
Elsubha.com – Kenali Apa Yang Kau Punya dan Bagaimana Berinteraksi Dengan Dosamu : Berdo’a dengan Hizib Tadharru’ wal Ibtihal
Dalam kitab Jawahir al Ma’ani disebutkan:
Diantara do’a Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra adalah hizib tadharu’ wal ibtihal waqar’i bab al karim al mutâ’al, Sayyidi Syaikh Ra berkata: “Engkau baca surah al Fatihah setelah basmalah dan ta’awwudz, kemudian shalawat Fatih satu kali, dilanjut membaca do’a di bawah ini:
إلهِي وَسَيِّدِي وَمَوْلَايَ هَذَا مَقَامُ الْمُعْتَرِفُ بِكَثْرَةِ ذُنُوْبِهِ وَعِصْيَانِهِ وَسُوْءٍ فِعْلِهِ وَعَدَمٍ مُرَاعَاةِ أَدَبِهِ، حَالِي لَا يَخْفَى عَلَيْكَ، وَهَذَا ذُلِّي ظَاهِرٌ بَيْنَ يَدَيْكَ، وَلَا عُذْرَ لِي فَأُبْدِيْهِ لَدَيْكَ، وَلَا حُجَّةَ لِي فِي دَفْعَ مَا ارْتَكَبْتُهُ مِنْ مَنَاهِيْكَ وَعَدَم طَاعَتِكَ، وَقَدْ ارْتَكَبْتُ مَا ارتَكَبْتُهُ غَيْرَ جَاهِلٍ بِعَظَمَتِكَ وَجَلَالِكَ وَسْطَوَةِ كِبْرِيَائِكَ، وَلَا غَافِلٍ عَنْ شِدَّةِ عِقَابِكَ وَعَذَابِكَ، وَلَقَدْ عَلِمْتُ أَنِّي مُتَعَرِّضُ بِذلِكَ لِسُخْطِكَ وَغَضَبِكَ، وَلَسْتُ فِي ذلِكَ مُضَادًا لَكَ وَلَا مُعَانِدًا، وَلَا مُتَصَاغِرًا بِعَظَمِتَكَ وَجَلَالِكَ، وَلَا مُتَهَاوِنًا بِعِزِّكَ وَكِبْرِيَائِكَ، وَلَكِنْ غَلَبَتْ عَلَيَّ شِقْوَتِي وَأَحْدَقَتْ بِيَ شَهْوَتِي فَارْتَكَبْتُ مَا ارْتَكَبْتُهُ عَجْزًا عَنْ مُدَافَعَةِ شَهْوَاتِي.
“Wahai Tuhanku, ini adalah posisinya orang yang mengakui banyaknya dosa, kemaksiatan dan perbuatan buruk serta kerap tidak memperhatikan adab, kondisiku ini tidak tersembunyi dari-Mu, kehinaanku ini nampak disisi-Mu, tidak ada alasan yang bisa kutampakkan kepada-Mu, akupun tidak memiliki dalih untuk menolak apa yang telah kukerjakan dari ragam larangan-Mu dan ketidak ta’atanku pada-Mu. Akupun melakukan apa yang telah kuperbuat bukan lantaran ketidaktahuanku akan kebesaran, keperkasaan dan luhurnya kesombongan-Mu. Akupun tidak lalai dari betapa pedihnya ujian dan adzab-Mu. Akupun telah tahu bahwa dengan apa yang kuperbuat itu aku akan terkena kemurkaan dan kemarahan-Mu, Akupun tidaklah menentang dan tidak pula nakal, tidak pula mengkerdilkan kebesaran dan keperkasaan-Mu, tidak pula meremehkan kemuliaan dan kesombongan-Mu, akan tetapi (itu semua) lantaran aku dikalahkan oleh kenakalanku, syahwat merongrongku, sehingga aku lakukan apa yang telah kuperbuat lantaran lemahnya aku dalam mengelak dari syahwatku itu,
فَحُجَّتُكَ عَلَيَّ ظَاهِرَةٌ وَحُكْمُكَ فِي نَافِةٌ وَلَيْسَ لِضَعْفِي مَنْ يَنْصُرُنِي مِنْكَ غَيْرُكَ وَأَنْتَ الْعَفُرُّ الْكَرِيمُ وَالْبَرُّ الرَّحِيمُ الَّذِي لَا تُخَيِّبُ سَائِلًا وَلَا تَرُدُّ قَاصِدًا وَأَنَا مُتَذَلَّلٌ لَكَ مُتَضَرِّعُ لجَلَالِكَ، مُسْتَمْطِرْ جُوْدَكَ وَنَوَالَكَ، مُسْتَعْطِفًا لِعَفْوِكَ وَرَحْمَتِكَ،
Hujjahmu padaku telah jelas nampak, hukummu telah berlaku padaku, dalam kelemahan ini tidak ada yang mampu menolongku dari-Mu selain Engkau, Engkaulah Dzat yang Maha Pemberi Maaf lagi Mulia, Dzat yang Memberi Kebaikan lagi Penyayang, Dzat yang tidak menyia-nyiakan orang yang memohon dan tidak menolak orang yang datang menuju-Mu, sementara aku hina dan tunduk dihadapan keperkasaan-Mu, meminta kucuran sisi kedermawanan dan karunia-Mu, memohon dikasihi dengan ampunan dan rahmat-Mu. Maka aku memohon pada-Mu dengan apa yang diliputi oleh ilmu-Mu dari kebesaran-Mu, keperkasaan-Mu, Kemurahan-Mu dan kemuliaan-Mu
فَأَسْأَلُكَ بِمَا أَحَاطَ بِهِ عِلْمُكَ مِنْ عَظَمَتِكَ وَجَلَالِكَ وَكَرَمِكَ وَبَعْدِكَ، وَبِمَرْتَبَةِ أُلُوْهِيَّتِكَ الْجَامِعَةِ لِجَمِيعِ صِفَاتِكَ وَأَسْمَائِكَ أَنْ تَرْحَمَ ذُلِّي وَفَقْرِي وَتَبْسُطَ رَدَاءَ عَفْوِكَ وَحِلْمِكَ وَكَرَمِكَ وَبَعْدِكَ عَلَى كُلِّ مَا أَحَاطَ بِهِ عِلْمُكَ مِمَّا أَنَا مُتَّصِفٌ بِهِ مِنَ الْمَسَاوِي وَالْمُخَالَفَاتِ، وَعَلَى كُلِّ مَا فَرَّطْتُ فِيْهِ مِنْ حقُوقِكَ، فَإِنَّكَ أَكْرَمُ مَنْ وَقَفَ بِبَابِهِ السَّائِلُوْنَ وَأَنْتَ أَوْسَعُ بَحْدًا وَفَضْلًا مِنْ جَمِيعِ مَنْ مُدَّتْ إِلَيْهِ أَيْدِي الْفُقَرَاءِ الْمُحْتَاجِيْنَ، وَكَرَمُكَ أَوْسَعُ وَبَحْدُكَ أَكْبَرُ وَأَعْظَمُ مِنْ أَنْ يَمُدَّ إِلَيْكَ فَقِيْرٌ يَدَهُ يَسْتَمْطِرُ عَفْوَكَ وَحِلْمَكَ عَنْ ذُنُوْبِهِ وَمَعَاصِيْهِ فَتَرُدَّهُ خَائِبًا
(Akupun memohon) dengan martabat sisi uluhiyyah-Mu yang meliputi semua sifat dan nama-Mu agar Engkau menyayangi kehinaan dan kefakiranku ini, Engkau bentangkan selendang maaf-Mu, sisi pembiaran-Mu, Kemurahan-Mu dan Kemuliaan-Mu pada apa yang diliputi oleh ilmu-Mu dari segala dosa dan kesalahan yang telah kusifati; juga pada setiap hak-Mu yang telah kulalaikan, sungguh Engkau paling mulianya Dzat tempat mengadunya orang-orang yang memohon pada-Mu.
Sementara Engkaulah pemilik kemuliaan yang paling luas dari semua dipinta oleh tangan-tangan kaum fakir dan orang yang membutuhkan bantuan. Kemurahan-Mu lebih luas, Kemuliaan-Mu lebih besar dan paling besar daripada seorang fakir yang menengadahkan tangan memohon kucuran ampunan dan toleransi atas ragam dosa dan kemaksiatan, lalu Kau tolak dalam keadaan sia-sia,
فَاغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاعْفُ عَنِّي، فَإِنَّمَا سَأَلْتُكَ مِنْ حَيْثُ أَنْتَ لا تصَافِكَ بِعُلُوّ الْكَرَمِ وَالْمَجْدِ وَعُلُوّ الْعَفْوِ وَالْحِلْمِ وَالْحَمْدِ، إِلهِي لَوْ كَانَ سُؤَالِي مِنْ حَيْثُ أَنَا لَمْ أَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ وَلَمْ أَقِفْ بِبَابِكَ لِعِلْمِي بِمَا أَنَا عَلَيْهِ مِنْ كَثْرَةِ الْمَسَاوِي وَالْمُخَالَفَاتِ فَلَمْ يَكُنْ جَزَائِي فِي ذلِكَ إِلَّا الطَّرْدَ وَاللَّعْنَ وَالْبُعْدَ وَلَكِنْ سَأَلْتُكَ مِنْ حَيْثُ أَنْتَ مُعْتَمِدًا عَلَى مَا أَنْتَ عَلَيْهِ مِنْ صِفَة الْمَجْدِ وَالْكَرَمِ وَالْعَفْوِ وَالْحِلْمِ وَلِمَا وَسَمْتَ بِهِ نَفْسَكَ مِنَ الْحَيَاءِ عَلَى لِسَانِ رَسُوْلِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَمُدَّ إِلَيْكَ يَدُ فَقِيْرٍ فَتَرَدَّهَا صِفْرًا،
Maka ampunilah aku, rahmatilah aku dan maafkanlah aku. Sungguh aku memohon ini lantaran Engkau, yang disifati dengan luhurnya kemurahan dan kemuliaan, tingginya ampunan, toleran dan pujian. Tuhanku, kalau saja permohonanku ini lantaran diriku, maka aku tidak akan bertawajjuh pada-Mu, tidak akan menghadap pintu-Mu lantaran aku tahu bahwa aku banyak dosa dan kekhilafan, sehingga balasan yang pantas bagiku adalah penolakan, laknat dan jauh dari sisi-Mu, akan tetapi aku memohon lantaran Engkau, dengan bersandar pada ragam sifat mulia, pemurah, pemaaf dan pembiaran, juga lantaran sifat yang Engkau patrikan di Dzat-Mu melalui lisan utusan-Mu Saw, yang malu jika ada tangan orang fakir menengadah dan Engkau tolak kosong (tidak ada hasilnya).
وَإِنَّ ذُنُوبِي وَإِنْ عَظُمَتْ وَ أَرَبْت عَلَى الْحِصْرِ وَالْعَدِّ فَلَا نِسْبَة لَهَا فِي سَعَةِ كَرَمِكَ وَعَفْوِكَ وَلَا تَكُوْنُ نِسْبَتُهَا فِي كَرَمِكَ مِقْدَارَ مَا تَبْلُغُ هَبْأَةً مِنْ عَظَمَةِ كُوْرَةِ الْعَالَمِ، فَبِحَقِّ كَرَمِكَ وَتَحْدِكَ وَعَفْوَكَ وَ حِلْمَكَ اللَّوَاتِي جَعَلْتُهَا وَسِيْلَةً فِي اسْتِمْطَارِي لِعَفْوِكَ وَغُفْرَانِكَ، اُعْفُ عَنِّي وَاغْفِرْ لِي بِفَضْلِكَ وَعَفْوِكَ، وَإِنْ كُنْتُ لَسْتُ أَهْلًا لِذلِكَ، فَإِنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تَعْفُوَ عَمَّنْ لَيْسَ أَهْلًا لِعَفْوِكَ وَكَرَمِكَ، فَأَنْتَ أَهْلٌ أَنْ تَمْحُوَ فِي كُلِّ طَرْفَةَ عَيْنٍ، جَمِيعِ مَا لِمَخْلُوقَاتِكَ مِنْ جَمِيعِ الْمَعَاصِي وَالذُّنُوْبِ، يَا بَعِيْدُ يَا كَرِيمُ يَا عَفُوٌّ يَا رَحِيمُ، يَاذَا الْفَضْلِ الْعَظِيمِ وَالطُّوْلِ الْحَسِيمِ. آمِينَ.
Sementara sungguh dosa-dosaku, meski itu banyak dan sulit menghitungnya, maka itu tidak ada nilainya disisi luasnya kemurahan dan maaf-Mu, bahkan nilainya pun tidak sampai secuil dari bola dunia yang besar ini. Maka (aku memohon) dengan kebenaran kemurahan-Mu, kemuliaan-Mu, sisi maaf-Mu dan sisi pembiaran-Mu yang kujadikan sarana dalam memohon kucuran maaf dan ampunan-Mu, maafkanlah aku, ampuni aku dengan keutamaan-Mu dan maaf-Mu. Andai aku bukanlah orang yang pantas untuk itu, namun sungguh Engkaulah yang pantas memberi maaf pada orang yang tidak pantas mendapatkan maaf dan kemurahan-Mu. Engkau pantas menghapus segala kemaksiatan dan dosa pada semua makhluk-Mu dalam sekejap kedipan mata. Wahai Dzat yang Maha Mulia, yang Maha Pemurah, yang Maha Memberi Maaf, yang Maha Penyayang, Wahai Dzat Pemilik keutamaan yang besar dan nikmat yang luas.
Selanjutnya ditutup dengan membaca shalawat Fatih satu kali.
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra pernah berkata terkait do’a diatas: “Paling baiknya ber-tawajjuh adalah disepertiga malam terakhir, itu adalah waktu berdo’a yang jarang ditolak oleh Allah Swt. Hendaknya pula berdo’a pada waktu-waktu mustajab yang sudah maklum diketahui, diapun harus membulatkan keinginannya untuk itu.”
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra pernah berkata, “Semangatnya seseorang mampu menaklukkan semua alam yang ada.” Ketika ada suatu kegandrungan permohonan, maka iapun akan memperbanyak meminta itu dengan sungguh-sungguh dan istiqomah, dimana permohonan tersebut tidak akan diberi pada orang orang yang malas dan tidak sering memintanya. Tidak susah bagimu untuk meminta itu, jangan pula ragu dalam meminta dan menerima dari-Nya, bahkan seharusnya yang bersangkutan yakin bahwa ia akan senantiasa meminta itu bahkan jika harus mati dalam memintanya sekalipun, dengan demikian maka Engkau telah tersambung dengan Dzat yang kau pinta meski ia ada di balik ‘Arasy.
