
Elsubha.com – Hakekat Tasawuf : Penisbatan Tasawuf dari Ilmu lain
Penisbatan ilmu tasawuf dari ilmu lainnya bersifat menyeluruh bahkan menjadi syarat dalam penisbatan tersebut, sebab tidak ada ilmu dan tidak ada pula amalan kecuali haruslah disertai dengan kejujuran jiwa dalam ber-tawajjuh kepada Allah Swt, dimana ikhlas merupakan syarat dalam semua amal perbuatan. Hal ini jika kita tinjau dari sisi kebenaran syari’at; yaitu pada sisi imbalan dan pahala (artinya pahala akan terkait dengan nilai keikhlasan diri dalam beramal).
Sementara jika kita melihat dari aspek luar sebuah ilmu; maka keilmuan akan nampak kurang atau malah gugur tanpa adanya nilai tasawuf. Oleh karena itu As-Suyuthi pernah mengatakan, “Penisbatan tasawuf dari ilmu lainnya seperti ilmu bayan daripada ilmu nahwu; maksudnya dalam ilmu ma’ani terdapat kesempurnaan dan keelokkan.”
Syaikh Zarruq Ra juga pernah mengatakan, “Penisbatan tasawuf dari ilmu agama adalah seperti penisbatan ruh dari jasad (tubuh). Karena ia adalah maqam ihsan yang Rasulullah Saw tafsirkan kepada Jibril As dalam haditsnya,
أَنْ تَعْبُدَ اللّٰهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ
“Hendaknya engkau beribadah seolah-olah engkau melihat-Nya. “
(HR. al Bukhari dalam Shahih-nya; Kitab al Iman, bab, Pertanyaan Jibril kepada Nabi Saw mengenal Iman, Islam, Ihsan, Ilmu tentang hari Kiamat beserta penjelasan Nabi Saw akan hal tersebut. Vol 1, hal. 54-55);
Musaddad menceritakan kepada kami, ia berkata: Isma’il bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Abu Hayyan at-Timi mengabarkan kepada kami dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah Ra, ia berkata: Ketika Nabi Saw muncul di hadapan orang-orang, Jibril pun datang seraya berkata, “Apa itu Iman?,” Beliau Saw menjawab, “Engkau beriman kepada Allah dan para malaikatnya; mengimani pertemuan dengan-Nya lagi mengimani Rasul-Nya dan beriman akan adanya hari pembangkitan.” Jibril berkata lagi, “Apakah itu Islam?,” Beliau Saw menjawab, “Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan suatu apapun, engkau dirikan shalat, engkau tunaikan zakat yang diwajibkan dan berpuasa di bulan Ramadhan. Jibril kembali berkata, “Apa itu ihsan?” beliau Saw menjawab, “Engkau menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya dan jika engkau belum mampu melihat-Nya, maka (yakini) ia melihatmu.” Jibril berkata lagi, “Lantas kapan hari Kiamat terjadi?” Beliau Saw menjawab, “Yang ditanya tentang itu tidak lebih tahu dari yang bertanya. Aku akan beritakan padanya tentang tanda-tandanya: Jika seorang budak telah melahirkan tuannya; jika para penggembala unta yang berkulit hitam berlomba-lomba membangun gedung-gedung selama lima masa; yang tidak diketahui lamanya kecuali oleh Allah Swt. Lalu beliau Saw membacakan ayat, Sesunguhnya hanya pada Allah pengetahuan tentang hari Kiamat (Qs. Luqmân [31]: 34). Kemudian Jibril pun pergi, beliau Saw pun berkata, “Hadapkan la kesini, tetapi para sahabat melihat apapun, maka beliau Saw pun bersabda, “la adalah malaikat Jibril yang datang kepada manusia guna mengajarkan agama mereka.” Abu Abdillah mengatakan, “Seluruh yang telah dijelaskan bellau Saw dijadikan sebagai Iman.”
Disebutkan juga dalam kitab tafsir surah Luqman, vol. 1, hal. 248, no. 4777;
Ishaq menceritakan kepada kami, dari Jarir, dari Abu Hayyan…hingga akhir sanad sebelumnya, dimana lafazh hadits ini juga milik al Bukhari.
HR. Muslim dalam Shahih-nya; Kitab. Iman, Islam dan Ihsan serta wajibnya mengimani perkara tersebut dengan cara menetapkan qadar Allah Swt berikut penjelasan dalil berlepas diri dari orang yang tidak mengimani qadar dan salah berpendapat terkait hak Allah Swt, Vol. 1, hal. 39; H, no. 9); Abu bakar bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb menceritakan kepada kami yang semuanya dari Ibnu ‘Aliyyah. Zuhair berkata: Isma’ll bin Ibrahim menceritakan kepada kami dari Abu Hayyan hingga akhir jalur periwayatan al Bukhari, dimana lafazhnya milik beliau. Dalam bab ini pula diriwayatkan dengan sanad beliau dari ‘Umar bin al Khaththab, ia berkata: Ketika kami tengah berada di majelis bersama Rasululah Saw pada suatu hari, tiba-tiba tampak di hadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Lalu la duduk di hadapan Rasulullah Saw dan mendempetkan lututnya kepada lutut Rasulullah Saw serta menaruh tangannya di atas paha Rasulullah seraya berkata, “Hal Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.”…
Adapula beberapa riwayat hadits seperti ini dari al Bukhari. HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya; kitab. As-Sunnah, bab. Dalil mengenai bertambah dan berkurangnya keimanan, vol. 4, hal. 222-223; dari riwayat ‘Umar bin al Khaththab Ra seperti riwayat Muslim diatas.
HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya; Kitab Iman; Bab. Perkara yang disifat Jibril untuk Nabi; Iman dan Islam, vol. 5, hal. 6-7, H, no. 2610; dari riwayat ‘Umar Ra seperti riwayat milik Muslim. Abu Isa at-Tirmidzi juga mengatakan, “Hadits ini hasan shahih.”
HR. Ibnu Majah dalam Sunar-nya; Kitab. Muqaddimah, Bab. Iman, vol. 1, hal. 25, no. 64; Abu Bakar bin Abu Syaibah menceritakan kepada kami, Isma il bin ‘Aliyyah menceritakan kepada kami, dari Abu hayyan… hingga akhir jalur periwayatan al Bukhari, dimana lafazh hadits tersebut miliknya. Dalam bab yang sama juga ada riwayat Umar bin al Khaththab Ra.
HR. Ahmad dalam Musnad-nya; vol. 2, hal. 26; Dari jalur Periwayatan Isma ‘Il; Abu Hayyan menceritakan kepada kami…hingga akhir Jalur periwayatan al Bukhari, dimana lafazh hadits tersebut miliknya.)
Sebab tidak ada lagi makna selain makna ini, dimana porosnya adalah muraqabah (merasa diawasi oleh Allah Swt) setelah musyahadah (menyaksikan kagungan-Nya); atau juga musyahadah setelah muraqabah. Jika tidak demikian, maka tidak ada Dzat yang wujud dan tidak pula nampak yang maujud (makhluk). Pahamilah ini!.
Bisa jadi yang dimaksud dengan muraqabah setelah musyahadah adalah kembali pada sifat baqa dengan cara menyaksikan rekam jejak (penciptaan Allah); dengan pertolongan Allah Swt.
