
Elsubha.com – Nafa`is dan Asrar : Batasan Minimal Bacaan Orang Yang Hafal Al Qur`an Setiap Harinya Dua Hizib
Ini merupakan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra dari apa yang dikabarkan oleh Sayidi Ahmad bin al ‘Iyasy Sukairij
Sebagian ahli tahkim berkata: Allah Swt telah perintahkan Nabi-Nya untuk senantiasa mengucapkan,
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Wahai rabbku, tambahkanlah aku ilmu,” dan tidak memerintahkan itu hingga waktu tertentu, maka itu berlaku terus-menerus di dunia dan juga di akhirat dengan dalil,
فَأَحْمَدُ رَبِّي بِمَحَامِدَ يُعَلِّمَنِيهَا لَا أَعْلَمُهَا الآنْ
“Maka aku memuji Rabbku dengan ragam pujian yang senantiasa Dia ajarkan padaku, yang sekarang aku tidak ingat lagi.”
Sayyidi ad-Damrawi Ra pernah ditanya: Apabila ada seorang manusia, ia bershalawat pada Nabi Saw seperti halnya dia membaca Dalâ’il al Khairat atau berbagai kitab hadits lainnya, maka dengan apa yang bersangkutan dapat keluar dari ikatan pelik, Beliau berkata, “Dengan bershalawat satu kali.”
Sedangkan orang yang mendengar orang lain yang sedang berdzikir isim sebanyak 3 kali, namun belum bershalawat pada Nabi Saw, maka dia pun tidak akan diberikan syafaa’t. Kami pun memohon pada Allah Swt keselamatan dari musibah ini.
Sayyidi Ahmad bin al ‘Iyasy Sukairij Ra pernah berkata seraya menasehati dirinya, “Aku lihat engkau (diriku) berjalan dengan lagak sombong dalam bentangan hawa. Engkau telah disibukkan dengan kecintaan, namun dadamu tidak terhimpit dengan itu lantaran loyalnya kecintaan pada dirimu dan engkau pun loyal padanya; pada kalian berdua turunlah sebuah contoh dengan setiap makna kalimat (cocok dengan tingkatan paling buruk). Dan aku melihat pada kalian berdua dari balik tirai rasa malu seraya mengatakan dengan perkataan orang yang tak mampu menggapai kemenangan dan mematikan api.
أَهُمْ بِفِعْلِ الْخَيْرِ لَوْ أَسْتَطِيْعُهُ # وَقَد حِيْلَ بَيْنَ الْعِيْرِ وَالنَّزْوَانِ
“Jikalau aku mampu, apakah mereka masih akan mengerjakan kebaikan, # sementara ada jurang antara hewan tunggangan dan batu loncatan.”
Maka sampai kapan hawa merongrong dirimu, sementara engkau telah tenggelam dalam hawa. la telah membantumu dengan cinta pada dunia yang engkau kagumi beragam hiasannya, sementara syaithan sedang menyingsingkan lengan bajunya dalam mengelabuhimu.
Allah pun tidak menghendakimu kecuali engkau atas aku dan bukan untukku, kecuali Allah memberimu hidayah pada orang yang Dia cintai dari hamba-Nya, sehingga Allah pun memberikanmu hidayah taufik; Hidayah yang mengarahkan pada jalan petunjuk-Nya. Sungguh Allah Swt yang mampu atas itu dan Dialah yang patut dicintai pertolongannya, segala puji bagi Allah Rabb alam semesta.”
Barangsiapa diantara ikhwan thariqah at-Tianiyyah yang ingin terikat dengan suatu dzikiran selain dzikiran lazimah seperti hizib saifi dan semisalnya, maka dia bisa mengamalkan itu dengan niatan “menjalankan perintah Allah yang terlepas dari beragam tujuan dalam berbagai kondisi dirinya. Begitu pula dengan do’a; mengamalkannya haruslah dengan niatan ta’abbud (menghamba pada Allah dengan tulus ikhlas kepada-Nya) serta menggugurkan beragam keinginan duniawi dan keinginan ukhrawi.
Niatan mengalap pahala tidak termasuk dari keinginan duniawi, ini sebagai simbol percaya dengan apa yang dijanjikan oleh Allah Swt, dimana hal tersebut merupakan bagian dari iman kepada perkara yang ghaib dan bukan bagian dari ragam keinginan, sebagaimana tidak digolongkan kedalam keinginan akhirat apabila seseorang membacanya (dzikiran/hizib) dengan tujuan tahshin (benteng diri) karena itu bagian dari ketakwaan diri dengan memuji Allah Swt.
