You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 5. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt (QS. Asy-Syura 42: Ayat 13),
شَرَعَ لَـكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّا لَّذِيْۤ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖۤ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰۤى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَ لَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ ۗ كَبُـرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِ ۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْۤ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَآءُ وَيَهْدِيْۤ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُ

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,

شَرَعَ لَـكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّا لَّذِيْۤ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖۤ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰۤى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَ لَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ ۗ كَبُـرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِ ۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْۤ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَآءُ وَيَهْدِيْۤ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُ
syaro’a lakum minad-diini maa washshoo bihii nuuhaw wallaziii auhainaaa ilaika wa maa washshoinaa bihiii ibroohiima wa muusaa wa ‘iisaaa an aqiimud-diina wa laa tatafarroquu fiih, kaburo ‘alal-musyrikiina maa tad’uuhum ilaiih, allohu yajtabiii ilaihi may yasyaaa-u wa yahdiii ilaihi may yuniib

“Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan ‘Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 13)

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Makna “Al ljtiba” adalah Allah menarik seorang hamba kepada hadhrah qudsi-Nya dengan hukum keutamaan, kedermawanan dan inayah-Nya, tanpa didahului oleh sebab tertentu yang datang dari hamba tersebut. Al Mujtaba dinamakan pula sebagai orang yang dicintai dan dipilih, orang yang dikehendaki dan orang yang mendapatkan perhatian dari Allah Swt. Semua kata-kata tersebut merupakan nama untuk Al Mujtaba. Kondisi ijtiba ini sudah ditetapkan dalam hukum ilahiyyah pada zaman azali tanpa adanya sebab apapun. Oleh karena itu, ada pepatah yang mengatakan, “Betapa banyak teman yang bodoh dan betapa banyak musuh yang cerdas.”

Redaksi kata “Al Ghaba” maknanya adalah kebodohan, kesesatan, kekufuran dan juga pelanggaran. Semua perkara ini tidak akan memberikan kemudharatan bagi dirinya karena adanya perhatian khusus lagi menyeluruh yang meliputinya. Dalam hal ini Nabi Saw pernah bersabda terkait dengan Hindun binti Utbah dimana ia merupakan orang yang paling memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Dia pun wanita yang memakan hati Hamzah lantaran sangat benci dan juga dengki terhadapnya. Nabi Saw pernah bersabda, “Hati Hamzah dan neraka tidak akan berkumpul di mulutnya selamanya.” Nabi Saw mengabarkan bahwa Hindun binti ‘Utbah dalam kondisi senang dengan perhatian khusus baginya di masa azali, dimana apa yang telah dia lakukan tidak memberikan mudharat bagi dirinya.

Redaksi kata “Alaba”, maknanya adalah ibadah mendekatkan diri kepada Allah Swt, maka betapa banyak musuh Allah (musuh yang tidak nampak) yang ternyata menggiringnya untuk meninggal dunia dalam kondisi kafir.

Begitu pula yang terjadi pada ‘Umair bin Wahab ketika ia hendak membunuh nabi Muhammad Saw, dia merupakan petinggi Quraisy dan juga orang yang ditakuti diantara mereka. ketika ‘Umar Bin Khattab Ra melihatnya di depan pintu rumah nabi Muhammad Saw, kala itu ia membawa pedang yang terkalung di lehernya, ia memaksa dan ingin masuk untuk bertemu Nabi Saw, ‘Umar berkata, “Ini adalah ‘Umair bin Wahab, biarkan aku membunuhnya karena sungguh dia tidak datang untuk kebaikan, dialah orang yang mentaksir jumlah kita pada perang Badar.” Rasulullah Saw bersabda, “Biarkan ia,” kemudian ia pun diizinkan menemui Nabi Saw, maka Nabi Saw bersabda kepadanya, “Apa yang membawamu datang kepadaku,” ‘Umair menjawab, “Aku datang kepada kalian agar kalian berbuat baik kepadaku pada tawanan ini;” yang mana ketika itu anaknya lah yang menjadi tawanan kaum muslimin. Nabi Saw bersabda, “Maka duduklah engkau bersama Sufyan Bin Umayyah di dalam ruangan itu, tidak ada orang lain yang bersama kalian berdua.” Kemudian Nabi Saw menyebutkan semua yang menjadi percakapan dengan Sufyan, sampai Nabi Saw bersabda, “Engkau datang untuk membunuhku,” ‘Umair menjawab, “Jikalau ada orang ketiga diantara kami, niscaya aku akan katakan dan kabarkan itu padamu, sementara saat ini aku yakin, aku akan kabarkan padamu tentang sebuah kebenaran, maka aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah dan engkau adalah utusan Allah.” Keislaman ‘Umair pun berjalan dengan baik, ia kembali ke kota Makkah dan menyeru manusia yang ada disana kepada Islam, sehingga banyak orang yang memeluk agama Islam dengan perantaranya, dia pun bisa istiqomah dengan keislamannya tersebut.

Lihatlah bagaimana kondisi ijtiba yang Allah Swt limpahkan padanya, tidak ada lagi sisa-sisa dosanya yang besar, tidak nampak penyesalan akan apa yang sudah dia lakukan, yang nampak adalah adanya kesucian dari cahaya ilahiyyah, dimana Allah Swt pakaikan baginya perhiasan kedekatan dengan-Nya, sehingga dia menjadi hamba yang ikhlas untuk Allah Swt.

Redaksi firman Allah Swt dalam ayat di atas, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

شَرَعَ لَـكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّا لَّذِيْۤ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖۤ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰۤى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَ لَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ ۗ كَبُـرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِ ۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْۤ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَآءُ وَيَهْدِيْۤ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُ
syaro’a lakum minad-diini maa washshoo bihii nuuhaw wallaziii auhainaaa ilaika wa maa washshoinaa bihiii ibroohiima wa muusaa wa ‘iisaaa an aqiimud-diina wa laa tatafarroquu fiih, kaburo ‘alal-musyrikiina maa tad’uuhum ilaiih, allohu yajtabiii ilaihi may yasyaaa-u wa yahdiii ilaihi may yuniib

“Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan ‘Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 13); maksudnya adalah tanpa adanya sebab dan juga cacat, akan tetapi semua perkara ini murni dari sisi keutamaan dan kedermawanan Allah Swt.

Sedangkan firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

شَرَعَ لَـكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّا لَّذِيْۤ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖۤ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰۤى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَ لَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ ۗ كَبُـرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِ ۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْۤ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَآءُ وَيَهْدِيْۤ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُ
syaro’a lakum minad-diini maa washshoo bihii nuuhaw wallaziii auhainaaa ilaika wa maa washshoinaa bihiii ibroohiima wa muusaa wa ‘iisaaa an aqiimud-diina wa laa tatafarroquu fiih, kaburo ‘alal-musyrikiina maa tad’uuhum ilaiih, allohu yajtabiii ilaihi may yasyaaa-u wa yahdiii ilaihi may yuniib

“Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan ‘Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 13); maksudnya adalah orang-orang yang bertobat kepada Allah Swt dengan kejujuran takwa dalam diri dan dia bermu’amalah kepada Allah Swt dengan sisi jernihnya hidayah Allah Swt baginya, sehingga Allah Swt me-wushulkan hamba tersebut pada hadhrah qudsi Nya.

Sementara terkait hak para nabi, Allah Swt tidak pernah menyebutkan kecuali bentuk ijtiba. Allah Swt berfirman terkait dengan hak nabi Adam As,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ اجْتَبٰهُ رَبُّهٗ فَتَا بَ عَلَيْهِ وَهَدٰى
summajtabaahu robbuhuu fa taaba ‘alaihi wa hadaa

“Kemudian Tuhannya memilih dia, maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 122)

Allah Swt juga berfirman terkait nabi Yunus As,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَا جْتَبٰهُ رَبُّهٗ فَجَعَلَهٗ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
fajtabaahu robbuhuu fa ja’alahuu minash-shoolihiin

“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang yang saleh.”
(QS. Al-Qalam 68: Ayat 50)

Terkait dengan hak para nabi As, Allah Swt pun menyebutkan perihal mereka dalam firman-Nya,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمِنْ اٰبَآئِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَاِ خْوَا نِهِمْ ۚ وَا جْتَبَيْنٰهُمْ وَهَدَيْنٰهُمْ اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ
wa min aabaaa-ihim wa zurriyyaatihim wa ikhwaanihim, wajtabainaahum wa hadainaahum ilaa shiroothim mustaqiim

“(dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari nenek moyang mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Kami telah memilih mereka (menjadi nabi dan rasul) dan mereka Kami beri petunjuk ke jalan yang lurus.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 87).

Maksudnya adalah mereka semua menempuh jalan menuju kepada Allah Swt dengan ijtiba itu.

Mengenai apa yang sudah disebutkan Allah Swt tentang keterkaitan ijtiba dan tobat, maka ada dua kelompok manusia dalam hal ini:

Pertama, kelompok orang yang gemar bertobat. Orangnya disebut sebagai murid, pecinta, orang yang ikhlas dan orang yang sedang berjalan menuju Allah Swt. Maka Allah Swt pun berfirman terkait dengan pahala yang Allah peruntukkan bagi mereka, dimana mereka akan diberikan pahala lantaran mereka mengedepankan ketakwaan diri.

Kedua, kelompok orang yang Allah Swt pilih, murni karena kehendak-Nya tanpa didasari sebab apapun. Orangnya disebut sebagai orang pilihan, orang yang menjadi wakil, orang yang tulus ikhlas, orang yang dicintai, orang yang dikehendaki dan orang yang diperhatikan oleh-Nya.

Terkait dengan hal ini, sebagian Sufi membuat ilustrasi perbandingan antara nabi Musa As dan nabi Muhammad Saw: “Nabi Musa As ketika dia hendak pergi menuju Allah Swt dan mi’raj kepada-Nya, Allah Swt memerintahkannya berpuasa siang malam selama 30 hari berturut-turut. Setelah sempurna 30 hari berpuasa, Allah Swt mengingkari bau mulut nabi Musa As sehingga beliau bersiwak dengan ranting pohon carob, berharap agar bau mulutnya bisa hilang, maka Allah Swt mencercanya lantaran siwak tersebut dan memerintahkan nabi Musa untuk menambahkan puasa sebanyak 10 hari lagi, sehingga lengkap menjadi 40 hari.

Sedangkan Nabi Muhammad Saw pada malam mi’raj, Allah Swt tidak memerintahkan beliau untuk mengerjakan sesuatu, akan tetapi malaikat turun mendatangi beliau dan Allah Swt berfirman kepada beliau, “Bangun dan mi’raj lah dengan malaikat tersebut.” Maka nabi Muhammad Saw pun melakukan mi’raj dengan malaikat tersebut. Maka maqam nabi Musa As adalah maqam seorang murid yang mencintai sehingga dia diperintahkan untuk melakukan suatu sebab. Sementara nabi Muhammad Saw, maqam beliau adalah maqam orang yang diinginkan, yang ikhlas lagi terpilih sehingga beliau tidak diperintahkan untuk melakukan sesuatu, maka Allah Swt memilih beliau tanpa suatu sebab, Allah Swt mendekatkan beliau kepada-Nya tanpa sebuah cacat, bahkan semua itu murni lantaran keutamaan, kedermawanan dan kemurahan Allah Swt.

-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-

Lathifah

“Tidaklah Allah Swt ciptakan sesuatu untuk Dzat-Nya kecuali Nabi Muhammad Saw, semua makhluk lainnya Allah ciptakan untuk Nabi Muhammad Saw lantaran keberadaan beliau (di alam ini). Maka jika bukan karena Allah ciptakan Nabi Muhammad Saw, niscaya Allah tidak akan ciptakan apapun di alam semesta ini. Dari sini maka jelaslah bahwa semua makhluk yang ada tercipta untuk Nabi Muhammad Saw. “

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 1 – KAJIAN SEPUTAR AL-QUR’AN (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY