
Elsubha.com – Hakekat Tasawuf : Penamaan Tasawuf
Namanya adalah ilmu tasawuf. Para ulama berbeda pendapat mengenai pengambilan asal kata tasawuf itu sendiri. Dalam İqâzhul Himam disebutkan: Semuanya kembali pada 5 asal:
Pertama, dari kata, “ash-Shuffah,” sebab dia senantiasa bersama Allah Swt, seperti kain wol terbuang yang tidak punya daya.
Kedua, dari kata “Shaufuhu; al qafa lilayyiniha (bagian dalam kain wol yang lembut),” sebab seorang sufi itu ringan (untuk beribadah), lunak (dalam bersikap) dan lemah (lembut).
Ketiga, dari kata, “ash-Shiffati (pemilik sifat mulia),” dimana secara global seorang sufi itu mensifati diri dengan ragam sifat mulia dan menghindarkan diri dari sifat tercela.
Keempat, dari kata, “ash-Shafa (kejernihan),” sebab hal ini dibeberkan oleh Abul Fath al Busti kala ia menggubah sya’ir berikut:
تَخَالَفَ النَّاسُ فِي الصُّوْفِي وَاخْتَلَفُوْا # جَهْلًا وَظَنُّوْهُ مُشْتَقًا مِنَ الصَّوْفِ
وَلَسْتُ أَمْنَحُ هَذَا الإِسْمَ غَيْرُ فَتًى # صَافِي فَصُوْتِي حَتَّى سُمِيَ الصُّوفِي
“Manusia berselisih pendapat mengenai sufi # mereka saling berselisih pendapat didasari
kebodohan dan mengira bahwa sufi diambil dari kata, shuf (bulu domba)
Akupun tidak membenarkan penamaan ini, selain (mereka) adalah pemuda yang jernih jiwanya, hingga ia dikatakan sebagai sufi.”
Aku (Syakh Ibrahim Inyas) berkata: Bagiku inilah sisi penamaan yang benar.
Kelima, ia dinukil dari “Shuffah (serambi) masjid nabawi yang merupakan tempat tinggal ahlu shuffah, Karena seorang sufi masuk ke dalam golongan mereka (yang bertempat tinggal di serambi masjid nabawi sesuai dengan perkara yang Allah telah tetapkan bagi mereka dalam firman-Nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا صْبِرْ نَـفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِا لْغَدٰوةِ وَا لْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْ ۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَ لَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَا تَّبَعَ هَوٰٮهُ وَكَا نَ اَمْرُهٗ فُرُطًا
washbir nafsaka ma’allaziina yad’uuna robbahum bil-ghodaati wal-‘asyiyyi yuriiduuna waj-hahuu wa laa ta’du ‘ainaaka ‘an-hum, turiidu ziinatal-hayaatid-dun-yaa, wa laa tuthi’ man aghfalnaa qolbahuu ‘ang zikrinaa wattaba’a hawaahu wa kaana amruhuu furuthoo
“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 28)
Inilah asal muasal kembalinya semua pendapat mengenai sufi. (Perkataan syaikh Zarruq).
