You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Islam, Sebagai Asas Hubungan Syaikh Dan Muridnya

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Islam, Sebagai Asas Hubungan Syaikh Dan Muridnya

Barangsiapa yang mengikuti seorang Syaikh, dimana ia memerintahkan untuk kufur kepada Allah Swt, meninggalkan Islam dan memenuhi panggilan untuk maksiat, maka sang murid dan Syaikhnya tadi telah kafir dan keluar dari Islam (apabila mereka mengakui kebenaran hal tadi). Sedangkan apabila hubungan ini didasarkan pada Islam, sang murid mengikuti Syaikhnya lantaran beliau seorang yang muttabi’ (selalu mengikuti ajaran Islam dengan benar) dan bukan seorang yang mubtadi’ (kerap membuat bid’ah), beliau tidak memerintah kecuali sejalan dengan apa yang Allah Swt dan Rasul-Nya perintahkan, bahkan sekalipun sang guru menyuruh muridnya untuk melakukan sebuah pelanggaran, niscaya sang murid tidak akan mengerjakannya. Jika saja kita mau berprasangka baik, bisa jadi perintah syaikh yang merupakan bentuk pelanggaran kepada Allah Swt, keluar saat beliau kehilangan akal pikirannya.

Sedangkan terkait adab seorang murid kepada syaikhnya, seperti; mengikuti apa yang beliau perintah, mengedepankan pemikiran syaikhnya, hal ini diperbolehkan selagi dalam koridor syari’at. Sedangkan permasalahan yang sering menimbulkan pertentangan di kalangan ulama syari’at adalah tentang permasalahan khilafiyyah, sementara ulama tasawuf lebih longgar akan perkara tersebut.

Anggap saja ada seseorang yang berprasangka baik terhadap seseorang yang menyerukan ajaran thariqah, namun ia tidak diketahui seluk-beluknya. Sungguh pondasi dasar sebuah thariqah adalah disaat seseorang menemukan adanya dalil jelas yang menyatakan, bahwa orang yang diikuti itu berada dalam lingkup terbebani oleh syari’at Islam, dimana ia memperbolehkan perbuatan maksiat, maka tidak diragukan lagi untuk menghukuminya dengan kafir dan murtad. Oleh karena itu, kaidah yang menjadi tolak ukur ittiba’ pada semua thariqah adalah agama (Islam) dan masih di dalam koridor Islam.

Apabila perkara ini telah jelas, maka kami membantah segala tuduhan, bahwa para sufi banyak memasukkan unsur-unsur agama lain selain Islam dan orang yang mengatakan hal demikian merupakan orang yang memiliki kepentingan atau juga orang yang mempermudah jalan untuk mengikuti orang yang memiliki kepentingan, ia tidak tahu seluk-beluk sufi, baik akidah, bagaimana ittba’ mereka terhadap hukum-hukum syari’at, bentuk penjauhan diri mereka terhadap bid’ah, sisi keilmuan mereka tentang ruh daripada syari’at, serta kemampuan mereka memahami apa yang diturunkan kepada para Rasul.

Tujuan risalah ketuhanan adalah mengaplikasikan sifat baik antar sesama manusia, sebagaimana yang tertera dalam sabda Nabi Saw,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk (guna) menyempurnakan akhlaq (moral).”

Kemudian ambillah semua perkara baik dari Al Qur’an, baik itu berupa ilmu pengetahuan, rahmat, altruisme (sikap mementingkan orang lain), tawadhu’, kedermawanan, keberanian, iffah, adil, ihsan, pemahaman mendalam, hikmah, adab, toleransi, kejujuran, kesucian jiwa, sifat malu, menepati janji dan masih banyak sifat-sifat lainnya. Dan coba engkau perhatikan dari generasi ke generasi, apakah engkau temui orang yang memiliki kegigihan dalam mengaplikasikan keimanan yang sempurna dengan segala tingkatannya dan menghiasi diri mereka dengan beragam sifat baik, tanpa didasari riya’ dan sum’ah serta beradab dalam beribadah dan sibuk dengan Allah Swt, dimana mereka itu tak lain adalah para sufi. Tujuan mereka hanya ingin menggapai puncak kedekatan diri dengan Allah Swt semata.

Apakah terpikir olehmu, jika sempurnanya kedekatan yang mutlak itu hanya bisa dibatasi dengan kedekatan yang dapat diraba?. Itu hal yang mustahil, hal itu dapat dicapai dengan benar-benar melakukan ibadah secara ikhlas hanya karena Allah Swt semata, sebab Dialah Allah Swt.

Sumber : BUKU SUFI MENGGAPAI ILAHI (AHL AL HAQQ AL ‘ARIFUNA BILLAAH) SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI