
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
qul ing kungtum tuhibbuunalloha fattabi’uunii yuhbibkumullohu wa yaghfir lakum zunuubakum, wallohu ghofuurur rohiim
“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Perlu diketahui bahwa pembahasan seputar kecintaan Allah Swt kepada hamba-Nya, baik itu bentuknya seperti rasa cintanya makhluk yang berupa kegandrungan dan kecondongan diri akan sesuatu, yang terkadang membuat orang kehilangan kesabaran, terhinggapi rasa rindu ketika kekasihnya tidak ada, bahkan sampai kehilangan akal lantaran teramat besar rasa cintanya terhadap sesuatu, seluruh bentuk kecintaan ini mustahil ada pada Dzat Allah Swt. Beragam sifat mulai kecondongan diri, kegandrungan dan rindu tidak mungkin ada pada Dzat-Nya yang luhur, sebab Dzat Allah adalah Dzat yang paling tinggi, yang memiliki kosombongan Dzat, keagungan yang sempurna dan keperkasaan Dzat yang tidak bisa disifati dan dipertanyakan seluk-beluknya.
Seluruh sifat diatas merupakan sifat agung yang mencerminkan sisi Dzat-Nya, yang mengharuskan tidak adanya sesuatu apapun yang menyerupai-Nya di alam ini, karena sisi kesombongan Dzat, keagungan yang sempurna, keluhuran Dzat dan keperkasaan Dzat-Nya menyebabkan kecemburuan dengan keberadaan makhluq yang lainnya, apalagi berpaling pada kecintaan lain atau juga rindu kepada yang lainnya.
Terkait hal itu, Allah Swt pernah berfirman dalam hadits qudsi,
كُنتُ كنزاً لَمْ أُعْرَفْ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُعْرَفَ، فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ، فَتَعَرَّفْتُ لَهُمْ، في عَرَفُونِي
“Aku adalah perbendaharaan yang belum bisa diketahui, maka Aku senang untuk dikenal (dima’rifati), (oleh karena itu) Aku ciptakan makhluk, Aku perkenalkan Dzatku pada mereka, maka dengan-Ku lah mereka mengenali-Ku (ma’rifat pada-Ku).”
Hal ini dikarenakan bahwa kecemburuan Dzat Allah Swt secara otomatis akan menafikan wujud selain-Nya. Lalu dalam kecemburuan itu Dzat-Nya menafikan wujud lain yang ada bersama-Nya, kemudian Allah Swt ber-tanazzul seraya berfirman,
فَأَحْيَبْتُ أَنْ أَعْرَفَ
“Maka Aku senang untuk dikenal (dima’rifati).”
Sisi tanazzul dari Dzat Allah Swt bukan berarti bahwa Dzat-Nya turun dari martabat yang paling utama, bahkan Dzat Allah akan tetap berada pada martabat tersebut sejak zaman azali hingga selamanya. Akan tetapi sesuai dengan kehendak Allah Swt yang tidak menafikan beragam perkara yang berkaitan dengan sisi wujud, bahwa sudah seharusnya ada tanda dari makhluk ciptaan-Nya, dimana Dzat Allah Swt mampu berbuat apa saja pada tanda itu dengan kucuran dan keumuman rahmat tersebut dan luhurnya cakupan keperkasaan-Nya. Nah, beragam perkara yang berkaitan dengan kehendak inilah yang disebut dengan tanazzul.
Lalu Allah Swt berfirman (dalam hadits qudsi di atas),
فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ، فَتَعَرَّفْتُ لَهُمْ، فَبِيَ عَرَفُوْنِي
“Maka Aku ciptakan makhluk, Aku perkenalkan Dzatku pada mereka, maka dengan-Ku lah mereka mengenali-Ku (ma’rifat pada-Ku).”
Tanazzul-Nya Allah Swt pada mereka dengan hukum kehendak-Nya inilah yang menjadi faidh (kucuran ilahiyyah) yang berasal dari satu sisi kedermawanan dan kemurahan-Nya, ini juga dapat memberikan manfaat kepada sosok yang mendapatkan faidh (kucuran ilahiyyah) tersebut.
Dari kucuran ilahiyyah inilah Allah Swt menghukumi, dimana hukum Allah Swt berbeda-beda bentuknya;
1. Ada sekelompok orang yang Allah Swt ingin angkat dan agungkan sosoknya, serta memposisikan mereka pada posisi yang mulia dan luhur. Mereka inilah para nabi, para malaikat dan juga sosok yang Allah Swt khususkan dari beberapa tingkatan alam-Nya.
2. Ada juga sekelompok lainnya yang Allah Swt angkat, agungkan dan tinggikan derajatnya sampai pada derajat dibawah derajat yang pertama tadi. Mereka ini adalah Ash-Shiddiqun dan para wali quthb.
3. Lalu Allah tetapkan tingkatan dibawah mereka dalam hal pengangkatan derajat, pengagungan dan pemberian kucuran ilahiyyah dan kedemawanan-Nya, pada derajat ini ada para wali dengan beragam martabat mereka dan juga sosok yang Allah Swt khususkan seperti mereka pada beberapa alam.
4. Dibawah mereka ada lagi sekelompok orang yang ditakdirkan menempati posisi dibawah mereka. Pada martabat ini ada sekelompok orang-orang shaleh yang telah Allah Swt takdirkan dengan kemampuan untuk menjalankan beragam perintah dan menjauhi larangan-Nya dengan kondisi terhijab yang sempit dan suram. Mereka inilah yang senantiasa berbolak-balik pada tataran mujahadah yang sulit. Mereka masih saja berkutat disana dan belum keluar dari keruhnya kondisi jiwa. Sebab, martabat para wali quthb, Ash-Shiddiqin serta sekelompok orang dibawah martabat mereka telah ditakdirkan untuk mengangkat, meninggikan dan memilih mereka; mereka inilah orang-orang mukmin. Mereka inilah yang dengan keimanannya masih bisa melanggar perintah Allah Swt. Seluruhnya berhak mendapatkan beragam martabat pengagungan dan pemuliaan, mereka semua tempatnya di surga, meskipun martabat mereka di surga pun berbeda-beda.
Semua ini berasal dari sisi kehendak ilahiyyah, begitu juga pengkhususan Allah Swt bagi orang yang Dia kehendaki. Berbuat dengan kehendak ilahiyyah inilah yang dibahasakan dengan “Kecintaan Allah pada makhluk-Nya.” Sekalipun martabat mereka dalam sisi kecintaan berbeda-beda, tetapi itulah kecintaan khusus dari Allah Swt kepada sosok yang patut mendapatkan kecintaan tersebut, seperti yang telah kami paparkan sebelumnya. Akan tetapi ada perkara mendalam yang sulit diketahui, bahkan pemikiran dan akalpun tidak sanggup menggapainya. Allah Swt mengkhususkan perkara ini bagi para utusan Allah; Ash-Shiddiqin (para nabi secara umum), yaitu; kecintaan tingkat tinggi kepada Dzat Allah Swt yang bentuknya adalah rasa cinta yang tulus dan tidak bertujuan agar ada sesuatu yang bisa mereka dapatkan kembali lantaran rasa cintanya tersebut. Inilah puncak keinginan, maka barangsiapa yang dikaruniai oleh Allah Swt sebutir saja dari perkara ini, niscaya derajatnya akan naik ke derajat yang tinggi dalam hal pengagungan dan ijlal, sementara selain Ash-Shiddiqin, mereka tidaklah memiliki bagian ini.
Ada juga kecintaan Allah Swt yang bersifat umum.
Yang masuk kedalam kategori ini adalah kecintaan Allah Swt bagi semua yang ada di alam semesta, bahkan sampai orang kafir sekalipun. Sebab, mereka (orang-kafir) juga dicintai Allah, mereka masuk kedalam firman-Nya (dalam hadits qudsi),
فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَعْرَفَ، فَخَلَقْتُ الخَلْقَ، فَتَعَرَّفْتُ لَهُمْ، فَبِيَ عَرَفُونِي
“Maka Aku senang untuk dikenal (dima’rifati), maka Aku ciptakan makhluk, Aku perkenalkan Dzatku pada mereka, dengan-Ku lah mereka mengenali-Ku (ma’rifat pada-Ku).”
Janganlah engkau berprasangka bahwa ada makhluk yang diremehkan dengan sisi ma’rifat ini. Sungguh semua ruh telah diciptakan dengan kesempurnaan ma’rifat kepada Allah Swt, akan tetapi ruh itu tertimpa kebodohan ketika ia bercampur dengan jasad. Kebodohan tersebut adalah gambaran bahwa ruh memiliki kesempurnaan akal dan keilmuan akan sesuatu, lalu ia tertimpa musibah sehingga menjadi dungu dan tidak dapat membedakan sesuatu.
Kebodohan yang terjadi pada ruh sesungguhnya bukanlah seperti itu, akan tetapi ruh sejatinya memiliki kesempurnaan ma’rifat kepada Allah Swt dari segala sisi. Mungkin saja orang yang menentang akan mengatakan, “Lantas bagaimana kondisi jasad mereka (orang-orang kafir) yang bodoh (tidak mengetahui) akan Dzat Allah, sementara mereka termasuk kedalam firman-Nya (dalam hadits qudsi), ‘Maka Aku senang untuk dikenal (dima’rifati),’?”
Jawaban untuk perkara ini: Sungguh jasad orang-orang kafir tidaklah “bodoh” pada Dzat Allah Swt, jasad mereka memiliki pengetahuan yang berbeda dengan pengetahuan ruh, yang mana dengan pengetahuan ruh inilah mereka bisa ma’rifat pada Allah Swt, sehingga merekapun akan bersujud dan memuji Allah pada akhirnya. Tidak ada keilmuan yang menyatakan bahwa ada ruh yang syirik pada Allah Swt. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَا لْاَ رْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ ۗ وَاِ نْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰـكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا
tusabbihu lahus-samaawaatus-sab’u wal-ardhu wa mang fiihinn, wa im ming syai-in illaa yusabbihu bihamdihii wa laakil laa tafqohuuna tasbiihahum, innahuu kaana haliiman ghofuuroo
“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 44)
Maka ruh termasuk kedalam sesuatu yang bertasbih, memuji dan bersujud pada Allah Swt, adapun pendapat yang menyatakan bahwa syirik dan juga kebodohan ada pada ruh, maka itu tidak ada dasarnya, yang ada bahwa itu adalah musibah yang menimpa ruh.
Firman Allah Swt (dalam hadits qudsi),
فَتَعَرَّفْتُ لَهُمْ، فَبِيَ عَرَفُونِي
“Aku memperkenalkan Dzat-Ku pada mereka, maka dengan-Ku lah mereka mengenali-Ku (ma’rifat pada-Ku).”
Maksud redaksi ini adalah bahwa orang-orang kafirpun masuk kedalam ma’rifat ini, sebab mereka tidak bodoh dalam martabat ini, mereka masuk dalam umumnya kecintaan ini.
Inilah duduk perkara tentang mereka (orang-orang kafir) dan kepada perkara inilah mereka dikembalikan urusannya. Semua perkara yang menimpa ruh, dibalik sebab kekufuran diri; baik berupa kenistaan, kehinaan, laknat, penolakan, kemarahan, kemurkaan, kepedihan dan adzab selama-lamanya, maka semua itu merupakan perkara tambahan dari perkara aslinya; yang berupa kecintaan Allah Swt. Maka orang-orang kafir tidaklah keluar dari kecintaan Allah Swt, namun yang perlu dicatat adalah “sebatas kecintaan secara umum.” Sebab, mereka tidak mendapatkan kecintaan khusus, yang puncaknya berupa pengangkatan derajat dan pemuliaan.
Nah, pada kecintaan yang umum inilah mereka masuk dibawah cakupannya dan pada kecintaan umum jua tempat kembali dan titik harapan mereka. Inilah paparan yang berasal dari pemikiran pada sisi yang tidak bisa disebutkan dan tidak pernah terpikirkan kecuali oleh para pembesar ‘Arifin billah. Perkara ini sengaja di tutup-tutupi dan tidak disebutkan kepada Ahlu Zhahir (orang yang bergelut pada perkara syari’at zhahir), sebab akal mereka tidak mampu menerimanya, dimana hanya orang-orang khususlah yang mengetahui perkara ini dengan kucuran faidh ilahiyyah.
Perkara ini sudah sering diserukan oleh Syaikh Akbar ‘Abdul Karim Al Jilli, ketika itu kaumnya mengalami kebuntuan dan kesesakan dada sebagai hukuman bagi mereka yang menampakkan ilmu yang tersimpan, akan tetapi iapun kemudian mendatangkan dalil yang menunjukkan perkara itu dari sisi zhahir-nya, yaitu dengan sabda Rasulullah Saw kepada Suhail bin ‘Amr; ia merupakan tokoh terkemuka Quraisy, ia juru bicara orang Arab, dimana jika ia berbicara, ia mampu menggerakkan yang diam. Ini terjadi ketika Rasulullah Saw menawannya, kemudian ada sahabat yang berkata kepada Nabi Saw, “Wahai Rasulullah, tanggalkanlah dua gigi seri Suhail agar ia tidak bisa lagi berbicara di tempat umum. Nabi Saw bersabda,
لاَ أُمَثَّلُ بِهِ فَيُمَتِّلُ اللّٰهُ بِي، وَإِنْ كُنْتُ نَبِيْئًا، عَلِمَ أَنَّهُ مَا خَرَجَ عَنْ مَحَبَّةِ الْحَقِّ وَلَوْ كَافِرًا، إِذْ لَوْ لَمْ يَكُنْ مَحْبُوبًا عِنْدَهُ مَا صَحَّتْ عُقُوْبَةُ نَبِيِّهِ لِأَجْلِهِ.
“Aku tidak akan menganiayanya sehingga Allahpun berbuat demikian pula padaku. Sekalipun aku adalah seorang nabi yang mengetahui bahwa tidak ada yang keluar dari sisi kecintaan Allah sekalipun ia adalah orang kafir. Sebab, jikalau orang-orang kafir itu bukanlah orang yang dicintai oleh Allah, maka tidak benarlah hukuman nabi-Nya untuk mereka.”
Begitupula ketika beliau Saw mendapati paman beliau; Hamzah terbunuh, Nabi Saw bersabda,
لَئِنْ أَظْفَرَ فِي اللَّهُ بِهِمْ لَأُمَثَّلَنَّ بِهِمْ بِثَلَاثِيْنَ قَتِيلاً فِي حَمْزَةَ
“Andaikan Allah Swt memberikan keberuntungan padaku atas mereka, niscaya aku akan lakukan pula hal semisal pada tiga puluh orang sebagai pengganti Hamzah,” hingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ نْ عَا قَبْتُمْ فَعَا قِبُوْا بِمِثْلِ مَا عُوْقِبْتُمْ بِهٖ ۚ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصّٰبِرِيْنَ
wa in ‘aaqobtum fa ‘aaqibuu bimisli maa ‘uuqibtum bih, wa la-ing shobartum lahuwa khoirul lish-shoobiriin
“Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 126)
Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir tergolong dalam kecintaan Allah Swt sekalipun mereka kafir. Sebab, jika bukan lantaran perkara tersebut, tentu Allah Swt tidak akan melarang Nabi-Nya untuk memberikan hukuman yang lebih. Dua pembicaraan ini sudah dapat merumuskan perkataanmu terkait dengan ilmu yang tersimpan.
“Abu Yazid Al Busthami; saat Allah menghadapkannya pada hadhrah kedekatan-Nya. Allah Swt berfirman, ‘Wahai hamba yang buruk, jika Aku tampakkan beragam dosamu pada manusia, niscaya mereka akan merajammu dengan bebatuan’. Abu Yazid berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, jikalau aku mengabarkan kepada manusia perihal apa yang Engkau singkapkan padaku dari rahmat-Mu, maka mereka tidak akan lagi menyembah-Mu lantaran bersandar pada rahmat tersebut. Allah Swt berfirman padanya, ‘Jangan engkau lakukan itu’. Abu Yazid pun berkata, ‘Maka jangan pula Engkau lakukan itu’.”
Terkait dengan kecintaan makhluk kepada Allah Swt, ada beberapa tingkatan dalam hal ini:
Pertama, cinta para kekasih Allah Swt yang memiliki kedudukan luhur. Allah Swt memberikan karunia kepada mereka kecintaan pada Dzat Allah Swt dan dengan kecintaan itu mereka tenggelam pada lautan tauhid. Mereka tidak mengenal kecuali Allah, mereka tidak menoleh kepada selain Allah Swt. Mereka tak lagi memerlukan yang lain selain Allah Swt, baik sebagai sesuatu yang dicinta, sesuatu yang disandari, sebagai tempat bernaung, sebagai tempat mencurahkan kala membutuhkan dan kala berkeluh kesah.
Mereka hanya butuh kepada Allah Swt, dalam kalbu mereka tidak ada yang terdetik melainkan hanya Allah Swt semata.
Kedua, cinta para kekasih Allah Swt secara umum. Mereka mencintai Allah Swt lantaran keutamaan-Nya dan juga lantaran ragam karunia yang diberikan Allah Swt kepada mereka atas dasar kedermawanan dan kemurahan-Nya, yang mana puncak kecintaan mereka adalah bersyukur.
Atas dasar kecintaan inilah para nabi memberikan arahan kepada semua makhluk. Seperti contohnya, nabi Hud As pernah berkata pada kaumnya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَوَعَجِبْتُمْ اَنْ جَآءَكُمْ ذِكْرٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَلٰى رَجُلٍ مِّنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ ۗ وَا ذْكُرُوْۤا اِذْ جَعَلَـكُمْ ۚ خُلَفَآءَ مِنْۢ بَعْدِ قَوْمِ نُوْحٍ وَّزَا دَكُمْ فِى الْخَـلْقِ بَصْۜطَةً ۚ فَا ذْكُرُوْۤا اٰ لَآ ءَ اللّٰهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
a wa ‘ajibtum ang jaaa-akum zikrum mir robbikum ‘alaa rojulim mingkum liyungzirokum, wazkuruuu iz ja’alakum khulafaaa-a mim ba’di qoumi nuuhiw wa zaadakum fil-kholqi bashthoh, fazkuruuu aalaaa-allohi la’allakum tuflihuun
“Dan herankah kamu bahwa ada peringatan yang datang dari Tuhanmu melalui seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri, untuk memberi peringatan kepadamu? Ingatlah ketika Dia menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh, dan Dia lebihkan kamu dalam kekuatan tubuh dan perawakan. Maka, ingatlah akan nikmat-nikmat Allah agar kamu beruntung.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 69)
Nabi Shaleh As juga pernah berkata kepada kaumnya, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا ذْكُرُوْۤا اِذْ جَعَلَـكُمْ خُلَفَآءَ مِنْۢ بَعْدِ عَا دٍ وَّبَوَّاَكُمْ فِى الْاَ رْضِ تَـتَّخِذُوْنَ مِنْ سُهُوْلِهَا قُصُوْرًا وَّتَـنْحِتُوْنَ الْجِبَا لَ بُيُوْتًا ۚ فَا ذْكُرُوْۤا اٰ لَآ ءَ اللّٰهِ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَ رْضِ مُفْسِدِيْنَ
wazkuruuu iz ja’alakum khulafaaa-a mim ba’di ‘aadiw wa bawwa-akum fil-ardhi tattakhizuuna ming suhuulihaa qushuurow wa tan-hituunal-jibaala buyuutaa, fazkuruuu aalaaa-allohi wa laa ta’sau fil-ardhi mufsidiin
“Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu khalifah-khalifah setelah kaum ‘Ad dan menempatkan kamu di bumi. Di tempat yang datar kamu dirikan istana-istana dan di bukit-bukit kamu pahat menjadi rumah-rumah. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 74)
Demikianlah semua utusan Allah Swt, mereka menyebutkan pada kaumnya tentang apa yang Allah karuniakan kepada mereka.
Puncak dari kecintaan ini adalah rasa syukur. Kecintaan inilah yang bisa diterapkan oleh makhluk Allah Swt. Kecintaan ini tidaklah seperti kecintaan pertama yang merupakan bentuk kecintaan pada Dzat Allah Swt, sebab kecintaan semacam itu tidak bisa diterapkan pada manusia, tetapi ia merupakan satu dari beragam kucuran ilahiyyah. Nah, pada kecintaan yang puncaknya rasa syukur inilah martabat semua wali Allah berada.
