You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Beragam Pos Perjalanan Menuju Allah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Beragam Pos Perjalanan Menuju Allah

Berjalan menuju hadrah Allah Swt sejatinya adalah hakikat dari pensucian diri dan inilah yang dimaksud dari bersahabat dengan orang-orang shaleh dan mengambil amalan dari mereka. Inilah point inti thariqah para sufi -semoga Allah Swt meridhai mereka.-

Saat seorang salik yang melakukan peningkatan diri dari martabat,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

“Tidaklah  seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu perkara yang paling Aku cintai dari perkara yang telah Aku wajibkan baginya,” yang ada pada pos,

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ

“Dan hamba-Ku masih saja mendekatkan diri kepada-Ku dengan perkara sunah,” maka ia berada pada pintu permulaan keterasingan, sebab menginginkan Allah Swt adalah bentuk keterasingan diri (dari kehidupan dunia). Diri salik ini pun mengaplikasikan firman Allah Swt,

وَقَا لَ اِنِّيْ ذَاهِبٌ اِلٰى رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ
wa qoola innii zaahibun ilaa robbii sayahdiin

“Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 99)

hingga dirinya sampai pada derajat orang-orang yang dicintai, seperti yang tertera dalam firman Allah,

قَا لَ كَلَّا ۚ اِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ
qoola kallaa, inna ma’iya robbii sayahdiin

“Dia (Musa) menjawab, “Sekali-kali tidak akan (tersusul); sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.””
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 62)

Juga seperti firman Allah Swt,

وَنَزَعْنَا مَا فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنْ غِلٍّ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْاَ نْهٰرُ ۚ وَقَا لُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدٰٮنَا لِهٰذَا ۗ وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَاۤ اَنْ هَدٰٮنَا اللّٰهُ ۚ لَقَدْ جَآءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِا لْحَـقِّ ۗ وَنُوْدُوْۤا اَنْ تِلْكُمُ الْجَـنَّةُ اُوْرِثْتُمُوْهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
wa naza’naa maa fii shuduurihim min ghilling tajrii ming tahtihimul-an-haar, wa qoolul–hamdu lillaahillazii hadaanaa lihaazaa, wa maa kunnaa linahtadiya lau laaa an hadaanalloh, laqod jaaa-at rusulu robbinaa bil-haqq, wa nuuduuu ang tilkumul-jannatu uuristumuuhaa bimaa kungtum ta’maluun

“dan Kami mencabut rasa dendam dari dalam dada mereka, di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami. Sesungguhnya rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran.” Diserukan kepada mereka, “Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu, karena apa yang telah kamu kerjakan.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 43)

Sebab tak yang tahu, kapan seorang bisa wushul kepada Allah Swt? Allah Swt tidak memiliki tempat, dimana seorang hamba bisa melakukan perjalan menuju-Nya dengan jasadnya, sementara wujud Allah Swt itu sejatinya telah ada jauh terlebih dahulu dari segala sesuatu, bahkan Allah Swt berfirman,

اَللّٰهُ خَا لِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۙ وَّ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ
allohu khooliqu kulli syai-iw wa huwa ‘alaa kulli syai-iw wakiil

“Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 62), termasuk tempat dan alam semesta ini.

Disebutkan di dalam hadits qudsi,

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَةٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً.

“Allah Swt berfirman, ‘Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku bersamanya apabila ia mengingat-Ku. Andaikan ia menyebut-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan menyebutnya dalam diri-Ku, andai ia menyebut-Ku pada kelompok orang, maka Aku akan menyebutnya pada kelompok lain yang lebih baik dari kelompok itu. Andai ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta; andai ia mendekat kepadaku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa; dan andai ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Asy-Syaikhani).

Terkait hadits qudsi tersebut, para ulama sepakat bahwa mendekat kepada Allah Swt ini tidak dengan cara naik ke tempat-tempat yang tinggi dan jika ada orang yang berprasangka bahwa hal itu merupakan bentuk mendekatkan diri dengan jasmani (jasad naik ke tempat yang tinggi [langit]), maka ia telah sesat.

Sungguh kedekatan Allah Swt itu tidak sama dengan kedekatan sesama makhluk. Kedekatan diri yang datangnya dari seorang hamba bentuknya adalah kedekatan maknawi dengan cara membersihkan jiwa dari beragam sifat yang tercela dan menghiasi diri dengan beragam sifat yang terpuji.

Kedekatan Allah Swt pun merupakan pancaran rahmat khusus-Nya kepada sang hamba dan itu juga merupakan isi dari beragam pos perjalanan seorang hamba menuju-Nya. Allah Swt memangkas waktu bertahun-tahun, hingga menjadi hitungan jam agar seorang hamba dapat mendekat kepada-Nya.

Hadits qudsi diatas sudah menjadi konsensusnya semua ulama salaf terdahulu dan juga ulama khalaf belakangan. la pun merupakan kunci pembuka untuk memahami secara mendalam beragam hadits serupa, yang berkaitan dengan kedatangan, turun, naiknya Allah Swt dan beragam masalah semisal itu.

Oleh karena itu, Rasulullah Saw bersabda,

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Paling dekatnya (posisi) seorang hamba dari Rabbnya, adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do’a.”

Dan Allah Swt pun berfirman,

كَلَّا ۗ لَا تُطِعْهُ وَا سْجُدْ وَا قْتَرِبْ
kallaa, laa tuthi’hu wasjud waqtarib

“sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah).”
(QS. Al-‘Alaq 96: Ayat 19)

Maka disaat seorang hamba semakin bertambah kesempurnaan dirinya, maka sejatinya ia telah mendekat kepada Dzat yang memiliki kekuasaan Dzat yang mutlak; yaitu Allah.

Akhir dari wushu-nya seorang hamba adalah pengaplikasian diri dengan kesempurnaan martabat. Di saat seorang merupakan hamba Allah Swt, maka kesempurnaan dirinya itu adalah dengan bentuk kesempurnaan ubudiyah kepada Tuhannya, dimana inilah martabat tertinggi dalam mensyukuri beragam nikmat Allah Swt, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَعْمَلُوْنَ لَهٗ مَا يَشَآءُ مِنْ مَّحَا رِيْبَ وَتَمَا ثِيْلَ وَجِفَا نٍ كَا لْجَـوَا بِ وَقُدُوْرٍ رّٰسِيٰتٍ ۗ اِعْمَلُوْۤا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا ۗ وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَا دِيَ الشَّكُوْرُ
ya’maluuna lahuu maa yasyaaa-u mim mahaariiba wa tamaasiila wa jifaaning kal-jawaabi wa quduurir roosiyaat, i’maluuu aala daawuuda syukroo, wa qoliilum min ‘ibaadiyasy-syakuur

“Mereka (para jin itu) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam, dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
(QS. Saba’ 34: Ayat 13)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنَّمَاۤ اَعِظُكُمْ بِوَا حِدَةٍ ۚ اَنْ تَقُوْمُوْا لِلّٰهِ مَثْنٰى وَفُرَا دٰى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوْا ۗ مَا بِصَا حِبِكُمْ مِّنْ جِنَّةٍ ۗ اِنْ هُوَ اِلَّا نَذِيْرٌ لَّـكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَا بٍ شَدِيْدٍ
qul innamaaa a’izhukum biwaahidah, ang taquumuu lillaahi masnaa wa furoodaa summa tatafakkaruu, maa bishoohibikum ming jinnah, in huwa illaa naziirul lakum baina yadai ‘azaabing syadiid

“Katakanlah, “Aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu agar kamu mencari kebenaran karena Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian agar kamu pikirkan (tentang Muhammad). Kawanmu itu tidak gila sedikit pun. Dia tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.””
(QS. Saba’ 34: Ayat 46)

Maksudnya “berdua-dua” adalah, ini andaikan engkau temui orang yang membantumu dalam perjalanan menuju Rabbmu Swt, maka jika engkau tidak temui, maka berjalanlah engkau kepada Allah Swt sendirian, sebab Allah pun tidak akan pemah menyia-nyiakanmu. Bahkan betapa indahnya jika pendampingmu itu adalah orang yang mengetahui seluk beluk perjalananmu (menuju Allah Swt).

1. Tobat (Taubatan Nasuhaa)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْۤا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًا ۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَـكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ ۙ يَوْمَ لَا يُخْزِى اللّٰهُ النَّبِيَّ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ ۚ نُوْرُهُمْ يَسْعٰى بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَبِاَ يْمَا نِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَاۤ اَ تْمِمْ لَـنَا نُوْرَنَا وَا غْفِرْ لَـنَا ۚ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu tuubuuu ilallohi taubatan nashuuhaa, ‘asaa robbukum ay yukaffiro ‘angkum sayyi-aatikum wa yudkhilakum jannaating tajrii ming tahtihal-an-haaru yauma laa yukhzillaahun-nabiyya wallaziina aamanuu ma’ah, nuuruhum yas’aa baina aidiihim wa bi-aimaanihim yaquuluuna robbanaaa atmim lanaa nuuronaa waghfir lanaa, innaka ‘alaa kulli syai-ing qodiir

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.””
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 8)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّنْ نِّسَآءٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۚ وَلَا تَلْمِزُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَا بَزُوْا بِا لْاَ لْقَا بِ ۗ بِئْسَ الِا سْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِ يْمَا نِ ۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa yaskhor qoumum ming qoumin ‘asaaa ay yakuunuu khoirom min-hum wa laa nisaaa-um min nisaaa-in ‘asaaa ay yakunna khoirom min-hunn, wa laa talmizuuu angfusakum wa laa tanaabazuu bil-alqoob, bi-sa lismul-fusuuqu ba’dal-iimaan, wa mal lam yatub fa ulaaa-ika humuzh-zhoolimuun

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 11)

Tobat adalah bentuk kembalinya seorang hamba kepada Allah Swt dengan melakukan ketaatan kepada-Nya. Sebab, orang yang melakukan kemaksiatan itu ibarat hamba sahaya yang kabur dari tuannya. Tobat juga merupakan pos pertama yang disinggahi dari rentetan pos perjalanan menuju Allah Swt, iapun merupakan pondasi maqamat yang disinggahi setelahnya, seorang hamba tidak benar posisi dirinya kecuali dengan bertobat terlebih dahulu, dimana seorang salik mengaplikasikan hal tersebut dengan meninggalkan kemaksiatan yang tampak maupun yang tersembunyi; kemaksiatan yang besar ataupun yang kecil dan hendaknya seorang salik meninggalkan maksiat itu murni karena Allah Swt semata, tanpa paksaan dan juga suatu sebab.

Terkait orang yang sudah terbiasa melakukan maksiat, seperti halnya seorang pencuri, dimana hanya penjaralah yang bisa menghentikan perbuatannya itu, maka dirinya ini masih menyandang titel “pencuri” selagi hatinya tidak meninggalkan kezhaliman dan juga ruhnya masih identik mengarah pada keburukan.

Begitu pula orang yang berangan-angan hilangnya suatu nikmat dari saudaranya, inilah bentuk menyakiti orang lain yang datangnya dari hati orang yang lemah dan inilah bentuk adanya kezhaliman di dalam kalbu. Inilah sikap hasud, yang menandakan kesombongan dan bentuk menentang Allah Swt. Ini pulalah asal muasal kerusakan; yang merupakan penyebab diusirnya iblis dari surga.

Pembuka tobat adalah kesadaran diri, dimana kesadaran diri merupakan cahaya yang Allah Swt sisipkan ke dalam kalbu hamba-Nya yang Dia inginkan. Hamba tersebut tersadarkan dari keterputusan diri dengan Allah yang Maha Pengasih; -Dzat yang telah menganugerahinya beragam nikmat yang tidak terhingga.-Namun hamba ini malah menggunakan beragam nikmat itu untuk memerangi-Nya dengan jalan melakukan perbuatan yang dibenci dan hilangnya rasa malu kepada-Nya, sedangkan ia berada di bawah pengawasan-Nya.

Di saat hamba tersebut sudah sadar, ia pun mengetahui perbuatan kriminal dan buruknya tingkah lakunya, sehingga ia pun memulai untuk merubah kondisi dirinya itu. Langkah pertama yang dilakukan untuk merubah kondisinya itu adalah dengan melepas kebiasaanya itu dan menjauhi semua hal yang mengarah pada kemaksiatan; baik berupa menjauhi tempat kemaksiatan maupun teman yang kerap mengajak pada kemaksiatan dan kemudian ia menggembleng dirinya dalam ketaatan dengan berusaha melakukan pensucian jiwa semampu dirinya, jangan malah melakukan perkara yang membebani dirinya.

Ada pepatah yang menyebutkan:

فَإِنَّ الْمُنبَتَ لَا أَرْضًا قَطَعَ، وَلَا ظَهْرًا أَبْقَى

“Sungguh dengan alat pemotong tidak ada lagi rerumputan yang nampak dan tidak ada lagi tanah yang terkena potong.”

Orang yang bertobat adalah seorang hamba yang melepaskan diri dari perbuatan maksiat dan membenci perbuatan tersebut, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt,

وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللّٰهِ ۗ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنَ الْاَ مْرِ لَعَنِتُّمْ وَ لٰـكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِ يْمَا نَ وَزَيَّنَهٗ فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ اِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَا لْفُسُوْقَ وَا لْعِصْيَا نَ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الرّٰشِدُوْنَ 
wa’lamuuu anna fiikum rosuulalloh, lau yuthii’ukum fii kasiirim minal-amri la’anittum wa laakinnalloha habbaba ilaikumul-iimaana wa zayyanahuu fii quluubikum wa karroha ilaikumul-kufro wal-fusuuqo wal-‘ishyaan, ulaaa-ika humur-roosyiduun

“Dan ketahuilah bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti (kemauan) kamu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 7)

Dia juga menyesali perbuatannya yang telah lampau dan bertekad kuat dalam diri untuk tidak kembali pada kemaksiatan itu selamanya. Dia pun mengembalikan beragam hak kepada pemiliknya dan menghalalkan orang lain yang belum mengembalikan haknya.

Jika dia meninggalkan perkara fardhu yang Allah Swt wajibkan secara sengaja atau karena lupa, maka ia akan mengqadhanya. Banyak para mursyid dan juga salik yang lupa akan perkara ini dan kemudian spontan menyematkan sifat sudah futuh kepada mereka yang tidak melakukan perkara tersebut, dimana terkadang engkau melihat orang yang melakukan perkara nawafil berjam-jam lamanya dan terkadang malah meninggalkan yang fardhu baginya, sementara yang fardhu itu sejatinya adalah pondasi. Maka jika ada orang yang bertobat lalu tidak meng-qadha apa ia tinggalkan dari perkara yang telah Allah Swt wajibkan, lantas bagaimana engkau bisa menyematkan sifat keistiqomahan tobat pada dirinya?

Berhati-hati pulalah dengan sikap menganggap remeh dan melalaikan perkara nafilah (yang sunah). Sebab, orang yang meng qadha perkara tersebut, ia akan mendapat pahala nafilah dan juga pahala perkara yang fardhu; -yaitu dalam kondisi dirinya dilarang melakukan perkara nafilah kecuali hanya perkara nafilah itu saja yang bisa dia lakukan.-

Kemudian hendaklah dia berusaha semaksimal mungkin mengejar ketertinggalan melakukan perbuatan baik semasa dahulu dirinya melakukan kemaksiatan.

Sayyidah Rabi’ah Al Adawiyah pernah berkata, “Tobat kita ini selalu memerlukan tobat yang lainnya.” Hal tersebut lantaran keutamaan Allah Swt dan bukan lantaran keutamaan orang yang bertobat itu, sebab  Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَّعَلَى الثَّلٰثَةِ الَّذِيْنَ خُلِّفُوْا ۗ حَتّٰۤى اِذَا ضَا قَتْ عَلَيْهِمُ الْاَ رْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَا قَتْ عَلَيْهِمْ اَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوْۤا اَنْ لَّا مَلْجَاَ مِنَ اللّٰهِ اِلَّاۤ اِلَيْهِ ۗ ثُمَّ تَا بَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوْبُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ هُوَ التَّوَّا بُ الرَّحِيْمُ
wa ‘alas-salaasatillaziina khullifuu, hattaaa izaa dhooqot ‘alaihimul-ardhu bimaa rohubat wa dhooqot ‘alaihim angfusuhum wa zhonnuuu al laa malja-a minallohi illaaa ilaiih, summa taaba ‘alaihim liyatuubuu, innalloha huwat-tawwaabur-rohiim

“dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan. Hingga ketika Bumi terasa sempit bagi mereka, padahal Bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah (pula terasa) sempit bagi mereka serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 118)

Dengan melakukan ini semua, maka telah hilanglah sisi kezhaliman dari diri hamba tersebut, dimana diri orang yang bertobat juga sudah keluar dari putaran kezhaliman, sebagaimana Allah Swt firmankan,

هُوَ الَّذِيْ يُصَلِّيْ عَلَيْكُمْ وَمَلٰٓئِكَتُهٗ لِيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ  ۗ وَكَا نَ بِا لْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا
huwallazii yushollii ‘alaikum wa malaaa-ikatuhuu liyukhrijakum minazh-zhulumaati ilan-nuur, wa kaana bil-mu-miniina rohiimaa

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 43)

2. Istiqomah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَا سْتَقِمْ كَمَاۤ اُمِرْتَ وَمَنْ تَا بَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
fastaqim kamaaa umirta wa mang taaba ma’aka wa laa tathghou, innahuu bimaa ta’maluuna bashiir

“Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Hud 11: Ayat 112)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ يَحْمِلُوْنَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهٗ يُسَبِّحُوْنَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُوْنَ بِهٖ وَيَسْتَغْفِرُوْنَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا  ۚ رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَّعِلْمًا فَا غْفِرْ لِلَّذِيْنَ تَا بُوْا وَا تَّبَعُوْا سَبِيْلَكَ وَقِهِمْ عَذَا بَ الْجَحِيْمِ
allaziina yahmiluunal-‘arsya wa man haulahuu yusabbihuuna bihamdi robbihim wa yu-minuuna bihii wa yastaghfiruuna lillaziina aamanuu, robbanaa wasi’ta kulla syai-ir rohmataw wa ‘ilmang faghfir lillaziina taabuu wattaba’uu sabiilaka wa qihim ‘azaabal-jahiim

“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu meliputi segala sesuatu maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan (agama)-Mu dan peliharalah mereka dari azab neraka.”
(QS. Ghafir 40: Ayat 7)

Istiqomah adalah sikap berjalan di tengah jalan kesungguhan. la pun bermakna imbang dalam perkataan, perbuatan dan juga kondisi diri.

