You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Nafa`is dan Asrar : Faedah Salah Satu Shalawat Yang Populer

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Nafa`is dan Asrar : Faedah Salah Satu Shalawat Yang Populer

Pada hari Kamis ini, izinkan aku tuliskan disini satu faedah dari slah satu shalawat yang populer di masyarakat. Ayahku mengabarkan padaku, bahwa orang yang bershalawat dengan shighat shalawat berikut sebanyak 700 kali, niscaya ia bermimpi melihat Nabi Saw pada malam harinya. Hal ini pernah dicoba sebelumnya kala berdzikir membaca shalawat berikut, lalu mengantuk, maka kala itulah beliau melihat Nabi Saw. Berikut shighat shalawatnya:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الْأَهْوَالِ وَالْأَفَاتِ وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ السَّيِّئَاتِ، وَتُبَلِغْنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيعِ الخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ

“Ya Allah, semoga Engkau berkenan bershalawat atas penghulu kami Muhammad, yang dengan shalawat itu Engkau selamatkan kami dari semua keadaan yang menakutkan dan dari semua cobaan; (dengan shalawat itu) Engkau akan mengabulkan hajat kami; (dengan shalawat itu) Engkau akan sucikan kami dari segala keburukan; (yang dengan shalawat itu) Engkau angkat kami ke derajat yang paling tinggi; (yang dengan shalawat itu), Engkau sampaikan kami pada tujuan yang paling sempurna dalam semua kebaikan, ketika hidup dan setelah mati.”

Diantara perkara yang pernah diceritakan padaku oleh al Hajj ‘Iyasyi Sukairij, ketika beliau berhaji dan berada di hadapan maqbarah Nabi Saw. ketika itu beliau memegang banyak kemaslahatan manusia, beliau pun berdo’a meminta agar dikaruniakan anak-anak yang shaleh, yang diantaranya adalah wali dari walinya Allah yang dikhususkan dengan kemampuan melihat orang-orang yang mampu memberikan manfaat bagi manusia lain.

Hal itu pun membuat beliau membuat tulisan yang menyimbolkan keridhaan terhadap para anak-anaknya dengan tulisan tangan beliau yaitu: “Aku pun bersaksi terhadap hal tersebut dengan dua orang adil yang aku bawa kepadamu di waktu tersebut.” Setiap beliau bertemu dengan orang shaleh dimana kami pun bersama beliau-beliau meminta kesaksian bahwa mereka ridha terhadap anak-anaknya. Semoga Allah senantiasa membalas kebaikan beliau.

Beliaupun memberikan wasiat pada kami untuk ridha terhadap anak-anak kami seraya mengatakan, “Anak-anak yang ridha, maka nanti anaknya pun tergolong juga orang-orang yang ridha. Tidak ada yang nampak dri mereka kecuali beragam perkara baik.”

Mendo’akan anak agar diberi hidayah itu lebih utama bagi mereka dari mendo’akan keburukan bagi mereka ketika perbuatan mereka menyesakkan hati, yang diantaranya adalah hari-hari ketika mereka menunjukkan sisi kegilaan.

Beliau pun mengatakan: “Anak-anak seseorang itu adalah tanamannya dan tidak seyogyanya ia meremehkan tanaman tersebut atau malah mencabutnya dari tanah.”

Beliau pun pernah berkata, “Apa yang diperbuat oleh anak-anak terhadap orang tua mereka, maka itu pula yang nanti yang diperbuat oleh anak-anak mereka terhadap mereka (orang tua). (Lihat, al Mudzakkirat.)

Ibu kami pernah berkata, “Semoga Allah merahmati ayahmu ia pernah berkata, ‘Tidak ada kebaikan bagi orang yang mengerjakan kebaikan pada orang yang tidak pernah mendapatkan perlakuan baik dan tidak bisa diharapkan kebaikan orang yang memusuhinya. Orang yang tinggal bersamanya, maka ialah menantunya’.”

Aku pun ingat apa yang dikatakan ayahku, “Ketika beliau melihat wajahnya di hadapan cermin, beliau berkata terhadap dirinya, Assalamualaika ya wajha al fana wal ‘adam’ (Lihat, al Mudzakkirat.)

Perkataan ini menasehati beliau tentang tahapan penciptaan beliau dari tahapan-tahapan yang lainnya.

“Barangsiapa yang ingin anak-anaknya taat padanya, maka hendaknya dia pun taat pada kedua orang tuanya, sungguh apa yang dilakukan seorang anak terhadap orang tuanya, maka nanti anak keturunannya pun memperlakukan hal tersebut padanya. ” (Lihat, Sayyidi Ahmad al ‘lyyasy Sukairij, Raf’u an-Niqab Ba’da Kasyf al Hijab Amman Talaqqa Ma’a asy-Syaikh at-Tijany Min al Ashbab, Seperempat Keempat.)

