You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 10. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt (QS. Ta-Ha 20: Ayat 50),
قَا لَ رَبُّنَا الَّذِيْۤ اَعْطٰـى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهٗ ثُمَّ هَدٰى

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,

قَا لَ رَبُّنَا الَّذِيْۤ اَعْطٰـى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهٗ ثُمَّ هَدٰى
qoola robbunallaziii a’thoo kulla syai-in kholqohuu summa hadaa

“Dia (Musa) menjawab, “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk.””
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 50)

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Redaksi, Al Khalqu (penciptaan) disini maksudnya adalah apa yang Allah tampakkan pada makhluk, yaitu berupa gambaran yang dapat dilihat secara kasat mata; misalnya sifat keledai yang hanya ada pada keledai, sifat kemanusiaan yang ada pada manusia, sifat keindahan yang ada pada sesuatu yang indah, sifat pepohonan yang ada pada pohon, sifat kebendaan yang ada pada benda mati, sifat kehewanan yang ada pada hewan, silahkan lanjutkan untuk memberikan beragam rincian tentang penciptaan Allah Swt tersebut satu persatu. Inilah makna dari firman Allah Swt,

قَا لَ رَبُّنَا الَّذِيْۤ اَعْطٰـى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهٗ ثُمَّ هَدٰى
qoola robbunallaziii a’thoo kulla syai-in kholqohuu summa hadaa

“Dia (Musa) menjawab, “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk.””
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 50)

Maka yang dimaksud dengan hidayah (petunjuk) disini adalah hidayah secara umum yang meliputi hewan, benda mati, orang mukmin dan juga orang kafir.

Hidayah adalah berjalan pada sebuah ukuran yang Allah Swt tentukan, dimana Dialah yang menggenggam semua ubun-ubun makhluk yang ada, Dia giring sesuai keinginan-Nya secara mutlak dan umum, tidak ada satu makhluk pun yang menyimpang dari tolak ukur ini. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt terkait nabi Hud As,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنِّيْ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللّٰهِ رَبِّيْ وَرَبِّكُمْ ۗ مَا مِنْ دَآ بَّةٍ اِلَّا هُوَ اٰخِذٌ بِۢنَا صِيَتِهَا ۗ اِنَّ رَبِّيْ عَلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ
innii tawakkaltu ‘alallohi robbii wa robbikum, maa ming daaabbatin illaa huwa aakhizum binaashiyatihaa, inna robbii ‘alaa shiroothim mustaqiim

“Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya). Sungguh, Tuhanku di jalan yang lurus (adil).”
(QS. Hud 11: Ayat 56)

Dalam hal ini, maka tidak ada satu makhluk pun yang menyimpang dari tolak ukur tersebut. Semua yang ada di alam ini berjalan; baik benda mati ataupun benda yang bergerak.

Pada benda mati, Allah Swt memberikannya ruh kehidupan, yang dengannya benda mati tersebut dapat memuji Allah Swt dan dengan ruh kehidupan tersebut benda tersebut bisa sujud kepada Allah Swt lantaran keumuman ayat dalam firman Allah Swt,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَسْجُدُ لَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَ رْضِ وَا لشَّمْسُ وَا لْقَمَرُ وَا لنُّجُوْمُ وَ الْجِبَا لُ وَا لشَّجَرُ وَا لدَّوَآ بُّ وَكَثِيْرٌ مِّنَ النَّا سِ ۗ وَكَثِيْرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَا بُ ۗ وَمَنْ يُّهِنِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ مُّكْرِمٍ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَفْعَلُ مَا يَشَآءُ 
a lam taro annalloha yasjudu lahuu mang fis-samaawaati wa mang fil-ardhi wasy-syamsu wal-qomaru wan-nujuumu wal-jibaalu wasy-syajaru wad-dawaaabbu wa kasiirum minan-naas, wa kasiirun haqqo ‘alaihil-‘azaab, wa may yuhinillaahu fa maa lahuu mim mukrim, innalloha yaf’alu maa yasyaaa,

“Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata, dan banyak di antara manusia? Tetapi banyak (manusia) yang pantas mendapatkan azab. Barang siapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 18)

Dengan ruh kehidupan inilah semua makhluk ber-ma’rifat pada Allah Swt (mengenal Allah Swt), karena para makhluk tersebut tidaklah bersujud dan bertasbih kecuali karena mereka ber-ma’rifat kepada Allah Swt, akan tetapi kita tidak tahu bagaimana bentuk pengetahuan, sujud dan untaian tasbih mereka kepada-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَا لْاَ رْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ ۗ وَاِ نْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰـكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا
tusabbihu lahus-samaawaatus-sab’u wal-ardhu wa mang fiihinn, wa im ming syai-in illaa yusabbihu bihamdihii wa laakil laa tafqohuuna tasbiihahum, innahuu kaana haliiman ghofuuroo

“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 44)

Sedangkan makna redaksi firman-Nya; Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنِّيْ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللّٰهِ رَبِّيْ وَرَبِّكُمْ ۗ مَا مِنْ دَآ بَّةٍ اِلَّا هُوَ اٰخِذٌ بِۢنَا صِيَتِهَا ۗ اِنَّ رَبِّيْ عَلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ
innii tawakkaltu ‘alallohi robbii wa robbikum, maa ming daaabbatin illaa huwa aakhizum binaashiyatihaa, inna robbii ‘alaa shiroothim mustaqiim

“Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya). Sungguh, Tuhanku di jalan yang lurus (adil).”
(QS. Hud 11: Ayat 56); adalah melakukan perjalanan dengan sungguh-sungguh dan tidak melanggar beragam peraturan-Nya, dimana tidak pula bisa diperkirakan bahwa makhluk yang ada ini bermaksiat dari perintah-Nya.

Al Imam Asy-Syadzili Ra pernah berkata, “Sungguh orang kafir, sekalipun ia tidak menjawab panggilan keimanan-Mu, namun ia diijabah permohonanya ketika memohon kepada kesultanan-Mu, semua yang ada ini menjalankan titah-Mu.” Perkataan ini diperkuat dengan firman Allah Swt,

ثُمَّ اسْتَـوٰۤى اِلَى السَّمَآءِ وَهِيَ دُخَا نٌ فَقَا لَ لَهَا وَلِلْاَ رْضِ ائْتِيَا طَوْعًا اَوْ كَرْهًا ۗ قَا لَتَاۤ اَتَيْنَا طَآئِعِيْنَ
summastawaaa ilas-samaaa-i wa hiya dukhoonung fa qoola lahaa wa lil-ardhi-tiyaa thou’an au karhaa, qoolataaa atainaa thooo-i’iin

“Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan patuh.””
(QS. Fussilat 41: Ayat 11)

Tidak ada satu pun makhluk bermaksiat pada-Nya. Sedangkan terkait dengan firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَا لْاَ رْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ ۗ وَاِ نْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰـكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا
tusabbihu lahus-samaawaatus-sab’u wal-ardhu wa mang fiihinn, wa im ming syai-in illaa yusabbihu bihamdihii wa laakil laa tafqohuuna tasbiihahum, innahuu kaana haliiman ghofuuroo

“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 44)

Maka semua makhluk bertasbih kepada Allah Swt selain orang kafir, sebab orang kafir tidak memuji Allah Swt, meskipun demikian sejatinya semua anggota tubuhnya bertasbih memuji Allah Swt tanpa dia sadari.

-Selesai sudah apa yang di-imla kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 1 – KAJIAN SEPUTAR AL-QUR’AN (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY