
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,
ثُمَّ اَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَا دِنَا ۚ فَمِنْهُمْ ظَا لِمٌ لِّنَفْسِهٖ ۚ وَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ ۚ وَمِنْهُمْ سَا بِقٌ بِۢا لْخَيْرٰتِ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُ
summa aurosnal-kitaaballaziinashthofainaa min ‘ibaadinaa, fa min-hum zhoolimul linafsih, wa min-hum muqtashid, wa min-hum saabiqum bil-khoirooti bi-iznillaah, zaalika huwal-fadhlul-kabiir
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”
(QS. Fatir 35: Ayat 32)
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Benar untuk dikatakan, mereka adalah semua umat yang telah dibebani dengan beragam hukum syari’at. Perkataan yang tepat dalam konteks ini adalah bahwa mereka adalah semua umat. Sebab, itulah yang diinginkan dari khabar tersebut yang diriwayatkan tentang keutamaan umat Al Muhammadiyyah. Sungguh semua orang yang masuk kedalam lingkaran syahadat, tauhid dan risalah.
Telah diriwayatkan bahwa ketika Allah Swt memerintahkan “Pena” untuk menulis, maka pena tersebut menulis di lauh terkait pemuka utusan Allah; nabi Nuh As, nabi Ibrahim As, nabi Musa As dan nabi Isa As, “Barangsiapa yang taat kepada Allah, maka dia akan masuk surga dan barangsiapa yang berbuat maksiat terhadap Allah maka dia akan dimasukkan ke dalam neraka,” Allah kemudian memerintahkan “Pena” untuk menuliskan kata-kata ini pada semua umat utusan Allah Swt. Ketika “Pena” ingin menuliskan untuk umat nabi Muhammad Saw sebagaimana yang dituliskan pada umat-umat sebelum mereka, Allah Swt berfirman, “Beradablah wahai Pena,” pena bergetar lantaran dahsyatnya wibawa Allah Swt, Pena berkata, “Tuhanku, aku belum menuliskannya,” Allah Swt berfirman, “Tulislah, ‘Umat yang berdosa dan Rabb yang Maha Pengampun’, seperti inilah dituliskan pada umat Al Muhammadiyah.
Nabi Saw bersabda,
مَا مِنْ نَبِيِّ إِلا أُعْطِيَ دَعْوَةً مُعَجَّلَهُ، يُرِيدُ يُعَجِّلُهَا فِيمَا يَشَاءُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ لَمْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ .
“Tidaklah ada seorang nabi kecuali ia diberikan do’a yang disegerakan; (yang dimaksud disini adalah disegerakan pada apapun yang diinginkan), dan aku simpan doaku untuk para pendosa dari umatku, jika Allah berkehendak mereka akan mendapatkannya, selagi dia tidak berbuat syirik kepada Allah.”
Ini adalah teks haditsnya, akan tetapi pada umat ini pun harus dilaksanakan ancaman Allah tersebut.
Kemungkinan kedua dalam ayat diatas, bahwa mereka ini adalah orang yang mengemban Al Qur’an saja, dengan dalil firman Allah Swt, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَّرِثُوا الْكِتٰبَ يَأْخُذُوْنَ عَرَضَ هٰذَا الْاَ دْنٰى وَيَقُوْلُوْنَ سَيُغْفَرُ لَـنَا ۚ وَاِ نْ يَّأْتِهِمْ عَرَضٌ مِّثْلُهٗ يَأْخُذُوْهُ ۗ اَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِّيْثَا قُ الْـكِتٰبِ اَنْ لَّا يَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَـقَّ وَدَرَسُوْا مَا فِيْهِ ۗ وَا لدَّا رُ الْاٰ خِرَةُ خَيْرٌ لِّـلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
fa kholafa mim ba’dihim kholfuw warisul-kitaaba ya-khuzuuna ‘arodho haazal-adnaa wa yaquuluuna sayughfaru lanaa, wa iy ya-tihim ‘arodhum misluhuu ya-khuzuuh, a lam yu-khoz ‘alaihim miisaaqul-kitaabi al laa yaquuluu ‘alallohi illal-haqqo wa darosuu maa fiih, wad-daarul-aakhirotu khoirul lillaziina yattaquun, a fa laa ta’qiluun
“Maka, setelah mereka, datanglah generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini. Lalu mereka berkata, “Kami akan diberi ampun.” Dan kelak jika harta benda dunia datang kepada mereka sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah mereka sudah terikat perjanjian dalam Kitab (Taurat) bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Negeri akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka tidakkah kamu mengerti?”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 169)
Bagaimanapun kondisinya, mereka adalah orang-orang pilihan disisi-Nya; orang yang senantiasa berbuat kezhaliman, orang yang biasa-biasa saja dan orang yang bersegera berbuat kebaikan, mereka semua merupakan orang-orang pilihan sisi ilahiyyah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَآئِهِمْ وَاَ زْوَا جِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَا لْمَلٰٓئِكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَا بٍ
jannaatu ‘adniy yadkhuluunahaa wa mang sholaha min aabaaa-ihim wa azwaajihim wa zurriyyaatihim wal-malaaa-ikatu yadkhuluuna ‘alaihim ming kulli baab
“(yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 23)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّا سِ تَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَا نَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَ كْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ
kungtum khoiro ummatin ukhrijat lin-naasi ta-muruuna bil-ma’ruufi wa tan-hauna ‘anil-mungkari wa tu-minuuna billaah, walau aamana ahlul-kitaabi lakaana khoirol lahum, min-humul-mu-minuuna wa aksaruhumul-faasiquun
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 110)
Benar pula dikatakan bahwa mereka adalah sahabat nabi saja, lantaran sempumanya beragam sifat yang ada pada mereka. Benar pula jika dikatakan, bahwa mereka adalah semua umat. Semua pendapat ini benar. Umat ini tidak pernah kosong dari orang-orang yang memiliki beragam sifat tersebut sampai kapan pun.
-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-
