You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

As-Syama `il At-Tijaniyyah : Celak Alis dan Bercelaknya Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany radhiyallahu ‘anhu

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – As-Syama `il At-Tijaniyyah : Celak Alis dan Bercelaknya Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany radhiyallahu ‘anhu

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra senantiasa mengamalkan Sunnah Nabi Muhammad Saw dan berakhlak dengan akhlak yang mulia serta mengaplikasi-kan ragam sifat-sifat mulia. Tidak cuma itu, beliaupun mengajak orang-orang yang beliau cinta dan juga sahabat beliau untuk mengamalkan Sunah-sunnah tersebut sesuai kemampuan diri, bahkan beliau kerap langsung mempraktekkan ragam sunnah tersebut di hadapan mereka sebagai motivasi agar mereka pun mau melakukannya; tujuannya adalah agar himmah mereka tergerak dengan melihat langsung beliau melakukannya, sehingga mereka saling berlomba merespon perbuatan tersebut.

Akan tetapi pada sebagian waktu Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengerjakan sebagian sunnah Nabi Saw namun tidak beliau tampakkan dikalangan umum, hal ini beliau lakukan agar tidak dicap seperti perbuatannya orang-orang yang suka mengaku-ngaku lantaran diri ingin dikenal dengan melakukan perbuatan yang berbeda dengan yang dilakukan orang-orang.

Perbuatan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra meninggalkan sebagian sunnah bertujuan untuk menyelisihi mereka, terkhusus untuk membungkam orang-orang yang suka memamerkan perbuatan di khalayak ramai, meski perbuatan tersebut sebenarnya adalah perbuatan yang terpuji. Oleh karena itu Syaikh Zarruq pernah mengatakan, “Tiga perkara sunnah yang di zaman ini seyogyanya ditinggalkan: Menunggang keledai, memanjangkan rambut (berambut gondrong) dan mengenakan cincin…”

Diantara sunnah yang ditinggalkan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah mengecat rambut dan memakai celak alis, dimana kalangan umum mengejek orang yang melakukannya; hal ini bertujuan agar tidak menjadi bahan ghibah dan adu domba, sehingga perbincangan kalangan orang secara umum akan perkara ini malah membuat mereka binasa. Oleh karena itu para sahabat khusus Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tidak melakukan ragam perkara ini yang acap kali dilakukan oleh orang-orang yang sukanya mengaku, meskipun kita tahu bahwa pada tahun-tahun awal keberadaan Islam, ragam perkara ini dilakukan oleh ahlul futuwwah (orang-orang yang dijadikan contoh kebaikan).

Tidak diragukan lagi, meski perkara tersebut bagian dari sunnah, sebenarnya ia tetap menjadi bagian dari sunnah Nabi Saw yang mulia selagi penghalang (jadi simbol pamer dan ejekan kalangan umum) itu tidak ada. Disini tidak ada lagi sanggahan bahwa ragam kondisi orang secara umum inilah yang mewajibkan mereka meninggalkan sunnah-sunnah tersebut. Kita pun tahu bahwa sunnah Nabi Saw tidak seyogyanya ditinggalkan. Orang yang menghidupkan Sunnah Nabi Saw akan mendapatkan pahala, sekaligus mendapat pahala orang yang mengerjakan sunnah tersebut hingga hari Kiamat tiba. Tetapi sesuai dengan yang sudah kami katakan, bahwa mereka melakukan sunnah tersebut tidak bertujuan agar terkenal, bahkan merekapun tetap menghormati keagungan sunnah tersebut. Akan tetapi ketika mereka meninggalkan sunnah itu, maka sikap mereka itu sesuai dengan apa yang sudah kami paparkan diatas. Semoga Allah Swt senantiasa memberikan taufik pada kita.

Dalam kitab Al Jawahir Al Ghaliyah karya Al Allamah Sukairij hal. 22 disebutkan: Sifat celaknya Sayyidi Syaikh Ra yang aku nukilkan dari Sayyidi Al ‘Arabi bin Sa’ih dan beliau dari Sayyidi Al Hajj Abdul Wahhab bin At-Tawudi (Ibnu Al Ahmar) dan beliau dari Sayyiduna Ra:

Dua putih: Tawas dan Amonia
Dua hitam: Lada dan Cengkeh
Dua merah: Al Hadidah dan Kunyit
Dua biru: Al Hadidah dan Patina

Semua ini diambil dengan ukuran yang sama, dirasakan hingga terasa nikmat, kemudian ditimbang bersamaan dengan itsmid serta digunakan ketika membutuhkannya, sebab celak sangat bagus bagi terangnya penglihatan.

Sumber : BUKU SYAMA’IL TIJANY (AS-SYAMA`IL AT-TIJANIYYAH) SYAIKH AL ‘ALLAMAH AHMAD BIN AL ‘IYASYI SUKAIRIJ AT-TIJANY