
Elsubha.com – Nafa`is dan Asrar : Perbedaan Antara Asma Takhalluq Dan Ta’alluq
Seluruh Asmaul Husna (nama-nama Allah yang baik); baik untuk ta’alluq dan untuk takhalluq.
Perkataan ini membutuhkan penjabaran yang panjang namun hasilnya adalah seperti yang telah diisyaratkan oleh pengarang Mafâtih a Falah dalam menjelaskan hakekat pertama dan kaidah orang yang berdzikir suatu dzikiran dimana dzikiran itu memiliki makna yang dapat dinalar, maka sisa atau bekas dari makna dzikiran itu menggantung pada kalbunya seraya mengikuti jiwa, sehingga orang yang berdzikir dengan Asmaul Husna tersebut pun mensifati diri dengan sifat itu. (Selesai)
Begini maksudnya, contohnya Asma Allah: ar-Rahim, al Hanan, al Wadud, maka orang yang berdzikir dengan asma Allah tersebut mampu mensifati diri dan berakhlak dengan apa yang ditunjukan dalam Asmaul Husna yang berupa silsi rahmat, sisi kasih sayang dan sisi kecintaan.
Kemudian beliau pun mengatakan dalam menjelaskan yang kedua; Hanya saja apabila beragam Asmaul Husna itu berkaitan dengan isim yang bermuatan “pendendam” tidaklah demikian, kalbunya seorang yang sedang berdzikir dengan asmaul husna tersebut bergantung dengan sisi ketakutan dirinya pada Allah. Andai tajalli terjadi padanya, maka itu pun dari sisi Allah al Jalal.
Contoh lainnya seperti Asma Allah, al Qahharu, al Mutakabbir, al Khaliqu, al Muhyi dan al Mumitu, maka orang yang berzikir tidaklah berakhlak dengan apa yang ditunjukkan dalam asma Allah yang mulia tadi, tetapi ia bergantung kepada Allah Swt dalam menghancurkan musuh yang bathin seperti syaithan, nafs dan musuh yang nampak seperti orang-orang kafir seraya meminta agar kalbunya dihidupkan dan dia diciptakan atas ketaatan pada Allah.