Di saat Allah Swt telah memberikan nikmat berupa tobat, maka Allah Swt telah memindahkan diri orang tersebut kepada cahaya, sehingga orang ini pun berada dalam benteng kesucian ilahi, dimana orang tersebut kala itu sebagai objek daripada firman Allah Swt,

اَلطَّلَا قُ مَرَّتٰنِ ۖ فَاِ مْسَا كٌ بِۢمَعْرُوْفٍ اَوْ تَسْرِيْحٌ بِۢاِحْسَا نٍ ۗ وَلَا يَحِلُّ لَـکُمْ اَنْ تَأْخُذُوْا مِمَّاۤ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ شَيْــئًا اِلَّاۤ اَنْ يَّخَا فَاۤ اَ لَّا يُقِيْمَا حُدُوْدَ اللّٰهِ ۗ فَاِ نْ خِفْتُمْ اَ لَّا يُقِيْمَا حُدُوْدَ اللّٰهِ ۙ فَلَا جُنَا حَ عَلَيْهِمَا فِيْمَا افْتَدَتْ بِهٖ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَعْتَدُوْهَا ۚ وَمَنْ يَّتَعَدَّ حُدُوْدَ اللّٰهِ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
ath-tholaaqu marrotaani fa imsaakum bima’ruufin au tasriihum bi-ihsaan, wa laa yahillu lakum ang ta-khuzuu mimmaaa aataitumuuhunna syai-an illaaa ay yakhoofaaa allaa yuqiimaa huduudalloh, fa in khiftum allaa yuqiimaa huduudallohi fa laa junaaha ‘alaihimaa fiimaftadat bih, tilka huduudullohi fa laa ta’taduuhaa, wa may yata’adda huduudallohi fa ulaaa-ika humuzh-zhoolimuun

“Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik atau melepaskan dengan baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali keduanya (suami dan istri) khawatir tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh istri) untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang zalim.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 229)

Maka jika ada orang yang berada di sisi suatu batas dan ia tidak melampauinya, maka ia pun tidak dikatakan telah keluar dari maqam tobat.

Di dalam maqam istiqomah, ia pun menjadi objek dari firman Allah Swt,Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اُحِلَّ لَـکُمْ لَيْلَةَ الصِّيَا مِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَآئِكُمْ ۗ هُنَّ لِبَا سٌ لَّـكُمْ وَاَ نْـتُمْ لِبَا سٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّکُمْ كُنْتُمْ تَخْتَا نُوْنَ اَنْفُسَکُمْ فَتَا بَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَا لْــئٰنَ بَا شِرُوْهُنَّ وَا بْتَغُوْا مَا کَتَبَ اللّٰهُ لَـكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَا شْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَـكُمُ الْخَـيْطُ الْاَ بْيَضُ مِنَ الْخَـيْطِ الْاَ سْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَا مَ اِلَى الَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَا شِرُوْهُنَّ وَاَ نْـتُمْ عٰكِفُوْنَ ۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّا سِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
uhilla lakum lailatash-shiyaamir-rofasu ilaa nisaaa-ikum, hunna libaasul lakum wa angtum libaasul lahunn, ‘alimallohu annakum kungtum takhtaanuuna angfusakum fa taaba ‘alaikum wa ‘afaa ‘angkum, fal-aana baasyiruuhunna wabtaghuu maa kataballohu lakum, wa kuluu wasyrobuu hattaa yatabayyana lakumul-khoithul-abyadhu minal-khoithil-aswadi minal-fajr, summa atimmush-shiyaama ilal-laiil, wa laa tubaasyiruuhunna wa angtum ‘aakifuuna fil-masaajid, tilka huduudullohi fa laa taqrobuuhaa, kazaalika yubayyinullohu aayaatihii lin-naasi la’allahum yattaquun

“Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka ketika kamu beritikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 187)

Oleh karena itu, seyogyanya ia membuat batasan antara dirinya dan perkara yang haram, sehingga ia bisa menjauh dari batasan tersebut dan tidak lagi mendekati batasan itu.

Yang dinilai maksiat dalam maqam tobat adalah jika orang tersebut melakukan perbuatan maksiat. Sedangkan yang dinilai maksiat dalam maqam istiqomah dari kemaksiatan adalah mendekati kemaksiatan itu sendiri. -Tinggalkanlah hal yang membuatmu ragu menuju hal yang tidak membuatmu ragu (perkara yang engkau yakini). Orang yang menjaga dirinya dari perkara syubhat, maka ia telah membebaskan agama dan kehormatan dirinya. Diantara perkara syubhat adalah beragam perbedaan dalam kajian fikih lawan debat yang tidak dibarengi dalil yang kuat.

Di saat kemaksiatan itu dilatarbelakangi oleh kecerobohan dan berlebih-lebihan, maka tengah-tengah itu adalah sebuah sikap yang terpuji. -kedermawanan adalah sikap tengah antara boros dan kikir-, maka condong dari batasan tengah itu berarti mendekati arah maksiat; baik itu ceroboh atau juga berlebih-lebihan.

Dalam magam tobat, seseorang yang memperhatikan sisi balasan pahala tidaklah membahayakan dirinya, sedangkan dalam maqam istiqomah, maka janganlah sekali-kali bertujuan mengharapkan balasan pahala. Hendak dirinya berada pada jalur tengah yaitu istiqomah, dimana keistiqomahan ini setara dengan beragam perkara baik yang ada di dalam diri, seperti kesabaran, rasa syukur, tawakkal, ridha, sederhana, berani, berprilaku baik dan juga semua keutamaan serta akhlak baik yang ada di dalam diri.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَا لُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَا مُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰٓئِكَةُ اَ لَّا تَخَا فُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَ بْشِرُوْا بِا لْجَـنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
innallaziina qooluu robbunallohu summastaqoomuu tatanazzalu ‘alaihimul-malaaa-ikatu allaa takhoofuu wa laa tahzanuu wa absyiruu bil-jannatillatii kungtum tuu’aduun

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.””
(QS. Fussilat 41: Ayat 30)

3. Taqwa

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَ لَاۤ اِنَّ اَوْلِيَآءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ 
alaaa inna auliyaaa-allohi laa khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun

“Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
(QS. Yunus 10: Ayat 62)

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَا نُوْا يَتَّقُوْنَ 
allaziina aamanuu wa kaanuu yattaquun

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.”
(QS. Yunus 10: Ayat 63)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا تْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِا لْحَـقِّ ۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَا نًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰ خَرِ ۗ قَا لَ لَاَ قْتُلَـنَّكَ ۗ قَا لَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ
watlu ‘alaihim naba-abnai aadama bil-haqq, iz qorrobaa qurbaanang fa tuqubbila min ahadihimaa wa lam yutaqobbal minal-aakhor, qoola la-aqtulannak, qoola innamaa yataqobbalullohu minal-muttaqiin

“Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.””
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 27)

Takwa adalah bentuk pencegahan diri dari adzab dan murka Allah Swt, kekurangan diri dan juga bentuk pengagungan Dzat Allah Swt dimata manusia.

Takwa berasal dari kata “waqa-yaqi,” sebagaimana Allah Swt berfirman,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا وَّقُوْدُهَا النَّا سُ وَا لْحِجَا رَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَا ظٌ شِدَا دٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu quuu angfusakum wa ahliikum naarow wa quuduhan-naasu wal-hijaarotu ‘alaihaa malaaa-ikatun ghilaazhung syidaadul laa ya’shuunalloha maaa amarohum wa yaf’aluuna maa yu-maruun

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)

Juga sebagaimana perkataan orang arab, “Tawaqqa as-sahma wattaqaahu.”

Katakwaan adalah bentuk pemeliharaan kebenaran untuk Dzat Allah Swt tanpa memikirkan sisi pahala, dimana hal ini merupakan tingkatan paling rendah dalam menjauhkan diri dari kesyirikan, sedangkan tingkatan yang paling tinggi adalah memurnikan sirr (jiwa) dari kesibukan pada selain Allah Swt.

Nabi Saw pernah bersabda,

لَا يَكُوْنُ الرَّجُلُ مِنَ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَالَا بَأْسَ بِهِ مَخَافَةَ مِمَّا بِهِ بَأْسٌ

“Seseorang tidaklah digolongkan ke dalam orang yang bertakwa sampai ia meninggalkan perkara yang tidak mengapa (mubah dilakukan) lantaran takut di dalamnya ada perkara yang tidak boleh dilakukan.” (HR. At-Tirmidzi, ia menilainya hasan, Ibnu Majah, Al Hakim, ia menilainya shahih, dari riwayat ‘Athiyyah As Sa’di).

Dari riwayat ini engkau telah mengetahui, bahwa meninggalkan perkara yang dimubahkan lantaran takut di dalamnya terdapat perkara yang dilarang merupakan bentuk pengaplikasian maqam istiqamah dan dari maqam ini dia naik menuju maqam takwa.

Pada maqam tobat, seorang salik takut pada hukuman yang nyata; yaitu berupa ujian yang tampak dan juga akan dimasukkan ke dalam neraka; atau juga berupa ujian yang tidak tampak, yaitu tidak mendapatkan ridho Allah Swt. Sedangkan pada maqam istiqamah, seorang salik seringkali merasa takut jika dirinya kurang sempurna dalam menjalankan perkara yang berkaitan dengan sisi keesaan Allah Swt dalam segala seginya. Sementara pada maqam takwa, seorang salik kerap merasa takut kepada Allah Swt sebagai simbol pengagungan terhadap Dzat-Nya, yaitu di saat dirinya sudah merasa aman dari adzab dan murka Allah Swt. Dan dikatakan kepadanya, “Berbuatlah apa saja sebab engkau telah diampuni,” maka ia pun tidak akan melakukan beragam perkara kecuali yang Allah Swt suka dan mengundang keridhaan-Nya, dirinya pun selalu dikelilingi rasa malu kepada Allah Swt, sebab Nabi Saw pernah bersabda,

دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ خَيْرٌ كُلُّهُ

“Biarkan saja dia, sebab seluruh rasa malu itu adalah baik baginya.”

