanya perantara yang menunjuki dan menyampaikan ia padanya. Orang yang lalai bahkan ingin bisa sampai pada hadhrah Allah dari tempat yang paling jauh tanpa adanya perantara dan petunjuk?!.

Dinukil dari Imam Al Qusyairi Ra, bahwa ia pernah berkata, “Sungguh seorang syaikh, apabila ia tidak yang mengetahui jalan ber-suluk dan apa yang akan menimpa sang murid, ia mengambil thariqah dari sebuah kitab, terkadang dia mentarbiyah sang murid untuk mencari martabat dan ketenaran, maka sungguh orang tersebut adalah orang membinasakan orang yang mengikutinya, maka seyogyanya seorang Syaikh memiliki aspek keagamaannya para nabi, diagnosanya para dokter dan siasatnya para raja.”

Dikisahkan dari Sayyidi Yusuf al Azmi, bahwa beliau ketika Allah Swt inginkan memindahkannya dari sebuah negara asing ia mendengar suara yang mengatakan, “Wahai Yusuf, pergilah ke Mesir, berilah manfaat pada manusia,” Yusuf tadi pun menimpali, “Wahai syaithan (maksudnya dalam dugaan Sayyidi Yusuf bahwa perkataan tadi adalah perkataan syaithan), kemudian suara itu memanggil-manggil untuk yang kedua kali dan Sayyidi Yusuf berseloroh dengan kata yang sama, “Syaithan,” lalu suara tadi memanggilnya untuk ketiga kali, Sayyidina Yusuf As pun menjawab, “Syaithan,” ketika suara tadi memanggilnya untuk keempat kali, Sayyidina Yusuf As berkata, “Wahai Allah, andai ini adalah warid yang benar, maka ubahlah untukku sungai ini menjadi susu sampai aku bisa mengambil air susu tersebut dengan bajuku, lalu air sungai itu pun berubah menjadi air susu dan beliau pun meminum darinya. Dari situlah beliau mengetahui, bahwa suara yang datang itu adalah warid dari Allah Swt.

Sumber : BUKU NAFA `IS SUKAIRIJIYYAH (AN-NAFA `IS AS-SUKAIRIJIYYAH) SYAIKH AHMAD BIN AL ‘IYASY SUKAIRIJ AT-TIJANY