Ketiga, cinta lantaran keimanan pada Allah Swt, ini merupakan bentuk kecintaan semua orang mukmin, yang tidak ada lagi rasa benci didalam diri mereka kepada Allah Swt, yang mana tidak tergambarkan jika ada keimanan tetapi juga ada rasa benci kepada-Nya.
Keempat, cinta yang sifatnya umum, kecintaan ini khusus bagi orang kafir, sebab mereka sejatinya senantiasa mencintai Allah Swt dengan kecintaan pada sisi uluhiyyah, lantaran Dzat Allah memiliki kesempurnaan dan sifat kecintaan yang umum, akan tetapi dalam hal ini orang-orang kafir pun berbeda-beda martabatnya; sebagian mereka ada yang cinta pada Allah Swt dengan kadar pengetahuan mereka akan sisi uluhiyyah-Nya, contohnya seperti orang Yahudi; sebagian mereka ada yang cinta pada Allah tetapi salah menisbatkan sisi uluhiyyah pada selain Allah, meski demikian Allah Swt pun ber-tajalli pada mereka pada pakaian tersebut lantaran sempurnanya sisi uluhiyyah-Nya. Orang-orang kafir sebenarnya mencintai dan juga menghamba kepada-Nya tanpa mereka sadari.
Tajalli adalah nampaknya cahaya ghalb pada kalbu. (Lih. Rafiq Al ‘Ajam, Mausu’ah Mushthalahat At-Tasawwuf Al Islami, (Beirut, Maktabah Libanon), cet. 1, hal. 165).
Jika bukan karena Allah ber-tajalli pada mereka dengan gambaran tersebut, bahkan dengan itu pula Allah Swt menarik mereka agar mereka cinta pada sisi uluhiyyah-Nya, niscaya merekapun tidak akan pernah menoleh pada patung tersebut, mengkoleksi, terlebih lagi menyembahnya, mereka sejatinya menyembah Allah Swt tetapi mereka tidak merasa. Ibadah yang seperti inilah yang disebut dengan ibadah secara terpaksa yang disebutkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya,
وَلِلّٰهِ يَسْجُدُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّظِلٰلُهُمْ بِا لْغُدُوِّ وَا لْاٰ صَا لِ
wa lillaahi yasjudu mang fis-samaawaati wal-ardhi thou’aw wa kar-haw wa zhilaaluhum bil-ghuduwwi wal-aashool
“Dan semua sujud kepada Allah baik yang di langit maupun yang di bumi, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa, (dan sujud pula) bayang-bayang mereka, pada waktu pagi dan petang hari.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 15)
Seluruh hamba atau orang yang bersujud pada selain Allah secara nyata, maka sejatinya mereka tidak bersujud dan tidak pula menyembah kecuali kepada Allah Swt, karena Allahlah yang ber-tajalli pada hal yang mereka sembah tersebut. Seluruh sesembahan bersujud, menyembah pada Allah dan untuk Allah lantaran takut akan keagungan-Nya yang dahsyat.
Kalaupun seluruh sesembahan secara kasat mata memang untuk diibadahi oleh manusia, yang mana ia nampak begitu saja tanpa adanya sisi tajalli Dzat-Nya Allah, maka sesembahan itu akan sirna dengan tempo yang lebih cepat daripada kedipan mata, karena ada sisi kecemburuan Allah lantaran penisbatan sisi uluhiyyah-Nya pada dzat yang lainnya.
Allah Swt berfirman kepada kalim-Nya; nabi Musa As, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّنِيْۤ اَنَا اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنَاۡ فَا عْبُدْنِيْ ۙ وَاَ قِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ
innaniii anallohu laaa ilaaha illaaa ana fa’budnii wa aqimish-sholaata lizikrii
“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah sholat untuk mengingat Aku.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 14)
Redaksi, “Ilah,” dalam etimologi bermakna Dzat yang berhak disembah. Sedangkan redaksi, “Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku,” maknanya adalah tidak ada yang pantas disembah melainkan Aku, sekalipun penyembah berhala menyembahnya, sejatinya mereka tidak menyembah selain kepada-Ku, merekapun tidak memohon dengan kekhusyu’an dan merendahkan diri pada selain-Ku, Akulah sejatinya Ilah (Tuhan) yang disembah oleh mereka. Inilah makna firman-Nya, “Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.”
Menurut pemaknaan ini, maka ayat ini menghendaki agar engkau berhati-hati dari apa yang diyakini oleh orang-orang bodoh yang menyatakan bahwa orang kafir menyembah selain-Ku, atau mereka memohon pada selain Aku (Allah Swt).
Kecintaan Allah Swt pada mereka tetap terjaga, sebab mereka (orang kafir) juga dicintai Allah Swt, mereka (orang kafir) memohon pada-Nya dengan kesungguhan diri. Merekapun tidak memohon pada selain-Nya.
Inilah bentuk kecintaan makhluk kepada Allah Swt, yang mana kecintaan ini memiliki beberapa martabat sesuai dengan masyrab mereka; yang berupa kecintaan pada Dzat Allah, kecintaan lantaran beragam limpahan karunia-Nya; kecintaan lantaran keimanan; kemudian kecintaan lantaran sisi uluhiyyah-Nya, dimana orang kafir tergolong didalamnya.
Selanjutnya firman Allah Swt berkaitan dengan perintah mengikuti nabi-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
qul ing kungtum tuhibbuunalloha fattabi’uunii yuhbibkumullohu wa yaghfir lakum zunuubakum, wallohu ghofuurur rohiim
“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)
Setiap kelompok mengikuti Nabi Saw dengan kadar kecintaannya masing-masing.
Kelompok Pertama: Mereka adalah kelompok orang yang memiliki kecintaan pada Dzat Allah; mereka ini mengikuti Nabi Saw dengan cara menyifati diri dengan beragam kondisi jiwa yang luhur, akhlak mulia dan beragam sifat yang agung, yang mana ini tidak diketahui kecuali melalui perasaan (dengan cara dirasa), kondisi ini hanya akan dimiliki oleh orang-orang yang memiliki kecintaan pada Dzat Allah Swt. Orang-orang ini merupakan orang pilihan Allah disisi-Nya, inilah gambaran bentuk mengikuti Nabi Saw.
Terkait dengan firman Allah Swt, يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ “Niscaya Allah mencintaimu,” pada martabat kelompok ini; bahwa Allah Swt memberikan beragam anugerah-Nya pada mereka yang berupa ragam bentuk sisi tajalli Allah yang nyata, beragam pemberian sisi ma’rifat. Allah pun menarik jiwa mereka ke hadhrah-Nya, sehingga tidak tersisa lagi pada jiwanya untuk selain-Nya. Beragam pemberian dan anugerah Allah Swt pada mereka tidak dapat disebutkan dan tidak ada puncaknya, bahkan tidak dapat diperkirakan, ini lantaran firman-Nya, يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ ” Niscaya Allah mencintaimu.”
Kelompok Kedua: Mereka adalah kelompok orang-orang yang mencintai Allah Swt lantaran beragam kucuran karunia-Nya, yang puncaknya berupa rasa syukur kepada Allah Swt. Mereka mengikuti Nabi Saw pada maqam syukur, dimana pernah dikatakan kepada Nabi Saw kala beliau bangun shalat malam, “Engkau masih saja melakukan ini sementara dosa-dosamu yang lampau dan yang akan datang sudah diampuni,” beliau bersabda, أَفَلَا أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُورًا “Tidak bolehkah aku menjadi hamba-Nya yang banyak bersyukur?.”
Nabi Saw juga pernah bersabda,
أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ مِنْ نِعَمِهِ، وَأَحِبُّوْنِي لِحُبِّ اللَّهِ، وَأَحِبُّوا أَهْلَ بَيْتِي لِحُبِّي.
“(Kalian) Cintailah Allah lantaran beragam nikmat yang la beri pada kalian, cintailah aku lantaran kecintaan pada Allah dan cintailah keluargaku lantaran kecintaan kalian padaku.”
Pada Hadits Nabi Saw diatas menunjukkan apa yang ditunjukkan oleh para nabi sebelumnya, yaitu mencintai Allah lantaran kucuran anugerah dan karunia-Nya. Dalil hadits ini tidak menunjukkan pada bentuk kecintaan yang pertama; kecintaan pada Dzat-Nya, hal tersebut lantaran Nabi Saw tahu bahwa beragam pemberian itu merupakan bagian dari kucuran ilahiyyah, tidak ada campur tangan manusia didalamnya, sehingga hadits ini tidak mengarah ke sana.
Terkait dengan firman Allah Swt, يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ “Niscaya Allah mencintaimu,” pada martabat kelompok ini; Allah Swt kelak akan memberikan balasan pahala di surga dan juga kedudukan tinggi yang tidak dapat dijangkau akal pikiran, sebab nanti akan ada sebagian orang mukmin, di surga ia memiliki bidadari yang jumlahnya berlipat-lipat lebih banyak daripada jumlah malaikat, dimana setiap bidadari itu memiliki tujuh puluh ribu pelayan, setiap bidadari juga memiliki satu istana, ini bagian untuk satu orang mukmin. Allah Swt memberikan ini semua sebagai balasan atas amal perbuatannya, inilah makna firman-Nya, يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ “Niscaya Allah mencintaimu.”
Kelompok Ketiga: Mereka adalah kelompok orang-orang yang beriman. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَعَدَ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍ ۗ وَرِضْوَا نٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
wa’adallohul-mu-miniina wal-mu-minaati jannaating tajrii ming tahtihal-an-haaru khoolidiina fiihaa wa masaakina thoyyibatang fii jannaati ‘adn, wa ridhwaanum minallohi akbar, zaalika huwal-fauzul-‘azhiim
“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di Surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 72)
Inilah makna kecintaan Allah Swt kepada mereka. Mereka mengikuti Nabi Saw dalam martabat keimanan dan juga dalam hal menjaga beragam perkara fardhu. Andaipun mereka ini melakukan kekhilafan, maka mereka tidak keluar dari ranah “Mengikuti Nabi Saw.” Kecintaan Allah ini akan dibalas di surga dan berakhir dengan melihat wajah Allah Swt, inilah makna firman-ya, يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ “Niscaya Allah mencintaimu.”
Kelompok Keempat: Mereka ini adalah kelompok orang-orang kafir yang tidak memiliki peluang mengikuti Nabi Saw dan tidak termasuk yang dituju dari firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
qul ing kungtum tuhibbuunalloha fattabi’uunii yuhbibkumullohu wa yaghfir lakum zunuubakum, wallohu ghofuurur rohiim
“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)
Ayat ini tertuju bagi tiga kelompok sebelumnya dan bukan untuk orang kafir.
Pernyataan yang pernah kami lontarkan sebelumnya, “Mereka (orang kafir) masuk kedalam keumuman cinta-Nya Allah…,” ada pendapat yang bertentangan dengan apa yang sudah kami kemukakan, yang datang dari penjelasan Ahlu Zhahir (orang yang bergelut pada perkara syari’at zhahir), yaitu “Ada nash firman Allah Swt didalam Al Qur’an yang menyatakan bahwa mereka (orang-orang kafir) adalah musuh-musuh Allah; yaitu firman-Nya,
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا عَدُوِّيْ وَعَدُوَّكُمْ اَوْلِيَآءَ تُلْقُوْنَ اِلَيْهِمْ بِا لْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوْا بِمَا جَآءَكُمْ مِّنَ الْحَـقِّ ۚ يُخْرِجُوْنَ الرَّسُوْلَ وَاِ يَّا كُمْ اَنْ تُؤْمِنُوْا بِا للّٰهِ رَبِّكُمْ ۗ اِنْ كُنْـتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَا دًا فِيْ سَبِيْلِيْ وَ ابْتِغَآءَ مَرْضَا تِيْ تُسِرُّوْنَ اِلَيْهِمْ بِا لْمَوَدَّةِ وَاَ نَاۡ اَعْلَمُ بِمَاۤ اَخْفَيْتُمْ وَمَاۤ اَعْلَنْتُمْ ۗ وَمَنْ يَّفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ السَّبِيْلِ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa tattakhizuu ‘aduwwii wa ‘aduwwakum auliyaaa-a tulquuna ilaihim bil-mawaddati wa qod kafaruu bimaa jaaa-akum minal-haqq, yukhrijuunar-rosuula wa iyyaakum ang tu-minuu billaahi robbikum, ing kungtum khorojtum jihaadang fii sabiilii wabtighooo-a mardhootii tusirruuna ilaihim bil-mawaddati wa ana a’lamu bimaaa akhfaitum wa maaa a’langtum, wa may yaf’al-hu mingkum fa qod dholla sawaaa-as-sabiil
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia sehingga kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal mereka telah ingkar kepada kebenaran yang disampaikan kepadamu. Mereka mengusir Rasul dan kamu sendiri karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang, dan Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barang siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sungguh, dia telah tersesat dari jalan yang lurus.”
(QS. Al-Mumtahanah 60: Ayat 1)
Dan juga firman-Nya,
ذٰلِكَ جَزَآءُ اَعْدَآءِ اللّٰهِ النَّا رُ ۚ لَهُمْ فِيْهَا دَا رُ الْخُـلْدِ ۗ جَزَآءً بِۢمَا كَا نُوْا بِاٰ يٰتِنَا يَجْحَدُوْنَ
zaalika jazaaa-u a’daaa-illaahin-naaru lahum fiihaa daarul-khuld, jazaaa-am bimaa kaanuu bi-aayaatinaa yaj-haduun
“Demikianlah balasan (terhadap) musuh-musuh Allah (yaitu) neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai balasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami.”
(QS. Fussilat 41: Ayat 28)
Jawaban untuk perkara ini: Secara global maupun terperinci, munculnya makhluk adalah sesuai dengan kehendak ilahiyyah, tidak ada satupun yang keluar dari lingkup ini. Kecintaan Allah Swt pada alam semesta ini tak lain merupakan rincian dari kehendak dan juga kekhususan Dzat-Nya. Kami telah sampaikan sebelumnya bahwa kecintaan yang ada pada makhluk adalah kecondongan diri pada sesuatu, sangat merindu dan ingin selalu berinteraksi dengan yang bersangkutan, kondisi inilah yang biasa disebut dengan kerinduan dan semua hal ini mustahil ada pada Dzat Allah Swt dengan berbagai dalil naqli yang menyatakan kesucian Dzat-Nya dari segala perkara tersebut.
Akan sangat panjang pembahasannya jika kita paparkan di sini. Yang menjadi penghalang manusia dari Dzat Allah Swt adalah beberapa hal berikut ini:
Pertama, kuatnya kecondong pada sesuatu, gandrung dan senantiasa ingin terjalin dengannya. Hal yang dapat menyebabkan kondisi ini adalah adanya rasa butuh pada sesuatu yang dicintainya itu, mendapatkan suatu manfaat atau terhindar dari suatu keburukan dengan yang dicintainya itu, sementara Allah Swt tidak butuh akan hal ini, sebab Dia tidak lagi butuh pada apa yang ada di alam semesta, sehingga mustahil perkara tersebut ada pada Dzat-Nya.
Kedua, beragam sifat Dzat Allah Swt, baik berupa kebesaran, kesombongan, keperkasaan, keagungan dan keluhuran menuntut agar tidak ada sesuatu pun yang bersama dengan sifat-sifat tersebut apalagi sampai butuh pada sesuatu.
Ketiga, sucinya Dzat Allah Swt dari beragam perubahan. Tidak ada perubahan pada Dzat-Nya. Dzat-Nya tetap pada satu sifat yang tidak pernah lekang oleh waktu dan tidak pemah berubah. Oleh karena itu Nabi Saw bersabda,
أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ
“Aku berlindung pada-Mu dengan keridhoan-Mu dari adzab-Mu.”
Yang nabi Muhammad Saw inginkan dari hadits ini adalah keridhaan yang ada pada Dzat Allah Swt, keridhaan yang merupakan bagian dari sifat Dzat-Nya yang telah lampau dan simbol sempurnanya ketidakbutuhan Dzat-Nya pada alam semesta. Sifat itu merupakan sifat Dzat yang mustahil berpindah dan juga sima.
Oleh karenanya, Nabi Saw memohon perlindungan dengan perantara sifat ridha. Sebab, jikalau sifat ridha-Nya Allah itu bisa berpindah dan juga sirna, niscaya kami akan katakan pada sebagian waktu, “Bisa saja sirnanya sifat ridha itu bertepatan dengan satu kondisi sehingga sifat itu pun tidak bisa terikat lantaran tidak adanya sesuatu yang beliau pintakan perlindungan dengannya dalam kondisi tersebut.” Nah, ketika sifat ridha ini mustahil berpindah dan juga sirna, maka Nabi Saw memohon perlindungan dengan perantaranya, sementara “sifat murka” yang datangnya dari Dzat Allah, maka sifat itu tidak ada pada Dzat Allah, ia hanyalah sifat fi’il (sifat yang bentuknya perbuatan) saja, maka Nabi Saw pun memohon perlindungan darinya. Sebab, sifat ini bisa berpindah dan juga sima, lantaran ia merupakan sifat fi’il (sifat yang bentuknya perbuatan) dan bukan sifat Dzat. Oleh karena itu, selamanya Dzat Allah Swt ada pada puncak keridhaan pada orang mukmin dan kafir.
Mungkin orang yang menentang perkataan ini akan berkata, “Lantas apa maksud ayat-ayat Al Qur’an yang menyebutkan murka dan kemarahan Allah Swt, seperti firman-Nya terkait orang yang membunuh jiwa (yang diharamkan oleh Allah),
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَّقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآ ؤُهٗ جَهَـنَّمُ خَا لِدًا فِيْهَا وَغَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهٗ وَاَ عَدَّ لَهٗ عَذَا بًا عَظِيْمًا
wa may yaqtul mu-minam muta’ammidang fa jazaaa-uhuu jahannamu khoolidang fiihaa wa ghodhiballohu ‘alaihi wa la’anahuu wa a’adda lahuu ‘azaaban ‘azhiimaa
“Dan barang siapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah Neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 93), yang maksudnya lantaran ia membunuh jiwa seseorang dengan yang bukan haq. Juga seperti yang tertera dalam firman-Nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ لَعَنَ الْكٰفِرِيْنَ وَاَ عَدَّ لَهُمْ سَعِيْرًا
innalloha la’anal-kaafiriina wa a’adda lahum sa’iiroo
“Sungguh, Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka),”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 64)
خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۤ اَبَدًا ۚ لَا يَجِدُوْنَ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيْرًا
khoolidiina fiihaaa abadaa, laa yajiduuna waliyyaw wa laa nashiiroo
“mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 65)
Dan masih banyak lagi ayat yang lainnya.
Jawaban untuk perkara ini: Beragam hukuman dari Allah Swt bukanlah untuk memuaskan kemarahan, tidak pula karena rasa dengki atau dendam, sungguh Dzat Allah Swt disucikan dari sifat ini. Akan tetapi sifat itu adalah pelengkap sisi uluhiyyah Allah, dimana sisi uluhiyyah ini memiliki dua sifat: Sifat pertama untuk tentaranya kebenaran, cahaya dan kesenangan; Sifat kedua untuk tentaranya kegelapan, kebatilan dan kesengsaraan. Semua ini merupakan pelengkap sisi uluhiyyah Allah dan juga berkaitan dengan sisi kehendak-Nya, tidak ada yang keluar dari lingkup ini.
Sedangkan perkara permusuhan, kemarahan dan kemurkaan yang mutlak pada orang kafir, sungguh ini merupakan tuntutan kesempurnaan sisi uluhiyyah Allah yang datang silih berganti pada mereka, yang mana ini bukanlah perkara yang berdiri dengan sendirinya, itu hanya bagian dari sifat fi’il saja.
Hal yang masih berkaitan dengan perkara yang ketiga ini adalah, bahwa jika kerinduan, kecenderungan dan kegandrungan pada sesuatu itu ada pada sifat Allah Swt, maka Dzat-Nya menyerupai sesuatu yang baru (yang dahulunya tidak ada kemudian ada), sehingga Diapun bisa menjadi Dzat yang baru dan ini mustahil terjadi pada Dzat Allah Swt.
Hal ini memberikan arti bahwa Dzat Allah Swt disucikan dari perkara ini. Dzatnya tidak mencintai sesuatu dan tidak membenci sesuatu, sehingga yang tersisa adalah perbuatan yang sesuai kehendak-Nya yang berkaitan dengan semua yang ada. Sebab, setiap hal yang berkaitan dengan kehendak-Nya, maka itu merupakan perkara yang dicintai disisi-Nya, karena cinta adalah inti dari suatu kehendak. Ketika Dia mencintai sesuatu, maka Dia akan menginginkannya. Sedangkan keinginan adalah inti dari kehendak.
Jika engkau sudah tahu akan perkara ini, maka engkau akan tahu bahwa semua yang ada di alam semesta ini dicintai oleh Allah Swt, sebab yang Dia inginkan adalah orang kafir dan juga orang mukmin, karena jika kehendak Allah berkaitan dengan orang kafir, maka Dia tidak akan membuat mereka ada. Allah Swt pernah berfirman kepada kalim-Nya; Musa As, ketika dia meminta kepada Allah agar membinasakan Qarun.
Allah Swt berfirman, “Sungguh Aku telah jadikan bumi menaatimu, maka lakukanlah apa yang kau inginkan.” Nabi Musa As bersama Qarun masuk ke rumah emas, disekitar mereka ada pembesar Bani Israil; yaitu orang-orang yang mengagungkan Qarun lantaran dunianya. Kemudian Nabi Musa As berkata kepada mereka, “Barangsiapa yang datang untukku, maka silahkan keluar dan barangsiapa yang datang untuk Qarun silahkan menetap bersamanya,” maka orang-orangpun keluar dan pergi sebagai sikap berlepas diri dari perbuatan Qarun kecuali segelintir orang.
Musa As berkata, “Wahai bumi, telanlah mereka.” Ketika itu Qarun sedang duduk diatas singgasana besar yang terbuat dari emas. Ketika itu ia pun melihat bumi menelan singgasana tersebut. Qarun pun mengetahui bahwa perkara Allah itu sedang membuntutinya sebagaimana perkara tersebut juga membuntuti orang-orang kafir, Qarun pun bertobat, namun tidak menemukan jalan untuk tobatnya, Qarun pun berkata kepada Musa, “Aku memohon dengan sangat agar engkau memohon kepada Allah lantaran tali kasih ini.” Namun Nabi Musa As tidak lagi menoleh ke arahnya dan menanggapi perkataannya itu. Nabi Musa As berkata, “Wahai bumi, telanlah ia,” Qarun masih saja memohon pada nabi Musa sampai tujuh puluh kali, namun Musa As berkata, “Wahai bumi, telanlah ia.” Setelah Qarun memohon ke tujuh puluh kalinya, bumi pun menelannya bersama singgasananya itu, maka sampai sekarang pun bahkan sampai hari Kiamat dan sangkakala ditiupkan, Qarun pun tidak akan sampai dasarnya bumi. Allah Swt pun mencela nabi Musa As, “Dia meminta pertolongan padamu sebanyak tujuh puluh kali engkau tidak menolongnya, andai dia meminta pertolongan pada-Ku sekali saja niscaya Aku tolong dia.” Kemudian Allah kembali berfirman, “Apakah engkau tahu mengapa engkau tidak mengasihinya? Itu karena engkau tidak menciptakannya, jika saja engkau yang menciptakannya, niscaya engkau akan mengasihinya.” Kemudian Allah Swt berfirman, “Demi keagungan dan keperkasaan-Ku, setelahmu Aku tidak akan jadikan bumi tunduk pada siapapun.”
Perkataan yang menjadi bukti akan perkara yang sedang kita bahas adalah pada firman Allah Swt, “…Karena engkau tidak menciptakannya, jika saja engkau yang menciptakannya, niscaya engkau akan mengasihinya.”
Telah diriwayatkan bahwa Qarun mampu mendengar jeritan permintaan tolong nabi Yunus As ketika ia dilemparkan ke dalam perut ikan paus, Qarun pun meminta kepada malaikat yang bertugas untuk mengadzabnya agar mereka membiarkannya dahulu sampai ia bisa bertanya kepada nabi Yunus As, maka malaikat pun membiarkannya. Qarun memangggilnya, “Wahai Yunus, apa yang menyebabkanmu sampai pada kondisi ini?” Yunus As berkata, “Beragam perbuatan dosaku,” Qarun kembali berkata, “Kembalilah engkau pada Tuhanmu, pada langkah pertama engkau akan temui Dia.” Yunus As balik bertanya kepada Qarun, “Lantas apa yang membuatmu tidak bertobat kepada Allah Swt?.” Qarun menjawab, “Aku telah kembali kepada Allah dengan penuh kejujuran, tetapi tobatku itu diwakilkan pada diri anak bibiku; Musa dan dia tidak menerima tobatku.”
Riwayat ini menunjukkan bahwa seluruh makhluk dicintai oleh Allah Swt, baik yang mukmin maupun yang kafir. Seluruhnya dicintai oleh Allah lantaran mereka adalah penampakan sisi uluhiyyah Allah Swt. Allah Swt menciptakan mereka guna menunjukkan sisi kesempurnaan uluhiyyah-Nya. Oleh karena itu, para ahli hakikat berkata, “Allah tidak menciptakan makhluk dengan sia-sia,” maka yang dimaksud disini adalah bahwa Allah Swt tidaklah menciptakan makhluk tanpa manfaat, sebab mereka inilah penampakan beragam hukum dan sisi uluhiyyah-Nya.
Dengan ini maka jelaslah bahwa seluruh makhluk dicintai oleh Allah Swt. Jangan engkau menoleh pada kajian Ahlu Zhahir (orang yang bergelut pada perkara syari’at zhahir), sebab pemahaman mereka itu rendah. Sungguh ini merupakan bagian dari ilmu orang-orang yang ‘Arif billah, tidak ada bagian bagi ulama zhahir didalamnya.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menyandarkan dalil tentang apa yang sudah disebutkan dalam syarah ayat ini bahwa orang-orang kafir tergolong kedalam lingkup kecintaan dan rahmat Allah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا كْتُبْ لَـنَا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰ خِرَةِ اِنَّا هُدْنَاۤ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ عَذَا بِيْۤ اُصِيْبُ بِهٖ مَنْ اَشَآءُ ۚ وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۗ فَسَاَ كْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَا لَّذِيْنَ هُمْ بِاٰ يٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَ
waktub lana fii haazihid-dun-yaa hasanataw wa fil-aakhiroti innaa hudnaaa ilaiik, qoola ‘azaabiii ushiibu bihii man asyaaa, wa rohmatii wasi’at kulla syaii, fa sa-aktubuhaa lillaziina yattaquuna wa yu-tuunaz-zakaata wallaziina hum bi-aayaatinaa yu-minuun
“Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sungguh, kami kembali (bertobat) kepada Engkau. (Allah) berfirman, “Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka, akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 156)
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata: Makna ayat tersebut adalah, “Aku akan tetapkan keselamatan dari adzab bagi orang-orang yang bertakwa.” Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah Swt dalam menciptakan sesuatu itu berkaitan dengan dua pembagian: Pertama, bagian orang yang terkena adzab lagi mendapatkan kasih sayang Allah; dan Kedua, bagian orang yang diharamkan mendapat rahmat Allah namun tidak diadzab.
Kelompok Pertama: Bagian orang yang mendapatkan rahmat tetapi diadzab;Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا كْتُبْ لَـنَا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰ خِرَةِ اِنَّا هُدْنَاۤ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ عَذَا بِيْۤ اُصِيْبُ بِهٖ مَنْ اَشَآءُ ۚ وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۗ فَسَاَ كْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَا لَّذِيْنَ هُمْ بِاٰ يٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَ
waktub lana fii haazihid-dun-yaa hasanataw wa fil-aakhiroti innaa hudnaaa ilaiik, qoola ‘azaabiii ushiibu bihii man asyaaa, wa rohmatii wasi’at kulla syaii, fa sa-aktubuhaa lillaziina yattaquuna wa yu-tuunaz-zakaata wallaziina hum bi-aayaatinaa yu-minuun
“Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sungguh, kami kembali (bertobat) kepada Engkau. (Allah) berfirman, “Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka, akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 156)
Kelompok Kedua: Bagian orang yang tidak mendapatkan rahmat Allah namun tidak diadzab.Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا كْتُبْ لَـنَا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰ خِرَةِ اِنَّا هُدْنَاۤ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ عَذَا بِيْۤ اُصِيْبُ بِهٖ مَنْ اَشَآءُ ۚ وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۗ فَسَاَ كْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَا لَّذِيْنَ هُمْ بِاٰ يٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَ
waktub lana fii haazihid-dun-yaa hasanataw wa fil-aakhiroti innaa hudnaaa ilaiik, qoola ‘azaabiii ushiibu bihii man asyaaa, wa rohmatii wasi’at kulla syaii, fa sa-aktubuhaa lillaziina yattaquuna wa yu-tuunaz-zakaata wallaziina hum bi-aayaatinaa yu-minuun
“Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sungguh, kami kembali (bertobat) kepada Engkau. (Allah) berfirman, “Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka, akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 156)
Sedangkan firman Allah Swt yang seolah-olah bertentangan dengan umumnya sifat rahmat Allah, seperti yang tertera dalam firman Allah Swt,
وَا لَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰ يٰتِ اللّٰهِ وَلِقَآئِهٖۤ اُولٰٓئِكَ يَئِسُوْا مِنْ رَّحْمَتِيْ وَاُ ولٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَا بٌ اَلِيْمٌ
wallaziina kafaruu bi-aayaatillaahi wa liqooo-ihiii ulaaa-ika ya-isuu mir rohmatii wa ulaaa-ika lahum ‘azaabun aliim
“Dan orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan-Nya, mereka berputus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu akan mendapat azab yang pedih.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 23)
Maka maksud dari rahmat, dimana mereka (orang-orang kafir) itu putus asa darinya, dalam ayat ini adalah nikmat dimasukkan kedalam surga saja. Sebab, surga haram dimasuki oleh orang kafir dan surga bukanlah puncak dari rahmat Allah Swt. Oleh karena itu, rahmat Allah tidak bisa terbatasi dengan akal pikiran saja, bisa saja Allah merahmati orang-orang kafir bagaimanapun caranya.
Sebagian sufi ada yang menyatakan bahwa salah satu gambaran rahmat Allah Swt pada penghuni neraka dari kalangan orang kafir bahwa mereka itu dibuat tidak sadarkan diri (pingsan) beberapa waktu seperti orang yang sedang tidur, sehingga mereka tidak merasakan adzab yang pedih, kemudian dihidangkan pula bagi mereka beragam buah-buahan dan makanan, sehingga merekapun bisa makan sepuasnya, lalu mereka kembali dibangunkan dari kondisi tidak sadarkan diri itu dan kembali mendapatkan adzab. Ini adalah gambaran rahmat Allah yang didapatkan oleh orang-orang kafir.
Ulasan Pelengkap Pembagian Tingkatan Cinta
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
qul ing kungtum tuhibbuunalloha fattabi’uunii yuhbibkumullohu wa yaghfir lakum zunuubakum, wallohu ghofuurur rohiim
“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata:
Kecintaan pada Allah ada empat martabat: Pertama, cinta lantaran adanya keimanan, ini sudah kita bahas sebelumnya; Kedua, cinta lantaran kucuran nikmat yang Allah Swt beri, ini bagi orang-orang mukmin yang khusus dan sudah kita bahas pula; Ketiga, cinta lantaran sifat Allah Swt, orang-orang yang berada didalamnya biasa disebut sebagai wali-wali Allah, mereka inilah yang banyak memberikan manfaat bagi manusia; Keempat, cinta lantaran Dzat Allah, orang yang bisa berada dalam cinta ini adalah para Shiddiqqin dalam kondisi sadar diri, inipun sudah kita bahas sebelumnya.
Maka yang belum kita bahas adalah cinta lantaran sifat-sifat Allah yang merupakan martabat para wali Allah. Mereka inilah yang senantiasa berkhidmah dan ber-tawajjuh kepada Allah dengan kalbu mereka lantaran beragam sifat terpuji yang ada pada Dzat Allah Swt. Akan tetapi mereka tidak berta’alluq dengan sifat-sifat fi’liyyah Allah seperti Maha Pencipta, Maha Pemberi rezeki, Maha Memberi dan semisalnya. Dalam perkara ini mereka mengikuti sikap kelompok yang kedua (kelompok orang-orang yang mencintai Allah Swt lantaran beragam karunia-Nya), tetapi dalam pengaplikasiannya mereka lebih tinggi dari itu.
(Bagian dari kelompok kedua) Diantara mereka pun ada kelompok orang yang berta’alluq pada sifat-sifat Allah Swt lantaran sifat Allah Yang Pemurah, Yang Mulia dan juga Terpuji. Mereka inilah orang-orang yang ber-ta’alluq dengan sifat Allah Swt, akan tetapi dalam diri mereka masih tersisa sisi mengamati terhadap pemberian Allah Swt. Ini merupakan satu dari bentuk cinta kepada Allah lantaran beragam karunia dan nikmat yang diberikan oleh-Nya.
(Bagian dari kelompok kedua) Ada pula sekelompok orang yang ber-ta’alluq pada Allah Swt dan senantiasa berkhidmat pada-Nya lantaran sifat Dzat Allah Swt, seperti Sombong, Maha Agung, Maha Perkasa, Maha Luhur dan Maha Tinggi. Orang-orang yang ber-ta’alluq dengan sifat-sifat ini dengan cinta dan berkhidmah, maka mereka akan mendapatkan kucuran karunia dari kecintaan pada Dzat Allah Swt. Beragam sifat Dzat Allah Swt yang aslinya milik Allah ini, tidak bisa dimiliki oleh makhluk, akan tetapi sifat yang dikucurkan kepada makhluk adalah berupa kelembutan, kemampuan memproduksi, rezeki, ragam pemberian, pengampunan, kemurahan dan semisalnya.
Maka kelompok orang yang ber-ta’alluq dengan sifat fi’liyyah Allah Swt akan menuntut ragam pemberian dan karunia-Nya. Sedangkan orang-orang yang ber-ta’alluq dengan sifat-sifat Dzatiyyah-Nya, mereka tidak menginginkan apapun dari-Nya, seperti menginginkan sifat agung, sombong, perkasa, luhur dan tinggi. Sebab, ketika ragam sifat ini nampak dihadapan mata, maka orang yang menyaksikannya pun akan sina dibawah sisi paksaan Allah Swt yang melazimkan kondisi tersebut. Tidak ada satu makhluk pun yang mampu untuk menelaah sisi kebesaran, keagungan, keperkasaan, ketinggian, kesombong dan kemuliaan-Nya. Oleh karenanya, orang yang menyaksikan ini akan dilenyapkan dan disirnakan dibawah sifat-sifat tadi. Kalaupun orang yang ber-ta’alluq dengan sifat-sifat Dzatiyyah Allah Swt ini ditanya, “Mengapa engkau berkhidmah pada Rabbrnu dan ber-ingitha (memutuskan hubungan dengan yang lain dan memfokuskan diri) pada-Nya?.” niscaya ia akan mengatakan, “Hal tersebut lantaran sifat Agung dan Sombong-Nya Allah Swt, bukan agar aku mendapat sesuatu dari-Nya.” Jika demikian maka mereka telah mendapat kucuran kecintaan Dzat-Nya dan setelah ini baru mendapatkan kecintaan Dzat Allah, mereka adalah Ash-Shiddiqin (orang yang jujur kalbunya) dan orang-orang yang ada dibawah mereka dari kalangan para utusan Allah, malaikat dan para nabi serta para wali quthb.
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra melanjutkan: Demikian ini penjelasan tersusun dalam martabat ini: Pemilik kecintaan lantaran keimanan diri pada Allah Swt, apabila ia senantiasa ber-tawajjuh kepada Allah Swt dengan kecintaan dan kalbunya pun melazimkan perkara tersebut, maka ia akan berpindah dari kondisi itu menuju kondisi mencintai Allah lantaran beragam karunia Allah Swt yang diberikan kepadanya, dimana inilah perkara tertinggi dalam cinta lantaran keimanan tersebut.
Sedangkan pemilik kecintaan lantaran beragam karunia dan nikmat yang Allah Swt beri, ketika mereka konsisten dengan tipikal ini dan senantiasa ber-tawajjuh pada Allah Swt dengan kalbu sesuai jalannya, maka ia akan berakhir pada kecintaan lantaran memandang sifat Allah Swt. Ia akan berpindah pada kecintaan ini, dimana inilah perkara tertinggi dalam kecintaan lantaran memandang beragam karunia dan nikmat yang Allah Swt beri.
Begitu juga dengan pemilik kecintaan lantaran memandang sifat Allah Swt, ketika mereka konsisten ber-tawajjuh pada Allah Swt, dimana perjalanan suluknya istiqamah, maka ia akan berpindah pada bentuk kecintaan pada Dzat Allah Swt, dimana inilah perkara paling tinggi dalam kecintaan lantaran memandang sifat-Nya Allah Swt, ini adalah puncak tertinggi.
Ketika mereka sudah sampai pada kecintaan pada Dzat-Nya; yang kumaksud adalah ia telah mencium semerbak bau kecintaan pada Dzat Allah Swt, maka ia telah berpindah kepada fana, setingkat demi setingkat, Fana adalah sinanya bentuk jiwa secara keseluruhan dihadapan sisi ahadiyyah Allah Swt. Lih. Abdurrazzaq Al Kasyanı, Mu’jam Isthilahat Ash-Shufiyyah, (Kairo, Dar Al Manar, 1992, hal. 365); Ada pula yang mengartikan fana sebagai runtuhnya ragam sifat tercela. Lih. Rafiq Al ‘Ajam, Mausü’ah Musthalahât At-Tasawwuf Al Islamy, (Beirut, Maktabah Libanon, 1999), hal. 731. Pertama kali ia mulai linglung akan semesta ini, kemudian mabuk, lalu dalam kondisi ghaibah dan fana dengan kondisi dirinya benar-benar merasakan kondisi fana tersebut yang kemudian beralih kepada fana` nya fana (kondisi puncaknya fana pada Allah Swt) yang dalam kondisi ini ia tidak lagi bisa merasakan sesuatu secara inderawi, dirasa, ditelisik, diraba dan diperbandingkan, akalnya dan khayalannya sudah hilang, sebagian dan keseluruhan dirinya telah lumat, tiada yang tersisa kecuali Dzat Allah Al Haq, dengan Al Haq untuk Al Haq dan dalam Al Haq, yang mana ini merupakan maqam Al Fath dan maqam Al Bidayah (maksudnya permulaan ma’rifat pada Allah Swt).
Maqamât. Kata ini merupakan bentuk plural dari asal kata maqam, yang memiliki arti: Posisi seorang hamba dihadapan Allah atas apa yang diusahakannya dari bermujahadah, menggemblengan hawa nafsu dan dalam ibadah yang lainnya, seperti tobat, zuhud, bersabar, tawakkal. Seseorang tidak mampu meningkat ke maqam selanjutnya jika belum bisa mencapai maqam sebelumnya. Lih. Syaikh Abdul Qadir Al Jilani, Sirr Asrâr, (Damaskus, Dår As-Sanabil, 1993 M), hal. 42.
Ketika orang ini tersadarkan dari kondisi mabuk cintanya itu, ia pun akan akan menempuh jalan tarqiyah dan maqam dirinya semakin naik menuju maqam yang kekal nan tidak ada akhirnya.
Dalil Bahwa Orang Kafir Juga Dicintai dan Disayang Allah Swt
Seperti yang sudah kita bahas terkait firman Allah Swt, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
qul ing kungtum tuhibbuunalloha fattabi’uunii yuhbibkumullohu wa yaghfir lakum zunuubakum, wallohu ghofuurur rohiim
“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)
Dalam ulasan sebelumnya Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata: “Yang tergolong dalam kecintaan ini adalah semua yang ada di alam semesta, bahkan orang-orang kafir sekalipun, sebab merekapun merupakan orang-orang yang dicintai Allah…(sampai ulasan akhir terkait hak-hak mereka yang telah kami sebutkan).” Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata seraya berdalil: Thaharah ada dua; Thaharah ashliyah dan Thaharah ‘aradhiyah.
Thaharah ashliyah adalah pensucian inti Dzat Allah Swt pada semua makhluk; baik secara global maupun terperinci; baik pada makhluk secara terpisah-pisah maupun menyatu dari sisi rahasia nama Allah Al Quddus. Sebab, nama Allah Al Quddus bertajalli pada setiap makhluk yang ada. Nama Allah Al Quddus artinya adalah yang bersih dan sempurna dari segala kekurangan.