Pengagungan dirinya kepada kebenaran merupakan cermin pengagungan dirinya kepada Allah Swt, mungkin inilah makna yang tepat. – Wallahu A’lam. Ini pula yang menjadi makna sabda Nabi Muhammad Saw kepada orang-orang yang ikut perang Badar,

إِنَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ، فَقَالَ: اِعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

“Sungguh Allah melihat orang-orang yang ikut perang Badar dan la berfirman, ‘Lakukanlah sesuka kalian, dimana Aku telah ampuni kalian.”

Rasa malu dan pengagungan mereka kepada Allah Swt itulah yang menjadi pemisah antara diri mereka dan juga pelanggaran (melakukan kemaksiatan). Posisi diri mereka ini berada pada pemeliharaan Dzat Allah Swt untuk diri mereka sendiri, sebab Allah Swt haruslah ditaati dan tidak melakukan kemaksiatan terhadap Dzat-Nya, hal itu dilakukan bukan lantaran takut pada adzab-Nya.

Di dalam maqam takwa terdapat sikap berpegang teguh kepada Allah Swt, yaitu hendaknya ketakwaan dirimu itu untuk Allah Swt, dengan pertolongan Allah dan bukan mengandalkan hawa-mu. Kondisi inilah yang cocok disematkan pada para sahabat Rasulillah Saw.

Sedangkan terkait perbedaan pendapat yang lahir dari kalangan sahabat Nabi, maka makna hal tersebut termasuk dalam kategori yang disabdakan oleh Nabi Saw,

مَنِ اجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَمَنِ اجْتَهَدَ فَأَخْطَا فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ

“Barangsiapa yang berijtihad dan ijtihadnya itu benar, maka ia mendapat dua pahala dan barangsiapa yang berijtihad dan ternyata ijtihadnya salah, maka ia mendapatkan satu pahala.”

Diriwayatkan dari Umar, dari Nabi Saw, terkait dengan Salim maula Abu Hudzaifah,

لَوْ لَمْ يَخَفِ اللَّهَ مَا عَصَاهُ

“Jikalau ia tidak takut kepada Allah, niscaya ia pun tidak akan berbuat maksiat terhadap-Nya.” (HR. Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dari riwayat ‘Abdullah bin Al Arqam).

Maknanya adalah, bahwa meskipun diri orang tersebut dalam kondisi aman (tidak merasakan takut), dia tidak akan melakukan pelanggaran (perbuatan maksiat) lantaran malu kepada Allah Swt.

Rasa takut dalam diri -kewibawaan diri- merupakan bentuk pengagungan seorang kepada Allah Swt terhadap sisi Dzat-Nya dan ia berada pada posisi orang-orang yang bertakwa, sebagaimana yang Allah Swt firmankan,

فَبِاَ يِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ 
fa bi-ayyi aalaaa-i robbikumaa tukazzibaan

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 47)

4. Ikhlas; Maqam Furqan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا صْبِرْ نَـفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِا لْغَدٰوةِ وَا لْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْ ۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَ لَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَا تَّبَعَ هَوٰٮهُ وَكَا نَ اَمْرُهٗ فُرُطًا
washbir nafsaka ma’allaziina yad’uuna robbahum bil-ghodaati wal-‘asyiyyi yuriiduuna waj-hahuu wa laa ta’du ‘ainaaka ‘an-hum, turiidu ziinatal-hayaatid-dun-yaa, wa laa tuthi’ man aghfalnaa qolbahuu ‘ang zikrinaa wattaba’a hawaahu wa kaana amruhuu furuthoo

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 28)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنَّ صَلَا تِيْ وَنُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَمَمَا تِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ 
qul inna sholaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi robbil-‘aalamiin

“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 162)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَ لَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَا لِصُ ۗ وَا لَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖۤ اَوْلِيَآءَ ۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَاۤ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰى ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّا رٌ
alaa lillaahid-diinul-khoolish, wallaziinattakhozuu ming duunihiii auliyaaa, maa na’buduhum illaa liyuqorribuunaaa ilallohi zulfaa, innalloha yahkumu bainahum fii maa hum fiihi yakhtalifuun, innalloha laa yahdii man huwa kaazibung kaffaar

“Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 3)

Ikhlas adalah bentuk memurnikan haluan ibadah kepada Allah Swt.

Andai Allah Swt tidak menciptakan neraka, maka manusia dalam peribadatannya ada yang berubah dan juga ada yang tidak berubah. Begitu pula andai Allah Swt tidak menciptakan surga. Anggap saja Allah Swt telah memutuskan suatu kaum untuk dimasukkan ke dalam neraka, sekalipun mereka tahu hal itu secara pasti sebagai berita yang tidak mungkin bohong. Begitu pula sebaliknya, andai Allah Swt telah menetapkan suatu kaum masuk ke dalam neraka, maka diantara kaum tersebut ada yang ibadahnya berubah dan ada juga yang tidak. Rasulullah Saw pernah bersabda,

أَفَلَا أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُورًا

“Apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang bersyukur.”

Orang-orang yang ibadahnya tidak berubah, mereka adalah orang-orang yang murni menyembah Allah Swt, dimana penyembahannya itu murni untuk Allah Swt semata. Maka sekalipun ada perkataan sufi yang menyatakan, bahwa dalam beribadah mereka tidak melihat surga atau juga neraka, yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh Rabi’ah Al ‘Adawiyyah Ra:

الْكُلُّ يَعْبُدُوكَ مِنْ خَوْفِ نَارٍ # يَرَوْنَ النَّجَاةَ حَظًّا جَزِيلاً

“Seluruhnya menyembah-Mu lantaran takut pada neraka, # mereka melihat keselamatan adalah keberuntungan yang besar.”

Yang mereka maksud bukanlah menyepelekan adzab dan pahala Allah Swt -mereka berlindung dari hal demikian-, sebab mereka adalah orang-orang yang memiliki adab yang luhur kepada Allah Swt; Allah lah yang telah memberikan karunia kepada mereka berupa adab tersebut. Akan tetapi yang mereka inginkan dari pernyataan itu adalah sikap ikhlas beribadah hanya untuk Allah Swt semata.

Jika Allah Swt telah menganugerahkan karunia kepada orang-orang yang ibadahnya demikian, mereka pun akan hanyut dengan Allah tanpa memandang sisi keilmuan mereka, mereka inilah orang-orang yang ikhlas.

Dalam maqam takwa, mereka tidak lagi memandang pahala, sedangkan dalam maqam ikhlas mereka hanyut dan tidak lagi memandang amal perbuatan dan patokan sisi keikhlasan diri.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَتَّقُوا اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّـكُمْ فُرْقَا نًا وَّيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ۗ وَ اللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu ing tattaqulloha yaj’al lakum furqoonaw wa yukaffir ‘angkum sayyi-aatikum wa yaghfir lakum, wallohu zul-fadhlil-‘azhiim

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 29)

Furqân di sini adalah cahaya yang mampu membedakan antara yang benar dan yang batil dalam perkara yang kondisinya telah berbaur, dimana cahaya ini mampu mengurai permasalahan yang tersembunyi dengan memberikan pengetahuan dan juga solusinya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يُؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَآءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الْاَ لْبَا بِ
yu-til-hikmata may yasyaaa, wa may yu-tal-hikmata fa qod uutiya khoirong kasiiroo, wa maa yazzakkaru illaaa ulul-albaab

“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 269)

Yang dimaksud dari Al Hikmah adalah mengenai sasaran kebenaran makrifat -pada dzat, pada inti diri, pada sisi manfaat dan pada tujuan akhirnya- meskipun sangat sulit diketahui. Dengan bahasa lain, bahwa Al Hikmah adalah ulasan yang dapat membawa seseorang sampai pada hal yang ia inginkan dari segi makna dan juga dari segi kontradiksi yang disuguhkan pada makna tersebut.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَا كْتُبُوْهُ ۗ وَلْيَكْتُبْ بَّيْنَكُمْ كَا تِبٌ بِۢا لْعَدْلِ ۖ وَلَا يَأْبَ كَا تِبٌ اَنْ يَّكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللّٰهُ فَلْيَكْتُبْ ۚ وَلْيُمْلِلِ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَـقُّ وَلْيَتَّقِ اللّٰهَ رَبَّهٗ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْــئًا ۗ فَاِ نْ كَا نَ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَـقُّ سَفِيْهًا اَوْ ضَعِيْفًا اَوْ لَا يَسْتَطِيْعُ اَنْ يُّمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهٗ بِا لْعَدْلِ ۗ وَا سْتَشْهِدُوْا شَهِيْدَيْنِ مِنْ رِّجَا لِكُمْ ۚ فَاِ نْ لَّمْ يَكُوْنَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَّا مْرَاَ تٰنِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَآءِ اَنْ تَضِلَّ اِحْدٰٮهُمَا فَتُذَكِّرَ اِحْدٰٮهُمَا الْاُ خْرٰى ۗ وَ لَا يَأْبَ الشُّهَدَآءُ اِذَا مَا دُعُوْا ۗ وَلَا تَسْــئَمُوْۤا اَنْ تَكْتُبُوْهُ صَغِيْرًا اَوْ كَبِيْرًا اِلٰۤى اَجَلِهٖ ۗ ذٰ لِكُمْ اَقْسَطُ عِنْدَ اللّٰهِ وَاَ قْوَمُ لِلشَّهَا دَةِ وَاَ دْنٰۤى اَ لَّا تَرْتَا بُوْۤا اِلَّاۤ اَنْ تَكُوْنَ تِجَا رَةً حَا ضِرَةً تُدِيْرُوْنَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَا حٌ اَ لَّا تَكْتُبُوْهَا ۗ وَاَ شْهِدُوْۤا اِذَا تَبَايَعْتُمْ ۖ وَلَا يُضَآ رَّ كَا تِبٌ وَّلَا شَهِيْدٌ ۗ وَاِ نْ تَفْعَلُوْا فَاِ نَّهٗ فُسُوْقٌ بِۢكُمْ ۗ وَ اتَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُ ۗ وَا للّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu izaa tadaayangtum bidainin ilaaa ajalim musammang faktubuuh, walyaktub bainakum kaatibum bil-‘adli wa laa ya-ba kaatibun ay yaktuba kamaa ‘allamahullohu falyaktub, walyumlilillazii ‘alaihil-haqqu walyattaqillaaha robbahuu wa laa yabkhos min-hu syai-aa, fa ing kaanallazii ‘alaihil-haqqu safiihan au dho’iifan au laa yastathii’u ay yumilla huwa falyumlil waliyyuhuu bil-‘adl, wastasy-hiduu syahiidaini mir rijaalikum, fa il lam yakuunaa rojulaini fa rojuluw wamro-ataani mim mang tardhouna minasy-syuhadaaa-i ang tadhilla ihdaahumaa fa tuzakkiro ihdaahumal-ukhroo, wa laa ya-basy-syuhadaaa-u izaa maa du’uu, wa laa tas-amuuu ang taktubuuhu shoghiiron au kabiiron ilaaa ajalih, zaalikum aqsathu ‘ingdallohi wa aqwamu lisy-syahaadati wa adnaaa allaa tartaabuuu illaaa ang takuuna tijaarotan haadhirotang tudiiruunahaa bainakum fa laisa ‘alaikum junaahun allaa taktubuuhaa, wa asy-hiduuu izaa tabaaya’tum wa laa yudhooorro kaatibuw wa laa syahiid, wa ing taf’aluu fa innahuu fusuuqum bikum, wattaqulloh, wa yu’allimukumulloh, wallohu bikulli syai-in ‘aliim

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang-piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah dia menuliskan. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun dari padanya. Jika yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya), atau tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada), agar jika yang seorang lupa maka yang seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual-beli, dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 282)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَا دِنَاۤ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا
fa wajadaa ‘abdam min ‘ibaadinaaa aatainaahu rohmatam min ‘ingdinaa wa ‘allamnaahu mil ladunnaa ‘ilmaa

“lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 65)

Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ عَمِلَ بِمَا يَعْلَمُ وَرَّثَهُ اللَّهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Barangsiapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, niscaya Allah akan mewariskan ilmu yang tidak dia ketahui.”

Diriwayatkan dari Abu Umamah, dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَنْظُرُ إِلَى مَحَاسِنِ امْرَأَةٍ، ثُمَّ يَغْضُّ بَصَرَهُ إِلَّا أَحْدَثَ اللَّهُ لَهُ عِبَادَةً يَجِدُ حَلَاوَتَهَا

“Tidaklah ada seorang muslim yang melihat keindahan seorang wanita, kemudian ia menundukkan pandangannya, kecuali Allah akan membuatkan untuknya ibadah yang kenikmatannya terasa di kalbu.” (HR. Ahmad; Ath-Thabrani; dan Al Baihaqi)

Al Baihaqi lalu berkata, “Akan tetapi yang dimaksud dari hadits tersebut -jika memang benar; Wallahu A’lam bahwa ketika mata sang lelaki tak sengaja melihat wanita tersebut tanpa tujuan apa-apa dan sang lelaki langsung membuang pandangannya itu lantaran sikap wara. Maka ibadah itu merupakan cahaya yang datangnya dari Allah Swt.

Ikhlash merupakan permulaan turunnya limpahan karunia (Al Faidh) yang khusus dan juga bentuk merasakan nikmatnya kedekatan diri dengan Allah Swt. Kondisi ini selalu meningkat, sehingga yang difokuskan adalah kondisi Ash-Shidq (jujurnya kondisi jiwa), hingga ia sampai pada maqam yakin.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِلَّا الَّذِيْنَ تَا بُوْا وَاَ صْلَحُوْا وَا عْتَصَمُوْا بِا للّٰهِ وَاَ خْلَصُوْا دِيْنَهُمْ لِلّٰهِ فَاُ ولٰٓئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَ ۗ وَسَوْفَ يُـؤْتِ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًا
illallaziina taabuu wa ashlahuu wa’tashomuu billaahi wa akhlashuu diinahum lillaahi fa ulaaa-ika ma’al-mu-miniin, wa saufa yu-tillaahul-mu-miniina ajron ‘azhiimaa

“kecuali orang-orang yang bertobat memperbaiki diri dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 146)

Allah Swt lah yang memberikan karunia kepada mereka berupa keikhlasan dan menjadikan diri mereka ikhlas, sehingga mereka pun bisa ikhlas dalam amal perbuatan mereka.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰٓئِفٌ مِّنَ الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِ ذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَ 
innallaziinattaqou izaa massahum thooo-ifum minasy-syaithooni tazakkaruu fa izaa hum mubshiruun

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 201)

Maksudnya adalah, bahwa mereka melihat dengan mata kalbu dan bukan mata yang merupakan anggota tubuh; inilah maqam takwa.

Sedangkan dalam maqam ikhlas, mereka pun selalu melihat (kesalahan-kesalahan) yang mereka perbuat, mereka layaknya memiliki mata baru yang lainnya. Maka andai syeithan pun mendatangi mereka dengan beragam tipu muslihat yang tersembunyi-, maka mereka pun mampu menggagalkan dan mengidentifikasi tipuan tersebut, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah atsar.

لَوْ لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ قَطُّ سَالِكًا فَبًّا إِلَّا سَلَكَ فَبًّا غَيْرَ فَجِّكَ

“Jika syeithan menemuimu sedang berjalan di suatu gang, maka ia akan memilih gang lainnya.”

Diriwayatkan bahwa Ali Ra memerangi seorang lelaki yang keluar dari barisan kaum musyrikin dan membantai kaum muslimin serta membunuh beberapa orang; maka keduanya berduel hingga pedang dan tombak keduanya patah, lalu keduanya bergulat dan Ali berhasil mengalahkannya dengan mencekiknya, lalu lelaki itu meludahi Ali, kemudian ia berdiri dan lalu lari. Ali pun pernah ditanya mengapa lelaki itu dibiarkan begitu saja, setelah berusaha menjatuhkannya. Diriwayatkan bahwa beliau lalu berkata, “Aku takut, kemarahanku karena Allah Swt itu bercampur dengan kemarahan yang timbul dari dalam diriku, sehingga aku pun binasa.” Maka lelaki itu pun kemudian memeluk Islam dan Ali pun banyak berbaur dengannya. -Aku tidak tahu keabsahan riwayat ini, akan tetapi kusebutkan riwayat ini sebagai sarana pembelajaran.-

Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menilai dirinya telah beramal dan juga sudah ikhlas.

Maqam dirinya berada pada maqam penyaksian kekuatan diri, ia selalu mengharapkan kautamaan dari Allah Swt dimulai dari level merasa belum memiliki amal simpanan, sebab apa yang telah ia kerjakan, bagi dirinya sama saja ia belum berbuat apa-apa.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ وَمَنْ يَّتَّبِعْ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ فَاِ نَّهٗ يَأْمُرُ بِا لْـفَحْشَآءِ وَا لْمُنْكَرِ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ مَا زَكٰى مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ اَبَدًا وَّلٰـكِنَّ اللّٰهَ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa tattabi’uu khuthuwaatisy-syaithoon, wa may yattabi’ khuthuwaatisy-syaithooni fa innahuu ya-muru bil-fahsyaaa-i wal-mungkar, walau laa fadhlullohi ‘alaikum wa rohmatuhuu maa zakaa mingkum min ahadin abadaw wa laakinnalloha yuzakkii may yasyaaa, wallohu samii’un ‘aliim

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. An-Nur 24: Ayat 21)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اَ تُحَآ جُّوْنَـنَا فِى اللّٰهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّکُمْ ۚ وَلَنَاۤ اَعْمَا لُـنَا وَلَـكُمْ اَعْمَا لُكُمْ ۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُخْلِصُوْنَ 
qul a tuhaaajjuunanaa fillaahi wa huwa robbunaa wa robbukum, wa lanaaa a’maalunaa wa lakum a’maalukum, wa nahnu lahuu mukhlishuun

“Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu hendak berdebat dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu, dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 139)

5. Ash-Shidq

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuttaqulloha wa kuunuu ma’ash-shoodiqiin

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 119)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ رِجَا لٌ صَدَقُوْا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيْهِ ۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ قَضٰى نَحْبَهٗ ۙ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوْا تَبْدِيْلًا 
minal-mu-miniina rijaalung shodaquu maa ‘aahadulloha ‘alaiih, fa min-hum mang qodhoo nahbahuu wa min-hum may yangtazhiru wa maa baddaluu tabdiilaa

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya),”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 23)

Yang dimaksud dengan Ash-Shidq adalah menggapai suatu tujuan dengan tekad kuat, berusaha sungguh-sungguh mencapainya dengan beragam kesempurnaan.

