
Elsubha.com – Shalawat Jibril atau Sholawat Nabi al-Khadhir
Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawi MA
بسم الله الرحمن الرحيم
حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود
وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد
وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا
وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.
أما بعد:
Shalawat “Shallallahu Ala Muhammad”
صلى الله على محمد
Shallallahu Ala Muhammad
Artinya: Semoga Allah memberikan shalawat (rahmat yang disertakan ta’zhim) kepada Nabi Muhammad.
Imam Abdul Wahhab as-Sya’raniy (wafat 973 Hijriyah) mengutip perkatakan Rasulullah shallallahu Alaihi Wa sallam: “Siapa saja yang membaca shalawat di atas, Allah Taala akan bukakan 70 pintu Rahmat, mendapat kecintaan dari orang lain dan tidak ada yang membenci dirinya melainkan orang yang punya sifat nifaq.”
Syekh Ali al-Khawwash Radhiyallahu Anhu berkata: “Hadis tersebut diriwayatkan para ahli ma’rifah melalui Khidir dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Menurut kami jalur sanadnya sampai pada martabat shohih sekalipun para ahli hadist menolak jalur periwayatnnya lantaran mereka mempertahankan basic ilmu riwayat mereka.
Imam Syamsuddin Muhammad Bin Abdurrahman as-Sakhawiy (wafat 903 Hijriyah) dalam kitab al-Qaul Badi’ dan Imam Ahmad Bin Muhammad al-Qusthullani dalam kitab Masalikul Hunafa mengutip dari imam Majduddin Faizruz Abadi dari Imam Abul Muzhaffar Muhammad Bin Abdullah Ibn al-Khayyam as-Samarqandi yang tersohor dengan julukan Abu Warad rahimahullah berkata: “Aku mendengar al-Khidhir dan Ilyas alaihimas salam keduanya berkata: Kami mendengar dari Rasulullah shallalllahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang mu’min membaca:
صلى الله على محمد
Melainkan ia akan dicintai manusia, sekalipun banyak manusia membencinya di satu saat mereka akan Allah kehendaki untuk mencintainya. Dan kami mendengar Rasululllah Shallallahu alaihi wa sallam di atas mimbar bersabda: ” Siapa yang membaca Shallalllahu Ala Muhammad” akan Allah bukakan baginya 70 pintu rahmat.”
Imam al-Qusthullani dalam kitab Masalikul Hunafa halaman 183, mengatakan “Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Imam Muhammad Bin Abdullah Ibn al-Khayyam bertanya kepada al-Khadir dan Ilyas: “Apakah kamu berdua bertemu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam? keduanya menjawab: “Iya kami berdua bertemu beliau. Imam Ibn Muhammad Bin Abdullah Bin al-Khayyam kemudian memohon kepada keduanya agar ia dapat meriwayatkan hadis dari al-Khadhir dan Ilyas, kemudian keduanya menyampaikan hadis:
ما من مؤمن صلى على محمد الا طهر الله قلبه من النفاق كم يطهر الثوب الماء
Tidaklah seorang mu’min bershalawat kepada Muhammad melainkan Allah Taala mensucikan hatinya dari benih kemunafikan sebagaimana air dapat membersihkan pakaian.”
Ibn Hajar al-Asqalani menambahkan:
من قال صلى الله على محمد فقد فتح سبعين بابا من الرحمة
Siapa yang membaca Shallallahu ala Muhammad, maka akan dibukakan 70 pintu rahmat.”
Ketiga redaksi hadis yang diriwayatkan Imam Abu al-Muzhaffar as-Samarqandi Muhamad Bin Abdullah al-Khayyam, menurut para ahli ma’rifah bersetatus shahih. Sedangkan menurut ahli hadis antara lain Imam Syamsuddin adz-Dzahabi dalam kitab Mizan al-I’tidal jilid 3 halaman 602 dan Ibn Hajar al-Asqalani dalam kitab Lisan al-Mizan jilid 7 halaman 236, berkomentar sanadnya bermasalah, dengan alasan sepak terjang dan eksistensi tokoh bernama Abul Muzhaffar as-Samarqandi sebagai periwayat Majhul (tidak diketahui secara jelas).”
Dalam kitab Fihrisul Makhthuthath jilid 8 halaman 389 disebutkan bahwa Abu al-Muzhaffar Ibn al-Khayyam mengkompilasi seluruh riwayat hadis terkait al-Khidir dan Ilyas pada sebuah karya berjudul Ahadits al-Khadhir Wa Ilyas. Para pakar sejarah mengatakan, “Abul Muzhaffar Ibn Khayyam diperkirakan hidup pada abad kelima Hijriyah. Kondisi Majhul seorang periwayat belum tentu menyebabkan konten periwayatan tertolak.
Imam Syamsuddin as-Sakhawiy juga menyebutkan bahwa imam Abul Muzhaffar as-Samarqandiy mendengar al-Khidir dan Ilyas berkata: Dahulu pada zaman bani Israil ada seorang Nabi bernama Samuel yang selalu diberikan kemenangan oleh Allah Taala ketika menghadapi musuh.
Pada suatu hari musuh ingin menyerang perkampungan beliau. Musuh meyakini bahwa Nabi Samuel orang yang memiliki magic (sihir) sehingga musuh meyerang dari arah laut dengan membawa banyak pasukan. Ketika serangan musuh terdengar oleh penduduk kampung di mana Nabi Samuel berada, mereka bertanya kepada beliau apa yang harus mereka lakukan untuk menghadang musuh. Nabi Samuel alaihis salam menyerukan penduduk setempat untuk membaca: “Shallallahu Ala Muhammad”
Akhirnya para penduduk mengamalkan bacaan tersebut, dan tidak lama terdengar kabar bahwa tentara musuh yang ingin menyerang mengalami mushibah kapal mereka tenggelam.
Pada suatu hari seorang lelaki dari Syam mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepada beliau: Ya Rasulallah, aku punya ayah yang sudah lanjut usia dan ia ingin sekali berjumpa denganmu. Beliau berkata; “Datangkan dia ke sini! Lelaki itu menjawab: “apalah daya fisiknya tidak memungkinkan itu. Beliau berkata; Kalau begitu, suruh dia untuk memperbanyak membaca “Shallallahu Ala Muhammad” selama 7 hari 7 malam, maka dia akan bertemu aku dalam mimpi.” Lelaki itupun bergegas pulang dan menyampaikan pesan Rasululllah kepada ayahnya lalu ayahnya mengamalkan pesan tersebut hingga beliau bertemu Rasulullah lewat mimpinya.”
Adapun sanad muttashil (bersambung) kepada imam Abul Muzhaffar As-Samarqandiy radhiyallahu Anhu beliau dari al-Khidir dan Ilyas, al-Faqir riwayatkan sebagai berikut:
الحاج رزقي ذو القرنين أصمت البتاوي عن المعمر العلامة الحبيب أحمد بن ابي بكر احمد الحبشي عن الشيخ العلامة عمر حمدان المحرسي عن العلامة حسين بن محمد الحبشي عن السيد احمد بن زيني دحلان المكي عن شيخه عثمان بن حسن الدمياطي عن العلامة محمد بن عبد القادر الأمير عن الشيخ علي بن محمد العربي السقاط عن الشيخ عبد الله بن سالم البصري عن الشيخ عيسى الجعفري الثعالبي عن الشيخ علي الاجهوري عن السراج عمر بن الجائي عن الحافظ جلال الدين السيوطي عن التقي إلي الفضل محمد بن محمد بن فهد العلوي المكي عن مجد الدين محمد بن يعقوب الفيروزابادي عن فخر الدين ابي عمرو عثمان بن محمد الثوري المالكي عن تاج الدين عبد الوهاب بن الحسين الشافعي عن محمد بن رضي الدين ابي الخير احمد بن اسماعيل القروي عن والده عن ابي القاسم عبد الملك بن ابي عبد الله محمد عمر الخطيب عن ابي سعيد محمد بن علي العثماني عن الحسين احمد عن ابي القاسم عبد الرحمن بن محمد القوراني عن ابي بكر احمد بن محمد القاسم الديدانقاني المؤذن عن ابي المظفر محمد بن عبد الله الخيام الحربي السمرقندي المعروف بأبي ورد عن الخضر وإلياس عليهم السلام .