Sayyidi Ahmad Sukairij Ra dalam Qashidah Munfarijah-nya mengatakan:
وَعَلَيْهِ اعْتَمِدُ لَا عَلَى عَمَلٍ # وَتَعَلَّمْ وَاعْمَلْ فَتَبْتَهِجُ
“Pada-Nyalah aku bersandar dan bukan kepada amalan # Belajar dan amalkanlah itu niscaya engkau pun akan bahagia.”
Bersandar pada amalan mewajibkan keterputusan dan penolakan serta kehinaan dan kekerdilan diri. Begitu juga bersandar pada makhluk, itu akan menjadi penyebab kesengsaraan, sedangkan bersandar pada Khaliq (Sang Pencipta), itulah simbol kedekatan, (mendapat) perhatian-Nya dan (mendapat) wijdan.
Sementara berkaitan dengan beragam amalan, maka itu merupakan perkara yang diberlakukan padamu agar engkau ber-taqarrub (mendekat) pada-Nya, maka gunakanlah amalan tersebut pada perkara yang Allah pinta darimu, seperti engkau menjaga amanah-Nya, menepati janji pada Rabb-mu.
Allah Swt menyuruhmu untuk belajar ilmu agar engkau bisa menghamba pada-Nya, karena sungguh Allah tidaklah disembah kecuali dengan ilmu. dan juga untuk mengenalkanmu akan-Nya, agar engkau bisa mensucikan-Nya dari segala sisi.
Aku perintahkanmu untuk beramal, agar tauhid dalam kalbumu kuat dan terjaga. Rohmu senantiasa memperhatikan-Nya kala engkau beribadah dalam rangka ber-taqarrub seraya memperhatikan hal tersebut, maka jadilah engkau orang yang menjalankan perintah-Nya, sehingga membuatmu gembira, dadamu lapang dengan hidayah dan taufik-Nya.
Kemudian ketahui pula, bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mampu membangkitkan rasa takutmu pada alam akhirat, bukan ilmu yang nanti meninggalkanmu di alam ini. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
مَنْ كَا نَ يُرِيْدُ الْعِزَّةَ فَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ جَمِيْعًا ۗ اِلَيْهِ يَصْعَدُ الْـكَلِمُ الطَّيِّبُ وَا لْعَمَلُ الصَّا لِحُ يَرْفَعُهٗ ۗ وَ الَّذِيْنَ يَمْكُرُوْنَ السَّيِّاٰتِ لَهُمْ عَذَا بٌ شَدِيْدٌ ۗ وَمَكْرُ اُولٰٓئِكَ هُوَ يَبُوْرُ
mang kaana yuriidul-‘izzata fa lillaahil-‘izzatu jamii’aa, ilaihi yash’adul-kalimuth-thoyyibu wal-‘amalush-shoolihu yarfa’uh, wallaziina yamkuruunas-sayyi-aati lahum ‘azaabung syadiid, wa makru ulaaa-ika huwa yabuur
“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan mereka akan mendapat azab yang sangat keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.”
(QS. Fatir 35: Ayat 10)
(Lihat, Sayyidi Ahmad al ‘lyyasy Sukairij, Al Munfarijah, hal. 7 (dengan sedikit penyesuaian)
Sayyidi Ahmad Sukairij pun menyenandungkan sya’ir:
لَا تَفْزَعْ بِشَكْوَى إِلَى غَيْرِهِ # وَلَهُ اهْرِعْ فِي كُلِّ الحَرَجِ
“Janganlah engkau sia-siakan dirimu dengan curhat pada selain-Nya # curhatlah (dengan tangisanmu) pada-Nya dalam segala himpitan hidup.
Hal ini terinspirasi daripada firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اَنْتُمُ الْفُقَرَآءُ اِلَى اللّٰهِ ۚ وَا للّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ
yaaa ayyuhan-naasu angtumul-fuqorooo-u ilalloh, wallohu huwal-ghoniyyul-hamiid
“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji.”
