You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Catatan Berharga Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra : Menyendiri Untuk Beribadah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Catatan Berharga Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra : Menyendiri Untuk Beribadah

Dinukil dari perkataan yang diimla kan oleh Sayyidil wujud Saw kepada salah seorang dari sahabat Sayyidi Syaikh Ra secara yaqzhah agar disampaikan kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra. Katakan padanya (Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra, “Menyendiri untuk ibadah itu ada empat bagian; Pertama, menyendiri dan fokus pada Allah dengan ragam amalan dan keikhlasan yang sempurna. Tidak ada tujuan dan keinginan dari menyendirinya ini. Keinginannya untuk menyendiri fokus beribadah agar ia bisa memuji, mensucikan-Nya, seraya memuji Allah atas kondisi dirinya. Ibadahnya tidak ditujukkan untuk suatu niatan, tidak pula melihat pada sesuatu, sehingga beragam amal ibadahnya naik ke Allah Swt dan masuk melalui pintu yang terbuka, dimana kondisinya terus disibukan dengan ibadah seperti yang telah kami sebutkan diatas, ibadahnya pun tidak bertujuan untuk menanti sisi tajalli, hal ini sesuai dengan firman Allah Swt,

وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ الْجَـنَّةِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
wallaziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati ulaaa-ika ash-haabul-jannah, hum fiihaa khooliduun

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 82)

Orang yang beramal shaleh adalah orang yang dalam perbuatannya tidak bertujuan untuk suatu kemaslahatan, tidak pula mengharapkan sisi manfaat, tidak pula meminta dari ibadahnya itu kecuali pertolongan dan âfyiah sempurna yang ia pinta untuk akhiratnya nanti.

Katakan pula padanya untuk memilih keinginannya; apabila salah seorang diantara kalian ingin meminta pada-Nya, maka pintalah ampunan dan ‘afiyah.

Apabila tujuannya menyendiri itu adalah demi menggapai sebuah maqam atau mencari sebuah ilmu, mengharap sebuah asrar dari amalan tersebut, maka amalan tersebut akan tertolak dari pintu yang terkunci, sehingga kau pun akan duduk menanti pintu itu terbuka.

lapun mengatakan, “Ibadahku itu untuk Allah aku tidak meminta suatu hajat apapun.”

Apabila Allah Swt telah ilhamkan padanya, iapun akan berkata, “Ini aku kembali dan aku masukkan ke dalam pintu yang terbuka.”

Andai ia tidak mengatakan seperti apa yang sudah disebutkan diatas, maka beragam amalan pun akan kembali dengan terputus seperti terputusnya angin di udara. Engkau pun akan berputar sampai kondisi angin itu tenang; maknanya adalah bahwa ia akan kembali dengan kerugian.

Sampai Nabi Saw pun bersabda: Katakan kepada orang yang kucintai at-Tijany, “Inilah seluruh makna dalam Al-Qur’an.

Katakan pula padanya, “Kitab inilah yang akan menunjukkanmu ragam perkara yang diperintahkan untuk kau lakukan.

Aku (Nabi Saw) bersabda padamu, “Janganlah engkau maksudkan sesuatu (dalam penyendirianmu untuk fokus ibadah) dan jangan pula engkau gigih dalam melakukan sesuatu, tetapi bersungguh-sungguhlah dalam ibadah dan menyelisihi jiwa. Ketamakan dan kesungguhanmu janganlah engkau peruntukkan kecuali untuk beribadah pada Allah dan menyelisihi nafsu. Ketamakan yang biasa ditujukan oleh manusia dalam ibadah itu malah akan mengakhirkan sisi futuh.”

Katakan lagi padanya, “Mengakhirkan sisi futuh,” katakan pula padanya, “Mengakhirkan sisi futuh, “katakan lagi padanya, “Penghambatan futuh.”

Sumber : BUKU NAFA `IS SUKAIRIJIYYAH (AN-NAFA `IS AS-SUKAIRIJIYYAH) SYAIKH AHMAD BIN AL ‘IYASY SUKAIRIJ AT-TIJANY