You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 49. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt (QS. An-Najm 53: Ayat 1-4),
وَا لنَّجْمِ اِذَا هَوٰى ، مَا ضَلَّ صَا حِبُكُمْ وَمَا غَوٰى ، وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى ، اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰى

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,

وَا لنَّجْمِ اِذَا هَوٰى 
wan-najmi izaa hawaa

“Demi bintang ketika terbenam,”
(QS. An-Najm 53: Ayat 1)

مَا ضَلَّ صَا حِبُكُمْ وَمَا غَوٰى 
maa dholla shoohibukum wa maa ghowaa

“kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru,”
(QS. An-Najm 53: Ayat 2)

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى 
wa maa yangthiqu ‘anil-hawaa

“dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya.”
(QS. An-Najm 53: Ayat 3)

اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰى 
in huwa illaa wahyuy yuuhaa

“Tidak lain (Al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),”
(QS. An-Najm 53: Ayat 4)

Juga tentang macam-macam wahyu dan beberapa cara menyampaikannya?

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Ketahuilah bahwa Allah Swt membebaskan Rasul-Nya Saw dari seluruh keterkaitan hawa dan ragam sebabnya. Hawa yang tercela adalah sesuatu yang dilakukan karena dorongan syahwat untuk memuaskan hasrat, tidak lebih dari itu.

Allah Swt membebaskan Rasulullah Saw dari semua itu. Bahkan, jiwa Rasulullah Saw telah sampai kepada mawathinil qurbi (tempat terdekat bersama Allah Swt) dan menetap di dalamnya lantaran kemurnian musyahadah hadhrah ilahiyyah, sehingga tak akan hilang dan terlupakan walau hanya sekejap mata.

Wushul (sampai) kepada mawathinil qurbi adalah sampainya seorang hamba kepada kedudukan Haqqul Yaqin. Seorang hamba tidak akan terbebas dari kesibukan dan kekurangan, kecuali dengan tenggelam di dalam samudera Haqqul Yaqin. Jika martabah Ainul Yaqin dapat membebaskan jiwa dari seluruh ketetapan yang bertentangan dengan perkara rububiyyah, karena didalamnya tidak ada kecuali rububiyyah muni-, maka pemiliknya bisa dikatakan naqish nazhar (kurangnya sisi perhatian) jika ia tidak memenuhi hak kedudukan tersebut dan tidak menyempurnakan ilmu dengan kekhususan kedudukan sisi Allah dan makhluk. Karena itu, ia menjadi naqish (kurang).

Orang yang sampai kepada kedudukan Haqqul Yaqin telah menyempurnakan kebebasannya dari semua kegelapan karakter basyariyah. Karakter itu telah dihancurkan darinya pada saat ia berada dalam martabah ‘Ainul Yaqin. Ketika ia telah sampai pada kedudukan Haqqul Yaqin, Allah Swt persaksikan kepadanya kedudukan sisi Allah dan sisi makhluk, hingga ia memberikan kepada setiap pemilik hak sesuai haknya, serta menyempumakannya dengan tugas dan adab. Dengan demikian ia pun tidak condong untuk mengikuti hawa, walau hanya sekejap mata.

Mengenai tingkatan dalam keyakinan; awalnya adalah Ilmul Yaqin, yaitu tingkatan terakhir dalam perjalanan spiritual (suluk) seorang hamba. Kemudian setelahnya, terdapat tingkatan Ainul Yaqin, yaitu usaha seorang hamba secara totalitas, hingga dalam dirinya tidak tersisa kecuali Allah, dengan Allah, karena Allah dan dari Allah. Tidak ada lagi ilmu, ilustrasi, tentang dimana dan juga bagaimana. Kemudian setelahnya, terdapat maqam Shahwi dan Baqa, yaitu maqam dalam tingkatan Haqqul Yaqin.

Contoh sebagai penguat ragam paparan mengenai tingkatan keyakinan diatas adalah “Api.” Dari kejauhan sudah diketahui bahwa itu adalah api yang bisa digunakan untuk membakar, memasak dan memanaskan. Inilah contoh Ilmul Yaqin. Yang dimaksud dengan Ilmul Yaqin adalah tampaknya hakikat dari balik penutup yang tipis. ‘Ainul Yaqin adalah seperti orang yang telah sampai kepada api tersebut, kemudian ia dibakar dan merasakan panasnya. Inilah contoh ‘Ainul Yaqin. Yang dimaksud dengan ‘Ainul Yaqin adalah tersingkapnya ragam hakikat tanpa hijab dan kekhususan. Sedangkan contoh Haqqul Yaqin adalah, seperti orang yang dilemparkan ke dalam api tersebut saat api itu besar dan berkobar dan ia pun terbakar di dalamnya. Pada saat ia terbakar, ia tidak memiliki pengetahuan sedikitpun selain api tersebut dan tidak mencela dalam hatinya selain kepada api tersebut.

Demikian pula dengan orang yang sampai kepada tingkatan Haqqul Yaqin, dalam pandangannya tidak ada kecuali hadhrah ilahiyyah. Jika ia melihat aneka ragam ciptaan, maka tidak ada yang tampak dalam pandangannya itu, kecuali Allah Swt. Selain Allah, telah sirna dalam dirinya, dari setiap sisi dan dengan setiap i’tibar. Tidak ada yang tersisa di sisinya, kecuali Allah semata.

Pada zaman azali, Allah Swt berada dalam tirai penghalang Kanziyah ‘Uzhma. Tidak ada yang mengenal-Nya selain diri-Nya, sebagaimana Nabi Saw bersabda dalam sebuah hadits, saat beliau ditanya, “Dimanakah Rabb kita sebelum Dia menciptakan makhluk?” Nabi Saw menjawab,

فِي عَمَاءٍ مَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ، وَمَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ، ثُمَّ خَلَقَ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ

“Dia berada dalam ‘Ama (keadaan yang tidak diketahui kecuali oleh Allah), apa yang di atas-Nya dan apa yang ada bawah-Nya adalah udara, kemudian Dia ciptakan Arasy di atas air.”

Ulama ahli zhahir mencoba untuk memahami hadits ini dengan khayalan yang keliru, mereka tidak dapat menyingkap hakikatnya sedikit pun, karena mereka mengartikan kata ‘Ama` secara bahasa, yaitu mendung. Orang Arab menyebut mendung dengan sebutan Ama (buta), karena ia menutupi matahari dari pandangan. Kemudian mereka menafsirkan bahwa Allah Swt ber-tajalli dalam mendung. Mereka tidak menyadari bahwa mendung itu juga termasuk bagian dari makhluk yang disebutkan oleh orang yang bertanya kepada Nabi Saw.

Sebenarnya, kata Ama dalam hadits di atas adalah Rabb Swt meng-hijab diri-Nya dalam hadhrah dzatiyah, karena Dzat-Nya memiliki sifat tinggi, besar dan agung. Yang dimaksud dengan Dzat-Nya yang Maha Mulia adalah, tidak ada sesuatu pun bersama-Nya. Demikianlah yang diisyaratkan oleh sabda Nabi Saw,

كَانَ اللَّهُ وَلَا شَيْئَ مَعَهُ

“Allah ada dan tidak ada sesuatu pun bersama-Nya.”

Inilah hadhrah dzatiyah, yaitu hadhrah thamsi dan ‘Ama. Didalamnya tidak ada nama dan sifat, kecuali Dzat, dengan Dzat, dalam Dzat, dari Dzat. Tidak ada apapun selain itu.

Demikianlah yang dimaksud hadits qudsi yang datang dari Allah Swt. Dia berfirman,

كُنتُ كنزاً لَمْ أُعْرَفْ فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَعْرَفَ، فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ، فَتَعَرَّفْتُ لَهُمْ، في عَرَفُونِي

“Aku adalah perbendaharaan yang belum bisa diketahui, maka Aku senang untuk dikenal (dima’rifati), (oleh karena itu) Aku ciptakan makhluk, Aku memperkenalkan Dzatku pada mereka, maka dengan-Ku lah mereka mengenali-Ku (ma’rifat pada-Ku).”

Makhluk yang tercipta ini hanyalah bagian zhahir dan gambaran dari semesta alam. Tidaklah Allah Swt mengenalkan diri-Nya, kecuali hanya bagian zhahir dari sifat uluhiyyah. Sedangkan Dzat-Nya berada dalam hadhrah thamsi dan ama. Tidak ada harapan bagi seorangpun untuk dapat mengenal-Nya. Tidak ada yang mengetahui Dzat-Nya dalam hadhrah tersebut, kecuali Dia Swt dan tidak ada yang lain-Nya. Ma’rifat bagi makhluk terhadap kedudukan ilahiyyah adalah komitmen seorang hamba untuk senantiasa beribadah kepada-Nya dengan sifat khudhu’ (rendah diri) di bawah kebesaran-Nya, keagungan dan kemuliaan-Nya; merasa hina karena kemuliaan-Nya yang sempurna dan merasa lemah di bawah kendali-Nya dengan pasrah secara totalitas kepada-Nya. Dia (Allah) akan melakukan apa yang dikehendaki-Nya dan memutuskan apa yang diinginkan-Nya. Tidak ada yang dapat menentang-Nya dalam keputusan hukum-Nya.

Ma’rifat Uluhiyyah Memiliki Sisi Zhahir dan Bathin

Ma’rifat uluhiyyah secara zhahir bagi para pemilik hijab dari seluruh semesta adalah mengakui bahwa Allahlah yang memiliki sifat uluhiyyah dan mereka menyadari bahwa mereka hanyalah hamba yang berada di bawah kendali keputusan-Nya. Hal ini sudah menjadi karakter sejak pertama kali mereka tercipta. Yang pertama dan yang terakhir dari mereka sudah mengetahui tentang hal ini. Dan dengan ini, engkau dapat mengetahui kebatilan pendapat seorang ulama yang menyatakan bahwa manusia ber-taqlid (mengikuti) dalam masalah ma’rifat uluhiyyah. Mereka mengira bahwa ma’rifat uluhiyyah hanya bisa didapat dengan beberapa bukti dan diantara manusia ada yang tidak mengenal Tuhan. Pendapat ini jelas batil, karena tidaklah para rasul diutus kepada makhluk kecuali dengan membawa tauhid agar beribadah kepada Tuhan dan menyingkirkan setiap sesembahan selain Dia. Umat-umat terdahulu tidak mendustakan mereka (para rasul), kecuali tentang masalah kebenaran risalah dari Allah Swt. Mereka tidak mengingkari keberadaan Allah Swt. Mereka juga tidak mengingkari sifat uluhiyyah-Nya.

Allah Swt berfirman mengabarkan tentang keadaan mereka,

اَ لَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَا لِصُ ۗ وَا لَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖۤ اَوْلِيَآءَ ۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَاۤ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰى ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّا رٌ
alaa lillaahid-diinul-khoolish, wallaziinattakhozuu ming duunihiii auliyaaa, maa na’buduhum illaa liyuqorribuunaaa ilallohi zulfaa, innalloha yahkumu bainahum fii maa hum fiihi yakhtalifuun, innalloha laa yahdii man huwa kaazibung kaffaar

“Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 3)

Allah Swt juga berfirman tentang keadaan mereka terkait masalah berhala,

وَيَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُوْلُوْنَ هٰۤؤُلَآ ءِ شُفَعَآ ؤُنَا عِنْدَ اللّٰهِ ۗ قُلْ اَتُـنَـبِّــئُوْنَ اللّٰهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْاَ رْضِ ۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
wa ya’buduuna ming duunillaahi maa laa yadhurruhum wa laa yangfa’uhum wa yaquuluuna haaa-ulaaa-i syufa’aaa-unaa ‘ingdalloh, qul a tunabbi-uunalloha bimaa laa ya’lamu fis-samaawaati wa laa fil-ardh, sub-haanahuu wa ta’aalaa ‘ammaa yusyrikuun

“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat, dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah.” Katakanlah, “Apakah kamu akan memberi tahu kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui-Nya apa yang di langit dan tidak (pula) yang di Bumi? Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan itu.”
(QS. Yunus 10: Ayat 18)

Mereka tidak mengingkari keberadaan Tuhan dan tidak pula mengingkari sifat uluhiyyah-Nya, tetapi mereka mendustakan risalah para rasul bahwa Allah-lah yang mengutus mereka dan mereka juga mendustakan tauhid dalam beribadah kepada Allah Swt.

Allah Swt berfirman tentang kaum ‘Ad dan Tsamûd,

اِذْ جَآءَتْهُمُ الرُّسُلُ مِنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّا اللّٰهَ ۗ قَا لُوْا لَوْ شَآءَ رَبُّنَا لَاَ نْزَلَ مَلٰٓئِكَةً فَاِ نَّا بِمَاۤ اُرْسِلْتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ
iz jaaa-at-humur-rusulu mim baini aidiihim wa min kholfihim allaa ta’buduuu illalloh, qooluu lau syaaa-a robbunaa la-angzala malaaa-ikatang fa innaa bimaaa ursiltum bihii kaafiruun

“Ketika para rasul datang kepada mereka dari depan dan dari belakang mereka (dengan menyerukan), “Janganlah kamu menyembah selain Allah.” Mereka menjawab, “Kalau Tuhan kami menghendaki tentu Dia menurunkan malaikat-malaikat-Nya, maka sesungguhnya kami mengingkari wahyu yang engkau diutus menyampaikannya.””
(QS. Fussilat 41: Ayat 14)

Yang mereka maksud adalah, seandainya Rabb kami berkehendak untuk menurunkan risalah kepada kami dengan membawa tauhid dalam beribadah, tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikat-Nya. Juga sebagaimana perkataan kaum ‘Ad kepada nabi Hûd As,

قَا لُـوْۤا اَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللّٰهَ وَحْدَهٗ وَنَذَرَ مَا كَا نَ يَعْبُدُ اٰبَآ ؤُنَا ۚ فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَاۤ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ
qooluuu a ji-tanaa lina’budalloha wahdahuu wa nazaro maa kaana ya’budu aabaaa-unaa, fa-tinaa bimaa ta’idunaaa ing kungta minash-shoodiqiin

“Mereka berkata, “Apakah kedatanganmu kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh nenek moyang kami? Maka buktikanlah ancamanmu kepada kami, jika kamu benar!””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 70)

Anda dengar sendiri bahwa mereka tidak mengingkari keberadaan Tuhan. Yang mereka ingkari adalah tauhid dalam beribadah dan kebenaran risalah dari Allah Swt. Allah Swt berfirman dalam menyebutkan sifat orang-orang kafir,

