You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Ahli Sufi Mensensor Hadits Dengan Dzauq dan Malakah Haditsiyah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Ahli Sufi Mensensor Hadits Dengan Dzauq dan Malakah Haditsiyah

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawi M.A

بسم الله الرحمن الرحيم

حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود
وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد
وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا
وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.

أما بعد:

Al-Hafizh Sayyid Ahmad Bin Muhammad Bin as-Shiddiq al-Ghumari (wafat 1380 Hijriyah) ulama hadits dari Maroko mengatakan, “Naluri seorang pakar hadits dapat dijadikan dasar mensensor hadis-hadis maqbûl dan mardûd, berbeda dengan ahli fiqh dan ahli sufi kecendrungan perasaan batin mereka tidak bisa dijadikan barometer untuk melacak status hadits. Kecuali ahli sufi tersebut sudah sampai tingkatan maʻrifatullah sehingga dapat melihat dengan kasyaf sahîh dan ʻain al-basîrah (mata batin).[1]

Di kalangan ahli tasawuf, para ahli sufi dapat mengetahui kualitas hadits melalui kasyaf (terbukanya hijab). Sebut saja nama ʻAbd al-ʻAzîz al-Dabbâgh (w. 1131 H) seorang wali yang buta huruf. Menurut pengakuan Ahmad Bin Mubârak al-Lamatî (w. 1156 H) muridnya, “ʻAbd al-ʻAzîz al-Dabbâgh tidak hafal al-Qur’an, akan tetapi beliau bisa membedakan keduanya dengan semata-mata mendengar. Saat ada orang membacakan sesuatu di hadapannya, beliau mengatakan, “itu al-Qur’an, itu hadis qudsi dan sebagainya.” Demikian itu beliau ketahui melalui kasyaf.

Beliau juga bisa membedakan mana hadits sahîh, ḏaʻîf dan mauḏûʻ. Pada suatu hari, aku menguji beliau dengan membacakan hadis dari kitab al-Jâmiʻ al-Saghîr karya al-Suyûṯî ternyata apa yang disebut al-Suyûṯî sahîh maka beliau mengatakan sahîh jika ḏaʻîf beliau mengatakan ḏaʻîf. Beliau mengetahui status hadits-hadits tersebut secara kasyaf.[2]

Para ahli hadits menyebutkan bahwa malakah dan dzauq al-hadisiyah (bakat dan perasaan batin mengenai hadits) juga termasuk perangkat yang digunakan dalam kritik hadits.

Al-Rabîʻ Bin Khutsaim berkata:

إِنَّ مِنَ الْحَدِيثِ حَدِيثًا لَهُ ضَوْءٌ كَضَوْءِ النَّهَارِ نَعْرِفُهُ بِهِ، وَإِنَّ مِنَ الْحَدِيثِ حَدِيثًا لَهُ ظُلْمَةٌ كَظُلْمَةِ اللَّيْلِ نَعْرِفُهُ بِهَا .

“Sesungguhnya hadits itu ada yang sinar seperti cahaya di siang hari dan ada yang gelap segelap malam hari sehingga kita bisa mengenal hadits itu.”[3]

ʻAbd al-Raẖman Bin Mahdî mengatakan:

مَعْرِفَةُ الْحَدِيثِ إِلْهَامٌ .

“Mengenal hadits merupakan ilham yang Allah berikan kepada seorang hamba.[4]

Al-Hâkim menegaskan:
إِنَّ الصَّحِيحَ لَا يُعْرَفُ بِرِوَايَتِهِ فَقَطْ، وَإِنَّمَا يُعْرَفُ بِالْفَهْمِ وَالْحِفْظِ وَكَثْرَةِ السَّمَاعِ .

“Hadits saẖîẖ tidak hanya diketahui dari sisi jalur periwayatannya saja tetapi juga dengan pemahaman, hapalan dan seringnya mendengar.”[5]

Ibn al-Jauzî juga menyatakan:

الْحَدِيثُ الْمُنْكَرُ يَقْشَعِرُّ لَهُ جلْدُ الطَّالِبِ لِلْعِلْمِ، وَيَنْفِرُ مِنْهُ قَلْبُهُ فِي الْغَالِبِ .

“Hadits munkar ketika didengar oleh seorang penuntut ilmu, maka akan bergidik bulu tengkuknya dan hatinya pun menolak.”[6]

Dikutip ulang dari kitab ittihaful amajid bi nafaisil fawaid karya al-Qadhi Abu Mun’yah as-Sakunjiy at-Tijaniy jilid 2 halaman 253.

[1] Aẖmad al-Ghumârî, al-Mughîr, h.
[2] Walîd Bin Ahmad al-Husain al-Zubairî, al-Mausûʻah al-Muyassarah Fî Tarâjim Aimmah al-Tafsîr Wa al-Iqrâ Wa al-Nahw Wa al-Lughah, vol. 1 (Suʻûdî: al-Hikmah, 2003), h.
[3] Muhammad Bin ʻAbdullah al-Hâkim, Ma’rifah ʻUlûm al-Hadîts (Beirût: Dâr al-Kutub al-ʻIlmiyah, 1977), h. .
[4] Muhammad Bin ʻAbdullah al-Hâkim, Ma’rifah ʻUlûm al-Hadîts, h. .
[5] Muhammad Bin ʻAbdullah al-Hâkim, Ma’rifah ʻUlûm al-Hadîts, h. .
[6] Al-Suyûṯî, Tadrîb al-Râwî Fî Syarh al-Taqrîb al-Nawawî (Cairo: Dâr al-Hadîts, 2004),


Ahmad al-Ghumari, Ibn shiddiq al-Ghumari, al-Ghumariyah, Keluarga al-Ghumari

Sumber : https://yayasanalmuafah.blogspot.com/2018/05/ahli-sufi-mensensor-hadis-dengan-dzauq.html