
Elsubha.com – Catatan Penting di Pasal Maqam Khatmiyyah Dalam Perspektif Ulama
Pada akhir buku at-Tsaghr ad-Dar’i al Bassâm fiman Yajhalu min Nafsihi al Maqâm karya al ‘Arifbillah Sayyidi Musthafa al Bakri (seorang imam thariqah Khalwatiyyah dan pembesar Sufi) terdapat pembahasan al Khatam al Muhammadiy, aku pun menukil dan mulai menuliskannya di sini seraya memohon pertolongan pada Rabbku, sebab Dialah Tuhan dan tempat aku mencukupkan kebutuhanku:
“Ketahuilah, semoga Allah mengajarimu ilmu ladunni dan membuatmu menjadi bagian dari orang yang merasakan ragam hakekat.
Ketika Allah Swt menutup kenabian dan menyempurnakan keluhuran risalah dengan Nabi Muhammad Saw, maka ketika itu pula Allah menutup pintu kewalian nabi-Nya yang zhahir. Selain itu, Allah pun menutup sisi kewalian nabi-Nya secara bathin dengan nabi Isa As. Begitu juga dengan sisi kewalian al Muhammady yang bathin ditutup dengan Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby dan kelak sisi kewalian al Muhammady yang bathin dan zhahir akan ditutup dengan Imam Mahdi yang akan datang pada kita.”
Disini kami (penulis) akan sebutkan paparan Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby dalam Futûhât al Makkiyyah bahwa beliau adalah wali khatam sisi al Muhammady secara bathin. Didalamnya disebutkan:
“Ketika Rasulullah Saw memberikan contoh pada kita tentang para nabi As, beliau Saw bersabda,
مَثَلِي فِي الْأَنْبِيَاءِ مِثْلُ رَجُلٍ بَنَى دَارًا فَأَحْسَنَهَا وَبَقِيَتْ لَبْنَةً فَكُنْتُ أَنَا اللَّبِنَةُ، فَلَا رَسُوْلَ وَلَا نَبِيَّ بَعْدِي
“Perumpamaanku pada para nabi seperti seorang lelaki yang membangun rumah, maka iapun memperbagusnya dan yang tersisa satu tempat batu bata, maka akulah batu bata itu. Maka tidak ada utusan Allah dan nabi setelahku.”
Kenabian diibaratkan dengan rumah/tembok dan para nabi diibaratkan dengan batu bata, perumpamaan ini sungguh perumpamaan yang sangat bagus, sebab sebuah tembok tidaklah sempurna kecuali dengan lengkapnya batu bata, maka Nabi Muhammad Saw lah sang penutup para nabi. Pada tahun 599 H, ketika aku berada di Makkah, aku bermimpi melihat Ka’bah dengan susunan batu bata perak dan emas, yang saling berselingan, bangunan Ka’bah itu pun telah sempurna, akupun melihat keindahan Ka’bah, akupun mulai melihat di sisi rukun Yamani menuju rukun Syami dan lebih dekat ke rukun Syami, disana aku melihat ada dua batu bata; satu batu bata perak dan satunya lagi batu bata emas keluar dari tempatnya. Pada barisan paling atas keluar batu bata emas dan dibawahnya keluar batu bata perak, aku lihat diriku ternyata diriku telah dibentuk untuk dua tempat batu bata tersebut, akulah dua batu bata tersebut dan dengan akulah dinding Ka’bah tersebut dan tidak ada lagi kekurangannya dan akupun masih terus berdiri melihatnya. Akupun tahu jika diriku masih berdiri di sana, sebagaimana akupun tahu bahwa akulah inti dua tempat batu bata tersebut dan aku tak ragu lagi dengan itu. Sebab sungguh kedua simbol batu bata itu adalah dzatku. Setelah itu akupun bangun dari tidurku, seraya bersyukur pada Allah, dan berkata, “Dalam penciptaan, aku mengikuti Rasulullah Saw pada kalangan para nabi As, akupun berharap semoga akulah yang menjadi wali khatam.”
Akupun menyebutkan hadits Nabi Muhammad Saw tentang perumpamaan dinding, dimana beliaulah batu bata dari dinding tersebut. Akupun menceritakan mimpiku ini pada ulama yang paham akan persoalan ini di Makkah, beliau dari penduduk Tibriz, beliaupun mengabarkan padaku tentang apa yang sedang terjadi padaku, sebab Allah akan sempurnakan kondisi tersebut dengan bentuk penghormatan. Sebab, kekhususan Allah Swt tidak bisa dibekukan dan tidak pula bisa dibandingkan. Itu semua adalah keutamaan Allah dan Allah Swt memberikan rahmat-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dialah pemilik karunia yang agung. -Selesai perkataan Ibnu ‘Araby-.
Setelah paparan ini, Sayyid Musthafa al Bakri berkata, “Setiap zaman seharusnya ada sosok wali khatam yang menutup lingkaran kewalian di zaman tersebut, terkadang sosoknya adalah wali quthub, terkadang yang lainnya. Maqam beliau adalah maqam wali khatam. Untuk menggapai maqam tersebut ada 1000 maqâmât. Sang wali khatam muncul dengan semua maqâmât tersebut dengan kemunculan yang tidak jelas, jalan beliau melalui kasyaf, sisi irsyad-nya mampu melampaui ragam ilmu martabat manusia, juga melampaui ragam rahasia penyaksian jiwa mereka. Maka redaksi huruf Kho` (خ) dan ta` (ت) berjumlah 1000 merupakan pokok maqamât yang Allah tampakkan padanya, sedangkan huruf Mim (م) berjumlah 40 merupakan ragam martabat makhluk yang dapat di-kasyaf guna mengetahui ragam rahasia dan bisa wushul pada maqam tersebut, kondisi jiwa beliau tersembunyi dari para wali Allah, sebagaimana ini pun tersembunyi dari orang-orang yang bodoh (mengenai maqam khatam ini).
Syaikh Abdul Ghani menyatakan dalam sebuah qashidah yang memuji Ibnu ‘Araby:
وَفِي كُلِّ عَصْرٍ قَدْ خُتِمَ وِلَايَةٌ # عَلَى الْأَوْلِيَاءِ يَخْفَى فَكَيْفَ أَوْلِي الْجَحْدِ
“Pada setiap zaman kewalian para wali telah ditutup, # oleh wali yang sosoknya tersembunyi, lantas bagaimana tanggapan orang yang mengingkari?”
Kami pun sebutkan dalam Alfiyyah:
وَالْخَتْمُ وَهُوَ وَاحِدٌ فِي الْعَصْرِ # قَدْخُصَّ بِالتَّأْبِيْدِ ثُمَّ النَّصْرِ
“Sang wali khatam, ia hanya satu di setiap abad # ia telah dikhususkan dengan penguatan kemudian dengan kemenangan (dari Allah).”
Lalu kamipun sebutkan sya ‘ir di bawah ini sebagai kabar gembira atas tercapainya maqam wali khatam.
لِلْأَوْلِيَاءِ الْكَامِلِينَ خَتْمُ # فَرْدٍ لَهُ التَّقْدِيمُ فِيْهِ كَتَمْ
وَلَمْ يَكُنْ أَكْبَرَ مِنْهُ فِيْهِمْ # كَانَ إِمْدَادَتُهُ تَكْفِيْهِمْ
وَإِنَّ ذَا خَتْمُ الْوِلَايَةَ الَّتِي # بِالْكَامِلِ الْمُحَمَّدِيِّ خُصَّتْ
Bagi para wali Allah yang kamil ada satu sosok wali khatam (penutup) # ia layak dikedepankan (dari wali lainnya), didalam khatam ada katam (yang keluhuran sosoknya tersembunyi).
Tidak ada pangkat wali yang lebih besar dari pangkatnya, dimana kucuran madadnya mampu mencukupi mereka (para wali lainnya).
Sungguh inilah maqam wali khatam # yang Allah khususkan bagi wali kamil sisi al Muhammady.
Kemudian kami paparkan pula prihal wali khatam dari sisi al Muhammady secara umum yang ditutup dengan Imam Mahdi, maka kami senandungkan sya’ir:
وَثُمَّ خَتْمٌ أَخَرَ قَدْ خُتِمَتْ # فِيْهِ الْوِلَايَةَ الَّتِي قَدْ عَلِمَتْ
“Kemudian ada wali khatam lain yang kewalian telah ditutup, dan itu sudah maklum diketahui.
Setelah kami menukil perkataan Sayyidi Abdul Karîm al Jili, Sayyidi Mushthafa al Bakri menanggapi seraya berkata: al Jîli dalam akhir kitab al Insân al Kâmil menyatakan: Disini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw menyendiri dengan kesempurnaan jiwa yang berupa penutup ragam maqâmât ilâhiyyah secara bathin. Hal tersebut ditunjukkan dengan beliau menjadi penutup risalah Allah secara zhahir
Syaikh Yusuf an-Nabhani pernah menukilkan dalam Jawahir al Bihâr halaman 1215; yaitu perkataan Al ‘Arif Al Kabir, Syaikh Abdul Ghani an-Nabulisi dari kitab beliau; Ar-Radd al Matin ‘Alâ Muntaqisi al ‘Arif Muhyiddin, tentang orang yang mengingkari Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby sebagai wali khatam, sebagaimana Nabi kita Muhammad Saw penutup para nabi, dimana Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby mengaku bahwa beliau adalah wali khatam dari sisi al Muhammady al Khash. Hal ini tidak menutup kemungkinan adanya wali lain di zaman beliau dan zaman setelahnya hingga akhir perkataan beliau… (Selesai sudah apa yang aku nukil dari kitab tersebut).-
Aku (penulis)pun menjawab perkataan Sayyidi Abdul Ghani An-Nâbulisi: “Aku telah melihat perkataan ulama lain yang menunjukkan bahwa maqam khatmiyyah yang diterima Syaikh Akbar; Ibnu Araby adalah maqam yang tetap ada. Wali Allah yang mendapatkan maqam tersebut adalah Shafiyyuddin al Qasysyäni al Madani, beliau meninggal dunia di Madinah tahun 1074 M.”
Selanjutnya aku nukilkan pernyataan dari kitab Khalashat al Atsår agar pembahasan di atas menjadi sempurna; yaitu perkataan Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby tentang biografi beliau hingga pembahasan maqam khatam, yang tertulis dalam hasyiyah kitab al ‘Arifbillah Sâlim bin Ahmad Syaikhân Bâ ‘Alawi yang berjudul Syiq al Jaib fi Ma’rifati Rijal al Ghaib Al khatam hanya ada satu di setiap zaman, Allah Swt menutup sisi kewalian dengan sosoknya, beliau adalah Syaikh Akbar; Muhyiddin Ibnu ‘Araby.”
Dalam naskah kitab yang sudah di-tahqiq disebutkan, bahwa sisi wali khatam yang khusus merupakan martabat ilahiyyah, Allah Swt menurunkan martabat tersebut pada setiap orang yang Dia kehendaki sesuai dengan waktu dan zamannya. Tidak pernah terputus sampai kapanpun; sampai di bumi tidak tersisa orang yang menyebut kata “Allah Allah,” lantaran kosongnya ragam martabat ilahiyyah dari sosok yang memangkunya, sampai sosok pemangkunya seperti lingkaran yang melingkari sejumlah martabat yang ada sebelum dan sesudahnya; dengan perantara beliaulah jiwa-jiwa mereka menjadi sempurna dan ragam hajat terkabul.
Kamipun (penulis) telah meneliti dengan seksama dan menempati posisi mereka. Diantara guru kami yang memiliki maqam khatmiyyah dengan sanad yang bersambung dari beliau kepada kami, mereka ada lima orang dan yang keenam hanya Rabb-nya yang tahu. Setelah itu, Sayyidi Ahmad bin Muhammad al Madani dan semisal beliau seyogyanya tidak mengaku seperti ini kecuali atas dasar izin ilahi dan jiwa yang jujur. Sedangkan perkataan dalam Khalashah al Atsar disebutkan secara gamblang, bahwa wali khatam tidak khusus untuk Syaikh Akbar; Muhyiddin Ibnu ‘Araby saja.