وَلَئِنْ سَاَ لْـتَهُمْ مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ فَاَ نّٰى يُؤْفَكُوْنَ 
wa la-ing sa-altahum man kholaqohum layaquulunnallohu fa annaa yu-fakuun

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, Allah; jadi bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah),”
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 87)

Rabb kita, Allah Swt juga berfirman dalam menyebutkan sifat mereka saat Dia memerintah Nabi-Nya Saw untuk bertanya kepada mereka, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ لِّمَنِ الْاَ رْضُ وَمَنْ فِيْهَاۤ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
qul limanil-ardhu wa mang fiihaaa ing kungtum ta’lamuun

“Katakanlah (Muhammad), “Milik siapakah bumi, dan semua yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?””
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 84)

سَيَقُوْلُوْنَ لِلّٰهِ ۗ قُلْ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ
sayaquuluuna lillaah, qul a fa laa tazakkaruun

“Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “Maka apakah kamu tidak ingat?””
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 85)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ مَنْ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ
qul mar robbus-samaawaatis-sab’i wa robbul-‘arsyil-‘azhiim

“Katakanlah, “Siapakah Tuhan yang memiliki langit yang tujuh dan yang memiliki ‘Arsy yang agung?””
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 86)

سَيَقُوْلُوْنَ لِلّٰهِ ۗ قُلْ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ
sayaquuluuna lillaah, qul a fa laa tattaquun

“Mereka akan menjawab, “(Milik) Allah.” Katakanlah, “Maka mengapa kamu tidak bertakwa?””
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 87)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ مَنْ بِۢيَدِهٖ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُوَ يُجِيْرُ وَلَا يُجَا رُ عَلَيْهِ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
qul mam biyadihii malakuutu kulli syai-iw wa huwa yujiiru wa laa yujaaru ‘alaihi ing kungtum ta’lamuun

“Katakanlah, “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan segala sesuatu. Dia melindungi, dan tidak ada yang dapat dilindungi (dari azab-Nya), jika kamu mengetahui?””
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 88)

سَيَقُوْلُوْنَ لِلّٰهِ ۗ قُلْ فَاَ نّٰى تُسْحَرُوْنَ
sayaquuluuna lillaah, qul fa annaa tus-haruun

“Mereka akan menjawab, “(Milik) Allah.” Katakanlah, “(Kalau demikian), maka bagaimana kamu sampai tertipu?””
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 89)

Anda melihat sendiri dalam beberapa ayat diatas, bahwa mereka tidak mengingkari keberadaan Tuhan dan mereka tidak pula mengingkari bahwa Dia berada dalam kedudukan uluhiyyah-Nya. Akan tetapi mereka menyembah berhala-berhala itu agar dapat mendekatkan mereka kepada Allah Swt. Demikianlah ma’rifat uluhiyyah secara zhahir. (Ma’rifat Pertama)

Sedangkan ma’rifat uluhiyyah secara bathin (Ma’rifat Kedua), maka ma’rifat ini milik para Shiddiqin dan ‘Arifin. Mereka mampu menyibak hijab zhahir, kemudian menyibak sisi uluhiyyah Allah secara bathin hingga mereka sampai pada tingkatan haqqul yaqin. Sehingga menurut mereka seluruh semesta ini adalah ragam sifat dan nama Allah secara hakikat, bukan secara i’tiqad. Lalu Allah Swt ber-tajalli kepada mereka dengan nama dan sifat-Nya secara bathin, kemudian Dia menganugerahi asrar-Nya kepada mereka. Lalu mereka keluar dari sisi basyariah (sifat manusiawi), sehingga seluruh gerak dan diam mereka, bolak-balik mereka, keadaan mereka, perbuatan dan ucapan mereka bersama Allah secara murni. Mereka pun senantiasa bersama Allah Swt. Semua urusan mereka karena Allah, bersama Allah, dari Allah. Mereka terasa mati dari selain Allah. Inilah puncak ma’rifat para Shiddiqin. Mereka tidak memiliki harapan lagi untuk wushul (sampai) pada apa yang ada setelah martabah ini.

Sedangkan ma’rifat milik para wali quthb dan para nabi adalah, Allah Swt ber-tajalli kepada mereka dengan sirr yang terlindungi dan ghaib yang tersembunyi, yang setiap helaan nafas hanya ada dzikir kepada-Nya. Ma’rifat ini disebut bathin nya bathin uluhiyyah (Ma’rifat Ketiga).

Asrar bathin yang kedua ini, ilmu dan ma’rifatnya, jika tampak sebagian saja darinya kepada para Shiddiqin walau hanya sebesar debu, maka mereka akan meleleh karena wibawa keagungan Allah Swt, sehingga mereka pun akan sima dengan begitu cepat mengalahkan kecepatan kedipan mata. Bathin yang kedua ini hanya milik para wali quthb dan para nabi, tidak ada harapan bagi selain mereka. Hanya saja para wali quthb berada dibagian paling bawah dalam hadhrah ini, sedangkan para nabi berada dibagian paling atas.

Kemudian (Ma’rifat Keempat) adalah hadhrah ilahiyyah yang khusus untuk Nabi Saw. Tidak ada harapan bagi para wali quthb dan para nabi meskipun hanya sekedar mencium baunya. Jika sebagian saja darinya tampak kepada pembesar para rasul walau hanya sebesar debu, maka mereka akan meleleh lantaran wibawa keagungan Allah Swt, sehingga mereka pun akan sima dengan cepat mengalahkan kecepatan kedipan mata.

Wahyu Allah Swt untuk para pemilik kedudukan diatas, masing-masing akan mendapatkan wahyu sesuai dengan kadar kedudukan mereka.

Para pemilik kedudukan yang pertama, yaitu semua makhluk yang terhijab, maka wahyu Allah kepada mereka diberikan pada saat mereka tidur. Allah Swt akan menyingkapkan beragam urusan ghaib pada waktu tertentu sesuai yang dikehendaki-Nya, tidak pada semua waktu. Mereka adalah orang-orang yang meyakini sifat uluhiyyah secara zhahir.

Sedangkan orang-orang yang meyakini sifat uluhiyyah secara bathin, yaitu para shiddiqin, maka wahyu Allah Swt kepada mereka adalah dengan menyingkapkan ragam kondisi ghaib terang-terangan secara atau Allah Swt memperdengarkan kepada mereka berupa kenikmatan asrar-Nya lantaran tampaknya hakikat asrar tersebut. Akan tetapi, jika mereka telah mencapai apa yang mereka capal, maka tingkatan mereka berada dibawah kedudukan para wali quthb. Sebagaimana para wali quthb, jika mereka telah mencapai apa yang mereka capai dari wahyu Allah Swt, maka tingkatan mereka berada dibawah kedudukan para nabi As. Sebagaimana tingkatan pembasar para rasul, jika mereka telah mencapai apa yang mereka capai dalam masalah wahyu, maka kedudukan mereka berada dibawah kedudukan nabi Muhammad Saw.

Maka, wahyu Allah Swt kepada nabi Muhammad Saw sesuai dengan kedudukan beliau, tidak ada satu makhluk pun yang bisa menyamai beliau dalam hal ini dan tidak ada pula yang dapat mencium wangi wahyu Allah didalam martabah nabi Muhammad Saw tersebut. Kemudian Nabi Saw juga bisa mendengar rahasia yang terjaga secara terang-terangan, sebagaimana beliau dapat melihat dengan kedua mata beliau rahasia yang terjaga secara terang-terangan.

Kemudian, terkadang wahyu itu datang dengan cara dibawa oleh malaikat, ia mengabarkan firman Allah Swt kepada nabi Muhammad Saw. Wahyu ini adalah Al Qur’an. Terkadang wahyu itu datang dengan cara mendengarkan rahasia yang terjaga. Ini adalah tingkatan tertinggi dalam masalah wahyu, tidak ada tingkatan lagi di atasnya. Terkadang Wahyu datang dengan cara bertemu secara langsung, kondisi sadar diri dan tidak dapat disebutkan seluk-beluknya.

Didalamnya, Nabi Saw mendapatkan perintah Ilahi dari Allah Swt tanpa perantara.

Terkadang wahyu datang dengan cara ilga (memperdengarkan). Ilga ini disebut dengan nafts (bisikan hati), sesuai dengan sabda Nabi Saw,

أَنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ نَفَتَ فِي رَوْعِي أَنَّهُ لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، وَلا يَحْمِلَنَّكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَأْخُذُوهُ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُنَالُ مَا عِنْدَهُ إِلَّا بِطَاعَتِهِ.

“Sungguh Ruh Qudus (Jibril) membisikkan dalam hatiku, bahwa jiwa seseorang tidak akan mati hingga rezekinya sempurna. Maka, bertakwalah kepada Allah, dan perbaguslah cara untuk mendapatkannya. Jangan sampai datangnya suatu (rezeki) yang lamban mendorong kalian untuk mendapatkannya dengan cara bermaksiat kepada Allah, karena Allah tidak akan memberikan apa yang ada di sisi-Nya, kecuali dengan cara menaati-Nya.”

Terkadang wahyu itu datang dengan cara niyabah (dengan cara diwakilkan) sesuai hukum kedudukan diatas. Cara ini tidak dapat disebutkan karena jarang sekali terjadi.

Semua ragam tingkatan wahyu tersebut berdasarkan hadits qudsi, seperti sabda Nabi Saw terkait Sama (nama wanita) pada waktu Subuh,

هَلْ تَدْرُوْنَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا : اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: بِنَوْءٍ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ

“Tahukah kalian apa yang dikatakan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Diantara hamba-hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kufur kepada-Ku. Orang yang mengatakan, kami diberi hujan karena anugerah Allah dan rahmat-Nya, maka dia adalah orang yang beriman kepada-Ku dan kufur pada bintang-bintang. Sedangkan orang yang mengatakan, kami diberi hujan karena bintang ini dan itu, maka dia adalah orang yang kufur kepada-Ku dan beriman pada bintang-bintang.”

Juga seperti sabda Nabi Saw yang mengabarkan dari Allah Swt,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersamanya selama ia mengingat-Ku.”

Hadits-hadits qudsi semisal itu banyak dan itulah beragam tingkatan ma’rifat yang ada.

Kemudian, diantara bagian dari wahyu adalah wahyu yang diberikan dari faidhul maqam (anugerah sebuah maqam) yang menuntut adanya musyahadah (penyaksian secara langsung). Bagian ini ada yang diberikan melalui ilqa, yaitu ilham, pemiliknya tidak tahu darimana wahyu itu masuk kedalam dirinya. Hal ini diisyaratkan oleh firman Allah Swt,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَا دِنَاۤ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا
fa wajadaa ‘abdam min ‘ibaadinaaa aatainaahu rohmatam min ‘ingdinaa wa ‘allamnaahu mil ladunnaa ‘ilmaa

“lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 65)

Firman Allah Swt lainnya,

وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهٗ لَهَمَّتْ طَّآئِفَةٌ مِّنْهُمْ اَنْ يُّضِلُّوْكَ ۗ وَمَا يُضِلُّوْنَ اِلَّاۤ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَضُرُّوْنَكَ مِنْ شَيْءٍ ۗ وَاَ نْزَلَ اللّٰهُ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ وَا لْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ ۗ وَكَا نَ فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكَ عَظِيْمًا
walau laa fadhlullohi ‘alaika wa rohmatuhuu lahammath thooo-ifatum min-hum ay yudhilluuk, wa maa yudhilluuna illaaa angfusahum wa maa yadhurruunaka ming syaii, wa angzalallohu ‘alaikal-kitaaba wal-hikmata wa ‘allamaka maa lam takung ta’lam, wa kaana fadhlullohi ‘alaika ‘azhiimaa

“Dan kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu (Muhammad), tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka hanya menyesatkan dirinya sendiri, dan tidak membahayakanmu sedikit pun. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah) kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 113)

Firman Allah Swt lainnya,

عَلَّمَ الْاِ نْسَا نَ مَا لَمْ يَعْلَمْ 
‘allamal-ingsaana maa lam ya’lam

“Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-‘Alaq 96: Ayat 5)

Semua ayat-ayat diatas adalah hakikat ilqa melalui ilham. Ada pula firman Allah Swt,

وَاَ وْحَيْنَاۤ اِلٰۤى اُمِّ مُوْسٰۤى اَنْ اَرْضِعِيْهِ ۚ فَاِ ذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَاَ لْقِيْهِ فِى الْيَمِّ وَلَا تَخَا فِيْ وَلَا تَحْزَنِيْ ۚ اِنَّا رَآ دُّوْهُ اِلَيْكِ وَجٰعِلُوْهُ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ
wa auhainaaa ilaaa ummi muusaaa an ardhi’iih, fa izaa khifti ‘alaihi fa alqiihi fil-yammi wa laa takhoofii wa laa tahzanii, innaa rooodduuhu ilaiki wa jaa’iluuhu minal-mursaliin

“Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, “Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang Rasul.””
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 7)

Tetapi wahyu dari Allah Swt kepada ibu Musa lebih jelas daripada keterangan yang kami sebutkan diatas, karena masalah ini tidak dapat diketahui kecuali dengan merasakan secara langsung. Diantara bagian daripada ilham adalah firman Allah Swt,

وَاَ وْحٰى رَبُّكَ اِلَى النَّحْلِ اَنِ اتَّخِذِيْ مِنَ الْجِبَا لِ بُيُوْتًا وَّمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُوْنَ 
wa auhaa robbuka ilan-nahli anittakhizii minal-jibaali buyuutaw wa minasy-syajari wa mimmaa ya’risyuun

“Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia,”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 68), dan beberapa ayat lainnya.

Diantara bagian dari wahyu adalah, wahyu yang diberikan melalui nazhar (visual dalam martabah asma wa shifat dan apa yang berhak dimiliki oleh kalangan khawwash (orang-orang khusus). Dari martabah itu, ia mendapatkan anugerah Ilahi dan wahyu Rabbani. Dengannya ia dapat mengetahui hukum ghaib, penjelasan tentang perkara ilahiyyah dan yang lainnya.

Sedangkan kejadian yang dialami oleh nabi Adam As, walaupun secara zhahir kejadian tersebut menyelisihi (perintah Allah Swt), maka sebenarnya kejadian itu termasuk karamah paling besar bagi nabi Adam As secara batin. Allah Swt mengirimkan wahyu kepadanya, berupa kesempumaan ilmu dan ma’rifat terhadap Allah Swt, ragam pelajaran yang tersimpan didalamnya, ubudiyyah (penghambaan diri) dalam keadaan hina dan miskin, walaupun martabah-nya tinggi.

Karamah dalam kejadian tersebut adalah, ketika iblis laknatullah ‘alaih berusaha keras untuk menjatuhkan Adam As kedalam dosa, agar Adam As diusir oleh Allah Swt sebagaimana iblis diusir. Iblis berusaha semaksimal mungkin, maka Allah Swt menggelincirkan Adam untuk menyelisihi (perintah-Nya), agar iblis mengetahui bahwa kelebihan derajat Adam mengalahkan derajatnya. Dalam hal ini, seakan-akan Allah Swt berkata kepada iblis, “Jika kamu berusaha mengusimya dari sisi Kami dan menginginkan kehinaan bagi dirinya dengan menjauhkan dari Kami, maka sekali-kali kamu tidak akan bisa. Sesungguhnya ia adalah kekasih Kami dari seluruh ciptaan Kami. Karena ia Kami menciptakan seluruh semesta ini. Andai bukan karenanya, Kami tidak akan menciptakan semua ini. Maka, seluruh semesta, walaupun sebagiannya tampak lebih mulia dari dirinya, seperti para malaikat, sejatinya semua adalah pelayannya. Sungguh ia adalah permata semesta alam dan seluruh semesta tunduk kepadanya. Sesungguhnya sirr yang Kami titipkan dalam hakikatnya dan kanzal maknun (simpanan yang tertutup) yang Kami letakkan dalam hatinya, seandainya ia bermaksiat kepada Kami dengan kemaksiatan yang dilakukan seluruh alam, maka Kami tidak akan mengusirnya, tidak akan menjauhkannya dan tidak akan memurkainya. Kami mencintainya karena dzatnya dalam keadaan seperti apapun, baik taat ataupun bermaksiat. Apa yang telah menimpa dirinya, bukanlah aib baginya. Dalam kejadian itu, Kami memiliki rahasia yang tersimpan.” Karena itulah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَتَلَقّٰۤى اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَا بَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّا بُ الرَّحِيْمُ
fa talaqqooo aadamu mir robbihii kalimaating fa taaba ‘alaiih, innahuu huwat-tawwaabur-rohiim

“Kemudian, Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 37)

Lantaran rahasia yang tersimpan dalam batin Adam As, yang dengannya Allah Swt lebih mengutamakannya atas seluruh alam, meski ia terjerumus kedalam dosa dan kenikmatan surga pun menjauh darinya, bahkan hingga pakaian yang dikenakannya pun pergi dan terbang darinya, ia melihat datangnya ujian kepada dirinya, maka sedikit pun ia tidak bergeming dari tempat ubudiyyah. Justru, ia kembali dalam keadaan hina dan miskin kepada keagungan Allah Swt, merasa kecil karena kebesaran Allah Swt dan mengakui kekurangan dalam dirinya. maka Allah Swt pun berfirman kepadanya saat ia mengakui kekurangan diri, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَا رَبَّنَا ظَلَمْنَاۤ اَنْفُسَنَا وَاِ نْ لَّمْ تَغْفِرْ لَـنَا وَتَرْحَمْنَا لَـنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
qoolaa robbanaa zholamnaaa angfusana wa il lam taghfir lanaa wa tar-hamnaa lanakuunanna minal-khoosiriin

“Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 23)

Nabi Adam As tidaklah seperti musuh Allah, yaitu iblis, karena dalam batin iblis tidak ada rahasia yang tersimpan saat Rabbnya mengusir dari sisi-Nya, serta menghukumnya dengan mendapatkan laknat dan menjauhkannya, sehingga iblis tidak merasa hina dan miskin terhadap kebesaran dan keagungan Allah Swt. Justru, yang terlaknat itu kembali dalam keadaan mengagungkan dirinya sendiri karena marah terhadap Rabbnya dan menampakkan kekufurannya kepada Allah Swt, ia berkata dengan penuh amarah kepada Rabbnya,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُ غْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ 
qoola fa bi’izzatika la-ughwiyannahum ajma’iin

“(Iblis) menjawab, “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,”
(QS. Sad 38: Ayat 82). Iblis juga berkata,

قَا لَ فَبِمَاۤ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَ قْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَا طَكَ الْمُسْتَقِيْمَ 
qoola fa bimaaa aghwaitanii la-aq’udanna lahum shiroothokal-mustaqiim

“(Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus,”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 16)

ثُمَّ لَاٰ تِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَا نِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ ۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ
summa la-aatiyannahum mim baini aidiihim wa min kholfihim wa ‘an aimaanihim wa ‘ang syamaaa-ilihim, wa laa tajidu aksarohum syaakiriin

“kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 17)

Inilah puncak kekufuran iblis kepada Allah Swt. Tidak ada satupun dari semesta ini yang berbicara kepada Allah Swt dengan kalimat tersebut dan tidak ada seorang pun yang berani mencela Allah Swt dengan celaan tersebut. Hal itu menjelaskan tentang apa yang Allah Swt ciptakan dalam batin iblis, karena Allah Swt menjadikannya sebagai tempat keburukan, kehinaan, terusir, terlaknat dan terhalang. Allah Swt menjadikannya sebagai pemimpin yang ditaati bagi setiap orang yang diusir oleh Allah Swt dari pintu (ampunan)-Nya, dan menjauhkan dari sisi-Nya. Jawaban untuk perkataan iblis itu adalah apa yang Allah Swt sebutkan dalam firman-Nya,

قَا لَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُوْمًا مَّدْحُوْرًا ۗ لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَاَ مْلَــٴَــنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ اَجْمَعِيْنَ
qoolakhruj min-haa maz-uumam mad-huuroo, lamang tabi’aka min-hum la-amla-anna jahannama mingkum ajma’iin

“(Allah) berfirman, “Keluarlah kamu dari sana (surga) dalam keadaan terhina dan terusir! Sesungguhnya barang siapa di antara mereka ada yang mengikutimu, pasti akan Aku isi neraka Jahanam dengan kamu semua.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 18)

Demikianlah sisi karamah dalam kejadian yang menimpa nabi Adam As. Pelajaran dari kejadian tersebut sebagai berikut:

Pertama, menjadikan nabi Adam As sebagai panutan bagi keturunannya. Dalam kejadian ini, Allah Swt memberitahukan kepada mereka, bahwa barangsiapa yang kakinya tergelincir dalam menyelisihi perintah Rabbnya, kemudian ia kembali dalam keadaan bertobat, mengakui dosanya, maka ia akan mendapat ampunan dan penerimaan dari Rabbnya seketika itu pula.

Kedua, seorang kekasih dalam hadhrah ilahiyyah, walaupun ia dekat lagi terlindungi, maka ia tetap harus mendapatkan ujian dan cobaan dari Allah Swt, yang membuat anggota tubuhnya berguncang; zhahir dan bathin-nya merasakan sakit karenanya. Allah Swt ingin mengabarkan kepadanya, bahwa mau tidak mau ia harus merasakan semua itu, karena seorang kekasih jika hanya ingin mendapatkan dari Rabbnya sesuatu yang sesuai dengan keinginannya saja, maka pengakuan cintanya kepada Allah Swt adalah dusta. la mencintai-Nya karena ia mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya. Kebenaran cinta tidak akan tampak, hingga ia mendapatkan ujian yang cukup besar, kemudian sedikit pun hatinya tidak berpaling dari cinta kepada Rabbnya, sebagaimana yang dilantunkan oleh Ibrahim bin Adham Ra,

لَوْ قَطَعْتَنِي فِي الْحُبِّ إِرْنَا # لما حَنَّ الْفُؤَادُ إِلَى سِوَاكَ

“Seandainya Kau memutuskan keinginanku karena cinta, # maka hati ini tidak akan berpaling kepada selain-Mu.”

Dengan adanya ujian, kebenaran cinta dapat diketahui. Diriwayatkan dari Sari As-Saqathi Ra, bahwa seorang muridnya yang menemuinya pada suatu hari berkata: “Aku mendapati Sari As-Saqathi menangis. Aku bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis.” Ia menjawab, “Aku tidur beberapa jam, lalu aku melihat diriku di hadapan Al Haq Swt, Dia berkata kepadaku, ‘Hai Sari -atau sebagaimana yang dikatakan-Nya-, saat Aku menciptakan makhluk, mereka semua mengaku cinta kepada-Ku. Lalu Aku menciptakan dunia berikut perhiasan dan keindahannya, maka mereka semua lari kepadanya dan tidak tersisa kecuali hanya sepuluh persen. Ketika yang sepuluh persen itu masih tersisa, Aku berikan sedikit ujian kepada mereka, maka mereka semua lari dan tidak ada yang tersisa kecuali sepuluh persen darinya. Aku katakan kepada yang sepuluh persen itu, ‘Bukan dunia yang kalian inginkan, bukan surga yang kalian pilih dan bukan pula karena ujian kalian lari. Lantas, apa yang kalian inginkan?” Mereka menjawab, ‘Engkau lebih tahu apa yang kami inginkan’. Aku katakan kepada mereka, ‘Aku akan memberikan ujian kepada kalian sejumlah helaan nafas kalian, apakah kalian akan sabar?’ Mereka menjawab, ‘Jika Engkau yang memberikan ujian itu, maka lakukanlah sesuai kehendak-Mu’. Aku berkata, ‘Kalian adalah hamba-hamba-Ku yang sebenarnya’.”

Demikianlah ujian dalam cinta. Kebenarannya tidak dapat diketahui, kecuali tetap bertahan meski mendapatkan banyak ujian.

Seorang ulama besar berkata kepada seorang wali yang mengeluhkan kehidupannya yang sulit dan terasa sempit karena cinta kepada Allah Swt, ia berkata, “Dunia terasa sempit bagiku, namun aku tidak mendapati cara untuk mati -atau sebagaimana yang dikatakannya-.” Ulama besar itu berkata kepadanya, “Apakah kau merasakan cinta Allah Swt.?” Ia menjawab, “lya.” Ulama besar itu berkata, “Apakah kau telah mendapatkan ujian yang tidak bisa ditanggung oleh gunung dan sedikitpun kamu tidak berharap ujian itu bisa berkurang dari dirimu?” la menjawab, “Tidak.” Ulama besar itu berkata, “Jangan berharap kamu dapat mencintai (Allah), sementara kamu tidak pernah mencium aromanya.” Demikianlah cara untuk mengetahui kebenaran cinta dalam hadhrah.

Ketiga, tidak ada yang bisa aman dari makar Allah Swt, walaupun seorang hamba telah mencapai tingkatan ishthafa wal ijtiba (para kekasih pilihan Allah). Tidak ada jaminan keamanan bagi dirinya dari makar Allah Swt, sebagaimana kejadian yang menimpa nabi Adam As. Ketika nabi Adam As mendapatkan ujian yang dialaminya, yaitu saat Allah Swt mengeluarkannya dari surga, ia menangis selama seratus tahun, ia dalam kondisi sempit, sedih dan sakit yang mendalam, hingga para malaikat memperbincangkan kegundahannya, kemudian mereka mengatakan, “Apa yang menimpa orang miskin ini (Adam)?” Padahal, Allah Swt telah memerintahkan mereka untuk sujud kepadanya.

Demikianlah faedah dari kejadian yang menimpa pada nabi Adam As. Secara zhahir adalah dosa dan menyelisihi perintah Allah, namun secara bathin berupa ma’rifat kepada Allah Swt dan dapat memahami perintah-Nya adalah perkara yang sangat besar.

Ketahuilah, bahwa Sayyidina Adam As telah diberi kekuatan ilahiyyah yang tidak dapat diperkirakan kebesarannya. Dengan kekuatan itu, ia mampu memikul beban kenabian dan khilafah. Ia memiliki kekuatan dari dua sisi, yaitu kekuatan ruh dan kekuatan jasad. Ruhnya mendapatkan kekuatan dari dua tempat:

Pertama, saat Allah Swt menciptakannya dari sucinya kesucian nur Ilahi. Kemudian Allah Swt meletakkan didalamnya seluruh nama dan sifat-Nya berikut dengan asrar dan anwar dari seluruh nama dan sifat-Nya. Inilah kekuatan yang pertama untuk ruhnya.

Kedua, kekuatannya sesuai dengan firman Allah Swt kepada para malaikat,

فَاِ ذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ
fa izaa sawwaituhuu wa nafakhtu fiihi mir ruuhii faqo’uu lahuu saajidiin

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 29)

Tiupan ruh ini juga dapat memberikan kesempurnaan kekuatan Ilahi dalam dirinya.

Sedangkan jasadnya yang mulia juga mendapatkan kekuatan ilahiyyah dari dua tempat:

Pertama, dari tanah. Tanah itu mendengar perkataan Al Bari Swt saat mengatakan kepada langit dan bumi,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ اسْتَـوٰۤى اِلَى السَّمَآءِ وَهِيَ دُخَا نٌ فَقَا لَ لَهَا وَلِلْاَ رْضِ ائْتِيَا طَوْعًا اَوْ كَرْهًا ۗ قَا لَتَاۤ اَتَيْنَا طَآئِعِيْنَ
summastawaaa ilas-samaaa-i wa hiya dukhoonung fa qoola lahaa wa lil-ardhi-tiyaa thou’an au karhaa, qoolataaa atainaa thooo-i’iin

“Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan patuh.””
(QS. Fussilat 41: Ayat 11)

Kedua, dari air. Air itu mendengar perkataan Al Bari Swt saat ingin menciptakan langit dan bumi, Dia memerintahkan air, maka ia bergelombang selama seribu huqub (masa yang sangat lama), dalam setiap huqub terdapat seribu abad, dalam setiap abad terdapat seribu tahun, dalam setiap tahun terdapat seribu bulan, dalam setiap bulan terdapat seribu hari, dalam setiap hari terdapat seribu jam, setiap jam seusia dunia tujuh puluh ribu kali lipat. Kemudian dalam masa tersebut, dari gelombang itu berkumpulah buih seperti bukit yang berada di atas air, lalu dikumpulkan di Ka’bah yang ada saat ini. Kemudian Allah Swt menghamparkan buih tersebut di atas permukaan air dan merubahnya menjadi tanah. Inilah hamparan yang disebutkan oleh Allah Swt dalam firman-Nya,

وَا لْاَ رْضَ بَعْدَ ذٰلِكَ دَحٰٮهَا 
wal-ardho ba’da zaalika dahaahaa

“Dan setelah itu bumi Dia hamparkan.”
(QS. An-Nazi’at 79: Ayat 30)

Maksudnya, Dia hamparkan di atas permukaan air. Kemudian Allah Swt mengeluarkan asap dari buih tersebut, lalu darinya Dia menciptakan langit.

Karena air mendengarkan kalam Allah Swt, ia pun mendapatkan kekuatan ilahiyyah, sehingga ia sanggup bergelombang dalam masa tersebut, tanpa merasa lemah, letih dan bosan. Dari dua kekuatan inilah, jasad Adam As. terbentuk. Hingga ia memiliki empat kekuatan ilahiyyah, dua ada dalam ruhnya dan dua lagi ada dalam jasadnya. Dan dengan kekuatan ini Adam As mendapatkan kesempurnaan ilahiyyah. Lalu, ia menjaga adab hadhrah ilahiyyah dan kekuatan untuk memikulnya dalam negeri kenabian dan khilafah.

Setelah Adam As memiliki kesempurnaan ilahiyyah ini, saat ia harus pergi, terusir dan jauh dari Allah Swt karena mengikuti perintah-Nya, maka ia kembali dengan berdiam diri di pintu (ampunan) Maula-nya dalam keadaan hina dan kecil karena kemuliaan, keagungan dan kebesaran Allah Swt. Ketika Adam As terus menjaga adab ini, maka keluarlah jawaban dari hadhrah ilahiyyah,

فَتَلَقّٰۤى اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَا بَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّا بُ الرَّحِيْمُ
fa talaqqooo aadamu mir robbihii kalimaating fa taaba ‘alaiih, innahuu huwat-tawwaabur-rohiim

“Kemudian, Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 37)

Adam As mendapatkan semua itu, karena ia telah diberikan kesempurnaan ilahiyyah dari sisi jasad dan ruhnya. Sebab itu pulalah, Allah Swt mengajarkan kepada Adam nama-nama semua ciptaan yang menjadi pusat semesta ini. Kemudian Allah Swt memerintah para malaikat untuk sujud kepadanya dan memberikan kepadanya keistimewaan yang tidak diberikan kepada selainnya dari semua ciptaan. Nabi Saw bersabda,

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الخَلْقَ فَاخْتَارَ مِنَ الْخَلْقِ بَنِي آدَمَ وَاخْتَارَ مِنْ بَنِي آدَمَ الْعَرَبِ وَاخْتَارَ مِنَ الْعَرَبِ مُضَرِّ وَاخْتَارَ مِنْ مُضَرٌ قُرَيْشًا وَاخْتَارَ مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ وَاخْتَارَنِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ، فَأَنَا مِنْ خِيَارٍ إِلَى خِيَارٍ، فَمَنْ أَحَبَّ الْعَرَبَ فَبِحُيِّ أُحِبُّهُمْ وَمَنْ أَبْغَضَ الْعَرَبَ فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ.

“Sungguh Allah menciptakan makhluk, kemudian Dia pilih Adam dari makhluk yang ada, lalu Dia pilih bangsa Arab dari Anak keturunan Adam, kemudian Dia pilih Mudhar dari bangsa Arab, lalu Dia pilih kabilah Quraisy dari Mudhar, kemudian Dia pilih Bani Hasyim dari Quraisy, lalu Dia memilihku dari Bani Hasyim, maka aku berasal dari ketururan orang-orang pilihan menuju orang-orang pilihan yang baik. Maka barangsiapa yang mencintai Arab, aku cintai mereka dengan kecintaanku dan orang yang membencinya, maka aku benci mereka dengan kebencianku.”

Sedangkan iblis yang terlaknat itu, walaupun ia termasuk hamba yang paling ta’at, namun ia menyia-nyiakan adab hadhrah ilahiyyah dan sibuk membanggakan dirinya sendiri, sehingga inilah jawaban saat Allah Swt bertanya kepadanya,

قَا لَ يٰۤـاِبْلِيْسُ مَا مَنَعَكَ اَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۗ اَسْتَكْبَرْتَ اَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَا لِيْنَ
qoola yaaa ibliisu maa mana’aka ang tasjuda limaa kholaqtu biyadayy, astakbarta am kungta minal-‘aaliin

“(Allah) berfirman, “Wahai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku (kekuasaan-Ku). Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?””
(QS. Sad 38: Ayat 75)

Iblis yang terlaknat itu menjawab dengan membanggakan dirinya serta melupakan adab terhadap Rabbnya dengan mengatakan,

قَا لَ اَنَاۡ خَيْرٌ مِّنْهُ ۗ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّا رٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ
qoola ana khoirum min-hu kholaqtanii min naariw wa kholaqtahuu ming thiin

“(Iblis) berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.””
(QS. Sad 38: Ayat 76). Maka, jawabannya dari hadhrah ilahiyyah,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ فَا خْرُجْ مِنْهَا فَاِ نَّكَ رَجِيْمٌ 
qoola fakhruj min-haa fa innaka rojiim

“(Allah) berfirman, “Kalau begitu keluarlah kamu dari surga! Sesungguhnya kamu adalah makhluk yang terkutuk.”
(QS. Sad 38: Ayat 77)

وَّاِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِيْۤ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ
wa inna ‘alaika la’natiii ilaa yaumid-diin

“Dan sungguh, kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari Pembalasan.””
(QS. Sad 38: Ayat 78)

Keduanya; baik Adam maupun iblis berjalan sesuai dengan asal mula materinya. Adam materinya adalah tanah, yaitu komposisi antara debu dan air. Allah Swt memberikan keistimewaan kepada tanah berupa akhlak mulia, hal ini lantaran penderitaan sangat pedih yang diterima tanah dari makhluk, baik dengan cara mereka melemparkan najis padanya atau perbuatan licik dan adab yang jelek yang dilakukan diatas tanah terhadap Allah Swt dengan cara mengagungkan diri sendiri dan sombong. Diantara hikmah kejadiannya ini adalah, tanah bisa saja marah dan melemparkan mereka yang berada di atasnya lantaran dosa mereka terhadap Allah Swt atau bisa membenamkan mereka atau mengguncang mereka dengan gempa yang dapat membinasakan mereka semua. Namun, nyatanya tanah tidak melakukan hal tersebut meskipun sedikit, justru tanah malah menumbuhkan untuk mereka rezeki yang banyak, kenikmatan yang berlimpah, kebaikan yang besar dan pemberian yang tiada henti, tidak ada seorang pun yang sanggup menghitung jasa tanah, dimana usaha yang mereka lakukan tidak akan bisa ditandingi. Demikianlah sifat tanah yang mulia.

Sedangkan air, maka dengannya hiduplah semesta ini. Air-lah yang menjadi materi keberadaannya, karenanya terciptalah makhluk yang berada di semesta bagian bawah, semuanya tercipta dari air dan dengannyalah kehidupan mereka semua diberi batasan waktu. Setiap makhluk hidup karena air dan karenanyalah muncul ragam kebaikan yang ada di bumi, sebab air dan tanah termasuk bukti dari kasih sayang ilahiyyah sesuai dengan apa yang telah disebutkan tentang keduanya (air dan tanah).

Adapun api yang menjadi asal muasal iblis yang terlaknat itu, Allah Swt menjadikannya bagian dari murka-Nya. Didalamnyalah Dia ber-tajalli dengan sifat memaksa-Nya, menyiksa dimana siksaan-Nya sangatlah pedih. Makhluk tidak mengambil manfaat dari api, kecuali hanya sedikit, seperti memasak, karena di dalamnya hanya ada sedikit bagian dari rahmat. Itu sangat sedikit sekali jika dibandingkan dengan fungsi api yang digunakan untuk merusak. Karena kekuatan tersebutlah, api mengagungkan dirinya sendiri.

Oleh karena itu, ketika Allah Swt berbicara kepadanya pada hari Kiamat, dengan firman-Nya,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَوْمَ نَـقُوْلُ لِجَهَـنَّمَ هَلِ امْتَلَـئْتِ وَتَقُوْلُ هَلْ مِنْ مَّزِيْدٍ
yauma naquulu lijahannama halimtala-ti wa taquulu hal mim maziid

“(lngatlah) pada hari (ketika) Kami bertanya kepada Jahanam “Apakah kamu sudah penuh?” la menjawab, “Masih adakah tambahan?””
(QS. Qaf 50: Ayat 30)

Ia melupakan adab kepada Allah Swt dan kembali meminta untuk menghancurkan makhluk dengan jawabannya, “Masih adakah tambahan lagi? la ingin menghancurkan makhluk. Jawabannya sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadits,

هَلِ امْتَلأْتِ؟ وَتَقُولُ : هَلْ مِنْ مَزِيدٍ حَتَّى يَضَعَ الْجَبَّارُ قَدَمَهُ عَلَيْهَا، فَتَقُولُ : قَطِ قَطِ

“Neraka itu senantiasa mengatakan, masih adakah tambahan lagi, masih adakah tambahan lagi? Hingga Al Jabbar meletakkan kaki-Nya di dalamnya, maka ia pun berkata, ‘cukup, cukup.”

Peminjaman kata “kaki” (majaz isti’arah) dalam tajalli ini, karena saat itulah Allah Swt terakhir ber-tajalli dengan kekuasaan memaksa-Nya, setelahnya tidak tersisa lagi kecuali rahmat yang murni. Karena saat itu, neraka akan merasa hina dan rendah diri, sehingga Dia menghadapinya dengan kakuasaan keagungan-Nya.

Ilmu yang ada dibalik ini tidak dapat tersingkap, karena ia termasuk ilmu yang terpelihara, tidak dapat disingkap oleh orang yang mengetahuinya. Ketika iblis yang terlaknat tercipta dari materi api, maka ia pun kosong dari rahmat ilahiyyah, kecuali hanya bagian yang sedikit, maka demikian pula dengan iblis yang terlaknat, ia menanggalkan hukum-hukum adab bersama Allah Swt, lalu ia kembali (kepada-Nya) dengan membanggakan diri sebagaimana materi penciptaannya, yaitu api.

Jika engkau bertanya; kalian mengatakan bahwa air dan tanah mendapatkan kekuatan ilahiyyah lantaran mendengarkan ucapan Allah Swt kepada keduanya. Demikian pula dengan iblis yang terlaknat dan api, mereka berdua mendengarkan ucapan Allah Swt, lantas kenapa mereka berdua tidak mendapatkan kekuatan ilahiyyah?

Jawaban untuk perkara ini: Allah Swt mengatakan kepada air dan tanah dengan ucapan ta’zhim (pengagungan), mahabbah (kecintaan) dan takrim (pemuliaan), sehingga Dia memposisikan keduanya untuk ber-khidmah kepada-Nya sebagai wujud cinta Al Makhdum (Allah) kepada khadim, karena mereka berdua telah mendengarkan ucapan Allah Swt dengan perintah untuk ber-khidmah. Lalu, mereka berdua pun menjawab dan ta’at.

Sedangkan kepada iblis yang terlaknat dan api, maka Dia mengatakan kepada mereka berdua dengan ucapan karahiyah (ketidaksukaan) dan ihanah (merendahkan). Dia hanya bertanya kepada mereka berdua, tidak mengeluarkan perintah hingga keduanya mendapatkan kemuliaan khidmah. Pertanyaan-Nya tidak memberikan kekuatan dan adab kepada mereka berdua, sehingga jawaban mereka sebagaimana yang engkau dengar sendiri. Kekuatan yang telah disebutkan terkait dengan Adam As, maka dengannyalah Adam As dapat memikul amanah kenabian dan khilafah.

Jika engkau telah mengetahui hal ini, engkau juga akan mengetahui bahwa wanita tidak akan mendapatkan bagian dari kenabian dan khilafah, karena mereka lemah untuk memikul amanah dari hadhrah ilahiyyah, sebab jasad wanita tercipta dari tulang rusuk Adam As, disamping bentuknya yang bengkok.

Wanita bukan berasal dari tanah dan air secara murni, karena ia berasal dari tanah dan air melalui perantara, sehingga kekuatan itu hilang. Sedangkan ruhnya diciptakan lantaran Adam As sebagai bentuk kasih sayang dan pertolongan baginya, sehingga wanita tidak dianugerahi kekuatan untuk memikul amanah dari hadhrah ilahiyyah. Dengan ini, engkau dapat mengetahui batilnya pernyataan yang menyatakan bahwa Maryam dan ibu Musa adalah nabi.

Jika engkau bertanya; jika memang demikian kenapa Isa As dijadikan sebagai nabi, padahal ia diciptakan dari air (mani) perempuan saja. Bagaimana ia mampu memikul amanah dari hadhrah ilahiyyah?

Jawaban untuk perkara ini: Kekuatan dzukuriah (laki-laki) sempurna dalam diri nabi Isa As, sebab Ruhul Amin (Jibril) meniup rahim ibunya. Tiupan itu sebagai pengganti dari Allah Swt, yang membawa perintah ilahi, sehingga tidak ada pilihan lain bagi ruh. Dalam tiupan itu, kesempurnaan kekuatan ilahiyyah mengalir kepadanya sebagaimana ia mengalir kepada nabi Adam As. Oleh Karena itu, diantara keduanya memiliki kesamaan sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Swt,

اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَ ۗ خَلَقَهٗ مِنْ تُرَا بٍ ثُمَّ قَا لَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
inna masala ‘iisaa ‘ingdallohi kamasali aadam, kholaqohuu ming turoobing summa qoola lahuu kung fa yakuun

“Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) ‘Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 59)

Dengan kekuatan ilahiyyah yang Allah titipkan pada semua laki-laki inilah, maka laki-laki bisa memikul amanah dari hadhrah ilahiyyah, mampu menanggung berbagai macam kesulitan, menghadapi berbagai masalah yang rumit, sabar, dan mampu menanggung berbagai cobaan demi mencapai tujuan dan martabah (suatu kedudukan di sisi Allah), serta mampu menanggung berbagai kesulitan demi menjemput nafkah untuk istri dan anak-anak mereka.

Diantara kekuatan yang dimaksud diatas adalah, kemampuan mengatur kerajaan di muka bumi dan mengatasi berbagai permasalahannya, mampu menanggung beban pembiayaannya, menghadapi kesulitan dan peperangan, menelan pengalaman pahit dan yang lainnya, berupa tanggung jawab yang tidak bisa ditanggung oleh wanita. Tidaklah ada di alam semesta ini, kecuali sisi hadhrah ilahiyyah itu nampak dalam zhahir dan bathin semua yang ada. Maka seluruh semesta ini adalah hadhrah-nya Allah Swt. Sedangkan beban hadhrah ilahiyyah, maksudnya adalah apa yang telah kami sebutkan sebelumnya, berupa kekuatan laki-laki dalam menanggung, serta kesabaran mereka dalam menghadapi permasalahan, tidak mengenal putus asa hingga berharap kematian datang menjemput mereka.

Sedangkan wanita sangat lemah untuk menghadapi semua ini. Oleh karena itu, engkau kerap melihat laki-laki akan diam saja, tidak bergeming, saat mereka terlempar kedalam semudera penderitaan, tidak berteriak, tidak mengeluh dan tidak pula berbicara sepatah katapun. Sedangkan wanita, saat mendapatkan sedikit penderitaan saja, maka engkau akan lihat mereka menangis, berteriak dan putus asa.

Dengan demikian maka engkau kini telah mengetahui perbedaan kekuatan yang ada pada laki-laki dan wanita. Adam As berkata kepada Hawa ketika mendengar Habil anaknya meninggal dibunuh oleh Qabil, “Si Habil mati,” Hawa menimpali, “Apa makna kematian itu?,” Adam As menjawabnya, “Yaitu dia tidak lagi makan, tidak lagi bisa minum dan tidak bisa bergerak (sebagaimana ini dibahasakan oleh Adam As),” maka Hawa sontak berteriak histeris karena musibah yang terjadi itu. Hal ini terjadi karena ia tidak mampu memikul cobaan tersebut.

Adam As lalu berkata kepadanya, “Untukmu dan anak-anak perempuanmu. Sedangkan aku dan anak-anakku (yang laki-laki) terbebas darinya.” Adam As mengatakan demikian, karena ia mengetahui tentang sifat laki-laki dan perempuan sebagaimana yang telah kami sebutkan diatas, yaitu ada dan tidak adanya kekuatan ilahiyyah. Ia mengetahui kematian Habil sebelum terjadi, namun ia tidak bersedih, tidak berteriak dan tidak pula gelisah. Maka, tampak jelas kekuatan laki-laki daripada kekuatan perempuan.

Jika ada yang berkata; apa yang telah baginda sebutkan tentang kekuatan bagi laki-laki itu tidak benar, karena Allah Swt berfirman,

يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْاِ نْسَا نُ ضَعِيْفًا
yuriidullohu ay yukhoffifa ‘angkum, wa khuliqol-ingsaanu dho’iifaa

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 28).

Dia juga berfirman,

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً ۗ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ ۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ
allohullazii kholaqokum ming dho’fing summa ja’ala mim ba’di dho’fing quwwatang summa ja’ala mim ba’di quwwating dho’faw wa syaibah, yakhluqu maa yasyaaa, wa huwal-‘aliimul-qodiir

“Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa.”
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 54)

Dia juga berfirman,

اَلْئٰـنَ خَفَّفَ اللّٰهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ اَنَّ فِيْكُمْ ضَعْفًا ۗ فَاِ نْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ مِّائَةٌ صَا بِرَةٌ يَّغْلِبُوْا مِائَتَيْنِ ۚ وَاِ نْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ اَلْفٌ يَّغْلِبُوْۤا اَلْفَيْنِ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَ اللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
al-aana khoffafallohu ‘angkum wa ‘alima anna fiikum dho’faa, fa iy yakum mingkum mi-atung shoobirotuy yaghlibuu mi-ataiin, wa iy yakum mingkum alfuy yaghlibuuu alfaini bi-iznillaah, wallohu ma’ash-shoobiriin

“Sekarang Allah telah meringankan kamu karena Dia mengetahui bahwa ada kelemahan padamu. Maka, jika di antara kamu ada seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh); dan jika di antara kamu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 66)

Jawaban untuk perkara ini: Ketahuilah bahwa apa yang disebutkan Allah Swt tentang sifat lemah pada diri manusia itu tidak menafikan kekuatan tersebut. Sifat lemah yang Allah Swt sebutkan itu adalah kelemahan pada jasad, yaitu zhahir manusia saja. Tidaklah Allah Swt menyebutkan tentang manusia kecuali dari segi jasadnya saja. Dan tidaklah Dia menyebutnya dari segi ruh kecuali mengisyaratkan dengan firman-Nya,

وَيَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ ۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَاۤ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
wa yas-aluunaka ‘anir-ruuh, qulir-ruuhu min amri robbii wa maaa uutiitum minal-‘ilmi illaa qoliilaa

“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.””
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 85). Dan juga dalam firman-Nya,

اِنَّا خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ مِنْ نُّطْفَةٍ اَمْشَا جٍ ۖ نَّبْتَلِيْهِ فَجَعَلْنٰهُ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا
innaa kholaqnal-ingsaana min nuthfatin amsyaajin nabtaliihi fa ja’alnaahu samii’am bashiiroo

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”
(QS. Al-Insan 76: Ayat 2). Yang dimaksud disini adalah jasad, bukan ruh. Dan firman-Nya,

خَلَقَ الْاِ نْسَا نَ مِنْ عَلَقٍ 
kholaqol-ingsaana min ‘alaq

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”
(QS. Al-‘Alaq 96: Ayat 2)

Yang dimaksud disini adalah jasad. Dan firman-Nya,

يٰۤـاَيُّهَا النَّا سُ اِنْ كُنْـتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّنَ الْبَـعْثِ فَاِ نَّـا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَا بٍ ثُمَّ مِنْ نُّـطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَّغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّـنُبَيِّنَ لَـكُمْ ۗ وَنُقِرُّ فِى الْاَ رْحَا مِ مَا نَشَآءُ اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوْۤا اَشُدَّكُمْ ۚ وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّتَوَفّٰى وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرَدُّ اِلٰۤى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـئًـا ۗ وَتَرَى الْاَ رْضَ هَا مِدَةً فَاِ ذَاۤ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَآءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَاَ نْۢبَـتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍۢ بَهِيْجٍ
yaaa ayyuhan-naasu ing kungtum fii roibim minal-ba’si fa innaa kholaqnaakum ming turoobing summa min nuthfating summa min ‘alaqoting summa mim mudhghotim mukhollaqotiw wa ghoiri mukhollaqotil linubayyina lakum, wa nuqirru fil-ar-haami maa nasyaaa-u ilaaa ajalim musammang summa nukhrijukum thiflang summa litablughuuu asyuddakum, wa mingkum may yutawaffaa wa mingkum may yuroddu ilaaa arzalil-‘umuri likai laa ya’lama mim ba’di ‘ilming syai-aa, wa tarol-ardho haamidatang fa izaaa angzalnaa ‘alaihal-maaa-ahtazzat wa robat wa ambatat ming kulli zaujim bahiij

“Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) Kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna agar Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah.”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 5)

Yang dimaksud semua ayat di atas adalah jasad. Jika manusia memiliki kekuatan air dan tanah, maka keduanya tidak abadi, karena keduanya akan binasa pada hari Kiamat. Maka, kekuatan keduanya tidaklah abadi. Oleh karena itu, engkau melihat jasad manusia akan melemah dalam hidupnya dan akan berubah dalam beberapa kondisi, mulai dari bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, kuhul (usia antara 30-50), tua renta, dan sampai pada usia yang paling lemah. Kekuatannya tidak akan abadi sebagaimana kekuatan air dan tanah.

Sedangkan ruh manusia, maka ia bersumber dari kesucian nur ilahiyyah yang berupa kemurnian dari hadhrah ilahiyyah. Ia memiliki kekuatan tanpa batas. Kekuatan itu akan selalu ada dan tidak akan sirna.

Jika engkau bertanya; apabila perempuan terbatasi dengan sifat lemah sebagaimana yang kalian sebutkan, lalu bagaimana Sayyidah Fatimah Az-Zahra Ra mampu memikul beban khilafah ilahiyyah?

Jawaban untuk perkara ini: Dalam ruh sayyidah Fatimah Ra terdapat kekuatan yang berbeda, tidak seperti kekuatan perempuan pada umumnya. Disamping itu, jasad sayyidah Fatimah Ra terbuat dari surga dan surga semuanya memiliki kekuatan yang luar biasa, karena ia adalah tempat tajalli bagi Allah Swt, Dia pun memberikan kekuatan-Nya yang sempurna, sehingga apapun yang terbuat darinya akan memiliki kekuatan yang luar biasa dan abadi untuk tajalliyat Ilahiyyah. Jasad sayyidah Fatimah Ra itu terbuat darinya, karena air maninya terbuat dari buah-buahan surga, sehingga ia mendapatkan kekuatan ilahiyyah dalam ruh dan jasadnya, yang tidak dimiliki perempuan lainnya. Oleh karena itu, Fatimah Ra mampu memikul beban khilafah ilahiyyah. Kami telah membahasnya dengan panjang lebar dalam beberapa jawaban, siapa yang ingin mengetahuinya, maka pelajarilah.

Tentang kenabian Adam As, maka ini dapat dipahami dari makna yang tersirat dalam beberapa ayat dan bukan pada makna yang tersurat. Diantaranya adalah, apa yang diriwayatkan oleh nabi Muhammad Saw dalam sebuah hadits, bahwa beliau bersabda,

إِنَّ سَيِّدَنَا أَدَمَ نَزَلَتْ عَلَيْهِ صَحِيفَةَ الْحُرُوفِ وَفِيهَا تِسْعَةٌ وَعِشْرُوْنَ حَرْفًا، قَالَ لَهُ بَعْضُ الصَّحَابَةِ : إِنَّهَا ثَمَانِيَةٌ وَعِشْرُونَ، قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ تِسْعَةٌ وَ عِشْرُوْنَ، قَالَ الصَّحَابِى بِلَامِ الْأَلِفِ؟ قَالَ لَهُ: نَعَمْ, يَعْنِي أَنَّ لام الأَلِفِ مُرَكَّبٌ مِنْ حَرْفَيْنِ

“Sungguh telah diturunkan lembaran huruf-huruf kepada Adam As, yang didalamnya terdiri dari dua puluh sembilan huruf.” Sebagian sahabat berkata, “Sungguh itu hanya dua puluh delapan huruf.” Nabi Saw bersabda, “Bahkan ada dua puluh sembilan,” Seorang sahabat menimpali, “Apakah termasuk Lam Alif?” Beliau bersabda, “lya, maksudnya bahwa huruf Lam Alif itu terdiri dari dua huruf.”

Dalil kenabian Adam As juga diambil dari kata khilafah (pengganti), karena orang yang dijadikan pengganti oleh Al Haq Swt harus memiliki sifat yang menjadikannya pengganti (Allah Swt), yaitu memiliki nama-nama kauniah dan ilahiyyah, dengannya semesta ini menjadi teratur, sebagaimana firman Allah Swt,

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَ سْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰٓئِكَةِ فَقَا لَ اَنْبِۢـئُوْنِيْ بِاَ سْمَآءِ هٰۤؤُلَآ ءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
wa ‘allama aadamal-asmaaa-a kullahaa summa ‘arodhohum ‘alal-malaaa-ikati fa qoola ambi-uunii bi-asmaaa-i haaa-ulaaa-i ing kungtum shoodiqiin

“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 31)

Pengetahuan Adam As terhadap nama-nama tersebut adalah cabang dari maqam Shiddiqiyyah. Tetapi, cabang ini lebih tinggi daripada yang memiliki cabang. Maqam shiddiqiyyah tidak akan ada kecuali dari hukum-hukum taklif dan adabnya, walaupun akal dapat menembusnya tanpa melalui hal ini, namun hikmah zhahir menyatakan bahwa maqam shiddiqiyyah tidak akan ada kecuali dari hukum-hukum taklif. Sedangkan hukum-hukum taklif tidak akan muncul, kecuali dari khabar kenabian dan khabar kenabian tidak akan ada kecuali dari Allah Swt kepada sebagian nabi-Nya atau dari seorang nabi kepada sebagian pengikutnya. Sedangkan Sayyidina Adam As. memiliki semua yang telah disebutkan, berupa khilafah dan shiddiqiyyah. Sebelumnya tidak ada nabi, kemudian dialah yang menjadi nabi.

Demikian pula dengan firman Allah Swt,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْنَا اهْبِطُوْا مِنْهَا جَمِيْعًا ۚ فَاِ مَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِـعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
qulnahbithuu min-haa jamii’aa, fa immaa ya-tiyannakum minnii hudang fa mang tabi’a hudaaya fa laa khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun

“Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 38)

Sebab, hidayah itu tidak akan ada, kecuali dari Allah Swt kepada orang yang dikehendaki-Nya mendapatkan hidayah. Hidayah ini tidak diberikan, kecuali kepada nabi atau pewaris nabi. Sedangkan Sayyidina Adam As bukanlah pewaris nabi, sehingga dialah yang menjadi seorang nabi.

Kemudian kami kembali membahas macam-macam wahyu dan perinciannya, lalu kami katakan:

Ketahuilah bahwa wahyu secara nazhar (visual) dalam pembagian dan kesempurnaannya dapat diketahui melalui kesempurnaan usaha para nabi dalam mencari kebenaran dan ketepatan dalam memutuskan hukum sesuai dengan perintah Allah Swt. Mereka tidak membedakan macam-macam wahyu yang telah kami sebutkan. Barangsiapa yang melakukan demikian, maka keputusan hukumnya sesuai dengan hukum Allah Swt secara bathin, karena ia mengambil keputusan dari Allah Swt, dengan cara apapun ia mengambilnya dari macam-macam wahyu. Kesalahan dalam memutuskan hukum tidak akan terjadi kecuali karena karakter basyariah telah mencemari cahaya akal, meracuninya dengan keinginan hawa dan menyimpang dari jalan yang telah disebutkan oleh Nabi Saw dalam hadits Ibnu Mas’ud Ra saat beliau bersabda kepadanya ketika Allah Swt menurunkan ayat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاَ نَّ هٰذَا صِرَا طِيْ مُسْتَقِيْمًا فَا تَّبِعُوْهُ ۚ وَلَا تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۗ ذٰ لِكُمْ وَصّٰٮكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
wa anna haazaa shiroothii mustaqiimang fattabi’uuh, wa laa tattabi’us-subula fa tafarroqo bikum ‘ang sabiilih, zaalikum washshookum bihii la’allakum tattaquun

“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 153)

Ibnu Mas’ud Ra. berkata: Rasulullah Saw membuat garis yang lurus, kemudian beliau bersabda, “Ini adalah jalan yang lurus.” Kemudian beliau membuat garis kecil lagi tipis di sekitarnya, -atau sebagaimana yang dikatakannya-, kemudian beliau bersabda, “Ini adalah jalan-jalan yang Allah larang (untuk melalui)nya.”

Garis-garis kecil itu berada di sekitar garis yang lurus.

Dalam bahasa disebut “anak jalan”, ia juga jalan tapi samar. Kemudian dalam hadits tersebut, Nabi Saw bersabda,

عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ

“Setiap jalan darinya (jalan-jalan yang kecil itu) ada setan yang mengajak kepadanya.”

Barangsiapa yang terbebas darinya, maka ia akan mengetahui keputusan Allah Swt dalam beberapa kasus dengan dorongan ilahi dan cahaya rabbani. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَتَّقُوا اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّـكُمْ فُرْقَا نًا وَّيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ۗ وَ اللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu ing tattaqulloha yaj’al lakum furqoonaw wa yukaffir ‘angkum sayyi-aatikum wa yaghfir lakum, wallohu zul-fadhlil-‘azhiim

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 29)

Furqan yang disebutkan oleh Allah Swt adalah cahaya yang dianugerahkan kepada orang yang dicintai dari makhluk-Nya. Dengan cahaya inilah, Dia menampakkan kepadanya gambaran yang hak dan yang batil. Apabila orang-orang yang memiliki cahaya ini telah mendapatkan inayah ilahiyyah, setiap kali ia melihat sebuah masalah dengan hukum Allah Swt, maka secara batin masalah itu akan tampak diliputi dengan cahaya yang sangat besar. Melalui cahaya tersebut, ia akan tahu bahwa masalah itu wajib. Jika cahaya yang meliputinya lemah, ia akan tahu bahwa masalah itu sunah. Namun, jika ia melihatnya diliputi kegelapan yang tebal, maka ia akan tahu bahwa masalah itu haram. Jika ia melihatnya diliputi kegelapan yang tipis, maka ia akan tahu bahwa masalah itu makruh. Tapi, jika ia tidak melihat cahaya dan tidak pula kegelapan padanya, maka ia akan tahu bahwa masalah itu mubah. Anugerah ini hanya dimiliki orang-orang yang telah dibukakan perkara ghaib kepada mereka, tidak ada harapan untuk selain mereka.

Jika engkau telah mengetahui masalah ini, engkau akan mengetahui usaha Rasulullah Saw dalam semua masalah, yang tidak seperti usaha manusia lainnya. Saat Rasulullah Saw mengambil keputusan dan perintah dari ragam wahyu, -yaitu macam-macam wahyu yang telah kami sebutkan-, maka beliau mengambil keputusan dari Allah Swt, sehingga perkara ini tidak akan didatangi oleh kebatilan, baik dari depan maupun dari belakang. Bagaimana mungkin Rasulullah Saw tidak akan memutuskan, sementara ia adalah kuputusan Allah Swt?. Beliau tidak akan melakukan kesalahan, lupa dan kesesatan dari berbagai sisi. Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْعُوا الرَّسُوْلَ ۚ فَاِ نْ تَوَلَّوْا فَاِ نَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَّا حُمِّلْتُمْ ۗ وَاِ نْ تُطِيْعُوْهُ تَهْتَدُوْا ۗ وَمَا عَلَى الرَّسُوْلِ اِلَّا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ
qul athii’ulloha wa athii’ur-rosuul, fa ing tawallau fa innamaa ‘alaihi maa hummila wa ‘alaikum maa hummiltum, wa ing tuthii’uuhu tahtaduu, wa maa ‘alar-rosuuli illal-balaaghul-mubiin

“Katakanlah, “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban rasul (Muhammad) itu hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu hanyalah apa yang dibebankan kepadamu. Jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Kewajiban rasul hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas.””
(QS. An-Nur 24: Ayat 54)

Maka, seluruh keputusan dan tindakan Nabi Saw sesuai dengan petunjuk wahyu. Didalamnya tidak ada sedikitpun pengaruh hawa dan karakter basyariah yang dapat mengeluarkan dari kebenaran. Demikian pula dengan selain Nabi Saw dari seluruh nabi dan rasul dalam masalah ini.

Kemudian, ketahuilah bahwa saat nabi Muhammad Saw sampai kepada authanil qurbi wa tamkin (posisi yang paling dekat dengan Allah Swt) dari hadirat Allah Swt, yang tidak ada harapan untuk hal tersebut bagi selain beliau, didalamnya beliau berdiri dengan kesempurnaan adab dan ragam tugas ber-khidmah pada setiap perkara yang muncul dari hadhrah ilahiyyah berupa asrar, tawaqqu’at (prediksi kejadian) dan tajalliyat dalam ilmu zhahir dan bathin, serta bathin-nya hadhrah Ilahiyyah, maka beliau tidak lemah pada semua perkara itu walau hanya sekejap mata, beliau tidak akan melakukan kekeliruan dalam menyempurnakan hak dari ragam hak tajalliyat. Setiap yang muncul dari sisi tajalliyat, sebanyak apapun dan tanpa batas sekalipun, nabi Muhammad Saw akan menunaikan haknya dari sifat ubudiyyah tanpa cacat, tanpa lemah dan kurang dari batas kesempurnaan.

Derajat manusia sesuai dengan apa yang mereka perbuat; baik berupa kebaikan atau keburukan, menolak, atau menarik, memberi atau mencegah, menggerakkan atau mendiamkan, atau berbagai macam perbuatan yang telah diketahui oleh masyarakat umum dalam gerakan zhahir, dan apa yang diperbuat dalam gerakan batin, berupa keinginan, khayalan, salah sangka, getaran hati dan pikiran.

Semua itu adalah sisi tajalli Allah Swt melalui ragam sifat dan nama-Nya. Tidak ada satupun dari apa yang pernah engkau dengar dapat menandingi Rasulullah Saw selama-lamanya dalam kesempurnaan beliau menunaikan hak pada seluruh tajalliyat dan menyempurnakan adabnya. Semua itu, beliau lakukan karena Allah dan dengan Allah. Oleh karena itu, Allah Swt membebaskan beliau dari hawa sesuai dengan firman-Nya,

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى )

“Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginannya. Tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. An-Najm [53]: 3-4).

Menurut ahli zhahir, bentuknya wahyu hanyalah berupa datangnya malaikat dari sisi Allah Swt dengan membawa khabar kepada para nabi. Mereka tidak mengetahui wahyu selain ini. Dengan demikian mereka tidak dapat mengungkap makna-makna tersirat dalam ayat diatas. Mereka tidak dapat memahaminya dengan benar. Sebenarnya, wahyu yang diterima Rasulullah Saw sesuai dengan macam-macam wahyu yang telah kami sebutkan. Sebab, Allah Swt membersihkan Rasulullah Saw dari kekurangan, cela, cacat, noda dan aib dalam setiap apa yang diwajibkan kepada beliau. Wahyu tidak akan diberikan kepada orang yang tidak dikehendaki untuk mendapatkannya, kecuali Allah Swt memberitahukan kepadanya bahwa perkara ini demikian dan demikian, sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah Swt. Inilah wahyu yang sebenarnya, dan orang yang mendapatkan wahyu ini tidak akan melenceng dari perintah Allah Swt.

Kemudian kami akan mencantumkan beberapa sanggahan dalam masalah ini yang datang dari orang yang tidak mengetahuinya dengan benar:

Pertama, penyanggah mengatakan, apabila setiap sesuatu yang datang dari Rasulullah Saw adalah wahyu, lantas kenapa ada kejadian yang menimpa beliau saat beliau mengutus Khubaib dan para sahabatnya untuk pergi kepada sekelompok kaum yang ingin mendalami agama Islam. Mereka meminta Rasulullah Saw untuk mengutus orang yang dapat mengajarkan agama kepada mereka. Maka, Rasulullah Saw pun mengutus Khubaib, ‘Ashim bin Tsabit, dan Ibnu Abi Aflah kepada mereka. Ketika utusan itu sampai di negeri mereka, mereka menampakkan kekufuran dan membunuh para utusan tadi, kecuali Khubaib. Mereka menjualnya kepada kaum Quraisy, lalu kaum Quraisy pun membunuhnya. Seandainya semua ini diatur oleh wahyu, maka tragedi tersebut tidak akan terjadi!

Jawaban kami untuk sanggahan Ini: Ketahuilah bahwa dalam hal ini Rasulullah Saw menjalankan perintah Allah Swt yang ada pada firman-Nya,

يأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ

“Wahai Rasul sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu.” (Qs. Al Ma`idah [5]: 67). Dan firman-Nya, وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ

“Dan Kami turunkan Azd-Dzikr (Al Qur’an) kepadamu, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (Qs. An-Nahl [16]: 44).

Dalam hal ini Nabi Saw mengamalkan wahyu di atas. Sedangkan ketidaktahuan Nabi Saw akan terjadinya tragedi tersebut karena memang Allah Swt tidak memberitahukan kepada beliau kejadian yang akan menimpa para sahabat beliau, sebab Allah Swt tidak harus mengabarkan kepada makhluk-Nya -saat Dia menurunkan sebuah perintah- tentang semua kejadian yang akan dihadapi mereka. Dia hanya menyuruh mereka untuk menjalankan perintah-Nya, walaupun akibatnya mereka akan binasa. Tidak ada yang salah bagi-Nya dalam hal ini, karena Dia hanya menyuruh para hamba-Nya untuk menunaikan perintah-Nya agar Dia menyempurnakan pahala mereka dan menjauhkan mereka dari adzab-Nya pada negeri akhirat.

Sedangkan masalah musibah dunia, Allah Swt tidak mengabarkan kepada mereka dalam perintah-Nya, bahwa mereka tidak akan mendapatkan musibah saat mereka menjalankan perintah-Nya. Allah Swt tidak akan dimintai pertanggungan jawab atas apa yang dilakukan-Nya. Para rasul pun ada yang mati dibunuh oleh umatnya sendiri. Ia tidak berhak menyalahkan Rabbnya dalam hal ini dengan mengatakan, “Kenapa Engkau mengutusku kepada mereka, sedangkan Engkau tahu bahwa mereka akan membunuhku? Seandainya aku mengetahuinya, tentu aku tidak akan pergi kepada mereka.” la tidak berhak menyalahkan Allah Swt dengan mengatakan itu. Akan tetapi, semua itu adalah ujian yang didapatkannya saat menjalankan perintah, sehingga pahalanya ditanggung oleh Allah Swt. Ia tidak boleh menentang Rabbnya. Demikianlah jawaban terhadap sanggahan di atas.

Kedua, penyanggah mengatakan misalnya, apa pendapatmu tentang perintah Nabi Saw dalam mengutus sahabat yang ada di daerah Bi’ri Ma’unah untuk menyampaikan kepada penduduk Najed tentang risalah dan hukum-hukum beliau, serta mengajak mereka untuk memeluk agama Islam. Yang mendorong Nabi Saw untuk melakukan hal itu adalah Abu Bara` Al ‘Amiri saat ia mengatakan kepada beliau, “Aku yang akan melindungi mereka,” karena ia berkata kepada Nabi Saw, “Hai Muhammad, jika engkau mengutus para sahabatmu kepada penduduk Najed untuk mengajak mereka kepada agamamu, maka aku berharap mereka dapat memenuhi ajakanmu itu.” Nabi Saw bersabda kepadanya, “Aku khawatir penduduk Nejed akan mencelakakan mereka.” Abu Bara berkata, “Aku yang akan melindungi mereka.”

Maka, Nabi Saw pun mengutus mereka. Lalu penduduk Najed membunuh mereka, kecuali ‘Amr bin Umayyah Adh-Dhamri Ra. Ia dibebaskan oleh musuh Allah yang bernama ‘Amir bin Thufail. Awalnya, Amir ingin membunuh ‘Amr karena mengira ia adalah orang Anshar. ‘Amr Ra berkata kepadanya, “Aku bukan orang Anshar tetapi aku dari bani Mudhar.” Musuh Allah itu berkata, “Ibuku bernadzar untuk memerdekakan keturunan Ismail. Jika benar kamu dari bani Mudhar, maka kamu merdeka.” Lalu iapun memerdekakan ‘Amr untuk menunaikan nadzar ibunya. Tidak ada seorang pun dari utusan itu yang selamat, selain ‘Amr bin Umayyah Adh-Dhamri Ra.

Ketika Amr sampai kepada Nabi Saw, ia mengabarkan kepada beliau bahwa para sahabatnya dibunuh. Nabi Saw bersabda, “Ini gara-gara dorongan Abu Bara kepadaku. Sebenamya, aku tidak mau mengutus mereka.” Batin Nabi Saw merasa sakit karena kejadian tersebut.

Lalu penyanggah itu mengatakan, jika benar semua ini berasal dari wahyu, maka kejadian itu tidak akan menimpa mereka dan beliau tidak akan mengatakan, “Sebenarnya, aku tidak mau mengutus mereka.”

Jawaban kami untuk sanggahan ini: Ketahuilah bahwa dzauq (daya rasa) yang dimiliki oleh ‘Arif billah terkait makhluk, mereka melihat makhluk bagaikan fatamorgana. Tidak ada yang memiliki wujud seluruhnya, kecuali Allah Swt, Dia ber-tajalli dengan bentuk dan nama-nama makhluk tersebut. Oleh karena itu, tidak ada yang lain, kecuali ragam nama dan sifat-Nya. Maka, perwujudan yang nampak adalah gambaran bentuk makhluk. Bentuk dan nama-nama makhluk secara zhahir adalah bentuk yang lain. Ini adalah maqam ahli hijab, yaitu orang-orang yang ter-hijab oleh sisi zhahir makhluk, sehingga dia tidak dapat melihat Al Haq Swt didalamnya.

Adapun tingkatan Ash-Shiddiqin, mereka melihat bahwa semesta hanyalah kelihatannya saja, sedangkan zhahir yang murni adalah wujud keberadaan Allah semata dalam segala sesuatunya. Jika engkau lihat apa yang tampak dari bentuk makhluk; kondisinya berbeda-beda, bentuknya bermacam-macam dan perkaranya beragam; ada yang tercela dan ada yang terpuji, maka itu semua tidak lain adalah tajalli Al Haq Swt dengan kesibukan-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَسْئَـلُهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِيْ شَأْنٍ 
yas-aluhuu mang fis-samaawaati wal-ardh, kulla yaumin huwa fii sya-n

“Apa yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.”
(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 29)

Wujud kesibukan terhadap makhluk adalah tajalli Allah Swt di dalamnya dengan berbagai macam bentuk.

Lalu penyanggah itu mengatakan lagi misalnya, jika benar ini perkara Ash-Shiddiqin, lantas kenapa masih ada istilah “Ini musuh Allah dan itu kekasih-Nya”, “Ini dipuji oleh Allah dan itu dicela oleh-Nya”, “Ini mendapatkan banyak kebaikan dan itu mendapatkan kehancuran dan keburukan”. Padahal, Al Haq Swt hanya satu, tidak tergantikan dan tidak berbilang, lalu kenapa Ash-Shiddiqin masih melihat keadaan makhluk yang beragam itu?

Jawaban untuk perkara ini: Ketahuilah bahwa seorang Ash-Shiddiq, bahkan setiap Shiddiqin, mendapatkan pengetahuan yang pasti dari Allah Swt melalui wahyu. Allah Swt memberikan berbagai macam pengetahuan kepadanya dan memberitahukan hakikatnya. Seakan Allah Swt berfirman, “Aku adalah Dzat Yang Maha Esa lagi Maha Benar. Tidak ada sesuatu pun selain Aku, dan Aku ber-tajalli dalam setiap martabat dengan bentuk yang Aku kehendaki, baik yang sesuai dengan keinginan (manusia) atau yang menyelisihinya.” Lalu seakan Dia juga berfirman kepada setiap Shiddiqin, “Sesungguhnya tajalliKu dalam diri si fulan itu untukmu. Aku tidak memberikan kepadamu darinya, kecuali dengan bentuk mahabbah (kecintaan) dan anugerah berbagai macam kebaikan darinya, serta Aku mengutamakanmu melebihi dirinya. Demikian pula dalam bani fulan, Aku tidak ber-tajalli untukmu dalam diri mereka, kecuali dengan bentuk mahabbah (kecintaan), nikmat dan memberikan berbagai macam kebaikan.

Demikian pula dalam sebuah negeri itu, Aku tidak ber-tajalli di dalamnya, kecuali dengan bentuk mahabbah, ta’zhim dan pengagungan. Tidak ada selain Aku. Mereka hanyalah bentuk gambar, tidak ada apa-apa didalamnya. Maka, pujilah Aku dan bersyukurlah kepada-Ku atas semua itu. Dan si fulan -misalnya, Aku tidak ber-tajalli kepadamu dalam dirinya, kecuali dengan bentuk permusuhan yang mumi, keburukan yang sangat, pemaksaan dan pembunuhan. Maka, takutlah kepada-Ku. Berhati-hatilah kepada-Ku di dalamnya. Jangan pernah merasa aman dari makar-Ku. Karena dalam bentuk itu, Aku tidak akan berbuat untukmu, kecuali keburukan dan engkau tidak akan melihat-Ku kecuali keburukan.

Demikian pula dalam bani fulan, engkau tidak akan melihat-Ku dalam diri mereka kecuali keburukan, kebinasaan dan bahaya. Demikian pula dalam negeri itu, engkau tidak akan melihat-Ku didalamnya, kecuali hina, nista, rendah dan papa. Dalam diri mereka, Engkau tidak akan melihat-Ku dengan apa yang engkau sukai. Maka, takutlah dan berhati-hatilah kepada-Ku dalam diri mereka semua. Jangan merasa aman dari makar-Ku. Jadilah orang yang sangat berhati-hati kepada-Ku dalam diri mereka, karena tidak ada selain Aku dalam diri mereka. Aku akan ber-tajalli dalam diri mereka dengan bentuk yang Aku kehendaki. Jika engkau merasa aman dari makar-Ku didalamnya, maka Aku akan membinasakanmu. Mintalah keselamatan kepada-Ku dalam aturan kerajaan-Ku dan mintalah keselamatan dari kehendak-Ku. Karena engkau hanyalah seorang hamba yang terkekang dibawah keputusan dan kehendak-Ku.

Walaupun engkau mencapai tingkatan yang paling tinggi di sisi-Ku, engkau tetap hamba-Ku, tidak akan pernah bisa keluar dari tingkatan penghambaan diri. Sebagaimana Aku adalah Tuhan yang sempurna, tidak ada seorang pun yang dapat mendebat-Ku dalam sisi uluhiyyah. Engkau, hai Shiddiq, tidak bisa protes dengan mengatakan, ‘Aku mencintai-Mu dan aku menaati perintah-Mu, lantas kenapa Engkau memperlakukan aku dengan buruk dalam bentuk makhluk. Engkau tidak boleh melakukan itu, karena Aku adalah Tuhan, Aku akan melakukan apa saja yang Aku kehendaki dan memutuskan apa saja yang Aku inginkan, baik para hamba rela ataupun benci. Wahai para hamba, kalian tidak dapat melakukan apapun selain rela dan pasrah. Kalian tidak dapat menghalangi tajalli-Ku dalam makhluk-Ku. Maka, jadikanlah semua ini berada dalam tujuan kalian.”

Demikianlah yang dialami oleh para Ash-Shiddiqin. Dalam setiap kali melihat yang wujud, mereka tidak melihat -tanpa pikir panjang kecuali Al Haq Swt. Dialah yang melakukan itu dan ber-tajalli dengannya. Mereka mengambil ilmu dari Allah Swt dalam setiap tingkatan makhluk; baik zhahir dan bathin.

Jika engkau telah mengetahui apa yang dirasakan oleh para Shiddiqin, maka ketahuilah bahwa Nabi Saw tenggelam dalam lautan tersebut. Tidak ada seorang nabi dan rasul pun yang merasakan kecuali hanya setetes dari lautan itu.

Ketahuilah, jika dilihat dari sisi Abu Bara Al Amiri, saat Nabi Saw diperintah dengan perintah yang jelas, yaitu dengan firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ۗ وَاِ نْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسٰلَـتَهٗ ۗ وَا للّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّا سِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْـكٰفِرِيْنَ
yaaa ayyuhar-rosuulu balligh maaa ungzila ilaika mir robbik, wa il lam taf’al fa maa ballaghta risaalatah, wallohu ya’shimuka minan-naas, innalloha laa yahdil-qoumal-kaafiriin

“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 67), maka beliau tengah menyampaikan perintah itu, dan saat Abu Bara meminta beliau untuk mengutus para sahabatnya kepada penduduk Najed dengan harapan mereka beriman kepada beliau, beliau bersabda, “Aku khawatir penduduk Najed akan mencelakakan mereka.” Pada saat itu, tidak terlintas dalam pikiran Nabi Saw kecuali Allah Swt ber-tajalli dalam diri mereka dengan keburukan. Karenanya Nabi Saw bersabda, “Aku khawatir penduduk Najed akan mencelakakan mereka.” Sebab beliau sebagaimana yang telah kami sebutkan tentang hakikat Ash Shiddiq, bahwa pengetahuan qath’i (yang pasti) dalam diri beliau datang dari Allah Swt, yaitu “Aku (Allah) tidak akan ber-tajalli kepadamu dalam diri penduduk Najed kecuali dengan keburukan. Maka, takutlah dan waspadalah terhadap-Ku dalam diri mereka. Jangan pernah merasa aman dari makar Ku dalam diri mereka.”

Lantas, ketika Abu Bara menyampaikan kepada Nabi Saw dengan mengatakan, “Aku yang akan melindungi mereka,” sementara Abu Bara adalah satu dari ragam kedudukan Allah dan beliau mendengar perkataan Allah di dalamnya, “Aku yang akan melindungi mereka,” setelah Allah Swt memberitahukan kepada beliau bahwa Dia tidak akan melakukan kecuali keburukan dalam diri mereka, maka Nabi Saw mempercayai perkataan Abu Bara’. Kepercayaan beliau kepadanya termasuk husnuzh-zhan (prasangka baik) beliau terhadap Allah Swt. Beliau mengira dengan perkataan itu, bahwa beliau akan terlindungi dari rasa khawatir yang telah Allah Swt sampaikan sebelumnya.

Sebelumnya, Nabi Saw tidak mau mengutus mereka bersama Abu Bara`, karena beliau memiliki pengetahuan dari Allah Swt bahwa Dia tidak akan ber-tajalli kepada beliau dalam diri mereka kecuali dengan bentuk keburukan. Karena pengetahuan yang dimiliki beliau inilah, Nabi Saw bersabda terakhir, “Aku tidak mau mengutus mereka.” Ketidakmauan Nabi Saw itu karena pengetahuan beliau tersebut. Namun, ketika beliau mendengar perkataan Abu Bara dan perkataan itu tidak lain adalah khithab Allah Swt, wahyu yang sharih (yang jelas), yaitu pemberian ilmu dari Allah Swt kepada bashirah seorang Ash-Shiddiq dalam melihat ragam gambaran dibeberapa kedudukan yang ada, maka saat Nabi Saw ber-husnuzh-zhan kepada Allah Swt lantaran apa yang didengar dari Abu Bara dan menyangka bahwa kekhawatiran yang dikabarkan dari Allah Swt itu akan dihilangkan dan berakhir dengan kebaikan, namun sangkaan beliau itu meleset dan yang terjadi sesuai dengan apa yang dikhawatirkan oleh beliau sebelumnya.

Kemudian Nabi Saw menyalahkan Abu Bara secara zhahir, beliau tidak menyalahkan Allah Swt demi menjaga adab dan menghormati pengetahuan ilahiyyah secara bathin, karena semua itu tidak akan terjadi, kecuali atas izin Allah Swt. Sedangkan wahyu dalam masalah ini sebagaimana yang telah kami sebutkan. Keputusan dalam mengirimkan para sahabat itu juga berdasarkan wahyu yang diberikan kepada beliau ketika beliau mengambil pengetahuan dari Allah Swt terkait kedudukan Abu Bara dan menyangka bahwa yang dikhawatirkan beliau sebelumnya tidak akan terjadi. Maka, beliau tidak keluar dari tuntunan wahyu.

Penyanggah itu juga menyampaikan masalah ghanimah perang Badar, ketika para sahabat berebut untuk mendapatkannya. Padahal, sebelumnya tidak ada wahyu Ilahi yang menghalalkannya. Lalu Allah Swt menurunkan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَوْلَا كِتٰبٌ مِّنَ اللّٰهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيْمَاۤ اَخَذْتُمْ عَذَا بٌ عَظِيْمٌ
lau laa kitaabum minallohi sabaqo lamassakum fiimaaa akhoztum ‘azaabun ‘azhiim

“Sekiranya tidak ada ketetapan terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena (tebusan) yang kamu ambil.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 68)

Seandainya pengambilan ghanimah itu berdasarkan wahyu ilahiyyah, maka ayat ini tidak akan turun?

Jawaban untuk perkara ini: Ketahuilah bahwa Nabi Swt mendapatkan ilmu dari Allah Swt secara i’tiqad (keyakinan), bukan tashrih (kalimat yang jelas). Saat Allah Swt memerintah beliau untuk memerangi orang-orang musyrik dan mempersempit ruang gerak mereka, maka beliau mengira bahwa Allah Swt juga membolehkan beliau untuk mengambil harta mereka. Karena jika beliau tidak memerangi mereka untuk mengambil harta mereka, maka peperangan tidak akan pernah terjadi, sebab dalam peperangan beliau membutuhkan pedang, senjata, kuda dan tunggangan untuk membawa para tentara dan perbekalan. Semua ini tidak akan terpenuhi, kecuali dengan mengambil harta mereka. Maka, Nabi Saw mengira dengan adanya izin untuk melakukan peperangan, juga diizinkan untuk mengambil harta mereka. Jika tidak demikian, maka beliau tidak akan mampu melakukan peperangan. Inilah keyakinan Nabi Saw dalam menghalalkan ghanimah.

Kemudian keyakinan dan prasangka Nabi Saw semakin kuat dalam menghalalkan ghanimah lantaran apa yang diambil oleh para sahabat beliau, yaitu unta ‘Amr bin Al Hadhrami, unta itu milik kaum Quraisy. Mereka mengambil unta itu sebelum perang Badar, kemudian membagi harta dari hasil penjualannya. Dalam hal ini, mereka tidak mendengar larangan dan mereka juga tidak binasa karenanya. Maka, keyakinan Nabi Saw dalam menghalalkan ghanimah semakin kuat. Lalu ketika mereka melakukan apa yang mereka lakukan dalam perang Badar, Allah Swt menurunkan ancaman, menakut-nakuti, memberatkan dan berita yang menyulitkan tentang ghanimah dengan firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَوْلَا كِتٰبٌ مِّنَ اللّٰهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيْمَاۤ اَخَذْتُمْ عَذَا بٌ عَظِيْمٌ
lau laa kitaabum minallohi sabaqo lamassakum fiimaaa akhoztum ‘azaabun ‘azhiim

“Sekiranya tidak ada ketetapan terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena (tebusan) yang kamu ambil.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 68). Demikianlah jawaban dalam masalah ini.

Yang termasuk kedalam konteks pembahasan kita, penyanggah mengatakan -misalnya-, Nabi Saw memohonkan ampunan untuk ‘Abdullah bin Ubay. Lalu Allah Swt menurunkan ayat tentangnya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِسْتَغْفِرْ لَهُمْ اَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ ۗ اِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً فَلَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَهُمْ ۗ ذٰلِكَ بِاَ نَّهُمْ كَفَرُوْا بِا للّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ۗ وَا للّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ
istaghfir lahum au laa tastaghfir lahum, ing tastaghfir lahum sab’iina marrotang fa lay yaghfirollohu lahum, zaalika bi-annahum kafaruu billaahi wa rosuulih, wallohu laa yahdil-qoumal-faasiqiin

“(Sama saja) engkau (Muhammad) memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak memohonkan ampunan bagi mereka. Walaupun engkau memohonkan ampunan bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu karena mereka ingkar (kafir) kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 80)

Dalam hal ini, Nabi Saw juga bersabda,

لَوْ عَلِمْتُ أَنِّي إِنْ زِدْتُ عَلَى السَّبْعِيْنَ غُفِرَ لَهُ لَزِدْتُ عَلَيْهَا.

“Andai aku tahu jika aku menambahnya lebih dari tujuh puluh kali ia akan diampuni, tentu aku akan menambahnya.” Penyanggah mengatakan, jika benar perkataan Nabi Saw berdasarkan wahyu, maka Allah Swt tidak akan menurunkan larangan tersebut!.

Jawaban untuk perkara ini: Perlu diketahui bahwa ilmu Nabi Saw dalam hal ini bersumber dari wahyu Ilahi. Sedangkan wahyu yang dijadikan dasar untuk melakukan apa yang telah dilakukan beliau adalah firman Allah Swt,

وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ
wa maaa arsalnaaka illaa rohmatal lil-‘aalamiin

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107)

Firman Allah Swt kepada Nabi Saw,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِا لْعُرْفِ وَاَ عْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ
khuzil-‘afwa wa-mur bil-‘urfi wa a’ridh ‘anil-jaahiliin

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 199)

Firman Allah Swt lainnya kepada Nabi Saw tentang orang-orang Yahudi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِّيْثَا قَهُمْ لَعَنّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوْبَهُمْ قٰسِيَةً ۚ يُحَرِّفُوْنَ الْـكَلِمَ عَنْ مَّوَا ضِعِهٖ ۙ وَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهٖ ۚ وَلَا تَزَا لُ تَطَّلِعُ عَلٰى خَآئِنَةٍ مِّنْهُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ فَا عْفُ عَنْهُمْ وَا صْفَحْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
fa bimaa naqdhihim miisaaqohum la’annaahum wa ja’alnaa quluubahum qoosiyah, yuharrifuunal-kalima ‘am mawaadhi’ihii wa nasuu hazhzhom mimmaa zukkiruu bih, wa laa tazaalu taththoli’u ‘alaa khooo-inatim min-hum illaa qoliilam min-hum fa’fu ‘an-hum washfah, innalloha yuhibbul-muhsiniin

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 13)

Firman Allah Swt lainnya kepada Nabi Saw,

قُلْ لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يَغْفِرُوْا لِلَّذِيْنَ لَا يَرْجُوْنَ اَيَّا مَ اللّٰهِ لِيَجْزِيَ قَوْمًا بِۢمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ
qul lillaziina aamanuu yaghfiruu lillaziina laa yarjuuna ayyaamallohi liyajziya qoumam bimaa kaanuu yaksibuun

“Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang yang beriman, hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah, karena Dia akan membalas suatu kaum sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 14)

Firman Allah Swt lainnya kepada Nabi Saw saat menyebutkan orang yang telah dipersiapkan surga, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَا لْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَا لْعَا فِيْنَ عَنِ النَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ 
allaziina yungfiquuna fis-sarrooo-i wadh-dhorrooo-i wal-kaazhimiinal-ghoizho wal-‘aafiina ‘anin-naas, wallohu yuhibbul-muhsiniin

“(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 134)

Berdasarkan ayat-ayat inilah, nabi Muhammad Saw berinteraksi dengan manusia dengan sikap rahmat, mengasihi, memaafkan, berbuat baik, tidak membalas kesalahan-kesalahan mereka serta memohonkan ampunan atas dosa-dosa mereka.

Perbuatan Nabi Saw tersebut berdasarkan wahyu, karena dalam ayat-ayat tersebut Allah Swt memerintah beliau agar memiliki sifat rahmat, mengasihi, memaafkan, berbuat baik dan akhlak-akhlak ilahiyyah yang mulia lainnya. Oleh karena itu, Nabi Saw memohonkan ampunan untuk Ibnu Ubai sebagai bentuk pengamalan terhadap apa yang diperintahkan Allah Swt kepada beliau. Nabi Saw melakukan hal itu berdasarkan wahyu, yaitu ayat-ayat yang telah kami sebutkan sebelumnya.

Lantas kemudian jika ada yang bertanya; jika benar apa yang dilakukan Nabi Saw dalam masalah ini berdasarkan wahyu, lalu kenapa Allah Swt mengabarkan apa yang telah engkau dengar sendiri, bahkan Allah Swt sampai berfirman kepada beliau,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تُصَلِّ عَلٰۤى اَحَدٍ مِّنْهُمْ مَّا تَ اَبَدًا وَّلَا تَقُمْ عَلٰى قَبْرِهٖ ۗ اِنَّهُمْ كَفَرُوْا بِا للّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَمَا تُوْا وَهُمْ فٰسِقُوْنَ
wa laa tusholli ‘alaaa ahadim min-hum maata abadaw wa laa taqum ‘alaa qobrih, innahum kafaruu billaahi wa rosuulihii wa maatuu wa hum faasiquun

“Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan sholat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 84)

Jawaban untuk perkara ini: Ketahuilah bahwa perbuatan Nabi Saw yang pertama itu berdasarkan tuntunan ayat-ayat yang engkau dengar sendiri sebelumnya. Perintah itu bersifat universal untuk seluruh cabang-cabang perkara tersebut. Nah, masalah ini termasuk salah satu cabangnya.

Allah Swt me-nasakh (menghapus) hukum tersebut dalam masalah ini, kemudian Allah Swt menggantinya dengan hukum yang lain, lalu hukum-hukum itu berlaku untuk seluruh cabang yang ada kecuali dalam cabang ini. Jadi, hukumnya hanya di-nasakh dalam masalah ini saja. Tidak ada larangan bagi Allah Swt untuk me-nasakh hukum dan mengangkatnya setelah penetapannya dalam beberapa hukum yang dikehendaki-Nya.

Diantara sanggahan yang disampaikan oleh penyang–gah adalah firman Allah Swt,

عَفَا اللّٰهُ عَنْكَ ۚ لِمَ اَذِنْتَ لَهُمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَتَعْلَمَ الْـكٰذِبِيْنَ
‘afallohu ‘angk, lima azingta lahum hattaa yatabayyana lakallaziina shodaquu wa ta’lamal-kaazibiin

“Allah memaafkanmu (Muhammad). Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar (berhalangan) dan sebelum engkau mengetahui orang-orang yang berdusta?”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 43)

Jika benar perbuatan Rasulullah Saw berdasarkan wahyu, maka Allah Swt tidak akan menyalahkan beliau dan Allah Swt tidak akan mengabarkan tentang ampunan terkait dengan apa yang telah dilakukan beliau.

Jawaban untuk perkara ini: Perlu diketahui bahwa orang-orang yang diberi izin oleh Rasulullah Saw untuk tidak ikut berperang dalam perang Tabuk adalah orang yang datang kepada beliau untuk menyampaikan alasannya tidak ikut berperang dalam perang tersebut, beliau pun menerima alasannya sebagai bentuk pengamalan terhadap firman Allah Swt,

وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ
wa maaa arsalnaaka illaa rohmatal lil-‘aalamiin

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107)

Swt, Juga sebagai bentuk pengamalan terhadap firman Allah,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَا نْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَا عْفُ عَنْهُمْ وَا سْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَ مْرِ ۚ فَاِ ذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
fa bimaa rohmatim minallohi lingta lahum, walau kungta fazhzhon gholiizhol-qolbi langfadhdhuu min haulika fa’fu ‘an-hum wastaghfir lahum wa syaawir-hum fil-amr, fa izaa ‘azamta fa tawakkal ‘alalloh, innalloha yuhibbul-mutawakkiliin

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 159)

Nabi Saw memberi izin kepada orang yang telah diberi izin itu karena berpedoman pada ayat-ayat tersebut agar memberi maaf kepada mereka, mentolerir mereka sebab alasan yang mereka ajukan dan menghilangkan beban yang mereka keluhkan. Semua itu merupakan usaha Nabi Saw untuk bersikap dengan rahmat ilahiyyah yang telah diperintahkan kepada beliau, sebagaimana Allah Swt berfirman,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَـقَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِا لْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
laqod jaaa-akum rosuulum min angfusikum ‘aziizun ‘alaihi maa ‘anittum hariishun ‘alaikum bil-mu-miniina ro-uufur rohiim

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 128)

Demikianlah sikap Nabi Saw dalam berpedoman pada wahyu Allah Swt.

Kemudian ketika semakin banyak orang yang bermain-main dalam menyampaikan keluhan, padahal mereka tidak menanggung beban apapun, sampai-sampai Allah Swt berfirman tentang keadaan mereka,

لَوْ كَا نَ عَرَضًا قَرِيْبًا وَّسَفَرًا قَا صِدًا لَّا تَّبَعُوْكَ وَلٰـكِنْۢ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ ۗ وَسَيَحْلِفُوْنَ بِا للّٰهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَـرَجْنَا مَعَكُمْ ۚ يُهْلِكُوْنَ اَنْفُسَهُمْ ۚ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ اِنَّهُمْ لَـكٰذِبُوْنَ
lau kaana ‘arodhong qoriibaw wa safarong qooshidal lattaba’uuka wa laakim ba’udat ‘alaihimusy-syuqqoh, wa sayahlifuuna billaahi lawistatho’naa lakhorojnaa ma’akum, yuhlikuuna angfusahum, wallohu ya’lamu innahum lakaazibuun

“Sekiranya (yang kamu serukan kepada mereka) ada keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jikalau kami sanggup niscaya kami berangkat bersamamu.” Mereka membinasakan diri sendiri dan Allah mengetahui bahwa mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 42)

Kemudian Allah Swt menampakkan rahasia mereka dengan firman-Nya,

لَوْ كَا نَ عَرَضًا قَرِيْبًا وَّسَفَرًا قَا صِدًا لَّا تَّبَعُوْكَ وَلٰـكِنْۢ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ ۗ وَسَيَحْلِفُوْنَ بِا للّٰهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَـرَجْنَا مَعَكُمْ ۚ يُهْلِكُوْنَ اَنْفُسَهُمْ ۚ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ اِنَّهُمْ لَـكٰذِبُوْنَ
lau kaana ‘arodhong qoriibaw wa safarong qooshidal lattaba’uuka wa laakim ba’udat ‘alaihimusy-syuqqoh, wa sayahlifuuna billaahi lawistatho’naa lakhorojnaa ma’akum, yuhlikuuna angfusahum, wallohu ya’lamu innahum lakaazibuun

“Sekiranya (yang kamu serukan kepada mereka) ada keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jikalau kami sanggup niscaya kami berangkat bersamamu.” Mereka membinasakan diri sendiri dan Allah mengetahui bahwa mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 42)

Nah, ketika kesalahan dari mereka semakin banyak dan pendusta sulit dibedakan dari orang yang jujur diantara mereka, maka Allah Swt menegur Rasul-Nya Muhammad Saw. Allah Swt mengabarkan, bahwa Dia telah mengampuni perbuatan beliau sebagai bentuk perintah agar beliau tidak memberi izin lagi kepada mereka hingga beliau mengetahui betul duduk permasalahan mereka dan menerangkan tentang kebenaran pengakuan mereka agar dapat dibedakan antara yang jujur dan yang dusta.

Jadi, dalam tindakan tersebut, Nabi Saw tetap berpedoman pada wahyu. Namun, ketika para pendusta semakin banyak dan sulit dibedakan dengan orang-orang yang jujur, maka Allah Swt menegur beliau. Tujuannya adalah agar beliau tidak memberi izin sampai beliau mengetahui betul duduk permasalahannya sebagaimana yang telah kami sebutkan.

Diantara sanggahan yang disampaikan oleh sang penyanggah adalah ayat yang Allah Swt turunkan dalam surat At-Tahrim yang berbunyi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَاۤ اَحَلَّ اللّٰهُ لَـكَ ۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَا تَ اَزْوَا جِكَ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
yaaa ayyuhan-nabiyyu lima tuharrimu maaa ahallallohu lak, tabtaghii mardhoota azwaajik, wallohu ghofuurur rohiim

“Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 1)

Penyanggah itu mengatakan: Jika benar ini berdasarkan wahyu, maka Allah Swt tidak akan menegur beliau, karena sesuatu yang datang dari Allah Swt tidak akan ada perselisihan didalamnya.

Jawaban untuk perkara ini: Perlu diketahui, bahwa dalam masalah ini Nabi Saw berpedoman pada wahyu. Beliau mengatakan kepada isteri beliau, saat isterinya menegur apa yang beliau lakukan, “Aku akan meninggalkannya demi kamu.” Maksudnya, budak perempuan yang beliau gauli saat isteri beliau tidak ada. Ketika isteri beliau mengetahui hal itu, iapun marah. Kemudian Nabi Saw bersabda, “Aku akan meninggalkannya demi kamu.”

Sebenarnya, perbuatan Nabi Saw itu berdasarkan firman Allah Swt,Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَحِلُّ لَـكُمْ اَنْ تَرِثُوا النِّسَآءَ كَرْهًا ۗ وَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ لِتَذْهَبُوْا بِبَعْضِ مَاۤ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اِلَّاۤ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَا حِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ وَعَا شِرُوْهُنَّ بِا لْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِ نْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـئًـا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا
yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa yahillu lakum ang tarisun-nisaaa-a kar-haa, wa laa ta’dhuluuhunna litaz-habuu biba’dhi maaa aataitumuuhunna illaaa ay ya-tiina bifaahisyatim mubayyinah, wa ‘aasyiruuhunna bil-ma’ruuf, fa ing karihtumuuhunna fa ‘asaaa ang takrohuu syai-aw wa yaj’alallohu fiihi khoirong kasiiroo

“Wahai orang-orang yang beriman! Tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 19)

Juga berdasarkan firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلطَّلَا قُ مَرَّتٰنِ ۖ فَاِ مْسَا كٌ بِۢمَعْرُوْفٍ اَوْ تَسْرِيْحٌ بِۢاِحْسَا نٍ ۗ وَلَا يَحِلُّ لَـکُمْ اَنْ تَأْخُذُوْا مِمَّاۤ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ شَيْــئًا اِلَّاۤ اَنْ يَّخَا فَاۤ اَ لَّا يُقِيْمَا حُدُوْدَ اللّٰهِ ۗ فَاِ نْ خِفْتُمْ اَ لَّا يُقِيْمَا حُدُوْدَ اللّٰهِ ۙ فَلَا جُنَا حَ عَلَيْهِمَا فِيْمَا افْتَدَتْ بِهٖ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَعْتَدُوْهَا ۚ وَمَنْ يَّتَعَدَّ حُدُوْدَ اللّٰهِ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
ath-tholaaqu marrotaani fa imsaakum bima’ruufin au tasriihum bi-ihsaan, wa laa yahillu lakum ang ta-khuzuu mimmaaa aataitumuuhunna syai-an illaaa ay yakhoofaaa allaa yuqiimaa huduudalloh, fa in khiftum allaa yuqiimaa huduudallohi fa laa junaaha ‘alaihimaa fiimaftadat bih, tilka huduudullohi fa laa ta’taduuhaa, wa may yata’adda huduudallohi fa ulaaa-ika humuzh-zhoolimuun

“Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik atau melepaskan dengan baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali keduanya (suami dan istri) khawatir tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh istri) untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang zalim.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 229)

Maka, Nabi Saw pun merasa kasihan kepada isterinya lantaran kecemburuan yang dirasakannya, kemudian beliau menyikapi dengan cara yang baik sesuai dengan tuntunan ayat tersebut.

Ketika firman Allah sampai kepada Nabi Saw yang berbunyi,

يٰۤاَ يُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَاۤ اَحَلَّ اللّٰهُ لَـكَ ۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَا تَ اَزْوَا جِكَ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
yaaa ayyuhan-nabiyyu lima tuharrimu maaa ahallallohu lak, tabtaghii mardhoota azwaajik, wallohu ghofuurur rohiim

“Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 1)

Maka Allah Swt hanya menghilangkan hukum ayat yang pertama saja dalam masalah ini dan me-nasakh-nya dengan ayat yang kedua saat Dia berfirman,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَدْ فَرَضَ اللّٰهُ لَـكُمْ تَحِلَّةَ اَيْمَا نِكُمْ ۗ وَا للّٰهُ مَوْلٰٮكُمْ ۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ
qod farodhollohu lakum tahillata aimaanikum, wallohu maulaakum, wa huwal-‘aliimul-hakiim

“Sungguh, Allah telah mewajibkan kepadamu membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 2)

Allah Swt memerintah beliau untuk kembali kepada budak beliau, seperti sediakala.

-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 1 – KAJIAN SEPUTAR AL-QUR’AN (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY