You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Keutamaan Berdzikir Mengingat Allah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Keutamaan Berdzikir Mengingat Allah

Di awal pembahasan ini kami akan menyampaikan pernyataan al ‘Allamah an-Nawawi yang tertera dalam kitab al Adzkâr: Pasal; Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَا لْمُسْلِمٰتِ وَا لْمُؤْمِنِيْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتِ وَا لْقٰنِتِيْنَ وَا لْقٰنِتٰتِ وَا لصّٰدِقِيْنَ وَا لصّٰدِقٰتِ وَا لصّٰبِرِيْنَ وَا لصّٰبِرٰتِ وَا لْخٰشِعِيْنَ وَا لْخٰشِعٰتِ وَا لْمُتَصَدِّقِيْنَ وَ الْمُتَصَدِّقٰتِ وَا لصَّآئِمِيْنَ وَا لصّٰٓئِمٰتِ وَا لْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَا لْحٰـفِظٰتِ وَا لذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّ الذّٰكِرٰتِ ۙ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا
innal-muslimiina wal-muslimaati wal-mu-miniina wal-mu-minaati wal-qoonitiina wal-qoonitaati wash-shoodiqiina wash-shoodiqooti wash-shoobiriina wash-shoobirooti wal-khoosyi’iina wal-khoosyi’aati wal-mutashoddiqiina wal-mutashoddiqooti wash-shooo-imiina wash-shooo-imaati wal-haafizhiina furuujahum wal-haafizhooti waz-zaakiriinalloha kasiirow waz-zaakirooti a’addallohu lahum maghfirotaw wa ajron ‘azhiimaa

“Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 35)

Dalam Shahih Muslim disebutkan dari riwayat Abu Hurairah Ra, bahwa sungguh Rasulullah Saw pernah bersabda,

سَبَقَ الْمُفَرِّدُوْنَ، قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُوْنَ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ؟ قَالَ: الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ

“Telah mendahului al Mufarridûn (orang-orang yang menyendiri dalam ibadah).” Para sahabat bertanya Siapakah al Mufarridûn itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah. “

(HR. Muslim dalam Shahih-nya; Kitab. Dzikir dan Do’a, Bab. Ajakan untuk berdzikir mangingat Allah, vol. 4, hal. 2063, no. 2676; Umayyah bin Bustham al ‘Aisyi menceritakan kepada kami, Yazid bin Zural’ menceritakan kepada kami, Ruh bin al Qasim menceritakan kepada kami, dari al ‘Ala` dari Abu Hurairah Ra, ia berkata: Rasulullah Saw pernah berjalan di jalan kota Makkah, beliau melewati bukit, yang disebut dengan bukit Jamdan, maka Rasulullah Saw pun bersabda, “Berjalanlah kalian pada bukit Jamdan, al Mufaridun (orang-orang yang menyendiri untuk beribadah) telah mendahului kita.” Para sahabat berkata, “Apakah al Mufarridun itu wahai Rasulullah Saw?” Beliau bersabda, “Orang-orang yang berdzikir kepada Allah dari lelaki dan perempuan.”

HR. at-Tirmidzi dalam Sunan-nya; Kitab. Ragam Do’a, Bab. Perkataan apa yang paling dicintai Allah, vol. 5, hal. 17, no. 3596; Abu Kuraib Muhammad bin al ‘Ala menceritakan kepada kami, Abu Mu’awiyah mengabarkan kepada kami, dari Amru bin Rasyid, dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Al Mufaridun (orang-orang yang menyendiri untuk beribadah) telah mendahulul kita.” Para sahabat berkata, “Apakah al Mufarridun itu wahal Rasulullah Saw?” Beliau bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang terpikat dalam berdzikir kepada Allah, dikir telah menggugurkan dosa yang mereka pikul, sehingga pada hari Kiamat mereka datang dalam keadaan ringan tanpa dosa.” Abu Isa mengatakan, “Hadits Inl hasan gharib.”

HR. Ahmad dalam Musnad-nya; vol. 2, hal. 323; Abu Amir menceritakan kepada kami, ‘Ali bin Mubarak menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Abu Katsir, dari Ya’qub, la berkata: Rasulullah Saw bersabda, al Mufarridün (orang-orang yang menyendiri untuk beribadah telah mendahului kita.” Para sahabat berkata, “Apakah al Mufarridûn itu wahal Rasulullah Saw?” Bellau Saw menjawab, “Orang-orang yang mendapatkan hidayah saat berdzikir mengingat Allah.”

HR. al Baghawi dalam Syarh As-Sunnah, Kitab. Do’a, Bab. Keutamaan Berdzikir kepada Allah dan majelis dzikir; vol. 5, hal. 18, no. 1247; Abu al Faraj al Mudhaffar bin Isma’ll mengabarkan kepada kami, Abu al Qasim Hamzah bin Yusuf as-Sahmi mengabarkan kepada kami, Abu Ahmad Abdullah bin Adi al Hafiz mengabarkan kepada kami, Ja’far bin Ahmad bin Ali bin Yaman yang berada di Mesir menceritakan kepada kami, Sa’id bin Katsir bin Ghafirina Ibnu Lahi’ah.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda, “Al Mufarridûn (orang-orang yang menyendiri untuk beribadah) telah mendahului kita.” kemudian ia melanjutkan haditsnya seperti dalam riwayat Muslim.)

Aku (Syaikh Ibrahim Niass) katakan: Pada riwayat diatas disebutkan dengan redaksi: al Mufarridûn dan al Mufaridûn. Riwayat yang lebih masyhur adalah al Mufarridûna.

Ketahuilah, ayat diatas merupakan ayat yang wajib diketahui pemegang buku ini, meski para ulama berselisih pendapat tentangnya; al Imam Abul Hasan al Wahidi mengatakan, “Yang dimaksud dalam ayat di atas adalah orang-orang yang senantiasa berdzikir kepada Allah Swt tiap selesai shalat; baik pagi maupun sore hari bahkan saat ia berada di tempat tidurnya, setiap ia bangun dari tidur dan setiap ia keluar bepergian dari rumahnya. “

Sedangkan Mujahid mengatakan, “Tidaklah seseorang digolongkan termasuk lelaki dan perempuan yang banyak berdzikir mengingat Allah hingga ia senantiasa berdzikir pada Allah saat berdiri, duduk, maupun posisi tidur.”