Sayyidi Syaikh mengatakan dalam Al Asma Al Idrisiyyah: ‘Wahai Dzat Allah; Al Quddus, yang bersih dari setiap kekurangan, semua makhluk tidak dapat memerangi Nya lantaran adanya luthfu (belas kasih Allah)’.
Yang ada di alam semesta hanyalah Dzat yang bersih dan sempurna, sehingga nama Allah; Al Quddus bisa ber-tajalli bahkan disetiap biji atom. Setiap dzat yang ada tidaklah tercipta kecuali didalamnya ada tajalli nama Allah; Al Quddus.
Jika saja terjadi najis pada satu biji atom dari makhluk yang ada ini, maka ada kekurangan dalam sifat Allah yang sempurna; yaitu kekurangan pada sifat Al Quddus, jika demikian maka ada kerusakan pada sisi uluhiyyah Allah dan hal ini mustahil terjadi pada Dzat-Nya.
Sementara sisi uluhiyyah Allah mencakup setiap biji atom, karena sisi uluhiyyah merupakan martabat komperhensif yang melingkupi Dzat Allah pada segala sesuatu yang ada. Semua yang ada ini masuk ke dalam sisi uluhiyyah Allah dengan ketundukan, kehinaan, untaian tasbih dan juga sujud. Jikalau sisi ini terkena najis meskipun hanya sebesar biji atom sekalipun, maka tidak dibenarkan untuk beribadah dan bersujud kepadanya bahkan memuji sisi ini (sisi uluhiyyah). Oleh karena itu, thaharah ini mencakup segala sesuatu yang ada, ditinjau dari sisi uluhiyyah Allah, sehingga nama Allah; Al Quddus itu ber-tajalli pada semua yang ada, inilah thaharah ashliyah pada Dzat Allah Swt.”
Maksud dari redaksi, “Nama Allah; Al Quddus itu ber-tajalli pada semua yang ada,” terkait dengan redaksi ini, niscaya orang yang senantiasa berkutat pada ilmu zhahir dan tidak memiliki pemahaman akan perkara ini bertanya tentang bagaimana caranya ini bisa terjadi. Maka terkait bagaimananya, itu terdapat dalam perkataan Salamah bin Al Qasim, “Sungguh seluruh yang ada ini berdiri dengan nama Allah yang nampak dan juga yang tersembunyi.”
Maknanya adalah, tidak ada satu biji atom pun atau yang lebih besar dari itu; yang tersembunyi atau yang nampak secara sendiri-sendiri kecuali padanya terpapar cahaya dari satu ragam nama-nama Allah Swt. Jika bukan lantaran nampak dan terpapar cahaya dari nama Allah Swt, maka iapun tidak akan nampak di alam semesta dan masih tetap ada di alam ketiadaan. Dua makhluk yang ada tidak berserikat pada satu isim Allah Swt dan tidak ada pula satu biji atom berasal dari dua isim (nama) Allah Swt.
Paparan cahaya beragam nama-nama ilahiyyah itu nampak pada setiap biji atom yang ada, baik yang dzatnya besar atau yang kecil sekalipun. Semua yang ada ini tidak lain merupakan penampakan cahaya muni dari nama-nama ilahiyyah atau melalui perantara cahaya itulah sesuatu yang ada itu bisa nampak. Andai engkau sudah tahu perkara ini, engkaupun tahu bahwa semua yang ada ini berdiri dengan nama-nama Allah Swt, dimana nama-nama uluhiyyah termasuk dibawah lingkup sisi uluhiyyah Allah Swt. Setiap nama-nama ilahiyyah ber-tajalli diatasnya nama Allah Swt; Al Quddus. Sungguh nama Al Quddus itu bagian dari nama Dzat Allah, sehingga nama Al Quddus itu menyifati Dzat, sifat dan juga nama Allah. Maka Allah Swt itu suci pada sisi Dzat-Nya, suci pada sifat-Nya dan suci pada nama-Nya. Sementara seluruh yang ada ini merupakan benda nama-nama Allah Swt, dimana rahasia nama Allah; Al Quddus ber-tajalli padanya. Inilah makna ber-tajalli-Nya nama Allah; Al Quddus pada semua yang ada. Inilah yang kami maksud dari Thaharah ashliyah (pensucian inti Dzat-Nya Allah Swt).
Sementara Thaharah ‘aradhiyah, penyucian yang bukan inti adalah seperti yang sudah dijelaskan secara nash dalam syari’at Allah Swt,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنَّمَا الْمُشْرِكُوْنَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَـرَا مَ بَعْدَ عَا مِهِمْ هٰذَا ۚ وَ اِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيْكُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۤ اِنْ شَآءَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu innamal-musyrikuuna najasung fa laa yaqrobul-masjidal-harooma ba’da ‘aamihim haazaa, wa in khiftum ‘ailatang fa saufa yughniikumullohu ming fadhlihiii ing syaaa, innalloha ‘aliimun hakiim
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis (kotor jiwa), karena itu janganlah mereka mendekati Masjidilharam setelah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin (karena orang kafir tidak datang), maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 28)
Juga apa yang ditunjukkan oleh para utusan Allah Swt untuk menjauhi sesuatu yang najis; yang dihukumi najis secara syari’at saja. Sebab sisi najisnya hanya ada pada yang nampak dan bukan pada inti dzat sesuatu yang najis itu. Sebab, keberadaan dzatnya tetap ada dengan tetapnya hukum syari’at yang merupakan puncak daripada perintah dan larangan Allah. Syari’at adalah sesuatu yang nampak dan bukan bagian inti sesuatu yang najis itu.
Saat sangkakala ditiup, maka syari’atpun akan hilang, segala sesuatunya pun akan kembali pada asalnya, sehingga ketika itu tidak ada lagi taklif bagi makhluk.
Sedangkan orang kafir yang memang layak mendapatkan adzab, maka sungguh adzab itu bukan pada inti dzat mereka, pada asalnya mereka pun memperoleh rahmat dan kecintaan Allah Swt, mereka adalah orang-orang yang dicintai dan diberikan kasih sayang Allah Swt, sekalipun mereka memperoleh apa yang layak mereka peroleh (dari adzab Allah).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا كْتُبْ لَـنَا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰ خِرَةِ اِنَّا هُدْنَاۤ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ عَذَا بِيْۤ اُصِيْبُ بِهٖ مَنْ اَشَآءُ ۚ وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۗ فَسَاَ كْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَا لَّذِيْنَ هُمْ بِاٰ يٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَ
waktub lana fii haazihid-dun-yaa hasanataw wa fil-aakhiroti innaa hudnaaa ilaiik, qoola ‘azaabiii ushiibu bihii man asyaaa, wa rohmatii wasi’at kulla syaii, fa sa-aktubuhaa lillaziina yattaquuna wa yu-tuunaz-zakaata wallaziina hum bi-aayaatinaa yu-minuun
“Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sungguh, kami kembali (bertobat) kepada Engkau. (Allah) berfirman, “Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka, akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 156)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّمَا قَوْلُـنَا لِشَيْءٍ اِذَاۤ اَرَدْنٰهُ اَنْ نَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
innamaa qoulunaa lisyai-in izaaa arodnaahu an naquula lahuu kung fa yakuun
“Sesungguhnya firman Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 40)
Sungguh kekufuran yang terjadi pada orang kafir adalah lantaran sifat Al Iradah (sifat kehendak Allah Swt) sedangkan kalimat yang agung; yaitu kata, “Jadilah,” datangnya dari Allah; Al Haq, maka kata ini tidak terjadi kecuali pada hal yang dicintai dan juga yang diinginkan Allah Swt. Orang-orang kafir pun mendapatkan sisi rahmat Allah yang meliputi segala sesuatu, sekalipun apa yang harus terjadi pada mereka itu kelak menjadi kenyataan (diadzab), tetapi itu adalah beragam hukum yang meliputi sisi uluhiyyah Allah Swt.
Seluruh yang terjadi pada makhluk baik berupa nikmat, adzab, keluangan, cobaan, rahmat dan pembalasan dendam tak lain merupakan ragam hukum yang meliputi sisi uluhiyyah Nya Allah. Selain Dzat Allah Swt tidaklah memiliki peranan apa-apa. Perkara yang inti pada saat ini adalah sisi rahmat dan kecintaan Allah pada seluruh makhluk yang ada. Pada batasan inilah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَکُوْنُوْا شُهَدَآءَ عَلَى النَّا سِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَاۤ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِ ۗ وَاِ نْ كَا نَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ ۗ وَمَا كَا نَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَا نَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِا لنَّا سِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
wa kazaalika ja’alnaakum ummataw wasathol litakuunuu syuhadaaa-a ‘alan-naasi wa yakuunar-rosuulu ‘alaikum syahiidaa, wa maa ja’alnal-qiblatallatii kungta ‘alaihaaa illaa lina’lama may yattabi’ur-rosuula mim may yangqolibu ‘alaa ‘aqibaiih, wa ing kaanat lakabiirotan illaa ‘alallaziina hadalloh, wa maa kaanallohu liyudhii’a iimaanakum, innalloha bin-naasi laro-uufur rohiim
“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) “umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya, melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 143)
Ayat ini mencakup orang mukmin dan juga orang kafir, sebab mereka juga merupakan bagian dari manusia.
Begitu juga Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَـقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْۤ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا
wa laqod karromnaa baniii aadama wa hamalnaahum fil-barri wal-bahri wa rozaqnaahum minath-thoyyibaati wa fadhdholnaahum ‘alaa kasiirim mim man kholaqnaa tafdhiilaa
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 70), Maka ayat inipun mencakup orang mukmin dan juga kafir, inilah yang merupakan inti.
Sementara yang tertera pada firman-Nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ شَرَّ الدَّوَآ بِّ عِنْدَ اللّٰهِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ
inna syarrod-dawaaabbi ‘ingdallohillaziina kafaruu fa hum laa yu-minuun
“Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka tidak beriman.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 55)
Juga yang tertera dalam firman-Nya,
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَ الْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَا رِ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ اُولٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
innallaziina kafaruu min ahlil-kitaabi wal-musyrikiina fii naari jahannama khoolidiina fiihaa, ulaaa-ika hum syarrul-bariyyah
“Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk.”
(QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 6)
Maka ini adalah beragam hukum dari sisi uluhiyyah Allah Swt yang terjadi tanpa disangka-sangka pada mereka dan ini bukanlah perkara inti (hanya perkara tambahan dari asalnya), sedangkan perkara intinya adalah perkara yang pertama (mendapatkan rahmat dan dicintai Allah Swt).
Rasulullah Saw bersabda tentang tabi’at penciptaan,
إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْ خَلْقِهِ إِخْتَارَ مِنْهُمْ بَنِي أَدَمَ.
“Sungguh Allah telah menciptakan makhluk sampai Dia selesai menciptakannya, Dia memilih bani Adam dari ciptaan-Nya.” (Hadits Shahih).
Pilihan Allah mencakup bani Adam yang mukmin dan juga yang kafir. Ini adalah inti (pondasi awalnya) yang berupa kecintaan, rahmat dan penghormatan yang sudah dipaparkan dalam ayat sebelumnya dalam surah Al Isra` [17] ayat 70. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَـقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْۤ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا
wa laqod karromnaa baniii aadama wa hamalnaahum fil-barri wal-bahri wa rozaqnaahum minath-thoyyibaati wa fadhdholnaahum ‘alaa kasiirim mim man kholaqnaa tafdhiilaa
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 70)
Sedangkan perkara yang datang pada orang-orang kafir tanpa disangka-sangka setelah kondisi ini, maka itu adalah perkara tambahan dari asalnya yang akan hilang dan kembali pada inti asal. Selesai sudah apa yang didiktekan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-
Perkara yang sesuai dengan apa yang tertera pada ayat sebelumnya adalah penjelasan dari firman Allah Swt,
قَا لَ اللّٰهُ هٰذَا يَوْمُ يَـنْفَعُ الصّٰدِقِيْنَ صِدْقُهُمْ ۗ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۤ اَبَدًا ۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ ذٰلِكَ الْـفَوْزُ الْعَظِيْمُ
qoolallohu haazaa yaumu yangfa’ush-shoodiqiina shidquhum, lahum jannaatung tajrii ming tahtihal-an-haaru khoolidiina fiihaaa abadaa, rodhiyallohu ‘an-hum wa rodhuu ‘an-h, zaalikal-fauzul-‘azhiim
“Allah berfirman, “Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. (terhadap nikmat yang telah dicurahkan-Nya). Itulah kemenangan yang agung.””
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 119); Yang berupa pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, dimana beliau berkata: Di akhirat ada beberapa kelompok:
Pertama, kelompok yang mendapatkan keridhaan Allah Swt. Mereka adalah Ash-Shiddiqun (orang-orang yang jujur zhahir dan batinnya), para wali quthb, para nabi dan utusan Allah;
Kedua, kelompok yang mendapatkan bagian dari rahmat Allah. Pada bagian inilah golongan para wali Allah, orang-orang shaleh dan orang-orang yang mati syahid.
Ketiga, kelompok yang mendapatkan maaf dan ampunan Allah Swt, mereka adalah orang-orang mukmin yang melakukan kemaksiatan.”
Redaksi, رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ “Allah ridha terhadap mereka,” Maknanya adalah keridhaan yang datang dari Allah Swt berupa keinginan Allah untuk mengangkat, mengagungkan dan memuliakan hamba-Nya, sedangkan rahmat Allah berputar-putar pada syahwat, kelezatan, beragam permintaan dan nikmat yang diwariskan.
Sedangkan redaksi, وَرَضُوا عَنْهُ “Dan mereka pun ridha kepada-Nya (terhadap nikmat yang telah dicurahkan-Nya).” Maka ini terwujud dengan kondisi kuat terhadap beragam ujian dan cobaan, ini khusus bagi sebagian Shiddiqin, dimana Ash-Shiddiq adalah sempurnanya kesadaran dari kondisi tenggelam dalam musyahadah, sehingga ia sama seperti orang-orang lainnya secara umum, bahkan ada orang yang mengatakan, “Dia ini tidak mengetahui apa-apa.” Orang ini memberikan hak orang lain sesuai dengan martabat dan penciptaannya.
Ada sebagian tabi’in berkata kepada Ibnu Sirin Ra (pembesar tabi’in yang banyak berinteraksi dengan sahabat Nabi), mereka berkata, “Bagaimana kondisi sahabat Nabi Saw?” Dia menjawab, “Layaknya kebanyakan manusia biasa,” kemudian Ibnu Sirin menyenandungkan:
يُحِبُّ الْخَمْرَ مِنْ كَأْسِ النَّدَامَى # وَيَكْرَهُ أَنْ تُفَارِقَهُ الْفُلُوْسُ
“Diapun menyukai khamr dibalik cawan penyesalan # dan tidak suka jika uang berpisah dengannya”
Keempat, mereka adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, dimana Allah Swt berfirman perihal mereka,
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْـنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗۤ ۙ اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ ۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَا فُوْنَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu may yartadda mingkum ‘ang diinihii fa saufa ya-tillaahu biqoumiy yuhibbuhum wa yuhibbuunahuuu azillatin ‘alal-mu-miniina a’izzatin ‘alal-kaafiriina yujaahiduuna fii sabiilillaahi wa laa yakhoofuuna laumata laaa-im, zaalika fadhlullohi yu-tiihi may yasyaaa, wallohu waasi’un ‘aliim
“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 54)
Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan ridha paling besar (yaitu orang-orang khusus yang memiliki kecintaan pada Dzat Allah Swt).
Ada toleransi pada orang-orang yang telah kami sebutkan sebelumnya dari kalangan Ash-Shiddiqin, para wali quthb, para nabi dan utusan Allah. Sebab, mereka adalah orang-orang yang memiliki kecintaan pada Dzat Allah. Dalam kondisi ini ada pendosa, orang yang senantiasa berjalan pada janji-janji Allah, orang-orang khusus, orang yang super khusus.
Mengenai para pendosa, maka sudah banyak diketahui oleh orang-orang secara umum, sedangkan orang yang senantiasa berjalan pada janji-janji Allah mereka adalah orang-orang mukmin yang senantiasa menjaga janji dan memelihara batasannya, tetapi mereka ini termasuk orang-orang yang terhalang dari Allah Swt. Para pendosa mendapatkan bagian ampunan-Nya, sedangkan orang yang senantiasa berjalan pada janji-janji Allah Swt mendapatkan bagian rahmat-Nya.
Sementara orang-orang khusus, mereka adalah orang-orang yang telah Allah Swt singkapkan bagian dari sisi keagungan-Nya, Allahpun mencicipkan pada mereka nikmatnya musyahadah yang membuat mereka mampu memikul ujian dan cobaan yang tidak bisa dipikul oleh gunung, mereka adalah orang-orang khusus dari kalangan makhluk-Nya, mereka orang-orang yang memiliki derajat yang mulia.
Lain halnya dengan semua orang yang penghalang jiwanya telah terkoyak, yang membuat mereka sampai pada kecintaan pada Dzat Allah Yang Luhur. Mereka inilah orang yang super khusus, mereka memiliki martabat paling tinggi dan kedudukan yang paling agung. Mereka adalah orang-orang yang kerap menyaksikan beragam sifat Allah Swt Mereka inilah yang mendapatkan ridha dari Allah Swt, dimana mereka pun ridha kepada-Nya.
Terkait dengan orang yang super khusus ini, Allah Swt berfirman dalam Al Qur’an perihal mereka,
قَا لَ اللّٰهُ هٰذَا يَوْمُ يَـنْفَعُ الصّٰدِقِيْنَ صِدْقُهُمْ ۗ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۤ اَبَدًا ۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ ذٰلِكَ الْـفَوْزُ الْعَظِيْمُ
qoolallohu haazaa yaumu yangfa’ush-shoodiqiina shidquhum, lahum jannaatung tajrii ming tahtihal-an-haaru khoolidiina fiihaaa abadaa, rodhiyallohu ‘an-hum wa rodhuu ‘an-h, zaalikal-fauzul-‘azhiim
“Allah berfirman, “Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. (terhadap nikmat yang telah dicurahkan-Nya). Itulah kemenangan yang agung.””
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 119)
Mereka adalah orang yang menempati tingkatan tertinggi, tidak ada tingkatan diatasnya lagi. Yang ada pada tingkatan ini adalah Ash-Shiddiqin, para wali quthb, para nabi dan utusan Allah. Sebab, tingkatan Ash-Shiddiqiyyah ini mengumpulkan semua hal ini, maka setiap wali, nabi dan utusan Allah adalah Ash-Shiddiqin dan tidak ada kebalikannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا ذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ اِبْرٰهِيْمَ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ صِدِّيْقًا نَّبِيًّا
wazkur fil-kitaabi ibroohiim, innahuu kaana shiddiiqon nabiyyaa
“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur’an), sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran, dan seorang nabi.”
(QS. Maryam 19: Ayat 41); Kata Ash-Shiddiqiyyah ini mengakomodir semua makna yang ada dan tidak sebaliknya.
Sedangkan perihal kecintaan Allah Swt bagi para pembesar wali Allah, maka wujud kecintaannya adalah berupa keinginan Allah Swt untuk mengagungkan mereka, memuliakan dan mengangkat derajat mereka. Begitu pula kecintaan mereka kepada Allah Swt, sungguh mereka ini mencintai sisi Dzat Allah yang suci dan bukan untuk tujuan lain. Kecintaan mereka kepada-Nya tidak dapat dinalar dan dikira-kira, hanya orang-orang cerdaslah yang bisa merasakannya.
Dalam makna inilah Al Mursi berkata, “Sungguh Allah punya hamba-hamba yang ditampakkan pada permulaan dan ditutupi pada akhirnya. Sungguh Allah Swt pun punya hamba-hamba yang Dia tutupi dipermulaan dan ditampakkan diakhir. Sungguh Allah Swt juga punya hamba-hamba yang Dia tutupi dari orang banyak dan Dia tampakkan pada orang khusus. Sungguh Allah Swt pun punya hamba-hamba yang Dia sembunyikan dari orang khusus dan orang umum, tidak pula nampak hakikat yang ada antara diri mereka dan Allah, bahkan malaikatpun tidak tahu, sampai malaikat mencabut nyawa mereka. Mereka ini adalah orang-orang syahid pada dimensi malaikat. Mereka adalah pemilik shaf bagian kanan ‘Arasy. Mereka adalah orang-orang super khusus, -semoga dengan anugerah dan kemurahan-Nya kita semua menjadi bagian dari mereka-.”
-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-
