
Elsubha.com – As-Syama `il At-Tijaniyyah : Makanan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany radhiyallahu ‘anhu
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah mengatakan, “Tidak lengkap seseorang mendapat manfaaat sesuatu kecuali setelah dia makan bebuahan, daging dan yang lainnya.” Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra memerintahkan orang-orang yang memberi nafkah agar membeli makanan yang berkualitas baik dan bagus, sementara yang tidak bagus beliau sering kali menolak dan tidak mau menerimanya. (Kebutuhan harian rumah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra besar. Untuk mendekatkan pemahaman pembaca bahwa biaya kebutuhan rumah Sayyidi Syaikh Ra besar adalah apa yang dipaparkan oleh Al ‘Allamah Sukairij dalam Kasyful Hijab saat beliau menjelaskan profil Al ‘Arifbillah Sayyidi Al ‘Arab Al Asyhab, beliau menuliskan: Telah sampai berita padaku bahwa Sayyidi Al Arab Al Asyhab pernah berjalan di sebagian jalan kota Fess mengarah ke rumah Sayyidi Syaikh Ra dengan membawa delapan pikul arang, yang beliau beli untuk biaya masak rumah Sayyidi Syaikh Ra, sehingga setiap kali beliau lewat jalan kota Fess orang-orang yang iseng mengatakan, “Arang ini kerap digunakan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra untuk mencampur bahan kimia dan eliksir.” Kata ini diucapkan untuk mengejek Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Sayyidi Al ‘Arab Al Asyhab pun tidak suka ucapan mereka itu, hingga beliau sampai di rumah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Ketika itu Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sedang bersama para sahabat beliau, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkata Sayyidi Al ‘Arab Al Asyhab, ” Apa yang engkau dengar dari orang-orang?”, lalu beliau mengabari perkataan orang-orang tersebut. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menimpali, “Kita mohon pada Allah Swt agar memaafkan apa yang mereka katakan.”).
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dalam sehari hanya makan satu kali; yaitu pada pukul 10 siang. Beliau sering kali memakan “Kus-kus” yang dimasak khusus. Caranya adalah ambil tepung khusus “Kus-kus” dicampur dengan campuran rempah-rempah, juga dicampur kurma, lalu dikukus seraya membubuhkan sayuran diatas “Kus-Kus.” Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra makan beberapa suapan saja, dimana kemudian para ikhwan ikut mengambil makanan tersebut dan memakannya dalam rangka ber-tabarruk.
Pelayan beliaupun memasak daging dengan cara seperti itu pula. Masakan jenis ini, di tempat kami sering disebut dengan Mirwaziyah (hidangan khas ala Maroko yang disajikan dengan wadah dari tanah liat), hanya saja masakan tersebut menggunakan kurma sebagai ganti daripada kismis. Beliau juga minum dengan minuman kismis.
Sayyidi Ath-Thayyib As-Sufyanızı pernah bercerita padaku; bahwa Suatu ketika Sayyidi Musa bin Ma’zuz (Al ‘Arifbillah Asy-Syarif Al Jalil Al Barakah Sayyidi Musa bin Sayyidi Al Kabîr bin Muhammad Bin Ma’zûz Al Hasani termasuk sahabat khusus Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, beliau meninggal tahun 1257 H. Lihat profil beliau dalam Kasyful Hijab karya Al ‘Allamah Sukairij, hal. 261; Rafun-Niqab karya Al’Allarnah Sukairij, vol. III, hal. 293; Itthaf Ahlil Marâtib Al ‘Irfaniyyah karya Al Hajuji, vol.I; Nukhbatul Ittihaf karya Al Hajuji, nomor profil 19.) mengadu kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra banyak tidur dan tidak kuat melakukan qiyamul-lail, maka Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra memerintahkan beliau agar menyedikitkan makan; beliau menimpali, “Aku tidak mampu melakukannya,” Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra memerintahkan beliau agar makan satu kali dalam sehari dengan makanan yang disukai; begitu pula pada setiap harinya. Pada hari pertama, Sayyidi Musa bin Ma’zuz merasa berat melakukannya; pada hari kedua, beliau mampu mengurangi kadar makanan itu sedikit dan beliau merasakan kesulitan pada diri beliau sedikit berkurang. Akhirnya beliaupun terbiasa memakan makanan yang sedikit pada satu waktu untuk kebutuhan siang dan malam, sehingga beliaupun akhirnya menjadi sosok yang energik.