Mujahid pun berkata, “Para ulama sepakat bolehnya berdzikir kepada Allah dengan kalbu, maupun dengan lisan bagi orang yang ber-hadats, haid, nifas; yaitu dengan bacaan tasbih, tahlil, tahmid, takbir, shalawat, berdo’a dan yang lainnya. “

Sayyidi Ahmad Zarruq Ra menyebutkan dalam Ta’sis al Qawa `id dengan redaksi berikut: Konsisten mendzikiri yang didzikiri akan membuat seorang sampai pada yang didzikiri (Allah). Dengan demikian, keutamaan berdzikir itu menandingi yang lainnya jika engkau ingin melazimi dirimu dengan semua kelazimannya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَا ذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَا شْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
fazkuruuniii azkurkum wasykuruu lii wa laa takfuruun

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 152); tidak ada karomah yang lebih agung daripada ini, dimana Allah telah menjadikan semuanya memiliki batasan dan waktu tertentu kecuali perkara berdzikir kepada-Nya, dimana Dia berfirman,

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا 
yaaa ayyuhallaziina aamanuzkurulloha zikrong kasiiroo

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya,”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 41)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَاِ ذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَا ذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ فَاِ ذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَ قِيْمُوا الصَّلٰوةَ ۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَا نَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا
fa izaa qodhoitumush-sholaata fazkurulloha qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuubikum, fa izathma-nangtum fa aqiimush-sholaah, innash-sholaata kaanat ‘alal-mu-miniina kitaabam mauquutaa

“Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan sholat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk, dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah sholat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 103)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَاِ ذَا قَضَيْتُمْ مَّنَا سِكَـکُمْ فَا ذْکُرُوا اللّٰهَ كَذِكْرِكُمْ اٰبَآءَکُمْ اَوْ اَشَدَّ ذِکْرًا ۗ فَمِنَ النَّا سِ مَنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا وَمَا لَهٗ فِى الْاٰ خِرَةِ مِنْ خَلَا قٍ
fa izaa qodhoitum manaasikakum fazkurulloha kazikrikum aabaaa-akum au asyadda zikroo, fa minan-naasi may yaquulu robbanaaa aatinaa fid-dun-yaa wa maa lahuu fil-aakhiroti min kholaaq

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka berzikirlah kepada Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyang kamu, bahkan berzikirlah lebih dari itu. Maka di antara manusia ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,” dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 200)

Disebutkan dalam sebuah hadits:

وَقَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ ، كَثُرَتْ عَلَيَّ شَرَائِعُ الْإِسْلَامِ فَدُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ أَدْرِكُ مَا فَاتَنِي، قَالَ: لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكْرِ اللّٰهِ.

Seorang lelaki berkata kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, beragam syiar Islam telah membebaniku, maka tunjukkanlah padaku amalan yang dapat membuatku menebus apa yang terlewat dariku.” Rasulullah Saw bersabda, “Hendaknya lisanmu basah dengan berdzikir pada Allah.”

Dalam hadits lainnya disebutkan,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ اللَّهِ تَعَالَى حَتَّى يَقُوْلُوْا : مَجْنُوْنٌ

“Perbanyaklah dzikir pada Allah hingga orang-orang mengatakan, ‘orang gila’.”

Dzikir adalah flayer kewalian yang terbentang. Orang yang diberi dzikiran, maka ia telah diberi flayer kewalian tersebut.

Syaikh kami Abul ‘Abbas al Hadhrami pernah mengatakan, “Hendaknya engkau konsisten berdzikir dan perbanyak bershalawat pada Rasulullah Saw, itu adalah anak tangga, dan jalan suluk menuju Allah Swt apabila sang murid tidak menemukan syaikh mursyid.

Pada tahun 846 H, di Masjidil Haram ada seorang lelaki shaleh yang meriwayatkan dari sebagian shiddiqin, dimana riwayat keduanya pun terkenal.

Beliaupun berkata, “Setiap dzikiran dan isim, maka khasiatnya berasal dari maknanya, tasharrufnya terletak pada kebutuhannya, rahasianya terletak pada jumlah bilangannya, ijabahnya bergantung pada himmah (kesungguhan) pengamalnya. Maka dari itu, seorang yang ‘alim tidaklah mendapat manfaat kecuali dengan makna yang nampak. Tidak pula orang yang bodoh kecuali mendapatkan manfaat dengan makna yang tersembunyi yang ia tidak ketahui maknanya, hingga yang tersisa orang yang mampu memahami keduanya diantara dua golongan orang tersebut. Kita pun lazim menjadikan syari’at sebagai bahan pertimbangan banyaknya pembahasan dzikiran dan menjadikan dzikiran yang dihasilkan dengan pertimbangan syari’at itu sebagai istinbat. Hal ini bertujuan untuk mengejawantahkan perkaranya sesuai sunnatullah.

Sementara hal yang berkaitan dengan Al Qur’an dan kesalahan dalam harakat serta semisalnya, maka perkara ini diambil faedahnya dari ilmu percetakan dan ragam cetakan yang ada, dimana setelahnya tidak ada lagi yang tersembunyi dari kebenaran dan tahqiq. Oleh karena itu, Ibnu al Banna pernah berkata pada Ibnu al Buni dan semisalnya dan itu sesuai dengan apa ditulis oleh juru tulis dan semisalnya.

