You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Catatan Berharga Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra : Beragam Syarat Dalam Thariqah Al Ahmadiyah Al Muhammadiyah Al Hanifiyah At-Tijaniyyah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Catatan Berharga Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra : Beragam Syarat Dalam Thariqah Al Ahmadiyah Al Muhammadiyah Al Hanifiyah At-Tijaniyyah

  1. Posisi seorang Syaikh yang menalkinkan wiridan telah mendapatkan izin dari sosok al qudwah (Syaikh thariqah) atau orang yang memang memiliki izin yang shahih.
  2. Orang yang minta untuk ditalqinkan wiridan thariqah “kosong” dari wiridan lazim para masyayikh dalam thariqah mereka (tidak punya amalan thariqah lain) atau dia dipinta untuk keluar dari thariqah tersebut dan kembali tidak padanya selamanya.
  3. Tidak menziarahi satu dari para wali Allah; baik yang masih hidup ataupun sudah meninggal dunia.
  4. Konsisten menjaga shalat lima waktu secara berjamaah apabila memungkinkan dan juga menjaga beragam perkara syariat.
  5. Konsisten mencintai Syaikh Ra dan para khalifah beliau sampai mati.
  6. Tidak merasa aman dari makar Allah.
  7. Tidak mencela, tidak membenci dan tidak memusuhi Syaikh Ra.
  8. Mengkonsistenkan wiridan sampai mati. Sayyidil wujud Saw memerintahkan Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra agar melarang para sahabatnya untuk menziarahi para wali Allah; baik yang masih hidup atau sudah meninggal dunia, maka setiap ada orang yang menziarahi para wali Allah dia pun telah lepas dari thariqah-nya. Rasulullah Saw pun menyebutkan pada beliau Ra, bahwa orang yang meninggalkan wiridnya, dia berhak mendapatkan hukuman dan kehancuran akan datang padanya.
  9. Memiliki keyakinan penuh pada Syaikh Ra.
  10. Selamat dari mengkritik Syaikh Ra.
  11. Sang murid telah diberikan izin pada dzikiran tersebut dengan talqin shahih dari orang yang telah memiliki izin shahih dari Al Qudwah (Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra) atau salah satu muqaddam untuk di-talqin.
  12. Berkumpul untuk membaca wazhifah dan hailalah setelah Ashar pada hari Jumat.
  13. Tidak membaca shalawat Jauharatul Kamal kecuali dengan bersuci menggunakan air.
  14. Tidak memutuskan diri antara dirinya dan semua makhluk terutama antara dirinya dan para ikhwan dalam thariqah.
  15. Tidak menganggap remeh wiridan seperti mengakhirkan bacaan wiridan dari waktunya tanpa adanya udzur dan semisalnya.
  16. Tidak menonjolkan diri untuk memberikan wiridan tanpa memiliki izin yang shahih dalam tarekat.
  17. Menghormati semua orang yang memiliki keterkaitan dengan Syaikh Ra terutama para pembesar ahli khususnya dari thariqah ini.
  18. Badan dan baju suci.
  19. Tempatnya suci.
  20. Duduk dan menghadap kiblat kecuali ketika bepergian atau ketika dzikirannya dilakukan secara berjama’ah, maka duduknya membentuk lingkaran.
  21. Tidak berbicara kecuali dalam keadaan darurat atau untuk menjawab salam saja.
  22. Berupaya menghadirkan gambaran sang qudwah yaitu Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra di hadapannya sejak awal dzikiran hingga hingga akhir.
  23. Ber-istimdad yang lebih agung dari itu adalah mampu menghadirkan gambaran Nabi Saw.
  24. Menghadirkan makna lafazh dzikiran ketika memiliki kemampuan untuk memahaminya.

Sumber : BUKU NAFA `IS SUKAIRIJIYYAH (AN-NAFA `IS AS-SUKAIRIJIYYAH) SYAIKH AHMAD BIN AL ‘IYASY SUKAIRIJ AT-TIJANY