Wasiat terakhir beliau pada anak-anaknya, “Aku pergi ke akhirat dan aku tinggalkan kalian dalam keridaan. ” (Lihat, Sayyidi Ahmad al ‘lyyasy Sukairij, Raf’u An-Niqab Ba’da Kasyf al Hijab ‘Amman Talaqqa Ma’a Asy-Syaikh at-Tijany Min al Ashbab, Seperempat Keempat.)

Catatan Seputar Biografi Sayyidi Idris Al Badrawi Al Hasani (Abdullah bin Idris al Badrawi merupakan toko kenamaan kota Fess. la mangambil ilmu dari petinggi ulama fikih Qurawiyyin, seperti Muhammad bin Abdurrahman al Hijrati; al Walid al ‘Iraqi; Abdussalam Bu Ghalib. la meninggal dunia pada hari Rabu 29 Dzulhijjah 1316H, beliau dikebumikan di zawiyah Syaikh Abu Ya’za, Balidah Fess. Kemudian diatas kuburannya dipahatkan balt yang digubah oleh al’ Allamah Sukairij, yaitu:

هَذَا ضَرِيْحُ الْعَابِدِ الأَوَّاهِ # شَيْخُ الْهُدَى مَوْلَايَ عَبْدُ اللَّهِ

بَدْرُ الدُّجَى مَنْ أَشْرَقَتْ أَنْوَارَهُ # سُبُلَ الدِّيَانَةِ عَادِمُ الْأَشْبَاهِ

وَكُلُّ مَنْ أَخَذَتْ عَنهُ عِلْمًا # أَوْ أَدَبًا فَهُوَ إِمَامِي حَكْمًا

“Ini merupakan kuburannya seorang hamba Allah lagi penyabar # Syaikhnya hidayah; Maulana Abdullah

Rembulan yang bersinar terang #dimana cahaya tersebut mampu menerangi jalan keberagaman

Orang yang mengambil ilmu dari beliau # atau juga mengambil adab, maka dia adalah sungguh Imamku.”

Beliau termasuk deretan orang yang alim dalam thariqah at-Tijaniyyah. la mengambil thariqah at-Tijaniyyah dari al Muqaddam Sayyidi Abdul Wahhab bin al Ahmar al Fasi. Lihat biografi beliau pada Qidam ar-Rusûkh karya Al ‘Allamah Sukairij yang sudah kami tahqiq (Syaikh el Radhi Gannoun), pada blografi no. 17; Kasyf al Hijab hal. 237; Fath al Malik al Allam Bitarajum Ba’dhi Ulama’ ath-Thariqah at-Tijaniyyah al A’lam karya Sayyidi Muhammad al Hajjuji yang sudah kami tahqiq, pada biografi no. 68; Fihris al’Allamah Muhammad Fathan bin Qasim al Qadiri, hal. 37; Rasa ‘ll al ‘Allamah al Qadhi Ahmad Sukalrij, vol. 1, hal. 30; Ittihaf al Mathall’ karya Ibnu Saudah, vol.1, hal. 341.)

Pada hari Jumat ini izinkan aku memberikan catatan berkaitan dengan sosok syaikh kami seorang wali yang shaleh, yang cahayanya nampak jelas, seorang Syarif Maulaya ‘Abdullah bin Sayyidi Idris bin Abdullah al Wadghiri yang dikenal dengan al Badrawi al Hasani

Beliau ini tergolong orang yang ahli futuh, namanya terkenal di jajaran wali Allah dengan keahlian dan kasyaf yang sharih. Kami belajar ilmu nahwu, ilmu fikih dan hadits pada beliau, dimana beliau belajar fiqih dari ‘Allamah Sayyidi Badruddin al Himawi dari guru beliau Syaikh at-Tawudi bin Saudah Almari al Qurasyi, dari Abu ‘Abdillah Sayyidi Muhammad Fathan Jasus, dari guru beliau Syaikh al Misnawi dan Syaikh Banani dan Syaikh bin Jalun, dimana semua itu dari Ibnu Hajj dari Syaikh Sayyidi Muhammad Fathan bin Abdul Qadir al Fasi al Fihri dan Syaikh Abdul Abbas al Abarr dan Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad Mayara dan Qadhi Abu ‘Abdillah Sayyidi Muhammad Fathan bin Qasim bin Saudah Almari. Seluruhnya berguru dari dua Syaikh tersebut baik dalam waktu yang lama maupun sebentar; Seperti Al’ Arifbillah Abu Yazid Abdurrahman al Fâsi, Abu Muhammad Abdul Wahid bin ‘Asyur, Abu ‘Abdillah al Janan, Qadhi Abd al Qasim bin Nu’aim, Abu al ‘Abbas Ahmad al Muqri’; sebagian diantara mereka berguru dalam waktu yang sebentar dan sebagian lain pun berguru dalam waktu yang lama.

Sementara orang-orang yang berguru dalam jangka waktu yang pendek, maka itu dari Sayyidi Ridwan al Junawi dari Sakin dari Ibnu Ghazi

Sedangkan yang berguru dalam waktu yang lama, maka itu dari sakit dan teman-teman daripada Ibnu Ghazi dari Imam Ibnu Ghazi dari Abdullah al-qurawi dari Abu Musa Imran Al Jinati dari Abu Imran Idrus dari ‘Abd al Aziz al Qurani dari guru beliau Abu al Hasan ash-Shaghir dari Abu Fadhl Rasyid dari Abi Muhammad Shaleh al Haskauri dari Abu Musa al Banan dari Abul Qasim bin Bu Sakwal. Abu Muhammad bin ‘Attab, keduanya dari Abu Muhammad bin Abu Thalib al Qirawani; pengarang kitab Ar-Risalah, dari Abu Bakar al-Libad; Ibyani; Daris bin Ismail al Abhuri, seluruhnya dari Yahya bin ‘Imran dari Syahnun dari Abul Qasim dari Malik dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar dari Nabi Saw.

Dari guru kami yang disebutkan di atas kami pun meriwayatkan Shahih Bukhari dari awal hingga akhir; baik membaca maupun mendalaminya, dimana beliau dari Sayyidi al Walid al Iraqi al Husaini dari Syaikh Sayyidi Hamdun bin al Hajj, dari Syaikh Thayyib bin Kirawan dari Syaikh Sayyidi ‘Abd al Qadir Bin Sakrun dari Abu Hafs Umar al Fasi dari Sayyidi ‘Ali Khurasyi, dari Sayyidi Abdul Qadir al Fasi, dari paman ayah beliau; al’ Arifbillah Sayyidi Abdurrahman bin Muhammad Fathan dari Syaikh al Qashshar dari Sayyidi Ridwan al Junawi dari Syaikh Sakin al Gharbawi dari Ibnu Ghazi dari Imam as-Siroj dari ayah beliau; Sayyidi Yahya dari kakek beliau; Sayyidi Ahmad dari Abu ‘Abdillah bin al Hajj, dari Abu Ja’far Ahmad as-Saqofi, dari Abu al Khithab Khalil dari Ibnu Khatib dari Wajib dari Muhammad bin Yusuf bin Sa’adah dari ash-Shadafi dari Qadhi Abu al Walid al Baji dari Abu Dzar ‘Abdullah bin Ahmad al Hirawi dari 3 guru (as-Sarkhasyi, al Mustamla dan al Kasymahini), dari al Farizi dari Imam al Bukhari.

Aku pun pernah menuliskan sanad beliau tapi bukan pada kitab ini. Beliau Ra meninggal dunia pada tahun 1316 H, dikebumikan di zawiyah para leluhur beliau yang bersama dengan kuburan Sayyidi Abu Ya’za di Balidah kota Fess. Kuburan beliau tersambung dengan kuburan Sayyidi Abu Zahra; yang tepatnya berada di sebelah kanannya.

Saat beliau Ra meninggal sebagian kerabat ingin menuliskan nama di atas kuburan mereka yang berupa tanggal kematian agar sosoknya terus dikenang pada kuburan tersebut.

Aku pun menuliskan sya’ir tentang nama baik beliau sebagai berikut:

هَذَا ضَرِيْحُ الْعَابِدِ الْأَوَّاهِ # شَيْخُ الْهُدَى مَوْلَايَ عَبْدُ اللَّهِ

بَدْرُ الدُّجَى مَنْ أَشْرَقَتْ أَنْوَارَهُ # سُبُلَ الدِّيَانَةِ عَادِمُ الْأَشْبَاءِ

وَكُلُّ مَنْ أَخَذَتْ عَنهُ عِلْمًا # أَوْ أَدَبًا فَهُوَ إِمَامِي حَتْمًا

“Ini merupakan kuburannya seorang hamba Allah lagi penyabar # Syaikhnya hidayah; Maulana ‘Abdullah

Rembulan yang bersinar terang # dimana cahaya tersebut mampu menerangi jalan keberagaman

Orang yang mengambil ilmu dari beliau # atau juga mengambil adab, maka sungguh dia adalah imamku.”

Sumber : BUKU NAFA `IS SUKAIRIJIYYAH (AN-NAFA `IS AS-SUKAIRIJIYYAH) SYAIKH AHMAD BIN AL ‘IYASY SUKAIRIJ AT-TIJANY