
Elsubha.com – Hadirnya Nabi Saw dan Empat Sahabat Ra Pada Bacaan Ketujuh Shalawat Jauharatul Kamal
Tentang kehadiran Nabi Saw bersama para sahabat beliau pada bacaan ketujuh dalam sholawat Jauharatul Kamal. Maka perkataan ini disanggah dengan pendapat ulama yang menyatakan bahwa Nabi Saw masih hidup dan beliau dapat muncul di setiap tempat yang beliau kehendaki. Bahkan Rasulullah Saw pernah dilihat oleh Syaikh Jalaluddin As-Suyuthi di Kairo Mesir, dimana beliau pun sempat mencium tangan Nabi Saw.
Al Imam Al Munawi dan yang lainnya menyebutkan, bahwa Nabi Saw bisa saja hadir di setiap majelis dimana ada orang yang bersholawat kepada beliau. Begitu juga para sahabat Nabi Saw, mereka pun bisa hadir di setiap majelis yang mereka ingin hadiri, sebagaimana sebelumnya pun telah diterangkan pada kisah Sayyidi Abdul Qadir Al Jilani Ra, bahwa beliau melihat Sayyiduna Ali Ra berada di sisinya seraya berbicara, “Hai anakku, mengapa engkau tidak berbicara?.”
Disebutkan dalam Al Bughyah dan Al Jawab karya Sayyidi ‘Ali Khawas Ra sebagaimana yang juga terdapat dalam Ad-Durr, bahwa para wali, mereka memiliki keleluasaan dan kebebasan di alam Barzakh sebab mereka tidaklah seperti orang pada umumnya, terlebih lagi para sahabat Nabi Saw; mereka adalah petingginya para wali dan para imam terkemuka, khususnya para khalifah yang memang sudah dijelaskan dalam nash agama. Semoga Allah meridhai mereka semua dan memberikan manfaat bagi kita. Jika perkaranya demikian, maka tidak ada persoalan lagi tentang kehadiran mereka, hal ini pun telah diberitakan oleh pembesar wali Quthub.
Lalu jika dikatakan: Bagaimana kita menggambarkan kehadiran Nabi Saw di berbagai tempat pada waktu yang sama?
Aku jawab demikian: Itu termasuk perkara diluar nalar manusia.” Sebagian orang lanjut bertanya, “Lantas bagaimana Nabi Saw menjawab salam setiap orang yang mengucapkan salam kepada beliau dari penjuru bumi bagian timur sampai ke penjuru bumi bagian barat?”
Beliau menjawab dengan sebuah sya’ir
كَالشَّمْسِ فِي وَسَطِ السَّمَاءِ وَنُوْرُهُمْ # يَغْشَى الْبِلَادَ مَشَارِقًا وَمَغَارِبًا
“Laksana matahari yang berada di tengah langit, # cahayanya mampu menyelimuti negeri di timur dan barat.”
Ini adalah jawaban yang bagus. Kemudian apabila malaikat Izrail saja bisa mencabut 100 ribu nyawa pada saat bersamaan, tentu mencabut nyawa yang satu tidak menyibukkannya untuk mencabut nyawa berikutnya, bahkan pada saat yang sama pula ia pun masih sibuk beribadah kepada Tuhannya. Jika malaikat saja demikian, maka Nabi Saw tentu lebih utama dari itu, sebab beliaulah pangkal wujud keberadaan alam semesta.