Al Hatimi Ra pernah berkata, “Ilmu huruf merupakan ilmu mulia, akan tetapi ia bisa menjadi buruk dunia dan akhirat.” Ketahuilah itu semoga Allah senantiasa memberikan taufik-Nya.- Aku katakan: Terkait perkara dunia (yang membuat ilmu huruf menjadi buruk) itu karena pengamalnya tenggelam pada ragam sebab yang penuh dengan praduga. Perbuatan itu melukai maqam tawakal, yang seharusnya berbentuk ijtihad diri dalam menggapai kesembuhan, seperti kesalahan terburu-buru berobat dengan cos (menempelkan besi panas pada bagian tubuh yang luka). Karena hal tersebut membuat tubuh terluka dan agar cepat penyembuhannya. Sementara perkara akhirat (yang membuat ilmu huruf menjadi buruk), karena itu merupakan bentuk kesibukan diri dengan ragam sisi yang melepaskan unsur ukhrawi.

Dalam Syarh Khâtimah at-Tashawwuf, Imam al ‘allâmah al ‘arifbillah, sayyidi Muhammad al Yadani mengatakan dengan redaksi berikut:

Jalan terdekat untuk masuk ke hadhrah Allah adalah dengan berdzikir pada-Nya. Sebab sebuah nama tidak akan berpisah dari apa yang disebutnya. Saat seorang berdzikir, kala itu pula hijab terkoyak sedikit demi sedikit hingga kalbu menyaksikan Allah, seketika itupula ia tidak perlu berdzikir lagi lantaran sudah menyaksikan Dzat yang didzikiri. Keinginan orang yang berdzikir adalah senantiasa ada dalam hadhrah Allah, dimana kini semua hijab terbuka, dan engkau masuk ke dalam hadhrah-Nya dengan posisi engkau duduk ditempatmu.”

Dalam Syahiyyah as-Sima’ beliau menuliskan: Tidaklah seorang hamba ber-taqarrub kepada hadhrah Allah kecuali dia telah malu sebenar-benarnya kepada-Nya. Tidak ada yang memberikannya kemaslahatan kecuali jika ia memperoleh kasyaf dan terangkatnya hijab. Tidak ada pula yang memberikannya kemaslahatan kecuali jika ia melazimkan dzikiran. Tidak benar pula maqam ikhlasnya yang sempurna (menyaksikan ragam amal perbuatan bahwa itu adalah ciptaan Allah) kecuali dengan mengkonsistenkan dzikir. Tidak ada yang bisa memadamkan penyakit batin kecuali dengan berdzikir. Tidak ada yang bisa memutus khawâthir syaithâni kecuali dengan berdzikir. Tidak ada yang bisa melipatgandakan khawathir nafsani kecuali dengan berdzikir. Berdzikir mampu menghilangkan kesedihan dan kesusahan di dunia, dimana kesedihan dan kesusahan datang sesuai dengan kadar kalalaian kita dari Allah, maka ketika datang ragam kesedihan dan kesusahan, janganlah seseorang mencela kecuali dirinya sendiri. Sebab itu merupakan balasan baginya sesuai kadar penolakan dirinya kepada Allah Swt. Maka orang yang ingin hidupnya selalu senang, hendaknya ia mendawamkan berdzikir.

Ada sebagian orang yang tertipu, merasa puas dengan majelis dzikir yang diadakan pagi dan sore sementara kondisi mereka lalai dari Allah Swt diantara dua waktu tersebut. Perbuatan tersebut tidak memberikan efek dalam bersuluk pada ragam manāzil sufi, bisa jadi ia berdalih dengan sabda Nabi Saw,

إِذَا ذَكَرَ الْعَبْدُ رَبَّهُ أَوَّلِ النَّهَارِ سَاعَةً وَ آخِرِ النَّهَارِ سَاعَةً غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُمَا

“Apabila seorang hamba berdzikir (mengingat) kepada Allah satu jam pada awal siang dan diakhir siang, maka dosa-dosanya diantara kedua waktu tersebut telah diampuni.”

Ampunan Allah tidak bisa membuat seseorang ber-tarqiyah, puncak ampunan Allah adalah menggolongkan sang pendosa dengan orang yang tidak melakukan dosa itu, bukan pula bahwa ampunan Allah menggolongkannya dengan orang yang melakukan ketaatan, pahamilah ini!. Yang dimaksud para sufi adalah seseorang yang senantiasa ber-tarqiyah pada ragam maqamat, dan itu dengan cara mendawamkan dzikir (mengingat) Allah Swt, yang kemudian mereka pun tidak melihat bahwa mereka telah melakukan apapun dari hak yang wajib bagi Allah Swt meski sebesar biji dzarah.” – Selesai.-

Ibnu ‘Abbad ketika memberikan Syarah al Hikam pada hikmah, “Janganlah engkau tidak berdzikir lantaran kalbumu belum bisa menghadirkan Allah. Karena lalainya kalbumu tanpa berdzikir lisan itu lebih berbahaya daripada lalainya kalbu tanpa pernah berdzikir. Maka mudah-mudahan Allah mengalihkanmu dari dzikir dalam kondisi lalai menjadi dzikir dalam kondisi sadar. Dari dzikir dalam kondisi sadar menjadi dzikir dalam kondisi mampu menghadirkan Allah. Dari dzikir dengan kondisi mampu menghadirkan Allah menjadi dzikir dalam kondisi ghaibah dari selain yang didzikiri (Allah Swt). Hal itu sangatlah mudah bagi Allah Swt-” mengatakan, “Dzikir merupakan jalan paling dekat menuju Allah Swt, iapun adalah ilmu akan keberadaan sisi kewalian-Nya, sebagaimana dikatakan: Dzikir adalah flayer kewalian, maka orang yang cocok dengan dzikiran, maka ia telah diberi flayer kewalian. Begitu juga orang yang tercerabut dari dzikiran, maka ia telah menyingkir dari sisi kewalian.

Ada sya’ir yang mengatakan:

وَالذِّكْرُ أَعْظَمُ بَابٍ أَنْتَ دَاخِلُهُ # لِلَّهِ فَاجْعَلْ لَهُ الْأَنْفَاسُ حَرَّاسًا

“Dzikir merupakan pintu terbesar yang bisa kau masuki # untuk menuju Allah, maka jadikanlah jiwa-jiwamu terus menjaganya.”