Ilyas alaihis salam adalah nama seorang Nabi Bani Israil yang merupakan cicit dari Nabi Harun alaihis salam. Imam Ibnu Kastir dalam kitab Bidayatul Hidayah menyebutkan Nasab beliau Ilyas Bin Yasin Bin Fanhash Bin Al-Aizar Bin Harun. Beliau Allah utus berdakwah di daerah Ba’labak bagian barat negri Syiria.
Sedangkan nama asli al-Khadhir atau sering juga disebut al-Khidhir adalah Balya Bin Malkan. sebutan Khadhir lantaran setiap tempat yang beliau diami akan tumbuh rerumputan dan tumbuhan hijau. Para ulama berselisih tentang kenabiannya. Ulama Ahli zhahir menyatakan beliau itu Nabi. Ulama Ahli batin mengatakan beliau hanya seorang wali. Imam al-Ghazaliy dalam Kitab Ihya Ulumiddin menyebut al-Khadhir sebagai pemimpin para wali Abdal.
Nasab beliau adalah Balya Bin Malkan Bin Faligh Bin Abir Bin Syalikh Bin Qinan Bin Arfakhasdz bin Sam Bin Nuh Alaihis salam. Beliau merupakan ponakan dari kakek Nabi Ibrahim alaihis salam.
Diriwayatkan ketika Nabi Adam Alaihis salam di akhir-akhir usianya berwasiat kepada anak-anak cucunya bahwa nanti akan ada mushibah besar berupa banjir yang mengkaramkan seluruh dunia, bahwa siapa saja di antara keturunan kalian nanti yang dapat memindahkan kuburanku ke sebuah bukit, maka dia aku doakan menjadi manusia yang paling panjang umurnya sampai hari kiamat. Dalam rentangan waktu panjang wasiat tersebut terus di sampaikan dari generasi ke generasi sampai zaman Nabi Nuh alaihis salam di mana sebelum terjadi banjir beliau yang membawa jenazah Nabi Adam selanjutnya Nabi Nuh berwasiat kepada anak cucunya untuk memindahkan jasad Nabi adam untuk di makamkan di sebuah bukit. Dan akhirnya al-Khidhir yang memindahkan jasad Nabi Adam alaihis salam.
Ada salah seoramg ulama kharismatik dalam Thariqah Tijaniyyah bernama Syekh al-Arabiy Bin Saih al-Umari as-Syarqawi pernah ditanya, apakah al-Khadhir seorang Nabi atau wali? beliau menjawab; Jika al-Khadhir seorang Nabi, maka cukup bagi kita menjadi ummat khatmul anbiya (penutup para Nabi) yakni Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Apabila al-Khadhir seorang wali, maka cukup bagi kita Khatmul Auliya (penutup para wali) yakni Sayyidi Syekh Ahmad Tijani Radhyallahu Anhu.
Baca shalawat di atas minimal sehari semalam 1000 kali, tentunya dibaca dengan bacaan yang tartil (perlahan) hingga benar-benar mantab kekhusyuannya. jangan tergere-gere (terburu-buru) membacanya, pasalnya bisa merusak artinya. seandainya seseorang membaca dengan cepat terburu-buru, maka yang terdengar SHOLMAD, SHOLMAD, SHOLMAD. padahal bacaan aslinya Shallallahu ‘ala Muhammad.
Wallahu A’lam,,
Dikutip ulang dari kitab ittihaful amajid bi nafaisil fawaid karya Abu Mun’yah as-Sakunjiy at-Tijaniy jilid 2 halaman 253.
Sumber : https://yayasanalmuafah.blogspot.com/2015/11/shalawat-shallallahu-ala-muhammad.html