(QS. Fatir 35: Ayat 15)
(Lihat, Sayyidi Ahmad al ‘Iyyasy Sukairij, Raf’u An-Niqab Ba’da Kasyf al Hijab Amman Talaqqa Ma’a Asy-Syaikh at-Tijany Min al Ashbab, Seperempat Pertama, hal, 12; Seperempat Kedua, hal. 70 dengan sedikit penyesualan)
Ketahuilah bahwa diantara tanda engkau bersandar pada amalan adalah kurangnya harapan ketika terjadi suatu ketimpangan. (Ibid., hal. 70 dengan sedikit penyesuaian)
Maka hendaknya engkau berusaha untuk menjadikan bicaramu, diammu dan semua gerakanmu dengan pertolongan Allah Swt, untuk Allah dan dengan kecintaan pada Allah Swt. (Ibid, Seperempat Pertama, Seperempat Pertama, hal. 12 dan Seperempat Kedua, hal. 70 dengan sedikit penyesuaian)
Aku pun ingatkan engkau dengan apa yang telah engkau dengar dari ragam kekhususan yang pernah diberikan lantaran kautamaan Allah Swt, maka janganlah engkau merasa aman dari makar-nya Allah pada setiap kondisi jiwamu. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَفَاَ مِنُوْا مَكْرَ اللّٰهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْخٰسِرُوْنَ
a fa aminuu makrolloh, fa laa ya-manu makrollohi illal-qoumul-khoosiruun
“Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 99)
Sungguh dibalik ragam khusushiyyah, Allah memiliki makar yang bisa mengelabuhi hamba-Nya tanpa dia sangka. (Lihat, Sayyidi Ahmad al ‘lyyasy Sukalrij, Kasyfil Hijab ‘Amman Talaqqa Ma’a Asy-Syaikh at-Tijany Min al Ashbab, hal. 497)
Jadilah engkau dalam thariqah at-Tijaniyyah ini seorang yang memiliki keyakinan, bahwa Allahlah yang telah membuatnya bisa mencintai Rasulullah Saw dan dari itulah engkau bisa memuliakan beliau Saw. (Lihat, Sayyidi Ahmad al ‘lyyasy Sukalrij, Raf’u An-Niqab Ba’da Kasyf al Hijab Amman Talaqqa Ma’a Asy-Syaikh at-Tijany Min al Ashbab, Seperempat Pertama, hal. 93)
Kami pun memohon pada Allah agar Dia senantiasa memperbaiki kondisi jiwa kami yang zhahir, membuka beragam mata kami, menerangi sirr kami, melapangkan dada kami untuk senantiasa mengingat-Nya dan agar tidak menjadikan pada kami meski selembar rambut- untuk selain-Nya; dengan Jah sosok yang bersabda,
تَوَسُلُوا بِجَاهِي فَجَاهِي عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ
“Bertawasullah dengan Jah-ku, sungguh jah-ku di sisi Allah itu agung. “
(Ibid, hal. 88)
Mengenai al Mahdi al Muntazhar; Sayyidi Ahrnad bin al ‘lyasy Sukairij Ra pernah berkata, “Al Mahdi bukanlah dari kalangan sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra, akan tetapi dari golongan muhibbin (orang-orang yang cinta pada beliau).” Telah sampai berita pada kami dari Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra, bahwa apabila al Mahdi al Muntazhar telah datang, dia akan meminta dibacakan surah al Fatihah dari sahabat kami (sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra). Apabila al Mahdi al Muntazhar datang, ia akan mengumpulkan ulama disatu sisi dan sesekali menggorok mereka disisi lain.
Ketahuilah, bahwa ulama yang digorok oleh beliau adalah ulama su’ (ulama buruk), yang memudharatkan manusia dari kalangan syaithan, lantaran mereka memakan dunia dengan agama dan mereka melakukan beragam perkara yang berseberangan dengan kehendak Allah Swt seraya berperilaku layaknya orang yang mendapatkan hidayah.
Dalam ar-Rimah disebutkan: Sayyidi Muhammad al Ghali Bu Thâlib; Syarif al Hasani pernah mengabarkan padaku, bahwa nanti ada satu dari sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra berkata pada yang lainnya di hadapan Syaikh Ra, bahwa Imam al Mahdi akan menyembelih kami ketika ia muncul, maka Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra berkata, “Dia tidak akan menggorok kalian, sebab dia saudara kalian dalam thariqah, yang ia sembelih adalah ulama su’ (ulama buruk). Sayyidi Syaikh Ra lanjut mengatakan, “Apabila al Mahdi al Muntazhar datang, dia akan meminta dibacakan surah al Fatihah dari sahabat kami. “
(Lihat, Sayyidi Ahmad al ‘lyyasy Sukairi), Raf’u An-Niqab Ba’da Kasyf al Hijab ‘Amman Talaqqa Ma’a Asy-Syaikh at-Tijany Min al Ashbab, Seperempat Ketiga, hal. 13)