Al Imam Abul Qasim al Qusyairi pernah mengatakan, “Dzikir adalah tanda kewalian, menara wushul, pengejawantahan keinginan, tanda sehatnya badan, penunjuk jernihnya akhir (kehidupan). Dibalik dzikir tidak ada sesuatu, bahkan keutamaan dzikirpun akan lebih banyak dari jumlah bilangan yang bisa dihitung, meskipun tidak ada dalil selain firman Allah swt,

فَا ذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَا شْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
fazkuruuniii azkurkum wasykuruu lii wa laa takfuruun

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 152); juga firman Allah yang diriwayatkan oleh Nabi dari Allah (hadits qudsi) :

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَةٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Aku sesuai prasangka hamba-Ku pada-Ku. Aku akan senantiasa bersamanya salama ia berdzikir mengingat-Ku. Andai ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diriku. Andai ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang, maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus dari kelompoknya. Andai ia mendekat kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta. Andai ia mendekat kepada-Ku satu hasta, maka Aku mendekat kepadanya satu depa. Andai ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.”

(HR. al Bukhari dalam Shahih-nya; Kitab. Tauhid, Bab. Firman Allah Swt, “Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya.” (Qs. Ali Imran [3]: 28); dan firman Allah Swt, “Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau.” (Qs. al Ma’idah [5]: 116); vol. 4, hal. 421, no. 2675; Umar bin Hafs menceritakan kepada kami, Ayahku menceritakan kepada kami, al A’masy menceritakan kepada kami, Aku mendengar Abu Shalih, dari Abu Hurairah Ra, ia berkata: Nabi Saw bersabda, “Allah Swt berfirman. ..kemudian beliau menyebutkan haditsnya…

HR. Muslim dalam Shahih-nya; Kitab. Dzikir, Do’a, Tobat dan Istighfar, Bab. Anjuran untuk berdzikir kepada Allah, vol. 4, hal. 2061, no. 2675; dari jalur periwayatan Jarir bin al A’masy…hingga akhir sanad al Bukhari, dimana ini merupakan lafazh-nya; Bab. Keutamaan Dzikir, Do’a dan Mendekatkan diri kepada Allah, hal. 2068; dari jalur periwayatan Abu Mu’awiyah dari al A’masy…hingga sanad al Bukhari, dimana ini merupakan lafazh-nya.

HR. at-Tirmidzi dalam Sunan-nya; Kitab. Ragam Do’a, Bab. Husnuzhzhan Kepada Allah; vol. 5, hal. 581, no. 3603; dari Jalur periwayatan Abu Mu’awiyah dari al A’masy…hingga akhir sanad al Bukhari, dimana ini merupakan lafazh-nya. Abu Isa berkata: Hadits ini hasan shahih.

HR. Ahmad dalan Musnad-nya; vol. 2, hal. 251; Dari jalur periwayatan Ibnu Numair dan Abu Mu’awiyah…hingga akhir jalur periwayatan al Bukhari, dimana ini merupakan lafazh-nya. Pada hal. 413; Dari Jalur periwayatan Abdul Wahid: Sulaiman al A’masy menceritakan kepada kami…

HR. Ibnu Majah dalam Sunar-nya; Kitab. Adab, Bab, Keutamaan Amalan; vol. 2, hal. 1255, no. 3822; Dari jalur periwayatan Abu Mu’awiyah dari al A’masy…)

Oleh karena itu, kami kira hadits diatas sudah cukup bahkan lebih dari cukup sebagai dalil. Hadits ini telah disepakati ke-shahih-annya. Para ulama berkata: Diantara kekhususan “berdzikir” adalah bahwa berdzikir tidak terikat dengan waktu, bahkan tidaklah ada waktu tertentu dimana seorang hamba diminta untuk berdzikir mengingat Allah; baik berdzikir yang wajib maupun berdzikir yang sunah, berbeda dengan amal ketaatan lainnya.

Ibnu Abbas Ra pernah berkata, “Tidaklah Allah perintahkan suatu perkara fardhu bagi hambanya kecuali Dia memberikan batasan yang diketahui, kemudian memberikan ampunan bagi orang yang memiliki udzur (halangan) tertentu kecuali perkara berdzikir; Allah tidak memberikan batasan akhirnya dan tidak seorangpun memiliki udzur untuk meninggalkan berdzikir kecuali orang yang gila, bahkan Allah perintahkan para hambanya untuk berdzikir mengingat-Nya pada semua kondisi dalam keseharian, sebagaimana firman Allah Swt,

فَاِ ذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَا ذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ فَاِ ذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَ قِيْمُوا الصَّلٰوةَ ۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَا نَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا
fa izaa qodhoitumush-sholaata fazkurulloha qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuubikum, fa izathma-nangtum fa aqiimush-sholaah, innash-sholaata kaanat ‘alal-mu-miniina kitaabam mauquutaa

“Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan sholat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk, dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah sholat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 103)

Firman Allah Swt lainnya,

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا 
yaaa ayyuhallaziina aamanuzkurulloha zikrong kasiiroo

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya,”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 41); maksudnya adalah pada waktu siang dan malam, saat di darat maupun di laut, saat bepergian atau bermukim, saat kaya atau miskin, saat sehat atau sakit, baik dengan suara lirih atau suara lantang, bahkan pada segala kondisi.

“Adz-Dzikrul Katsir,” Mujahid Ra berkata, maknanya adalah agar tidak melupakan-Nya selama-lamanya. Diriwayatkan dari Rasulullah Saw,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ اللَّهِ حَتَّى يَقُوْلُوا: مَجْنُونٌ

“Perbanyaklah kalian berdzikir mengingat Allah hingga orang-orang mengatakan, ‘gila’, “

(HR. Ahmad dalam Musnad-nya; vol. 1, hal. 68; Syuralh menceritakan kepada kami, Ibnu Wahhab menceritakan kepada kami, dari ‘Amru bin al Harits, bahwa Darraj Abu As-Samh menceritakan kepadanya, dari Abu Haltsarn, dari Abu Sa’id al Khudri Ra, la berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Perbanyaklah kalian berdzikir mengingat Allah hingga orang orang mengatakan, ‘gila, Pada hal. 71 disebutkan dari jalur periwayatan Ibnu Lahi’ah..Darraj menceritakan kepada kami…

HR. al Hakim dalam al Mustadrak, Kitab. Do’a, Bab. Perbanyak berdzikir Ingat Allah hingga mereka mengatakan, ‘gila’; vol. 1, hal. 499. al Hakim menilainya shahih, dimana Adz-Dzahabi sepakat dengan hadits ini.)

Seyogyanya seorang hamba memperbanyak berdzikir pada setiap kondisi jiwa, sehingga ia senantiasa bisa tenggelam dalam berdzikir pada Allah di semua waktunya dan tidak lalai akan hal itu. Dia tidak boleh meninggalkan dzikir lantaran adanya kelalaian diri saat berdzikir, sebab meninggalkan lalai itu lebih berbahaya daripada lalai saat berdzikir. Hendaknya ia berdzikir mengingat Allah dengan lisannya meski jiwanya lalai, berharap semoga berdzikir dalam kondisi lalai itu bisa mengangkatmu pada kondisi berdzikir mengingat Allah dalam kondisi ghaibah dari selain yang didzikiri, dimana inilah martabatnya al ‘arifunabillah wal muhaqqiqin dari kalangan wali Allah Swt.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِلَّاۤ اَنْ يَّشَآءَ اللّٰهُ ۖ وَا ذْكُرْ رَّبَّكَ اِذَا نَسِيْتَ وَقُلْ عَسٰۤى اَنْ يَّهْدِيَنِ رَبِّيْ لِاَ قْرَبَ مِنْ هٰذَا رَشَدًا
illaaa ay yasyaaa-allohu wazkur robbaka izaa nasiita wa qul ‘asaaa ay yahdiyani robbii li-aqroba min haazaa rosyadaa

“kecuali (dengan mengatakan), “Insya Allah.” Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 24); maksudnya adalah, apabila engkau lupa dengan selain Allah pada saat itu, maka engkau telah berdzikir pada Allah. Pada kondisi ini berdzikir dengan lisan terputus, hingga sang hamba merasa keberadaan jiwanya sirna. Ada ulama yang menggubah sya’ir berikut:

مَا إِنْ ذَكَرْتُكَ إِلَّا هُمْ يَقْلَقْنِي # سِرِّى وَقَلْبِي وَرُوْحِي عِنْدَ ذِكْرَاكَ

حَتَّى كَأَنَّ رَقِيبًا مِنْكَ يَهْتِفُ بِيَ # إِيَّاكَ وَيْحَكَ وَالتَّذْكَارُ إِيَّاكَ

أَمَّا تَرَى الْحَقَّ قَدْ لَاحَتْ شَوَاهِدُهُ # وَوَاصِلُ الْكُلِّ مَنْ مَعْنَاهُ مَعْنَاكَ

Andai aku tidak berdzikir mengingat-Mu maka ada # kegundahan yang membuat diri, sirr, kalbu dan ruhku bersedih saat aku kembali mengingat-Mu

Hingga seolah malaikat Raqib disamping-Mu berbisik padaku # persetan dengan ‘hanya kepada-Mu lah’ dimana peringatan juga tertuju hanya bagimu

Tidakkah engkau melihat Allah al Haq telah menampakkan ragam bukti # dan me-wushul-kan seluruhnya dari makna-Nya yang ada pada makna (jiwa)mu.

Al Wasithi pernah mengatakan yang menunjuk pada makna ini, “Orang-orang yang berdzikir pada Allah dalam dzikirannya, ia lebih banyak lalai dari pada orang-orang yang lupa untuk berdzikir. Sebab yang diingat adalah selain Allah.”

Abul ‘Abbas bin al Bina pernah memberikan komentar, yang ia tuliskan dalam Muqaddimah Kitab Abul ‘Izz Taqiyyuddin bin Muzhaffar asy-Syafi’i, yang merupakan kitab Asrar Aqliyyah Fi al Kalimât an-Nabawiyyah. Aku melihat ini tertulis dengan tulisan tangan beliau sebagai berikut: Dzikiran paling agung adalah yang bergejolak dari khowatir jiwa, yang warid (datang) dari yang didzikiri (Allah Swt). Menurut para sufi, ini adalah dzikir khafi yang dibaca secara terus menerus dalam kondisi lirih.”

Terkait dengan perkataan para sufi, “Hingga orang yang berdzikir tadi mampu ajek (konsisten) dalam kondisi tenggelam kala berdzikir, tidak ada hikmah pada keajekan seorang yang berdzikir bisa hulûl dan juga ittihâd, akan tetapi itu adalah kemampuan yang datang dari Allah Swt.” Penjelasannya demikian: Ketika berdzikir, kalbu orang yang berdzikir itu kosong dari seluruhnya (selain Allah); tidak ada yang tersisa didalam kalbu selain Allah Swt yang diingat, sehingga kalbu menjadi rumahnya Allah Swt; Dialah yang menjadi lisan yang digunakan untuk berbicara. Andai orang yang berdzikir ini memegang sesuatu, maka hekekatnya tangan Allahlah yang memegang sesuatu tersebut. Andai orang yang berdzikir itu mendengar, maka Allahlah yang menjadi pendengaran-nya. Allah (Dzat yang didzikiri) telah mampu menguasai fu’ad dan mengendalikannya, begitu juga tubuh, maka akan digunakan pada perkara yang diridhai-Nya. Juga sifat hamba tersebut, ia akan menerima ragam perkara yang menggiring pada ridha-Nya. Oleh karena itu, dzikiran keluar dengan begitu mudah tanpa perlu dipaksakan, juga mampu menimbulkan rasa semangat dalam melakukan ragam ketaatan tanpa terasa lelah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

سَا بِقُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَآءِ وَ الْاَ رْضِ ۙ اُعِدَّتْ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِا للّٰهِ وَرُسُلِهٖ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
saabiquuu ilaa maghfirotim mir robbikum wa jannatin ‘ardhuhaa ka’ardhis-samaaa-i wal-ardhi u’iddat lillaziina aamanuu billaahi wa rusulih, zaalika fadhlullohi yu-tiihi may yasyaaa, wallohu zul-fadhlil-‘azhiim

“Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 21)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّا لَّذِيْنَ هُمْ مُّحْسِنُوْنَ
innalloha ma’allaziinattaqow wallaziina hum muhsinuun

“Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 128)

Allah menyifati kalbu Ummu Musa dengan makna itu, sebagaimana yang tertera dalam firman Allah Swt,

وَاَ صْبَحَ فُؤَادُ اُمِّ مُوْسٰى فٰرِغًا ۗ اِنْ كَا دَتْ لَـتُبْدِيْ بِهٖ لَوْلَاۤ اَنْ رَّبَطْنَا عَلٰى قَلْبِهَا لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
wa ashbaha fu-aadu ummi muusaa faarighoo, ing kaadat latubdii bihii lau laaa ar robathnaa ‘alaa qolbihaa litakuuna minal-mu-miniin

“Dan hati ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah).”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 10); maksudnya kosong dari segala sesuatu selain menyebutkan nama Musa, bahkan hampir saja Ummu Musa menampakkan kondisi jiwanya dengan menyebut-nyebut nama Musa tanpa ia sadari, akan tetapi Ummu Musa berupaya untuk tidak melakukan itu sebagai upaya bersabar dengan apa yang Allah kaitkan pada kalbunya, agar engkau percaya dengan apa yang Allah wahyukan pada Ummu Musa sebelum berbicara mengenai nabi Musa As, bahwa ia adalah utusan Allah. Penjelasan inilah yang menghilangkan kerancuan paparan Abul Izz; yaitu berkumpulnya dua perkara yang bertentangan; Dzikir dan ghaflah (lalai). Sementara hakekat beragam pengetahuan dan juga proses tarqiyah hanya diketahui oleh orang-orang yang melakukan suluk dalam wijdan mereka; para ulama pemilik iman dan keyakinan yang kuat. Berhati-hatilah, jangan sampai engkau berdusta dengan ayat-ayat Allah Swt hingga engkau menjadi bisu dan tuli dalam kegelapan.

Ketika Dzat yang didzikiri tidak boleh disifati dengan sifat ketiadaan, Dzatnya tidak bisa terhalangi dengan hijab, Dzatnya tidak pula menempati sebuah tempat, tidak terikat dengan waktu. Disatu sisi, Dzat tidak boleh dalam kondisi ghaibah. Tidak pula disifati dengan sifat hawadits (ciptaan). Tidak berlaku bagi-Nya sifat makhluk. Dzatnya senantiasa hadir secara dzat dan makna; menyaksikan yang tersembunyi dan bisikan, sebab Dialah yang dekat dari segala sesuatu, bahkan paling dekat dengan dzikiran yang didzikiri untuk-Nya dari sisi wujud, ilmu, kehendak, qudrah, berikut pengaturan dan pelaksanaan dzikiran tersebut. Dialah yang menciptakan makhluk, namun Dia tidak mengikuti sifat makhuk. Dia wujudkan jumlah bilangan namun maknanya tidak bisa membatasi Dzat-Nya; Dialah Allah yang Maha Luhur lagi Besar. -Selesai pernyataan syaikh Abul ‘Abbas pada makna maqam ketiga dari dzikiran.-

Pernyataan ini sangat bagus nan menunjukkan sisi tauhid khusus tarekat ini. Seyogyanya seorang hamba tidak menjauhkan diri untuk wushul pada maqam ini, dan hal itu tentu mudah bagi Allah yang Maha Membuka lagi Maha Mengetahui. Maka hendaknya seorang hamba melaksanakan ragam sebab (bersuluk menuju Allah Swt) dan Allahlah nanti yang mengangkat hijab. Jabrad

Dalam Syarah Khatimah at-Tashawwuf, al ‘Allamah al Yadali juga pernah mengatakan sebagai berikut: Kelima, dalam Jawahir al Qur’an: Ketahuilah, sungguh telah tersingkap bagi ahli bashirah bahwa dzikir adalah amal perbuatan yang paling utama, akan tetapi ia memiliki tiga kulit; sebagiannya lebih dekat dengan intinya; dagingnya ada dibalik ketiga kulit tersebut. Keutamaan kulit menjadi utama karena merupakan jalan menuju daging. Kulit yang paling atas adalah dzikir lisan saja. Kulit yang kedua adalah dzikir kalbu, sebab kalbu perlu dipantau hingga ia mampu hadhur saat berdzikir. Jikalau engkau membiarkan kalbu dalam kondisi tersebut (tidak memantaunya), maka ia akan lepas pada lembah pikiran. Kulit ketiga adalah dzikiran itu ajek dari kalbu bahkan mampu menguasainya, dimana tetap membutuh-kan upaya keras agar tidak membuatnya berpaling sebagaimana pada kulit yang kedua dibutuhkan pula upaya berat agar menumbuhkan pengikraran kalbu agar bisa berdzikir bersamaan dengan lisan.

Yang keempat adalah inti yang diinginkan; yaitu kalbu tidak lagi melirik pada dzikiran, tidak pula pada kalbu itu sendiri, tetapi ia tenggelam pada Dzat yang didzikiri. Meski pada pertengahan dzikir, kalbu melirik pada yang lain, maka inilah hijab yang menyibukkan kalbu. Kondisi ini yang diibaratkan olen para sufi sebagai kondisi fana; dirinya fana dari dirinya, hingga inti dirinya tidak lagi merasakan sesuatu pada sisi nampak dari dirinya; dan juga ragam perkara yang muncul pada bathin, akan tetapi jiwanya lenyap dari semua itu dan semua itu pun lenyap dan menuju Rabbnya di awal dan akhir.

Andai nampak pada pertengahan berdzikir bahwa ia fana dari dirinya secara keseluruhan, maka itu hasil kecemasan diri dan juga tipu daya. Kondisi yang benar adalah fana dari dirinya dan fana` dari ke-fana`-an juga. Fana’ dari ke-fana`-an adalah puncaknya kondidi fana`. Sebagian ahli fikih yang resmi menyangka kondisi itu adalah kemampuan yang tidak masuk akal. Sebenarnya bukanlah seperti itu, akan tetapi itu adalah kondisi mereka yang cinta pada Dzat yang mereka cintai, seperti kebanyakan kondisi jiwamu yang terkait dengan yang kau cintai dari pangkat, harta dan orang yang kau rindu. Engkau akan tenggelam dalam kemarahan dengan berpikir tentang musuhmu, juga karena dahsyatnya syahwatmu yang berpikir tentang orang yang kau cinta, itu bisa membuat hatimu tidak lagi lapang untuk sesuatu lainnya, sehingga ketika engkau diajak bicara, engkau pun tidak paham, engkau dibicarakan oleh orang di hadapanmu, engkau bahkan tidak bisa melihatnya meski kedua matamu terbuka. Orang berbicara disekitarmu, engkau tidak mendengarnya padahal engkaupun tidak tuli. Engkau tenggelam dalam kondisi lalai dari segala sesuatu bahkan lalai dari kondisi lalainya. Sebab, orang yang melirik pada sisi tenggelamnya jiwa, ia akan menyangkal kondisi itu, bahkan hingga ia berkata, “Aku telah paham apa yang kau maksudkan dari fana’, tinggalkan sisi ke-ghaibah-an dan kedustaanmu dengan apa yang engkau tidak punya ilmunya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

بَلْ كَذَّبُوْا بِمَا لَمْ يُحِيْطُوْا بِعِلْمِهٖ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيْلُهٗ  ۗ كَذٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَا نْظُرْ كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الظّٰلِمِيْنَ
bal kazzabuu bimaa lam yuhiithuu bi’ilmihii wa lammaa ya-tihim ta-wiiluh, kazaalika kazzaballaziina ming qoblihim fangzhur kaifa kaana ‘aaqibatuzh-zhoolimiin

“Bahkan (yang sebenarnya), mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna dan belum mereka peroleh penjelasannya. Demikianlah halnya umat-umat yang ada sebelum mereka telah mendustakan (Rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang yang zalim.”
(QS. Yunus 10: Ayat 39)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقَا لَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَوْ كَا نَ خَيْرًا مَّا سَبَقُوْنَاۤ اِلَيْهِ  ۗ وَاِ ذْ لَمْ يَهْتَدُوْا بِهٖ فَسَيَقُوْلُوْنَ هٰذَاۤ اِفْكٌ قَدِيْمٌ
wa qoolallaziina kafaruu lillaziina aamanuu lau kaana khoirom maa sabaquunaaa ilaiih, wa iz lam yahtaduu bihii fa sayaquuluuna haazaaa ifkung qodiim

“Dan orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, “Sekiranya Al-Qur’an itu sesuatu yang baik, tentu mereka tidak pantas mendahului kami (beriman) kepadanya.” Tetapi karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata, “Ini adalah dusta yang lama.””
(QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 11)

Kemudian dia mengatakan, “Sungguh fana dan kondisi jiwa yang tenggelam pertama kali datang seperti petir yang menyambar, sedikit sekali kondisi ini bisa menetap dan berkelanjutan. Andai ia sudah konsisten dan menjadi kebiasaan yang mengakar dan berperangai yang tetap, maka iapun akan naik dengan kondisi tersebut pada alam yang paling tinggi dan memandang wujud Nya Allah yang hakiki lagi paling suci, hingga kondisi dirinya pun dicap dengan jiwa malaikat dan Allah ber-tajalli padanya. Yang pertama wujud adalah permata malaikat, ruh para nabi dan rasul dalam gambaran yang indah, yang dengan perantaranya mengarah pada sebagian hakekat. Inilah kondisi permulaan ma’rifat hingga kondisinya semakin tinggi yang tidak bisa lagi diperumpamakan, dirinya akan senantiasa memandang Allah pada segala sesuatu.

Ketika ia kembali pada alam majazi yang diperumpakan seperti bayangan, maka selanjutnya ia pun akan melihat pada makhluk dengan pandangan kasih sayang lantaran mereka belum bisa melihat indahnya Allah; Hadhrah al Quds. Ia pun kaget akan ketertipuan mereka dengan alam yang isinya tipu daya, iapun ada bersama mereka dengan jiwanya sementara kalbunya menghilang, iapun kaget dengan kedatangan mereka, sementara mereka pun kaget dengan ke-ghaibahannya itu. Dan ini adalah buah dari inti dzikiran.

Sungguh permulaannya memang dengan dzikir lisan, kemudian dzikir dengan kalbu meski terbebani dengan kondisi itu, kemudian dzikir dengan kalbu yang taat, lalu Dzat yang didzikiri menguasai dan sirnalah dzikiran tersebut. Selagi kalbu masih merasakan dzikiran dan ia masih melihat pada dzikiran tersebut, maka dia masih berpaling dari Allah dan tidak terlepas dari syirik khafi sampai jiwanya tenggelam pada Allah Swt, maka itulah tauhid.

Begitu juga tentang ma’rifat, orang yang sedang mencari ma’rifat, maka ia sedang berbicara mengenai ma’rifat. Orang yang telah mendapatkan ma’rifat seolah-olah ia tidak menemukan ma’rifat itu, yang ia temukan adalah apa yang dikenal orang banyak dengan “ma’rifat,” yaitu yang mengandung hakekat ketersambungan dan jiwanya telah terhubung dengan Dzat yang dicintai pada Hadhrah al Quds. (Syarh Khâtimah at-Tashawwuf karya al ‘Allamah al Yadali Ra).

Syaikhuna wa wasilatuna ila Rabbina; al Quthb al Maktum wa al Khatim al Muhammadiy, Ahmad at-Tijany Ra pernah mengatakan terkait apa yang dibutuhkan murid Tijany dalam riyadhah-nya; berikut redaksinya: Sungguh seorang murid yang shadiq, ketika ia ingin melakukan riyadhah khalwat dan semisalnya memerlukan beberapa perkara: Pertama, mengetahui batas bercanda, kemudian mengetahui tujuan yang dimaksud, lalu mengetahui cara menggapainya. Selanjutnya mengetahui hijab yang menghalangi jiwa, lalu mengetahui bagaimana cara menghilangkan hijab tersebut, kemudian tahu bagaimana hijab itu hilang darinya. Selanjutnya ia mengetahui ragan pondasi hijab, diantaranya apa saja materi hijab, kemudian berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menanggulangi ragam pondasi hijab tersebut, lalu mengetahui beragam perkara yang dengannya hijab bisa tersingkap; baik tersingkap keseluruhannya atau sebagian-nya. Selanjutnya bertekad kuat dengan ber-mujahadah dengan mengikuti ragam perkara yang telah diketahuinya seoptimal mungkin; baik pengetahuan akan batasan bercanda, juga berupa bersikap tengah-tengah saat makan dan minum; yang artinya makan dan minum tidak kurang dan tidak juga berlebihan. Lalu ia melihat pada waktu dan negara dengan empat musimnya; musim panas, musim dingin, musim semi dan musim gugur beserta melihat pada umur dirinya. Lalu mengatasi perkara yang kerap membuatnya menyeleweng.

Berikut penjelasan detailnya: Mengenai perkara mengetahui tujuan diri dalam menyingkap ragam hijab dari ruh Rabbani seraya mengembalikannya kepada kondisinya yang jernih seperti sebelum ruh ditiupkan ke dalam jasad; Dengan mengetahui perkara ini, sang murid akan mengetahui ragam ilmu, ma’rifat, ahwal, akhlak, maqâmât, futûhât, mawahib, al qurb al haqiqi. Dengan mengetahui ini pula sang murid mengetahui kebahagiaan di dunia dan akhirat. Orang yang kehilangan ini, maka ia belum sampai pada kebahagiaan akhirat.

Sedangkan mengetahui bagaimana cara agar sampai pada puncak yang dimaksud tersebut; maka caranya adalah ittiba’ kepada Rasulullah Saw pada semua ucapan, perbuatan, ahwal, akhlak beliau dengan cara menegakkan ragam hak Alllah Swt dalam keadaan tersembunyi dan terang-terangan; dengan tulus ikhlas dari semua kepentingan dunia dan akhrat. Hal itupun harus dilakukan karena Allah semata dan dengan sisi pengagungan pada-Nya pada sisi ridha, berserah diri, tafwidh dan senantiasa bersandar pada-Nya pada segala kondisi.

Sementara tentang bagaimana mengetahui tersingkapnya hijab, yang berupa upaya memangkas ragam keinginan dan syahwat serta tidak mengagung-agungkan jiwa serta senantiasa berupaya menggapai kemaslahatan jiwa dan memutus kemudharatannya dengan bersikap zuhud dalam segala kondisi, tetapi dengan catatan haruslah dengan cara yang halus dan penuh kasih sayang.

Selanjutnya mengenai perkara mengetahui ragam pondasi hijab, yaitu berupa banyak makan, banyak minum, banyak berjumpa dengan manusia, banyak bicara, banyak tidur dan senantiasa lalai dari Allah Swt.

Kemudian mengenai upaya dan kesungguhan dalam memutus ragam pondasi hijab, maka itu dengan cara menahan lapar, menahan dahaga dengan cara yang penuh kasih sayang, senantiasa memutuskan diri dari kebanyakan manusia, senantiasa diam kecuali pada kondisi yang lebih sedikit dari memenuhi kebutuhan dirinya, senantiasa begadang dengan cara yang penuh kasih sayang, senantiasa konsisten berdzikir kepada Allah Swt dengan kalbu dan lisan dengan dzikiran apa saja.

Selanjutnya, mengenai ragam dzikiran yang mampu menyingkap hijab, baik menyingkap keseluruhan-nya; yaitu menyibak hijab yang ada pada ruh dari beragam perkara: Diantaranya pada perkara yang terperinci, yaitu dzikiran yang hanya mampu menyibak satu hijab saja.

Sedangkan yang termasuk dzikiran umum adalah ucapan Lâ ilaha illallah, atau shalawat kepada Nabi Saw; atau bacaan subhanallah wal hamdulillah, atau bacaan Allahu akbar, atau bacaan bismillahirrahmanir-rahîm, atau ucapan Allah, Allâhu lâ ilaha illâ huwal hayyul qayyûm.

Begitu juga dzikiran yang terperinci yaitu semua Asma’ul husna. Setiap isim yang diucapkan akan menghilangkan sebagian hijab dan tidak mengena pada bagian yang lainnya. Wallahu a’lam.

Seyogyanya pernyataan beliau yang langka ini ditulis dengan tinta emas. Aku katakan: Orang yang ingin tambahan pemahaman akan perkara yang mampu menyirnakan hijab, maka hendaknya ia melazimi para pembesar tokoh thariqah at-Tijaniyyah.

As-Sayyid al ‘Arabi bi Sa`ih pernah mengatakan, “Sungguh di dalam Jawahir al Ma’âni masih banyak lagi jalan yang seluruhnya menghantarkan kepada Allah Swt.” Aku (Syaikh Ibrahim Niass) menimpali, “Apa yang tersembunyi dari itu bahkan lebih banyak, tetapi penggiring kebahagiaan akan tetap menggiring sekelompok manusia, begitu penyingkir ilahiyyah akan menyingkirkan yang lainnya.

الْمَاءُ مُنْهَمِرُ وَالْأَرْضُ مُعَشَّبَةٌ # أَقَامَ فِيْهَا مُرِيدُ الْخَيْرِ أَوْ رَحَلَا

“Air itu deras dan tanah dipenuhi rerumputan # Murid kebaikan akan menetap atau malah pergi.

Demikian penjelasan akhir pada pasal ini. Allahlah yang senantiasa memberikan taufik kepada jalan kebenaran dan hanya Dia lah tempat kembali dan berharap.

Sumber : BUKU FAIDHAH TIJANI (KASYIFUL ILBAS ‘AN FAIDHATI AL KHATMI ABIL ABBAS) SYAIKH IBRAHIM NIASS AL KULKHI AT-TIJANY