
Elsubha.com – Catatan Berharga Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra : Beradab Pada Syaikh
Beradab pada seorang syaikh merupakan simbol persiapan diri menuju beradab pada Allah Swt. Beliau adalah perantara untuk beradab pada Allah dan bukan sarana mendekat pada Allah. Oleh karena itu ada beberapa perkara yang harus diperhatikan, yaitu:
- Mengagungkan dan menghormati Syaikh secara zhahir dan bathin, tidak menentangnya dalam segala perbuatannya walau engkau melihat secara zhahir bahwa perbuatan yang dilakukannya adalah perbuatan yang haram (yang tidak boleh dilakukan). (Ingatlah kisah Nabi Musa As dan Khidir As).
- Tidak bersandar pada yang lainnya dari em kalangan orang-orang shaleh; menjalankan beragam perintahnya, baik beliau ada atau tidak.
- Hendaknya ia menampakkan sempurnanya pengagungan terhadap syaikh, seperti tidak duduk sementara syaikhnya berdiri atau tidak tidur di hadapan beliau kecuali atas izin darinya pada tempat-tempat darurat ketika sang murid sedang bersama syaikh di suatu tempat.
- Hendaknya tidak banyak bicara di hadapan beliau.
- Hendaknya tidak duduk di tempat duduk beliau.
- Hendaknya tidak menggunakan tasbihnya sang guru.
- Hendaknya tidak duduk pada tempat yang memang dipersiapkan untuk sang guru.
- Hendaknya tidak bepergian dan tidak pula menikah dan tidak pula melakukan sebuah pekerjaan penting kecuali atas izin sang guru.
- Hendaknya ia sibuk dengan sesuatu seperti memegang pena atau sedang makan atau sedang minum, akan tetapi dia mengucapkan salam dengan lisannya dan memperhatikan setelah itu tentang apa yang diperintahkan sang guru.
- Hendaknya tidak berjalan di hadapan sang guru atau sejajar dengannya kecuali pada malam yang gelap, maka jalannya sang murid di hadapan sang guru (dalam kondisi gelap) sebagai simbol melindungi sang guru dari berhadapan dengan sesuatu yang mudharat.
- Hendaknya tidak menyebutkan kebaikan sang guru di depan musuh beliau ditakutkan itu menjadi sebuah washilah untuk mencari celah sang guru tersebut.
- Menjaga sang guru pada kondisi tidak ada di tempat, seperti menjaga sang guru pada saat beliau ada di tempat.
- Hendaknya sang murid tidak mengatakan, “Mengapa memperlakukan fulan dengan ini dan itu, sementara memperlakukanku seperti ini?”.
- Hendaknya tidak memata-matai seluruh kondisi sang guru; baik dari ibadah beliau atau kebiasaan beliau, karena hal itu akan mengundang pada kebinasaan.
- Hendaknya sang murid tidak melakukan khalwat kecuali atas izin sang guru.
- Seorang murid tidak menziarahi sang guru kecuali dalam kondisi bersuci pada setiap kondisi guru, senantiasa ber-husnuz-zhan pada beliau, seraya mengedepankan sisi kecintaan diri nya dibanding kecintaannya pada selain beliau, tentunya setelah Allah dan juga Rasul-Nya.