Dalam maqam istiqomah, semua perkara yang baik kedudukannya setara di dalam diri. Sedangkan dalam maqam shidq, perkara baik pada dirinya berada pada puncak tertinggi, sekalipun kedudukannya setara.

Sebagian orang ada yang kecintaan dirinya bersifat tenang, tanpa adanya rasa rindu yang memuncah dan membakar hati. Sebagian yang lain ada yang selalu haus dengan rasa rindu yang memuncah, kondisi dirinya seperti orang kehausan yang mencari-cari keberadaan air. Atau juga kondisi orang kelaparan yang mencari-cari makanan. Dirinya dikuasai oleh cinta yang menyala dan bergejolak, sehingga tidak ada istirahat, tidak ada ketenangan, tidak ada sikap sabar dan tidak pula sikap menyabarkan diri. Setiap kali ada waktu lapang, maka kecintaan itu semakin bertambah. Demikian inilah kondisi bathinnya, ia mencintai Allah Swt lantaran Allah Swt telah menganugerahinya begitu banyak nikmat, ia pun mencintai-Nya lantaran Dia Dzat yang dermawan, pemberi nikmat dan segalanya; ia pun mencintai-Nya karena Dialah satu-satunya pemilik kesempurnaan Dzat, yang tidak bisa digambarkan.

Jika kita anggap bahwa ketika itu dirinya hanyut untuk menyaksikan beragam nikmat yang telah Allah Swt berikan kepadanya (tidak lagi memandang nikmat tersebut) dan juga hanyut dari penyaksian beragam sifat Allah Swt yang berkaitan dengan wujudnya alam semesta ini, maka yang menjadi fokusnya kala itu adalah, bahwa dirinya melihat pada kesempurnaan Dzat Allah Swt yang azali dan juga abadi; Dzat yang suci dari segala kekurangan, Dzat-Nya tidak bisa dicerna oleh akal manusia dan tidak dapat dilihat oleh mata, la memiliki kesempurnaan diri; maka hal ini merupakan bagian kecintaan dirinya kepada Allah Swt dengan kecintaan tinggi dan melekat kuat, dimana kecintaannya ini memaksa dirinya untuk selalu rindu kepada Dzat yang ia cintai, layaknya orang tenggelam yang butuh pertolongan. Dia pun mencintai semua yang berasal dari-Nya; baik berupa beragam nikmat, rahmat dan keutamaan milik-Nya.

Rabi’ah Al ‘Adawiyah pernah berkata,

أُحِبُّكَ حُبَّيْنِ: حُبَّ الْهَوَى # وَحُبًّا لِأَنَّكَ أَهْلٌ لِذَاكَا

“Aku mencintaimu dengan dua kecintaan; cinta lantaran hawa (kecenderungan biologis;) dan juga cinta lantaran Engkaulah yang patut dicinta.”

Perkataan ini merupakan kondisi maqam seseorang yang tenggelam dalam cinta, dirinya terasa terbelenggu dan menjadi tawanan Allah Swt. Kecintaan dan akhlak orang yang dalam kondisi ini merupakan hal natural yang tidak ada kaitannya dengan bentuk pembebanan seseorang dengan suatu perkara.

Orang yang memiliki kecintaan yang murni luar dalam, dirinya tidak akan terkejut saat mendapatkan ujian dan cabaan; bentuk cobaan bisa berbentuk kebaikan, sebagaimana cobaan yang juga identik dengan keburukan. Beragam kabar gembira tidak membuat dirinya berbuat semena-mena dan ancaman pun tidak pernah menyusahkan dirinya. Fitnah yang menerpa malah menambah kokohnya keimanan. Kesabaran dirinya adalah bentuk kesabaran yang sesungguhnya, begitu pula rasa syukur dirinya yang merupakan bentuk syukur sesungguhnya, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِا لْقَوْلِ الثَّا بِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰ خِرَةِ ۚ وَيُضِلُّ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَ ۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَآءُ
yusabbitullohullaziina aamanuu bil-qoulis-saabiti fil-hayaatid-dun-yaa wa fil-aakhiroh, wa yudhillullohuzh-zhoolimiin, wa yaf’alullohu maa yasyaaa

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 27)

Kerjaannya adalan mencinta, sehingga semuanya berkaitan dengan cinta. Kecintaan itu menggiring dirinya dari sikap ikhlas (beribadah) menuju kecintaan murni; dimana dalam kecintaan tersebut ada murninya pengharapan, murninya kesabaran, muminya sikap bersyukur, dimana murninya kejujuran dalam setiap akhlak yang baik merupakan perbuatan yang terpuji.

Yang dimaksud jujurnya lisan pada hal yang lalu, bukanlah bermakna bahwa itu merupakan bagian dari pelengkapnya maqam tobat, namun yang kami maksud di sini adalah jujur atau murninya kondisi jiwa. Di dalam sebuah hadits disebutkan,

اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي وَسَمْعِي وَبَصَرِي وَأَهْلِي وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ

“Ya Allah, jadikanlah kecintaan-Mu lebih aku sukai daripada diri, pendengaran, penglihatan, keluarga, serta hartaku dan juga (kecintaan itu bahkan lebih) daripada air yang dingin (sekalipun).”

Maka orang yang mencintai Allah Swt, secara otomatis ia akan mencintai Dzat-Nya dan murni mencintai karena-Nya.

Yang termasuk anak tangga mencintai Allah Swt adalah mencintai orang-orang yang Allah Swt cintai sesuai kadar kedekatan mereka kepada Allah Swt; sebab mereka memiliki kecintaan tulus untuk Allah Swt, lantaran mereka adalah orang-orang yang Allah Swt cintai, sebagaimana firman Allah Swt,

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْـنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗۤ ۙ اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ ۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَا فُوْنَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu may yartadda mingkum ‘ang diinihii fa saufa ya-tillaahu biqoumiy yuhibbuhum wa yuhibbuunahuuu azillatin ‘alal-mu-miniina a’izzatin ‘alal-kaafiriina yujaahiduuna fii sabiilillaahi wa laa yakhoofuuna laumata laaa-im, zaalika fadhlullohi yu-tiihi may yasyaaa, wallohu waasi’un ‘aliim

“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 54)

Juga sebagaimana yang tertera dalam sebuah hadits qudsi,

وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِينَ فِيَّ

“Kecintaan-Ku wajib (didapatkan) bagi orang-orang yang saling mencintai pada-Ku.”

Cinta merupakan sifat yang menonjol dalam magam Ash Shida (murninya kejujuran jiwa). Dan pada cintalah pusat magam Ash-Shidq ini. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لِّيَجْزِيَ اللّٰهُ الصّٰدِقِيْنَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنٰفِقِيْنَ اِنْ شَآءَ اَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا 
liyajziyallohush-shoodiqiina bishidqihim wa yu’azzibal-munaafiqiina ing syaaa-a au yatuuba ‘alaihim, innalloha kaana ghofuuror rohiimaa

“agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan mengazab orang munafik jika Dia kehendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 24)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِا للّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَا بُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَ مْوَا لِهِمْ وَاَ نْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ
innamal-mu-minuunallaziina aamanuu billaahi wa rosuulihii summa lam yartaabuu wa jaahaduu bi-amwaalihim wa angfusihim fii sabiilillaah, ulaaa-ika humush-shoodiquun

“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 15)

6. Yaqin

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَ جَعَلْنَا مِنْهُمْ اَئِمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَ مْرِنَا لَمَّا صَبَرُوْا ۗ وَكَا نُوْا بِاٰ يٰتِنَا يُوْقِنُوْنَ
wa ja’alnaa min-hum a-immatay yahduuna bi-amrinaa lammaa shobaruu, wa kaanuu bi-aayaatinaa yuuqinuun

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.”
(QS. As-Sajdah 32: Ayat 24)

Yang dimaksud dengan yakin adalah mengetahui suatu hakikat dengan pengetahuan yang jazm (mantap) dan dengan dalil yang meyakinkan.

Maksud “jazm (mantap),” adalah sikap mencerabut keraguan dan meniadakan kemungkinan lain.

Sedangkan yang dimaksud dengan, “dalil,” adalah berupa ragam argumentasi logis dan juga agama serta ilham yang cocok dengan keduanya, dimana ragam argumentasi itu sampai pada taraf memberikan keyakinan dan penyaksian terhadap kebenaran.

Sementara yang dimaksud dengan “ilmu yaqin,” adalah pengetahuan yang mantap terhadap suatu hakikat yang bersumber dari balik tirai penghalang (antara Allah Swt dan hamba-Nya).

Begitu pula yang dimaksud dengan ” ‘ainul yaqin,” adalah bentuk pengetahuan suatu hakikat tanpa adanya tirai penghalang (antara Allah Swt dan hamba-Nya), sebagaimana firman-Nya,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْنِ 
kallaa lau ta’lamuuna ‘ilmal-yaqiin

“Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti,”
(QS. At-Takasur 102: Ayat 5)

لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَ 
latarowunnal-jahiim

“niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahim,”
(QS. At-Takasur 102: Ayat 6)

ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِيْنِ 
summa latarowunnahaa ‘ainal-yaqiin

“kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri,”
(QS. At-Takasur 102: Ayat 7)

Keimanan seseorang tidaklah disebut keimanan yang hakiki kecuali jika bentuknya adalah sebuah keyakinan yang dibarengi dengan kepatuhan, sebagaimana yang Allah Swt firmankan terkait orang-orang yang kafir,

وَجَحَدُوْا بِهَا وَا سْتَيْقَنَـتْهَاۤ اَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَّعُلُوًّا ۗ فَا نْظُرْ كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الْمُفْسِدِيْنَ
wa jahaduu bihaa wastaiqonat-haaa angfusuhum zhulmaw wa ‘uluwwaa, fangzhur kaifa kaana ‘aaqibatul-mufsidiin

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(QS. An-Naml 27: Ayat 14)

Maka tiada gunanya keyakinan mereka tanpa adanya kepatuhan kepada Rasulullah Saw.

Terkait dengan keyakinan yang sifatnya berupa kepercayaan dan keyakinan yang sifatnya hanya bisa dirasa dalam jiwa; maka itu semua merupakan keyakinan seorang mukmin yang meyakini bahwa Tuhan selalu memantaunya, dimana keyakinan tersebut telah tertanam kuat dalam hati tanpa adanya keraguan sedikit pun. Oleh karena itu, terkadang orang yang demikian itu, ia lenyap dari penyaksian diri terhadap Tuhannya, sehingga ia pun jatuh pada kubangan kesalahan, hal ini bukan lantaran orang itu tidak yakin kepada Allah Swt, akan tetapi pada kondisi tersebut, ia terhalang dan lenyap dan bukan termasuk orang yang jiwanya hadir, di saat ini ia pun tidak tergolong ke dalam orang-orang yang memiliki keyakinan yang utuh kepada Allah Swt. Maka kondisi yang pertama tadi merupakan kondisi keyakinan yang sifatnya berupa kepercayaan dalam jiwa dan yang kedua merupakan kondisi kepercayaan yang sifatnya berupa hal yang bisa dirasa dalam jiwa.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِيْۤ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَا دُوْۤا اِيْمَا نًا مَّعَ اِيْمَا نِهِمْ ۗ وَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا 
huwallaziii angzalas-sakiinata fii quluubil-mu-miniina liyazdaaduuu iimaanam ma’a iimaanihim, wa lillaahi junuudus-samaawaati wal-ardh, wa kaanallohu ‘aliiman hakiimaa

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana,”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 4)

Maka cahaya keimanan pun terus bertambah pada kalbu orang-orang mukmin -sesuai dengan keutamaan yang Allah Swt berikan kepadanya, hingga mereka pun mendapatkan cahaya furqân (cahaya pembeda); cahaya yang dapat membedakan kebenaran dalam ilmu dan amal perbuatannya, begitu pula yang ada di dalam hati dan juga hal yang tampak secara zhahir. Itulah awal turunnya kucuran karunia Allah Swt -yang berupa pemberian karunia secara khusus dengan diberikannya beragam asrar (rahasia ilahiyyah).

Kemudian kucuran karunia Allah Swt yang suci ini pun meningkat sehingga kecintaan yang tinggi dan murni mampu menguasai dirinya. Kucuran karunia Allah Swt ini akan terus meningkatkan derajat seorang hamba hingga dirinya dikaruniai keyakinan yang mengkristal. Dalam kondisi ini, ia memiliki kalbu yang tentram dan lapang, seolah-olah mereka dapat menyaksikan sesuatu layaknya melihat dengan mata telanjang. Inilah yang dianggap sebagai keyakinan yang sifatnya berupa kepercayaan dalam jiwa dan keyakinan yang sifatnya bisa dirasa dalam jiwa, hal ini sesuai dengan apa yang diisyaratkan dalam sebuah hadits Nabi Saw,

ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً

“Yang telah merasakan rasanya keimanan adalah orang yang telah ridha dengan Allah sebagai Rabb dan dengan Muhammad sebagai utusan (Allah swt).”

Sedangkan tentang hadits Nabi Saw,

ثَلَاثَ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ أَنْ يَكُوْنَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبُّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Tiga golongan yang telah menemukan manisnya keimanan; menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada keduanya; mencintai seseorang dan tidak mencintainya kecuali karena Allah; dan hendaknya ia benci untuk kembali lagi pada kekufuran, sebagaimana ia pun benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka,”

An-Nawawi berkata: “Al Qadhi berkata: ‘makna hadits ini sama dengan makna hadits sebelumnya; yaitu (orang) yang telah merasakan manisnya keimanan’.”

Terkadang seorang mukmin sejati telah beriman, namun ia belum merasakan manisnya keimanan, kemudian Allah Swt menganugerahkan kepadanya karunia, sehingga keimanannya pun bertambah dan ia bisa merasakan manisnya keimanan secara yakin; yaitu keyakinan yang dapat dirasa oleh jiwa. Sebab dalam kalbunya, ia diajarkan suatu perasaan khusus yang sesuai dengan argumentasi yang ada, sekalipun ia terkadang tidak menemukan argumentasi untuk hal ini. Maka dengan ini ia layaknya memiliki panca indera keenam, sehingga ia pun bisa mengetahui kebenaran sesuatu hanya dengan menunjukkan hal tersebut kepadanya, sebagaimana lidah yang baik mampu merasakan makanan yang berbeda, tanpa perlu penjelasan terkait dengan manis ataupun pahitnya makanan tersebut. Rasulullah Saw bersabda,

اِسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَإِنْ أَفْتُوْكَ

“Mintalah fatwa pada kalbumu, sekalipun mereka (orang-orang yang ada di sekitar) telah memberikan fatwa kepadamu.”

Sebagaimana jika matahari terbit, kegelapan pun hilang. Maka itulah cahaya yang telah dimulai pada maqam furqân dan meningkat menuju maqam Ash-Shidq.

Jika keyakinan telah terhujam kuat dalam jiwa, maka tidak ada lagi celah masuknya kegelapan, sebagaimana yang Allah Swt firmankan,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْۤا اِيْمَا نَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰٓئِكَ لَهُمُ الْاَ مْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ
allaziina aamanuu wa lam yalbisuuu iimaanahum bizhulmin ulaaa-ika lahumul-amnu wa hum muhtaduun

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 82)

Diriwayatakan dari Al Harits bin Malik, bahwa ia pernah berjalan di hadapan Nabi Saw, beliau bersabda, “Bagaimana kondisi dirimu di pagi hari ini?,” ia berkata, “Pada pagi hari ini, aku adalah mukmin yang hakiki,” Nabi Saw bersabda, “Lihat kembali apa yang kau katakan, sebab setiap perkataan itu ada hakikatnya, lantas apa hakikat keimananmu itu?,” ia menjawab, “Aku telah menyingkirkan diriku dari dunia, sehingga aku pun bangun dan begadang dimalam hari, aku buat diriku kehausan pada siang hari, seolah-olah aku telah melihat singgasana Rabbku secara jelas dan seolah-olah aku melihat penghuni surga yang saling menziarahi satu sama lain; seolah-olah akupun melihat penghuni neraka yang saling mendengki satu sama lainnya,” beliau lalu bersabda, “Wahai Haritsah, engkau telah mengetahui itu, maka pegang kokohlah hal itu.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ فِى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ لَاٰ يٰتٍ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ 
inna fis-samaawaati wal-ardhi la-aayaatil lil-mu-miniin

“Sungguh, pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang mukmin.”
(QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 3)

وَفِيْ خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِنْ دَآ بَّةٍ اٰيٰتٌ لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ 
wa fii kholqikum wa maa yabussu ming daaabbatin aayaatul liqoumiy yuuqinuun

“Dan pada penciptaan dirimu dan pada makhluk bergerak yang bernyawa yang bertebaran (di bumi) terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) untuk kaum yang meyakini,”
(QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 4)

7. Murâqabah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا  ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ
allaziina yazkuruunalloha qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuubihim wa yatafakkaruuna fii kholqis-samaawaati wal-ardh, robbanaa maa kholaqta haazaa baathilaa, sub-haanaka fa qinaa ‘azaaban-naar

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 191)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا جُنَا حَ عَلَيْكُمْ فِيْمَا عَرَّضْتُمْ بِهٖ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَآءِ اَوْ اَکْنَنْتُمْ فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ سَتَذْكُرُوْنَهُنَّ وَلٰـكِنْ لَّا تُوَا عِدُوْهُنَّ سِرًّا اِلَّاۤ اَنْ تَقُوْلُوْا قَوْلًا مَّعْرُوْفًا ۗ وَلَا تَعْزِمُوْا عُقْدَةَ النِّکَاحِ حَتّٰى يَبْلُغَ الْكِتٰبُ اَجَلَهٗ ۗ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ فَا حْذَرُوْهُ ۗ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ
wa laa junaaha ‘alaikum fiimaa ‘arrodhtum bihii min khithbatin-nisaaa-i au aknangtum fiii angfusikum, ‘alimallohu annakum satazkuruunahunna wa laakil laa tuwaa’iduuhunna sirron illaaa ang taquuluu qoulam ma’ruufaa, wa laa ta’zimuu ‘uqdatan-nikaahi hattaa yablughol-kitaabu ajalah, wa’lamuuu annalloha ya’lamu maa fiii angfusikum fahzaruuh, wa’lamuuu annalloha ghofuurun haliim

“Dan tidak ada dosa bagimu meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran atau kamu sembunyikan (keinginanmu) dalam hati. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut kepada mereka. Tetapi janganlah kamu membuat perjanjian (untuk menikah) dengan mereka secara rahasia kecuali sekadar mengucapkan kata-kata yang baik. Dan janganlah kamu menetapkan akad nikah sebelum habis masa idahnya. Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 235)

Murâqabah adalah kondisi jiwa saat merasa dilihat oleh Allah Swt dengan kewibawaan-Nya dan sirnanya keraguan didalam hati. Ia juga bermakna selalu merasa hadir bersama Allah Swt dengan selalu mengagungkan dan mensucikan-Nya.

Kucuran rahmat Allah Swt kepada seseorang sehingga dia mampu membedakan antara perkara yg haq dan bathil, jika hal itu sampai pada keyakinan dalam hati yang membuat orang tersebut bisa hudhur (selalu merasakan kehadiran Allah), maka kucuran rahmat itu akan menguasai kalbu, sehingga berimplikasi pada kondisi dirinya yang selalu merasa diawasi. Bahkan suatu pengetahuan yang tidak lagi diragukan pun tidak bisa mengalahkan kondisi hati tersebut kala itu. Sebagai contoh: pengetahuan tentang kematian; itu merupakan hal yang diyakini keberadaannya, bahkan banyak orang yang lalai akan hal ini.

Yang mereka maksud dengan murâqabah adalah kondisi jiwa tersebut. Jika kondisi tersebut berlangsung secara kontinyu, maka ia pun menjadi maqam, sehingga kalbu orang tersebut tenggelam dengan kondisi yang selalu memperhatikan Dzat Allah Swt, kalbunya hancur di bawah wibawa Allah Swt, dirinya mampu merasakan nikmatnya kucuran cahaya Allah Swt, dirinya senang dengan kedekatan diri dengan Allah Swt. -Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan khalifah dalam keluarga, harta dan anak.-

Maka orang yang berada dalam kondisi muraqabah ini kerap menyaksikan Rabb-Nya sebelum ia melakukan amal perbuatan, sehingga ia pun mengetahui keridhaan Rabbnya kepadanya. Saat ia melakukan perbuatan tersebut ia pun merasa bahwa hal itu terlaksana semata-mata karena karunia Allah Swt. Setelah ia melakukan amal perbuatan itu, ia pun memuji Allah Swt dengan keyakinan diri, bahwa pujian itu sejatinya berasal dari-Nya semata.

Hatim Al Asham pernah ditanya, “Atas dasar apa saja engkau lakukan suatu perbuatan itu?.” la menjawab, “Aku bangun atas empat dasar; aku sudah tahu bahwa aku memiliki rezeki yang tidak akan dimakan orang lain, sehingga aku pun merasa tenang, aku pun sudah tahu bahwa aku memiliki amalan yang tidak akan dilakukan oleh orang lain, maka aku sibukkan diri untuk mengerjakannya; aku pun sudah mengetahui bahwa aku memiliki ajal (kematian) yang tidak kuketahui kapan, maka aku pun bersegera melakukan banyak kebaikan; aku pun tahu bahwa aku memiliki Rabb dan pada diriku ada hak-Nya; yaitu ‘janganlah menyembah tuhan selain-Ku’. Aku pun tidak akan mampu bersembunyi dari Allah Swt, selamanya aku akan malu kepada-Nya dan selalu merasa diawasi oleh-Nya.”

Sebagian orang ‘Arif berkata, “Menuju Allah Swt dengan kalbu saat melakukan suatu pekerjaan lebih baik daripada dengan gerakan badan.”

Yahya bin Mu’adz Ar-Razi Ra pernah berkata, “Suatu kaum tidak akan berjalan maju ke sisi Allah Swt dengan kefakiran diri atau kekayaannya, akan tetapi ia maju ke sisi Allah Swt dengan ilmu dan ma’rifatnya.”

Ada yang mengatakan kepadanya, “Lantas apa ibadahyang dilakukan orang yang ‘Arif kepada Allah Swt?.” Yahya berkata, “Dunia adalah tempat berjalannya seseorang kepada Allah Swt. Jika seseorang tidak berjalan kepada Allah Swt dengan amalan tubuhnya, maka ia berjalan kepada-Nya dengan kalbu. Langkah kaki jauhnya sehasta, sedangkan langkah kalbu itu jauhnya 1000 farsakh.”

Hal ini dikarenakan sumber dari pekerjaan yang dilakukan oleh tubuh adalah kalbu. Maka barangsiapa yang selalu merasa diawasi oleh Allah Swt pada detikan-detikan kalbunya, maka Allah Swt akan menjaga tubuhnya. Sebab, anggota tubuh itu mengikuti kalbu, layaknya seorang raja dengan para prajuritnya.

Jika kemaksiatan yang dilakukan pada maqam tobat adalah dengan melakukan hal yang haram, sedangkan kemaksiatan pada maqam istiqomah adalah mendekat kepada hal yang haram meskipun tidak melakukannya, maka kemaksiatan pada maqam murâqabah adalah lalai dari mengingat Allah Swt.

Kemaksiatan dalam setiap maqam berbeda-beda sesuai dengan maqam-nya, maka kebaikan orang-orang yang berbuat kebaikan (Al Abrar), itu adalah hal buruk bagi orang-orang yang mendekat kepada Allah Swt (Al Muqarrabîn).

Di saat maqam kenabian berada di atas maqam kewalian, maka bayangkanlah bagaimana para Nabi itu sangat jauh dari kemaksiatan maqam tobat; yaitu meninggalkan perkara yang wajib. Maka setiap hal yang bersumber dari mereka (para nabi) tidak mungkin berupa kemaksiatan jika dicocokkan dengan makna ini. Sebab, tidak masuk akal jika kemaksiatan yang seperti itu dilakukan oleh contoh terbaik dalam perihal adab kepada Allah Swt; yaitu para nabi.

Sudah kita ketahui, bahwa perbuatan yang bersumber dari para nabi itu ada yang sifatnya wajib dan ada pula yang sifatnya sunah. Dalam hal ini, menyelisihi perbuatan yang lebih utama dinilai sebagai kemaksiatan pada maqam para nabi, hal itu lantaran tingginya martabat mereka, sehingga kemaksiatan ini menjadi kemaksiatan yang nisbi lantaran tingginya derajat para nabi.

Hakikat dari murâqabah adalah berusaha mengaplikasikan kebersamaan diri dengan Allah Swt, sebagaimana firman-Nya,

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّا مٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى الْاَ رْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَا ۗ وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
huwallazii kholaqos-samaawaati wal-ardho fii sittati ayyaaming summastawaa ‘alal-‘arsy, ya’lamu maa yaliju fil-ardhi wa maa yakhruju min-haa wa maa yangzilu minas-samaaa-i wa maa ya’ruju fiihaa, wa huwa ma’akum aina maa kungtum, wallohu bimaa ta’maluuna bashiir

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 4)

Yaitu pengaplikasian yang mampu menguasai hakikat diri, sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya. Kalbu pun harus selalu mengedepankan adab, sebab dengan inilah Allah Swt tidak akan menolaknya. Jangan sampai ia berkhayal tentang Dzat Allah Swt, sehingga ia menisbatkan “penjuru” bagi Allah Swt. Karena, keharusan mensucikan Allah Swt dari sifat-sifat jasmani yang dimiliki manusia juga merupakan seruan untuk meniadakan semua hal yang terkait dengannya (seperti sisi atas dari tubuh, kedekatan jasmani, kebersamaan jasmani), tanpa ada tawar menawar lagi.

Hatinya pun tidak lagi lalai, sekalipun jika dirinya menginginkan kelalaian itu, maka ia pun tidak dapat melakukannya, bagaimana mungkin itu bisa dilakukan, sementara hal itu tidak pernah terdetik sama sekali dalam kalbunya?

Ibnu Al Faridh pernah berkata,

وَلَوْ خَطَرَتْ لِي فِي سِوَاكَ إِرَادَةٌ # عَلَى خَاطِرِي سَهْوًا قَضَيْتَ بِرَدَّتِي

“Jikalau saja pada diriku terdetik keinginan pada selain-Mu; # lantaran aku lupa, niscaya Engkau akan memupuskan hal itu.”

Maksud perkataan di atas adalah mengembalikan diri pada maqam-nya. Dia tenggelam pada Dzat Allah Swt dengan kedekatan diri dengan-Nya. Allah Swt memberikannya kedekatan khusus, sebagaimana yang tertera dalam firman-Nya,

وَا لسّٰبِقُوْنَ السّٰبِقُوْنَ 
was-saabiquunas-saabiquun

“dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga),”
(QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 10)

اُولٰٓئِكَ الْمُقَرَّبُوْنَ 
ulaaa-ikal-muqorrobuun

“mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah),”
(QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 11)

Allah pun juga memberinya kedekatan umum, seperti yang tertera pada firman-Nya,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖ وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ
wa laqod kholaqnal-ingsaana wa na’lamu maa tuwaswisu bihii nafsuh, wa nahnu aqrobu ilaihi min hablil-wariid

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
(QS. Qaf 50: Ayat 16)

Sumber : BUKU SUFI MENGGAPAI ILAHI (AHL AL HAQQ AL ‘ARIFUNA BILLAAH) SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI