
Elsubha.com – Akupun bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang makna dari dua bait yang terkenal dari perkataan orang yang Arifbillah:
عَيْنَانِ عَيْنَانِ لَمْ يَكْتُبْهُمَا قَلَمٌ # فِي كُلِّ عَيْنٍ مِنَ الْعَيْنَيْنِ نُوْنَانِ
نُوْنَانِ نُوْنَانِ لَمْ يَكْتُبْهُمَا فَلَمْ # فِي كُلِّ نُوْنٍ مِنَ النُّوْنَيْنِ عَيْنَانِ
“Dua Dzat, dua Dzat yang belum dituliskan oleh qalam # pada setiap Dzat ada dua Nûn (Anâniyyah)
Dua Nûn, dua Nûn yang belum dituliskan oleh qalam # pada setiap Nûn ada dua Dzat.”
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Perlu diketahui, bahwa makna Dzat; yang pertama adalah Dzat yang wujudnya wajib ada, yang bersumber dari Dzat-Nya, dari segala sisi, dengan segala pertimbangan (Allah).
Dzat kedua adalah Dzat yang wujudnya mungkin ada dari satu sisi dan berasal dari Dzat yang wujudnya wajib ada (Allah) dari sisi lainnya. Sebab, dzat ini bersumber dari Dzat-Nya Allah untuk Dzat-Nya, dimana cakupan pengetahuan dzat yang kedua berasal dari Dzat yang wujudnya wajib ada (Allah).
Sedangkan redaksi, عَيْنَانِ عَيْنَانِ لَمْ يَكْتُبْهُمَا قَلَمٌ “Pada setiap dzat ada dua Nûn (Anâniyyah Maka makna Nûn yang pertama adalah Egoisme Allah Al Haq, dan makna dari Nûn yang kedua adalah egoisme hamba Allah. Penjelasannya demikian, ketika rahasia suci sisi Allah Swt itu turun dibarengi dengan cahaya ilahiyyah, tidak ada nalar yang mampu memahami hal ini sedikit pun apalagi sampai bisa mengusai seluk beluk ini.- Rahasia dan cahaya ilahiyyah ini mengalir pada keseluruhan jiwa hamba sehingga dia diperlihatkan Dzat Allah, yang membuat hilang sisi selain-Nya, maka pada kondisi ini tidak ada lagi yang tersisa pada hamba tadi kecuali Dzat tunggal pada yang tunggal, hal ini terjadi lantaran cahaya tesebut mencabut sisi keterbilangan dari segala arah dan ragam pertimbangannya.
Pada kondisi ini, apabila ia melihat pada dzatnya, maka dia tidak melihat kecuali satu dzat yang tidak berbilang dan tidak mungkin ada selainnya, kondisi inilah yang kerap dibahasakan dengan Al Jam’ul kulli, Al Ittihad Al Haqq wal Mahw Al Muhaqqaq (Menyatu totalitas, menyatunya Allah Al Haqq dan kondisi penghapusan jiwa secara totallitas). Kondisi ini terjadi lantaran nampaknya rahasia suci Allah dan cahaya ilahiyyah tadi, sehingga rahasia suci Allah dan cahaya inilah yang menutupi apa yang ada pada jiwa sebelumnya; yang berupa keberadaan diri dan indera kemanusiaannya. Andai dalam kondisi ini dia melihat jiwanya; yang pada satu sisi wujudnya wajib ada (Allah) dan di sisi lain melihat sisi yang mungkin saja wujudnya bisa ada (makhluk), maka ia akan melihat egoisme jiwanya dengan gambaran egoisme Allah Al Haqq dan egoismenya Allah juga merupakan egoisme jiwanya; dua sisi egoisme yang sama-sama berada di dalam jiwa; dia dapat mengetahui ini, merasakan secara inderawi dan penyaksian jiwa dengan penuh keyakinan.
Kedua Dzat yang didalamnya ada dua Nûn; Nên (Ananiyyah) egoisme jiwanya dan Nûn egoisme Allah Al Haqq. Apabila dia melihat pada Allah, maka dia melihat bahwa Dzat-Nya Allah adalah dzat jiwanya, diapun akan mendapati pada inti Dzat Allah Al Haqq ada Nûn egoisme Allah Al Haq dan Nûn Egoisme jiwanya lantaran keduanya bersatu pada penyaksian yang suci. Ini adalah satu dari ragam rahasia ghaib yang tidak bisa dinalar dan tidak bisa diukur dengan kekuatan manusia, rahasia ini diterima dengan kucuran ilahiyyah dan futuh, tidak bisa diusahakan, inilah makna dari bait yang pertama; juga merupakan perkara yang dapat diterima dengan cara dirasakan dan kasyaf (disingkapkan perkara ghaib) dan bukan dengan perbincangan belaka.
Sedangkan bait yang kedua; Nûn pertama adalah egoisme dirimu; contohnya engkau seperti berkata, “Aku di tempat ini, engkau temui dzatmu yang tertidur siang (qaailatı) dan engkau temui Dzat Allah yang tertidur siang (qaailatı). “Inilah Nûn yang didalamnya ada dua dzat.
Sementara Nûn (Anâniyyah) yang kedua adalah egoisme Allah Al Haqq dimana engkau mendengar-Nya berfirman, “Aku seperti firman-Nya, ‘Sungguh aku ini Allah, tiada ilah kecuali Aku’, maka engkau dapati Dzat Allah Al Haqq lah yang mengatakan, dzatmu pulalah yang mengatakan juga lantaran menyatunya kedua Dzat pada satu pandangan. Kondisi ini hanya terjadi pada hamba Allah saja. Maha Suci Allah jika ini bisa terjadi padapenyaksian hamba itu, sebab ilmu dan pengetahuan-Nya Allah jauh dibalik itu semua. Kondisi jiwa tidaklah saling menutupi dimana ini pun tidak akan tercampur antara penghambaan dengan sisi Rubûbiyyah.
Pada sisi egoisme Allah Al Haqq disini, kita temui didalamnya ada dzatmu dan Dzat-Nya yang sama-sama tetap, hal ini dapat dilihat dengan pandangan yakin dan sisi kasyaf yang nyata, maka pada sisi egoismemu didalamnya ada dzat-mu dan Dzat-Nya, dimana pada sisi egoisme-Nya ada Dzat-Nya dan juga dzatmu; disetiap sisi egoisme ada dua dzat didalamnya. Demikianlah waktu luang yang kumiliki untuk menjelaskannya meski dibalik ini masih banyak sekali perkara yang tidak pernah terdetik di kalbu dan tidak pernah tersingkap perkaranya hanya dengan pembicaraan saja.
-Selesai sudah apa yang Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra imla kan kepada Sayyidi Al Mukhtar bin Ath-Thalib At-Tilimsani (beliau termasuk pembesar sahabat Syaikh Ra yang paling banyak ilmu dan paling besar jiwanya) -dari tulisan beliaulah Aku (‘Ali Harazim nukilkan tulisan ini) – Wassalam.
