You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 12. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt (QS. Al-An’am 6: Ayat 74),
وَاِ ذْ قَا لَ اِبْرٰهِيْمُ لِاَ بِيْهِ اٰزَرَ اَتَتَّخِذُ اَصْنَا مًا اٰلِهَةً ۚ اِنِّيْۤ اَرٰٮكَ وَقَوْمَكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,

وَاِ ذْ قَا لَ اِبْرٰهِيْمُ لِاَ بِيْهِ اٰزَرَ اَتَتَّخِذُ اَصْنَا مًا اٰلِهَةً ۚ اِنِّيْۤ اَرٰٮكَ وَقَوْمَكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
wa iz qoola ibroohiimu li-abiihi aazaro a tattakhizu ashnaaman aalihah, inniii arooka wa qoumaka fii dholaalim mubiin

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, “Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.””
(QS. Al-An’am 6: Ayat 74).

“Apakah para kakek nabi Muhammad Saw ada yang tidak mukmin, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang yang bodoh akan sejarah yang mereka kutip dari beragam hadits, apakah ini benar atau tidak?”

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Perlu diketahui bahwa para kakek nabi Muhammad Saw seluruhnya adalah orang-orang yang beriman dari jalur ayahnya sampai jalur nabi Adam As.

Kemudian seorang penanya berkata lagi kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijani Ra, lantas apa makna firman Allah Swt,

وَاِ ذْ قَا لَ اِبْرٰهِيْمُ لِاَ بِيْهِ اٰزَرَ اَتَتَّخِذُ اَصْنَا مًا اٰلِهَةً ۚ اِنِّيْۤ اَرٰٮكَ وَقَوْمَكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
wa iz qoola ibroohiimu li-abiihi aazaro a tattakhizu ashnaaman aalihah, inniii arooka wa qoumaka fii dholaalim mubiin

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, “Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.””
(QS. Al-An’am 6: Ayat 74)

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra melanjutkan:

Sungguh Azar itu adalah paman nabi Ibrahim As, kalau pun dia adalah ayahnya yang asli, maka Allah Swt tidak akan sebutkan nama Azar setelah kata “Abihi” (ayahnya), cukup dengan menggunakan redaksi, “Al Abb (ayah).” Yang menguatkan pendapat ini adalah beliau memohon ampunan untuk kedua orang tuanya pada akhirnya, hal ini terjadi setelah Allah Swt mengabarkan agar beliau (nabi Ibrahim As) membebaskan diri dari ayahnya dengan firman Allah Swt,Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا كَا نَ اسْتِغْفَا رُ اِبْرٰهِيْمَ لِاَ بِيْهِ اِلَّا عَنْ مَّوْعِدَةٍ وَّعَدَهَاۤ اِيَّاهُ ۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗۤ اَنَّهٗ عَدُوٌّ لِّـلّٰهِ تَبَرَّاَ مِنْهُ ۗ اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ لَاَ وَّاهٌ حَلِيْمٌ
wa maa kaanastighfaaru ibroohiima li-abiihi illaa ‘am mau’idatiw wa’adahaaa iyyaah, fa lammaa tabayyana lahuuu annahuu ‘aduwwul lillaahi tabarro-a min-h, inna ibroohiima la-awwaahun haliim

“Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Maka ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, Ibrahim berlepas diri darinya. Sungguh, Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 114)

Sedangkan pada akhir umur ayah beliau, nabi Ibrahim As berkata (yang diabadikan dalam firman-Nya),

رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلـِوَا لِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَا بُ
robbanaghfir lii wa liwaalidayya wa lil-mu-miniina yauma yaquumul-hisaab

“Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu-bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat).””
(QS. Ibrahim 14: Ayat 41)

Kalau Azar adalah ayah nabi Ibrahim As, maka beliau tidak akan membebaskan diri darinya. Dalam pandangan secara mendalam terkait hal ini, Allah Swt mensucikan para nabi-Nya, Dia tidak akan menciptakan seorang nabi dari air mani yang najis dengan kekufuran. Dalam hadits nabi Saw bersabda,

لَمْ يَزَلِ اللَّهُ يَنْقُلُنِي مِنَ الْأَصْلَابِ الْحَسَنَةِ إِلَى الْأَرْحَامِ الطَّاهِرَةِ

“Allah masih saja memindahkanku dari tulang sulbi yang bersih menuju rahim yang suci.”

Dalam penggalan hadits tersebut Nabi Saw juga bersabda,

بُعِثْتُ مِنْ خَيْرٍ قُرُونِ بَنِي آدَمَ قَرْنًا فَقَرْنًا، لا تَفْتَرِقْ شُعْبَتَانِ إِلَّا كُنْتُ فِي خَيْرِهِمَا

“Aku diutus dari abad terbaik bagi anak keturunan Adam dari masa kemasa, Tidaklah dua suku berpisah kecuali aku berada pada yang terbaiknya.”

Mungkin saja ada orang yang berkata bahwa yang dimaksud dari kebaikan adalah apa yang mereka lakukan meski dalam kondisi kafir dan tolak ukurnya adalah apa yang diterima oleh manusia dari kebaikan, kedermawan, pemberian maaf dan beragam akhlak mulia lainnya, beragam sifat ini ada pada diri seseorang yang kafir kepada Allah Swt.

Maka kami (Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra) katakan: Kebaikan yang ada dalam diri mereka adalah kebaikan iman, dimana pada setiap masa, mulai masa nabi Adam As sampai masa nabi Muhammad Saw, dunia ini tidak pernah kosong sehari pun dari adanya seorang wali di muka bumi. Dengan mereka Allah Swt menolak ujian bagi penduduk bumi ini. Kemudian dalam kacamata syari’at, kebaikan orang kafir itu mustahil lebih banyak dari kebaikan orang mukmin.

Khabar Nabi Saw menunjukkan bahwa setiap ayah dari leluhur Nabi Saw lebih utama dari para wali di zaman beliau selain para nabi, maka ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang mukmin, dengan dalil sabda Nabi Saw,

بُعِثْتُ مِنْ خَيْرِ قُرُونِ بَنِي آدَمَ قَرْنًا فَقَرْنًا، لا تَفْتَرِقْ شُعْبَتَانِ إِلَّا كُنْتُ فِي خَيْرِهما

“Aku diutus dari abad terbaiknya anak keturunan Adam dari masa ke masa, Tidaklah dua suku berpisah kecuali aku berada pada masa terbaiknya.”

Kami katakan: Beginilah kondisi semua nabi As, Allah Swt sama sekali tidak menciptakan seorang nabi dari air mani yang najis lantaran kekufuran, karena orang kafir itu najis, sebagaimana yang tertera dalam firman-Nya,

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنَّمَا الْمُشْرِكُوْنَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَـرَا مَ بَعْدَ عَا مِهِمْ هٰذَا ۚ وَ اِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيْكُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۤ اِنْ شَآءَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu innamal-musyrikuuna najasung fa laa yaqrobul-masjidal-harooma ba’da ‘aamihim haazaa, wa in khiftum ‘ailatang fa saufa yughniikumullohu ming fadhlihiii ing syaaa, innalloha ‘aliimun hakiim

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis (kotor jiwa), karena itu janganlah mereka mendekati Masjidilharam setelah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin (karena orang kafir tidak datang), maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 28)

Juga dalam firman-Nya,

اِنَّ شَرَّ الدَّوَآ بِّ عِنْدَ اللّٰهِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ 
inna syarrod-dawaaabbi ‘ingdallohillaziina kafaruu fa hum laa yu-minuun

“Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka tidak beriman.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 55)

Juga seperti dalam firman-Nya,

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَ الْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَا رِ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ اُولٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ 
innallaziina kafaruu min ahlil-kitaabi wal-musyrikiina fii naari jahannama khoolidiina fiihaa, ulaaa-ika hum syarrul-bariyyah

“Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk.”
(QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 6)

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa kebaikan hanya ada pada keimanan diri, tidak ada kebaikan dalam kekufuran.

Dari dalil yang jelas ini menghasilkan kesimpulan bagi kita bahwa seluruh leluhur nabi Muhammad Saw adalah orang-orang yang beriman. Terkait apa yang sudah disebutkan sebelumnya mengenai Azar bahwa ia bukan termasuk kakek leluhur nabi Muhammad Saw, maka dari sini juga memberikan kebenaran mutlak bahwa para nabi As sama sekali tidak pernah tercipta dari tulang sulbi orang kafir sejak nabi Adam As hingga nabi Muhammad Saw. Hal ini pun menunjukkan bahwa setiap ayah dari leluhur nabi Muhammad Saw lebih utama dari para wali semasanya.

Perkara ini khusus bagi nabi Muhammad Saw sesuai dengan hadits panjang diatas yang menyebutkan “keduanya belum tersentuh kondisi tumpah darah, sejak nabi Adam As hingga terciptanya Dzat nabi Muhammad Saw.” Sedangkan para nabi As lainnya tidak memiliki keutamaan ini kecuali pada leluhur mereka yang telah diberikan berita gembira, sekalipun hanya nabi tersebutlah yang tidak kafir dari keturunan tersebut.

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata terkait keutamaan Sayyidina ‘Ali Ra:

Didalam sebuah hadits disebutkan,

كُنتُ أَنَا وَعَلِيٌّ نُوْرَيْنِ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ ثُمَّ أَوْدَعَنَا فِي صَلْبِ أَدَمَ، فَلَمْ يَزَلْ يَنْقُلُنَا مِنْ صُلْبِ إِلَى صُلْبِ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ، فَخَرَجْتُ فِي عَبْدِ اللَّهِ وَخَرَجَ عَلي فِي أَبِي طَالِبٍ، ثُمَّ اجْتَمَعَ نُورُنَا فِي الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ، فَهُمَا نُوْرَانِ مِنْ نُوْرِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Aku dan Ali adalah dua cahaya yang ada pada sisi Allah, kamudian kami dititipkan pada sulbi Adam, kamipun berpindah-pindah dari sulbi ke sulbi lainnya, kemudian aku terlahir dari ‘Abdullah dan dia (Ali) dari Abi Thalib, lalu cahaya kami berkumpul pada Al Hasan dan Al Husain, keduanya merupakan dua cahaya dari cahaya Tuhan alam semesta.”

Sayyidi Syaikh Ra melanjutkan, “Tidak akan sampai suatu ilmu kepada makhluk ini kecuali dari ‘Ali Ra, karena ia ibarat pintu dari kota ilmu Rasulullah Saw, yang tidak ada pada para khalifah yang empat dan tidak pula ada pada para sahabat lainnya. Ibnu Abbas berkata, “Seluruh ilmu terbagi menjadi sepuluh bagian: Sembilan bagiannya ada pada ‘Ali dan sepuluhnya terbagi-bagi diantara semua makhluk. Manusia yang paling alim adalah dia yang menguasai sepuluh sisanya itu.”

Sementara terkait dengan sabda nabi Muhammad Saw kepada Abu Bakar, “Tidak ada mataharinya para nabi As yang terbit maupun tenggelam, yang lebih utama daripada Abu bakar.” Maka kami (Sayyidi Syaikh Ra) katakan: “Sungguh keutamaan yang dimiliki oleh seseorang itu tidaklah dipandang dari setiap sisi, kecuali ketika semua sisi itu ada pada seseorang, sehingga dialah yang paling utama dan paling tinggi derajatnya pada semua tataran makhluk.”

Nabi Muhammad Saw bersabda,

قَدْ كَانَ يَكُونُ فِي الأُمَمِ قَبْلَكُمْ مُحَدَّثُوْنَ فَإِنْ يَكُنْ فِي أُمَّتِي مِنْهُمْ أَحَدٌ فَإِنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ مِنْهُمْ

“Telah ada pada setiap umat ini orang-orang yang bisa berbicara (dengan para malaikat), andai itu terjadi pada umatku, maka Umar bagian dari mereka itu.”

Keutamaan ini milik Umar, dimana kemampuan bercakap-cakap ini menempati martabat yang tinggi dan derajat yang terdekat dengan hadhrah Allah Swt, sehingga hal ini Allah khususkan bagi orang-orang yang Allah cintai, dimana Umar termasuk golongan mereka dan Abu Bakar dikhususkan dengan martabat keimanan dan ragam rahasia ilahiyyah. Allah Swt khususkan ‘Ali dengan martabat ilmu hakikat yang tersembunyi dan bukan pada ilmu zhahir.

Redaksi, “Al Muhaddatsun,” maknanya adalah orang-orang yang Allah Swt kaitkan dengan hadhrah-Nya, Allah senantiasa bercakap-cakap dengannya. Sedangkan redaksi kata, “Al Muhaddits,” maknanya adalah orang-orang yang mendapatkan pesan Allah Swt di hadhrah-Nya, kemudian berpindah pada yang lainnya.

-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 1 – KAJIAN SEPUTAR AL-QUR’AN (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY