
Elsubha.com – Keutamaan Shalawat kepada Nabi Saw secara Umum
Pada bab ini akan dijelaskan tentang keutamaan bagi orang yang menghabiskan banyak waktunya dengan bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw dan kekhususan dicintai oleh banyak orang dengan perantara shalawat dan salam atas Nabi Saw.
Ahli tafsir menyebutkan: Ada banyak hadits pada bab shalawat kepada Nabi Saw, bahwa shalawat adalah ibadah yang paling utama, bawaan yang paling baik dan perkara yang paling agung untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dan memiliki kedudukan yang mulia.
Hal tersebut lantaran firman Allah Swt,
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۗ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
innalloha wa malaaa-ikatahuu yusholluuna ‘alan-nabiyy, yaaa ayyuhallaziina aamanuu sholluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 56)
Diriwayatkan dalam sebuah hadits:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَ ذَاتَ يَوْمٍ وَالْبُشْرَى ترَى فِي وَجْهِهِ فَقَالَ: إِنَّهُ جَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ: أَمَا تَرْضَى يَا مُحَمَّدٌ إِنَّهُ لَا يُصَلَّى عَلَيْكَ أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِكَ إِلَّا صَلَّيْتُ عَلَيْهِ عَشَراً، وَلَا يُسَلِّمُ عَلَيْكَ أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِكَ إِلَّا سَلَّمْتُ عَلَيْهِ عَشْراً.
“Suatu hari, Nabi Saw datang dengan kegembiraan terpancar di wajah beliau, beliau bersabda, “Jibril telah datang kepadaku seraya berkata, ‘Ridhakah engkau wahai Muhammad, tidaklah ada seseorang dari umatmu yang bershalawat padamu kecuali akupun bershalawat (mendo’akan keberkahan) padanya sepuluh kali. Tidak pula seseorang dari umatmu yang menyampaikan salam padamu kecuali akupun mengucapkan salam padanya sepuluh kali.”
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً تَعْظِيمًا لِحَقِّي، جَعَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ ذلِكَ الْقَوْلِ مَلَكًا لَهُ جُنَاحٌ فِي الْمَشْرِقِ وَجُنَاحٌ لَهُ فِي الْمَغْرِبِ وَرِجْلَاهُ فِي تُخَوْمِ الْأَرْضِ وَعُنُقَهُ مَلْوِيٌّ تَحْتَ الْعَرْشِ، يَقُوْلُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: صَلِّ عَلَى عَبْدِي كَمَا صَلَّى عَلَى نَبِيِّي فَيُصَلِّي عَلَيْهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang bershalawat padaku sebagai ungkapan penghormatan atas hakku, niscaya dari perkataan itu Allah Swt ciptakan satu malaikat yang satu sayapnya berada di timur dan sayap lainnya berada di barat, kedua kakinya menghujam di dasar langit ke tujuh, lehernya melilit dibawah ‘Arasy; Allah Swt berfirman kepada malaikat tersebut, ‘Bershalawatlah (mendo’akan kebaikan) pada hamba-Ku, sebagaimana engkau bershalawat pada Nabi-Ku, maka malaikat itupun bershalawat padanya hingga hari Kiamať.”
Rasulullah Saw bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا صَلَّى فَلْيُقَلِّلْ عَبْدٌ مِنْ ذلِكَ أَوْ لِيَكْثِرْ
“Barangsiapa yang bershalawat padaku, maka malaikat bershalawat padanya sebagaimana malaikat bershalawat padaku, maka seorang hamba bisa menyedikitkan atau memperbanyak shalawatnya.”
Rasulullah Saw bersabda,
إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً
“Orang yang paling utama disisiku pada hari kiamat, adalah mereka yang paling banyak bershalawat padaku.”
Syaikh Murtadho Az-Zabidi dalam syarah Ihya Ulumuddin menjelaskan: Maknanya adalah ia tergolong orang yang paling dekat denganku pada hari Kiamat. Yang paling berhak mendapat syafa’atku pada hari Kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat padaku ketika di dunia. Sebab banyaknya shalawat yang diuntaikan menunjukkan ketulusan cintanya kepada Nabi Saw dan menjadi perantara yang sempurna, sehingga kedudukan mereka di akhirat nanti berdasarkan banyak tidaknya ia bershalawat kepada Nabi Saw ketika di dunia.”
Rasulullah Saw bersabda,
بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الْبُخْلِ أَنْ أُذْكَرَ عِنْدَهُ فَلَا يُصَلِّي عَلَيَّ
“Cukuplah seorang mukmin itu pelit; yaitu andai (nama) aku disebutkan, ia tidak bershalawat padaku.”
Rasulullah Saw bersabda,
أَكْثِرُوا مِنَ الصَّلاةِ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَإِنَّهُ يَوْمٌ مَشْهُودٌ تَشْهَدُهُ الْمَلَائِكَةُ
“Perbanyaklah shalawat padaku pada hari Jum’at, sebab hari itu adalah hari (amalan) disaksikan; para malaikat menyaksikannya.” (HR. Al Baihaqi dari hadits Anas dengan tambahan redaksi, “pada malam Jum’at”).
Maka jika ada hamba yang melakukan itu, akulah yang menjadi saksi dan pemberinya syafa’at pada hari Kiamat.
Aku katakan: Telah disebutkan ajakan untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Saw pada hari Jum’at dan malam Jum’at, bahkan diriwayatkan, bahwa satu kali untaian shalawat pada hari Jum’at dapat menghapuskan dosa selama satu tahun.
Dalam Ihya ‘Ulumuddin disebutkan: Rasulullah Saw bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمْعَةِ ثَمَانِيْنَ مَرَّةً غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوْبَ ثَمَانِينَ سَنَةً
“Barangsiapa yang bershalawat padaku di hari Jum’at sebanyak 80 kali, niscaya Allah Swt akan mengampuni dosanya selama 80 tahun.
Terkait dengan hadits ini, Imam As-Sahili menggubah sebuah sya’ir berikut:
وَقَدْ ضَمِنَ الْمُخْتَارُ لِلسَّالِكِ الَّذِي # يُصَلِّى عَلَيْهِ أَلْفَ ذِكْرٍ مُقَيَّدًا
يُبَشِّرُ بِالْجِنَانِ قَبْلَ وَفَاتِهِ # بِشَارَةَ تَخْصِيْصِ بِذَالِكَ أَوْعَدَا
وَلَيْسَتْ بِشَارَةَ بِرُؤْيَةِ نَاظِرٍ # وَإِنْ كَانَتِ الْبُشْرَى يُزَاحُ بِهَا الرِّدَا
وَأَمَّا الْغِنَى لِلنَّفْسِ لَا فَقْرَ بَعْدَهُ # فَبِالنِّصْفِ مِنْ أَلْفِ فَشَأْنُكَ وَالْهُدَى
وَفِي مَبْعَثٍ لَا شَكٍّ يُحْرَمُ جَسَدَهُ # عَلَى النَّارِ يَا هَذَا فَعَظَّمْ مُحَمَّدًا
لِيُغْفَرُ مِنْ أَوْزَارِ ذَاكِرُ أَحْمَدَ # ثَمَانُوْنَ عَامًا هَا كَذَا جَاءَ مُسْنَدًا
وَأَمَّا جَبَّانُ الطَّبْعِ فِي مَعْرَكِ اللَّقَا # فَيَرْجِعْ بِالْهَادِي شُجَاعًا وَسَيِّدَا
كَمَا أَنَّ بِالْمُخْتَارِ يَذْهَبُ هَمَّنَا # فَإِنْ لَمْ تُصَدِّقْنَا فَمُدَّ لَهُ الْيَدَا
“Al Mukhtar (Nabi Saw) telah menjamin seorang salik yang # senantiasa bershalawat pada beliau Saw; yaitu dicatat sebagai seribu dzikiran
Diberi berita gembira sebelum kematiannya bahwa kelak dimasukkan ke surga # yaitu berita gembira yang khusus sebagai sebuah janji
Bukan sekedar berita gembira dengan bisa melihat (beliau Saw) # meski kemampuan melihat Nabi Saw itu mampu menyingkirkan kemurtadan
Sedangkan kekayaan jiwa yang setelahnya tidak ada kefaqiran # maka dengan separuh dari 1.000 itulah yang engkau dapat beserta hidayah
Pada hari kebangkitan nanti, maka tidak diragukan lagi, jasadnya haram # menyentuh api neraka. Seperti inilah yang didapat, maka agungkanlah Muhammad
Setelah shalat ashar di hari Jum’at, #maka bershalawatlah 80 kali untuk sang bendera hidayah (Nabi Muhammad Saw)
Niscaya (Allah) ampuni orang yang menyebut (bershalawat) pada Ahmad # 80 tahun (dosanya akan diampuni), seperti inilah yang disebutkan dalam riwayat
Sedangkan orang yang memiliki tabi’at pengecut, ia ada pada penghujung jalan # maka kembalilah pada Al Hadi (Nabi Saw), niscaya ia akan menjadi pemberani dan ternama
Sebagaimana dengan bersama Al Mukhtar (Nabi Saw), maka kesedihan kamipun sirna # Jika masih tidak percaya pada kami, maka julurkanlah tanganmu padanya”
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan yang lainnya dari riwayat Uwais bin Uwais Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,
إِنَّ أَفْضَلَ أَيَّامِكُمْ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيْهِ خُلِقَ آدَمَ، وَفِيْهِ قُبِضَ، وَفِيهِ النَّفْحَةُ، وَفِيهِ الصَّعِقَةُ، فَأَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيْهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ. قَالَ: قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتَنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ ؟، فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ
“Sungguh hari-hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jum’at, pada hari tersebut Nabi Adam diciptakan, pada hari itu pula Adam diwafatkan, pada hari itu pula terjadi peniupan ruh, pada hari itu pula terjadi petir, maka perbanyaklah bershalawat padaku pada hari itu, sebab shalawat kalian ditampakkan padaku. Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami ditampakkan kepada baginda sementara baginda telah wafat dan menjadi tanah?” Rasulullah Saw menjawab, “Sungguh Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi.”
Rasulullah Saw bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مِنْ أُمَّتِي كُتِبَتْ لَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ عَشْرَ سَيِّئَاتٍ وَرَفَعَهُ بِهَا عَشْرَ دَرَجَاتٍ
“Barangsiapa ada dari umatku yang bershalawat padaku, niscaya akan dituliskan baginya sepuluh kebaikan, dihapus darinya sepuluh keburukan, dan dengannya ia diangkat sepuluh derajat.”
Rasulullah Saw bersabda,
مَنْ قَالَ حِيْنَ يَسْمَعُ الْأَذَانَ وَالْإِقَامَةَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعَوْةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرُسُوِلَكَ وَأَعْطِهِ الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَالشَّفَاعَةَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي
“Barangsiapa yang mengatakan ketika ia mendengar adzan dan iqamah, ‘Allahumma Robba hadzihid-da’watit-tâmmah, wash-shalâtil qô`imah’, [Wahai Allah pemilik seruan yang sempurna dan shalat yang didirikan), semoga Engkau berkenan menghaturkan shalawat atas Muhammad, hamba dan utusan-Mu, berikanlah ia perantara dan keutamaan serta syafa’at pada hari Kiamat’, ia layak mendapat syafa’atku.”
Rasulullah Saw bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي كِتَابٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تَسْتَغْفِرُ لَهُ مَا دَامَ اسْمِي فِي ذَلِكَ الْكِتَابِ
“Barangsiapa yang bershalawat padaku pada suatu kitab (menuliskan lafazh shalawat), malaikat akan senantiasa memohon ampunan untuknya selagi namaku masih ada pada kitab tersebut.”
Diriwayatkan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,
مَنْ كَتَبَ عَنِّي عِلْمًا فَكَتَبَ مَعَهُ صَلَاةً عَلَيَّ لَمْ يَزَلْ فِي أَجْرٍ مَا قُرِى ذَلِكَ الْكِتَابُ أَوْ عُمِلَ بِذلِكَ الْعِلْمُ
“Barangsiapa yang menuliskan dariku suatu ilmu, dan menuliskan shalawat bersamanya, ia senantiasa mendapatkan pahala selagi kitab itu dibaca atau ilmu tersebut diamalkan.”
Rasulullah Saw bersabda,
لَيْسَ أَحَدٌ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلَّا رَدَّ اللَّهُ عَلَيَّ رُوْحِي حَتَّى أَرُدُّ عَلَيْهِ السَّلَامَ
“Tidak ada seorangpun yang mengucapkan salam padaku, kecuali Allah kembalikan ruhku hingga aku menjawab salamnya.”
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkata:
“Yang dijadikan sebagai akidah dan wajib dijadikan rujukan adalah, bahwa Nabi Saw itu hidup di dalam kuburnya dengan dzat beliau yang mulia, yang pernah ada di dunia. Disamping itu, ruhnya yang mulia selalu berada dalam hadhrah al qudsiyyah untuk selama-lamanya.”
Maksud hidupnya Nabi Saw dalam kubur adalah, karena ruh itu menyirami jasad dalam kubur dengan nur-nya yang berasal dari hadhrah al qudsiyyah. Demikianlah yang dimaksud dengan hidup di dalam kubur. Demikian pula hidupnya orang-orang ‘Arifbillah.
Redaksi, إِلَّا رَدَّ اللَّهُ عَلَيَّ رُوْحِي “Kecuali Allah
mengembalikan ruhku kepadaku.” Maksudnya, ruh Nabi Saw yang ada di dalam hadhrah al qudsiyyah kembali ke jasad beliau yang mulia untuk menjawab orang yang mengucapkan salam kepada beliau. Kemudian ia akan kembali ke tempatnya, yaitu hadhrah al qudsiyyah.
Al Arifbillah Sayyidi ‘Abdurrahman bin Sayyidi Abdul Qodir Al Fasi menjelaskan dalam Hasyiyah-nya terhadap kitab Dala `il Al Khairât. Hadits ini tidak jelas, sisi nampaknya mensinyalir terpisahnya ruh dari badan beliau Saw pada sebagian waktu. Hadits ini menyelisihi ragam hadits yang lain. Al Imam As-Suyuthi melihat perkara ini dari berbagai sisi. Sisi yang paling baik menurut beliau adalah, beliau menggiring riwayat ini pada riwayat yang lain yaitu, “Kecuali Allah telah kembalikan ruhku,” dengan tambahan redaksi, “qod (telah), “sehingga makna khabar tersebut adalah bahwa Allah Swt kembalikan ruh Nabi Saw setelah beliau wafat, sehingga beliau Saw hidup selamanya, bahkan jikapun ada seseorang yang mengucapkan salam kepada beliau Saw, maka beliau Saw bisa menjawab salam orang tersebut lantaran adanya kehidupan dalam diri beliau Saw.
Diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani secara marfu’,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، وَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ عَشْرًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ مِائَةً، وَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ مِائَةً كَتَبَ اللهُ لَهُ بَرَاءَةً مِنَ النِّفَاقِ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَبَرَاءَةً مِنَ النَّارِ، وَأَسْكَنَّهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ الشُّهَدَاءِ.
“Barangsiapa yang bershalawat padaku satu kali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sebanyak sepuluh kali, barangsiapa yang bershalawat padaku sepuluh kali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sebanyak seratus kali; barangsiapa yang bershalawat padaku seratus kali, niscaya Allah akan tuliskan diantara dua matanya, terbebas dari kemunafikan, terbebas dari api neraka dan Allah akan tempatkan ia pada hari Kiamat bersama orang-orang yang mati syahid.”
Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al Hakim secara marfu, dimana ia berkata, “Sanadnya shahih.
إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ لِي: أَلَا أُبَشِّرُكَ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُوْلُ : مَنْ صَلَّى عَلَيْكَ صَلَّيْتُ عَلَيْهِ وَمَنْ سَلَّمَ عَلَيْكَ سَلَّمْتُ عَلَيْهِ
“Sungguh Jibril berkata padaku, “Tidak bolehkah kuberikan berita gembira untukmu, Sungguh Allah Swt berfirman, Barangsiapa yang bershalawat padamu, maka Aku bershalawat padanya dan barangsiapa yang mengucapkan salam padamu, maka Aku menjawab salamnya.”
Imam Ahmad meriwayatkan secara marfu’ dengan sanad hasan,
مَنْ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةً، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَمَلَائِكَتُهُ سَبْعِينَ صَلَاةً.
“Barangsiapa yang bershalawat kepada Nabi Saw satu kali, niscaya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat padanya sebanyak tujuh puluh kali.”
Ath-Thabrani meriwayatkan secara marfu’ dengan sanad yang hasan,
حَيْثُمَا كُنْتُمْ فَصَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي
“Dimanapun kalian berada, bershalawatlah padaku, sesungguhnya shalawat kalian sampai padaku.”
Ibnu Hafs bin Syahin meriwayatkan,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَلْفَ مَرَّةٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يُرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa yang bershalawat padaku pada hari Jum’at, ia tidak akan mati hingga ia diperlihatkan tempatnya di Surga.”
Al Baihaqi juga meriwayatkan dengan sanad yang
إِنَّ صَلَاةَ أُمَّتِي تُعْرَضُ عَلَيَّ فِي كُلِّ يَوْمِ الْجُمْعَةِ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّي مَنْزِلَةً
“Sungguh shalawat umatku diperlihatkan padaku setiap hari Jum’at. Orang yang paling banyak shalawatnya padaku, dialah yang posisinya paling dekat denganku.”
Ath-Thabrani meriwayatkan secara marfu’,
مَنْ قَالَ: جَزَى اللهُ عَنَّا سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا مَا هُوَ أَهْلُهُ أَتْعَبَ سَبْعِيْنَ كَاتِبًا أَلْفَ صَبَاحٍ
“Barangsiapa mengucapkan, Jazallahu ‘annâ sayyidana Muhammadan mâ huwa ahluh (Semoga Allah memberikan balasan dari kami kepada Muhammad sesuai dengan apa yang beliau pantas mendapatkannya), ini membuat malaikat pencatat lelah menghitungnya selama seribu pagi. Dalam riwayat lainnya disebutkan, “dua ribu pagi.
An-Nawawi mengutipkan sebuah riwayat dalam kitab Al Adzkar, Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
“Celakalah seseorang, ketika namaku disebut didepannya, ia tidak bershalawat padaku.” At-Tirmidzi mengatakan, “Hadits Hasan.”
Beliaupun meriwayatkan dari hadits Jabir Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,
مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ فَقَدْ شَقِيَ
“Orang yang namaku disebut disisinya, ia tidak bershalawat padaku, maka ia telah sengsara.”
Ibnu Mulqin meriwayatkan Rasulullah Saw bersabda, secara marfu
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ، وَمَنْ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ، مَنْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ لَمْ يَبْقَ شَيْءٌ فِي السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَالْأَرْضِينَ السَّبْعِ وَالْبِحَارِ السَّبْعِ وَالْأَشْجَارِ وَالنَّبَاتِ وَالطَّيْرِ وَالسَّبَاعِ وَالْأَنْعَامِ إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang bershalawat padaku, maka malaikat bershalawat padanya, barangsiapa yang malaikat bershalawat padanya, maka Allah akan bershalawat padanya, dan barangsiapa yang Allah bershalawat padanya, maka tidaklah tersisa sesuatupun yang ada di langit ketujuh, bumi ketujuh, lautan ketujuh, pepohonan, tumbuhan, burung, hewan buas, hewan ternak kecuali semuanya bershalawat padanya.”
Dalam Tuhfatul Akhyâr, Al Imam Ar-Rasha’ menyebutkan: Diriwayatkan dari Ali Kw, sungguh Nabi Saw pernah bersabda,
إِنَّ اللَّهَ وَكَّلَ بِقَبْرِي مَلَكًا اِسْمُهُ صِلْصَيَابِلْ وَهُوَ فِي صُورَةٍ الدِّيْكِ رَأْسُهُ مُثْنِي تَحْتَ الْعَرْشِ وَمَخَالِبَيْهِ تَخَوْمُ الْأَرْضَ السَّابِعَةِ، لَهُ ثَلَاثَ أَجْنِحَةٍ : جُنَاحٌ بِالْمَشْرِقِ وَجُنَاحٌ بِالْمَغْرِبِ وَجُنَاحٌ يُرَفْرَفُ بِهِ عَلَى قَبْرِي، فَإِذَا صَلَّى عَلَيَّ عَبْدٌ، كَانَ الْتَقَطَهَا مِنْ فِيْهِ كَمَا يَلْتَقِطُ الطَّيْرُ الْحَبَّ، يَقُوْلُ : يَا مُحَمَّدُ إِنَّ فُلَانٌ ابْنَ فُلَانٍ مِنْ مَوْضِعِ كَذَا وَكَذَا صَلَّى عَلَيْكَ. وَفِي رِوَايَةٍ : يُقْرِئُكَ السَّلَامُ، ثُمَّ يَكْتُبُهَا فِي رَقَّ مِنْ نُوْرِ بِالْمِسْكِ الْأَذْفَرِ الْأَبْيَضِ وَيَضَعُهَا عَنْ رَأْسِي مَتَى أَشْفَعُ لَهُ بِمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sungguh Allah wakilkan seorang malaikat di kuburanku, namanya Shilshayâyil, ia dalam bentuk ayam jantan, kepalanya berada di bawah ‘Arasy, kakinya mencengkeram bumi yang tujuh lapis, ia memiliki tiga sayap; satu sayap berada di timur, satu sayap berada di barat dan sayap lainnya menaungi kuburanku, ketika ada seorang hamba bershalawat, maka ia akan mematuknya sebagaimana burung mematuk bebijian, kemudian ia berkata: Wahai Muhammad, sungguh si fulan anak dari si fulan yang ada ditempat ini dan itu telah bershalawat padamu. Dalam riwayat lain disebutkan dengan redaksi, “يُقْرِئُكَ السَّلَامَ” (la menyampaikan salam untukmu).”
Kemudian ia menulisnya di kertas yang terbuat dari cahaya dengan tinta misik hijau putih dan menaruhnya di atas kepalaku sampai nanti pada hari Kiamat aku beri ia syafa’at dengannya.”
Ibnu Mandah meriwayatkan dari Jabir Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ كُلَّ يَوْمٍ مَائَةَ مَرَّةٍ وَفِي رِوَايَةٍ : مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ قَضَى اللَّهُ لَهُ مِائَةَ حَاجَةٍ، سَبْعِينَ مِنْهَا فِي الآخِرَةِ وَثَلاثِيْنَ مِنْهَا فِي الدُّنْيَا
“Barangsiapa yang bershalawat padaku seratus kali dalam setiap sehari.” Atau dalam riwayat lainnya disebutkan dengan redaksi, “Barangsiapa yang bershalawat padaku dalam sehari sebanyak seratus kali, niscaya Allah kabulkan untuknya seratus hajat; 70 hajat di akhirat dan 30 lainnya di dunia.”
Abu Nu’aim meriwayatkan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Jabir bin ‘Abdillah, keduanya berkata: Rasulullah Saw bersabda,
كَثْرَةُ الصَّلَاةِ وَالذِّكْرِ عَلَيَّ تَنْفِي الْفَقْرَ
“Banyaknya dzikir dan shalawat kepadaku dapat menghilangkan kefakiran.”
Dalam riwayat lain disebutkan,
أَكْثِرِ الصَّلَاةَ عَلَيَّ أَغْنَاهُ اللَّهُ تَعَالَى غِنِّى لَا فَقْرَ بَعْدَهُ
“Perbanyaklah shalawat padaku niscaya Allah akan kayakan engkau dengan kekayaan yang tidak ada kefakiran setelahnya.”
Dalam riwayat Imam As-Sakhawi dalam Al Qaul al Badî, diriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda,
أَكْثِرُوْا مِنَ الصَّلَاةَ عَلَيَّ فَإِنَّهَا تَحِلُّ الْعُقَدَ وَتَنْفَرِجُ الْكَرَبَ
“Perbanyaklah kalian bershalawat padaku sebab ia mampu membuka ikatan/ buhulan dan melepaskan kesusahan.”
Untuk hadits ini, sebagian ulama menggubah sya’ir sebagai berikut:
إِذَا كُنْتَ فِي هَمْ وَضَقَتْ بِحَمْلِهِ # وَأَصْبَحْتَ مَحْزُوْنًا وَقَلْبُكَ فِي حَرَجِ
فَصَلِّ عَلَى الْمُخْتَارِ مِنْ آلِ هَاشِمٍ # كَثِيرًا فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِيْكَ الْفَرَجَ
Apabila engkau dalam kesulitan dan tidak mampu memanggulnya # sehingga itu membuatmu bersedih dan hatimu sesak
Maka perbanyaklah bershalawat kepada Al Mukhtar (Nabi Muhammad Saw) sang simbol keluarga Hasyimi # sungguh Allah akan mendatangkan kelapangan untukmu.”
Dalam Dalâ ‘il al Khairât disebutkan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda,
مَنْ عَسَرَتْ عَلَيْهِ حَاجَةً فَلْيُكْثِرُ مِنَ الصَّلَاةِ فَإِنَّهَا تَكْشِفُ الْهُمُوْمَ وَالْغُمُوْمَ وَالْكُرُوْبَ وَتُكَفِّرُ الْأَرْزَاقَ وَتَقْضِي الْحَوَائِجَ
“Barangsiapa yang hajatnya sulit, hendaknya ia memperbanyak shalawat padaku, sebab itu mampu menyingkap kegelisahan, kesusahan dan kesakitan, memperbanyak rezeki, mengabulkan ragam hajat.”
Sayyidi Al Mahdi Al Fasi; pen-syarah hadits ini menyatakan, “Aku belum menemukan sumber hadits ini.”
Aku katakan: “Meski sumber hadits di atas belum diketemukan, akan tetapi telah disebutkan dalam banyak riwayat hadits yang tsabit, bahwa shalawat pada Nabi Saw dapat menyingkap kegelisahan, kesusahan, dan kesakitan serta dapat memperbanyak rezeki.”
Al Imam As-Suyuthi mengatakan, “Beragam hadits ini berstatus shahih dan memang memperbanyak shalawat kepada Nabi Saw mampu memperbanyak rezeki, menambah keberkahan, dapat lekas mengabulkan hajat, menyingkap kegelisahan, kesusahan dan kesakitan sesuai dengan percobaan yang telah dilakukan oleh ulama salaf dan khalaf, dimana bertawassul dengan perantara shalawat kepada Nabi Muhammad Saw itu dalam segala perkara, baik dari kalangan manusia, jin dan malaikat sebagaimana telah ditunjukkan oleh banyak ayat dan hadits.”
Imam Ar-Rashsha’ menukil hadits dari Anas bin Malik Ra, bahwa Nabi Saw pernah bersabda,
أَنَا أَوَّلُ النَّاسِ خُرُوْجًا إِذَا بُعِثُوْا، وَأَنَا قَائِدُهُمْ إِذْ أَجْمَعُوْا، وَأَنَا خَطِيبُهُمْ إِذَا صَمِتُوْا، وَأَنَا مُبَشِّرُهُمْ إِذَا حَزِنُوا، وَأَنَا شَفِيْعُهُمْ إِذَا حُبِسُوْا، لِوَاءُ الْحَمْدِ يَوْمَئِذٍ بِيَدِي، وَأَنَا أَكْرَمُ وَلَدِ آدَمَ عَلَى رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ، وَلَا فَخْرَ، يَطُوْفُ عَلَيَّ أَلْفُ خَادِمٍ كَأَنَّهُنَّ اللُّؤْلُؤُ الْمَكْنُونُ، وَمَا مِنْ دَاعٍ إِلَّا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ حَتَّى يُصَلِّيَ عَلَيَّ، فَإِذَا صَلَّى عَلَيَّ الْخَرَقَ الْحِجَابَ وَصَعِدَ الدُّعَاءُ.
“Aku adalah manusia pertama yang keluar jika dibangkitkan, akulah pemimpin mereka jika mereka dikumpulkan, akulah yang menjadi pembicara apabila mereka diam, akulah pemberi syafa’at pada mereka apabila mereka dihisab, akulah pemberi kabar gembira pada mereka apabila mereka putus asa, bendera yang mulia pada hari itu ada di tanganku, di sisi Allah akulah anak keturunan Adam yang paling mulia dan aku tidak bangga akan itu. “Seribu khadim mengelilingiku seolah-olah mereka seperti batu permata. Tidaklah ada orang yang berdo’a, kecuali antara dirinya dan Allah ada hijab (tiral penghalang) sampai ia bershalawat padaku. Apabila la telah bershalawat padaku, terbukalah tirai penghalang itu dan do’apun naik ke langit.”
Nabi Saw pun pernah bersabda,
إِنَّ اللَّهِ مَلَائِكَةٌ فِي الْهَوَاءِ بِأَيْدِيهِمْ قَرَاطِيْسَ مِنْ نُوْرٍ لَا يَكْتُبُوْنَ إِلَّا الصَّلَاةَ عَلَيَّ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِي
“Sungguh Allah mempunyai malaikat di langit, ditangannya dia membawa lembaran kertas dari cahaya, mereka tidak menuliskan diatasnya kecuali shalawat padaku dan juga pada keluargaku.”
Rasulullah Saw bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ كُنْتُ شَفِيْعَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ لَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ فَأَنَا بَرِيءٌ مِنْهُ
“Barangsiapa yang bershalawat padaku, akulah pemberi syafa’atnya pada hari Kiamat, orang yang tidak bershalawat padaku, maka aku membebaskan diri darinya.”
Diriwayatkan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, ia berkata, “Bershalawat pada Nabi Saw adalah penghapus lembaran ragam dosa dari air yang warnanya hitam.”
Rasulullah Saw pernah bersabda,
إِنَّ اللّٰهَ تَعَالَى أَوْحَى إِلَى سَيِّدِنَا مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ : يَا مُوسَى إِنْ أَرَدْتَ أَنْ أَكُوْنَ أَقْرَبُ إِلَيْكَ مِنْ كَلَامِكَ إِلَى لِسَانِكَ وَمِنْ رُوْحِكَ لِجَسَدِكَ، فَأَكْثِرِ الصَّلَاةَ عَلَى النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
“Allah Swt mewahyukan pada Nabi Musa As, ‘Wahai Musa, andai engkau ingin Aku lebih dekat padamu daripada dekatnya perkataanmu dari lisanmu; daripada dekatnya ruh dari jasadmu, maka perbanyaklah bershalawat pada sang Nabi yang ummi Saw’.”
Rasulullah Saw pernah bersabda,
إِنَّ مَلَكًا أَمَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى بَاقْتِلَاعِ مَدِينَةٍ غَضَبَ عَلَيْهَا فَرِحَمَهَا ذلِكَ الْمَلَكُ وَلَمْ يُبَادِرْ بِاقْتِلَاعِهَا، فَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَكَسَّرَ أَجْنِجَتَهُ، فَمَرَّ بِهِ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَشَكَى حَالَهُ، فَسَأَلَ اللَّهُ فِيْهِ فَأَمَرَهُ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى النَّبِيِّ، فَغَفَرَ اللَّهُ لَهُ وَرَدَّ عَلَيْهَا أَجْنِحَتَهُ بِبَرَكَةِ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Sungguh ada malaikat yang Allah perintahkan untuk mencabut sebuah kota yang Allah murkai, namun malaikat itu pun merasa kasihan dan tidak langsung mencabutnya, Allah pun marah padanya dan mematahkan sayapnya, lalu Jibril berjalan dihadapannya, maka malaikat tadi pun melaporkan kondisinya kepadanya, kemudian Jibril mempertanyakan itu pada Allah Swt dan Allah memerintahkannya untuk bershalawat pada Nabi Saw, maka malaikat tadipun bershalawat, Allah pun mengampuninya dan mengembalikan sayapnya berkah daripada bershalawat pada Nabi Saw.”
Syaikh Kamaluddin Ad-Damiri menyebutkan riwayat dari kitab Syifaush-Shudur karya Ibnu Sab’in, bahwa Nabi Saw pernah bersabda,
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ وَهُوَ عَلَيْهِ رَاضٍ فَلْيُكْثِرِ الصَّلَاةَ عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَمْسُمِائَةِ مَرَّةٍ لَمْ يَفْتَقِرْ أَبَدًا، وَهُدِمَتْ ذُنُوبُهُ، وَمُحِيَتْ خَطَايَاهُ، وَدَامَ سُرُوْرُهُ، وَاسْتُجِيْبَ دُعَاءُهُ، وَأُعْطِيَ أَمَلُهُ، وَأَعِيْنَ عَلَى عَدُوِّهِ وَعَلَى أَسْبَابِ الْخَيْرِ، وَكَانَ مِمَّنْ يُرَافِقُ نَبِيَّهُ فِي الْحِنَانِ.
“Barangsiapa yang senang bertemu dengan Allah dan Allah ridha kepadanya, maka perbanyaklah membaca shalawat kepadaku. Sungguh orang yang bershalawat padaku sebanyak lima ratu kali setiap hari, ia tidak akan miskin selamanya, ragam dosanya dihancurkan, ragam kesalahannya dihapuskan, kegembirannya terus menerus, do’a-do’anya diijabah, ragam cita-citanya diampuni, ditolong dari musuh-musuhnya dan ditolong dalam ragam penyebab kebaikan, ia termasuk orang yang menemani Nabi-Nya di Surga.”
Al Qusyairi meriwayatkan dalam Risalah-nya dengan sanad beliau kepada Ibnu Abbas Ra:
أَوْحَى اللَّهُ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: يَا مُوسَى إِنِّي جَعَلْتُ فِيْكَ عَشْرَةَ أَلَافِ سَمْعِ حَتَّى سَمِعْتَ كَلَامِي، وَعَشْرَةَ أَلَافِ لِسَانٍ حَتَّى أَجَبْتَنِي، وَأَحَبُّ مَا تَكُوْنُ إِلَيَّ وَأَقْرَبَهُ إِذَا أَكْثَرْتَ الصَّلَاةَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Allah Swt pernah mewahyukan kepada Nabi Musa As, ‘Wahai Musa, sungguh Aku telah berikan engkau sepuluh ribu pendengaran, hingga engkau bisa mendengar kalam-Ku dan sepuluh ribu lisan hingga engkau bisa menjawab Aku. Hal yang paling Aku sukai darimu dan paling dekat adalah jika engkau memperbanyak shalawat kepada Muhammad Saw.”
Diriwayatkan dari ‘Aisyah Ra, ia pernah berkata: “Aku pernah menjahit sesuatu pada waktu sahur, kemudian jarum terjatuh dan lampu pun mati, lalu Rasulullah Saw masuk dan rumah pun terang dari cahaya wajahnya, maka akupun temukan kembali jarum tersebut. Akupun berkata, “Betapa bercahayanya wajahmu wahai Rasulullah, Beliaupun lalu bersabda, “Wahai Aisyah, celaka bagi orang yang pada hari Kiarnat tidak melihatku?” Aisyah kembali berkata, “Siapa yang tidak bisa melihatmu pada hari Kiamat?” Beliau Saw bersabda, “Orang yang bakhil.” Aisyah lalu menimpali, “Siapa orang yang bakhil wahai Rasulullah Saw?” Beliau Saw menjawab, “Orang yang bakhil adalah yang ketika namaku disebut di sisinya dan ia tidak bershalawat padaku.”
Diriwayatkan dari Anas bin Malik Ra, Rasulullah Saw pernah bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَوْ فِي يَوْمِهَا قَضَى اللَّهُ لَهُ مِائَةَ حَاجَةٍ سَبْعِينَ مِنْ حَوَائِجِ الْآخِرَةِ وَثَلَاثِيْنَ مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا، وَبُعِثَ إِلَيَّ مَلَكًا يَدْخُلُ عَلَى قَبْرِي فَيُخْبِرَنِي بِاسْمِهِ وَنَسَبِهِ، فَأَكْتُبَهُ عِنْدِي فِي صَحِيفَةٍ بَيْضَاءَ.
“Barangsiapa yang bershalawat padaku satu kali pada malam Jum’at atau pada hari Jum’at, niscaya Allah kabulkan 100 hajat baginya; 70 terkait hajat akhirat dan 30 lainnya terkait hajat dunia. Allah kirimkan seorang malaikat padaku yang masuk ke dalam kuburanku dan mengabarkan padaku nama dan nasabnya, maka aku tuliskan itu pada lembaran kertasku berwarna putih.”
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, bahwa beliau pernah bersabda,
ثَلَاثَةٌ تَحْتَ ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: مَنْ فَرَّجَ عَنْ مَكْرُوبٍ مِنْ أُمَّتِي، وَمَنْ أَحْيَى سُنَّتِي، وَمَنْ أَكْثَرَ الصَّلَاةَ عَلَيَّ .
“Ada tiga golongan yang akan ada dibawah naungan, dihari tiada naungan kecuali naungan-Nya; Sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah? Rasulullah Saw bersabda, ‘Orang yang membuat gembira orang yang sedang berduka dari umatku, orang yang menghidupkan sunnahku dan orang yang banyak bershalawat padaku’.”
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, bahwa beliau pernah bersabda, “Sungguh Allah telah mewakilkan dua malaikat di kuburanku. Tidaklah aku diingatkan ada seorang muslim yang bershalawat padaku, kecuali dua malaikat tersebut menjawab baginya, ‘Semoga Allah ampuni engkau, maka malaikat hamalat ‘arasy dan para malaikat lainnya menjawab perkataan kedua malaikat tadi, ‘Amîn.’ Tidaklah akupun diingatkan seseorang yang tidak bershalawat padaku kecuali dua malaikat tersebut menjawab baginya, ‘Semoga Allah tidak mengampunimu,’ maka malaikat hamalat ‘arasy dan para malaikat lainnya menjawab, perkataan kedua malaikat tadi, ‘Âmîn’.”
Diriwayatkan bahwa pada hari Kiamat, amalan baik seorang mukmin dan amalan buruknya diletakkan diatas timbangan, kemudian turunlah lembaran-lembaran putih dari Allah pada timbangan kebaikannya, hingga timbangan kebaikan lebih berat dari yang lainnya, Allah Swt berfirman, “Ini adalah shalawatmu kepada Nabi Muhammad Saw, dengannyalah timbangan kebaikanmu berat, maka Aku jadikan itu sebagai simpananmu.”
Dalam sebuah hadits yang disebutkan dalam kitab Al Qurbah dari Nabi Saw, beliau bersabda, “Apabila seseorang bershalawat padaku, maka akan ada suara yang bersuara, ‘niscaya dengannya Allah akan bershalawat padamu sepuluh kali’, suara itupun didengar penghuni langit pertama, sehingga mereka berkata, ‘niscaya dengannya Allah akan bershalawat padamu seratus kali’, suara itupun didengar oleh penghuni langit kedua, sehingga mereka berkata, ‘niscaya dengannya Allah akan bershalawat padamu dua ratus kali’, suara itupun didengar penghuni langit ketiga, sehingga mereka berkata, ‘niscaya dengannya Allah akan bershalawat padamu seribu kali’, suara itupun didengar penghuni langit keempat, sehingga mereka berkata, niscaya dengannya Allah akan bershalawat padamu dua ribu kali, suara itupun didengar penghuni langit kelima, sehingga mereka berkata, ‘niscaya dengannya Allah akan bershalawat padamu tiga ribu kali, suara itupun didengar penghuni langit keenam, sehingga mereka berkata, ‘niscaya dengannya Allah akan bershalawat padamu empat ribu kali’, suara itupun didengar penghuni langit ketujuh, sehingga mereka berkata, ‘niscaya dengannya Allah akan bershalawat padamu lima ribu kali.’ Allah Swt berfirman, ‘Serahkanlah pahala sang hamba ini pada-Ku, sebagaimana ia mengagungkan Nabi-Ku dan ia bershalawat padanya dengan jiwa yang baik; bahkan Aku telah mengampuni semua dosanya.”
Diriwayatkan bahwa Jibril As datang kepada Nabi Saw seraya berkata, “Wahai Muhammad, sungguh Rabbmu menyampaikan shalawat padamu seraya berfirman, ‘Jika engkau menghendaki, Aku akan berikan kepadamu di dunia ini, apa yang tidak pernah terlihat dengan kasat mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terdetik dalam kalbu manusia, aku bisa jadikan bukit Tihamah dari emas yang bisa berjalan sesuai yang engkau inginkan.” Nabi menimpali: Aku katakan, “Wahai Jibril, aku dapati itu di dunia atau harus wafat dahulu,” Jibril menjawab, “Harus wafat dahulu dan berjumpa dengan Allah setelah wafat,” Nabi Saw menimpali, “Wahai Jibril, apa yang diinginkan dari nikmat yang hilang dan dunia yang fana ini. Sungguh dunia ini adalah tempat orang yang tidak punya tempat, ia menipu orang yang tidak memiliki akal. Orang yang bergelimang dengan dunia tidak selamat dan rasa nikmatnya itupun akan sirna,” Lalu Jibril berkata, “Mahasuci Allah, baru saja Israfil datang membawa perkataan ini; Andai engkau belum mau dengan dunia wahai Muhammad, sungguh Allah akan memberimu di surga sebuah kubah yang luasnya sepanjang perjalanan 300 tahun, angin kemuliaan senantiasa menyelimutinya dimana tidak ada yang bisa masuk kecuali orang yang banyak bershalawat untukmu.”
Dalam Dalâ `ilul Khairât disebutkan: Nabi Saw lalu bersabda, “Tidak ada seorang hamba yang bershalawat padaku kecuali shalawat itu akan keluar secepat kilat dari mulutnya, hingga tidak ada yang tersisa, ia akan berkeliling ke seluruh penjuru timur dan barat sambil berteriak ia akan mengatakan, ‘aku adalah shalawatnya fulan bin fulan yang ia shalawatkan pada penghulu kami Muhammad; sosok pilihan Allah, makhluk Allah yang terbaik.” Dengan demikian maka tidaklah ada sesuatupun kecuali bershalawat padanya dan dari shalawat itu pula tercipta seekor burung yang memiliki 70.000 sayap, pada setiap sayap ada 70.000 bulu, pada setiap bulunya ada 70.000 wajah, dimana pada setiap wajah ada 70.000 mulut, pada setiap mulut ada 70.000 lisan, dimana setiap lisan bertasbih pada Allah Swt sebanyak 70.000 bahasa, dan Allah menuliskan pahala semuanya itu untuknya (yang bershalawat pada Nabi Saw).
Al Imam As-Suyuthi menyebutkan dalam Al Hâwi lil Fatâwâ, dari riwayat Al ‘Abbas; paman Nabi Saw, bahwa ia pernah melihat dengan jeli kepada Rasulullah Saw, Nabi Saw pun bertanya, “Apakah engkau punya suatu hajat?” Al ‘Abbas pun menjawab, “Ketika Halimatus-sa’diyyah menyusuimu kala umurmu empat puluh hari, aku melihat baginda berbicara kepada bulan dengan bahasa yang tidak aku mengerti,” Nabi Saw menimpali, “Tali bedongan bayi sebelah kananku melilitku, aku ingin menangis, lalu bulan berkata, ‘jangan engkau menangis, jika air matamu menetas ke bumi, maka Allah akan rubah tetesan air matamu itu dengan tanaman hijau yang tumbuh diatas tanah tandus’.” Al ‘Abbas pun terkejut dengan ucapan tersebut, Nabi Saw lanjut bersabda, “Apa aku perlu tambahkan kembali cerita itu wahai paman?” Al ‘Abbas berkata, “Iya,” Nabi Saw melanjutkan, “Tali bedongan bayi sebelah kiri melilitku, hingga ingin membuatku menangis, bulan kembali berkata padaku, ‘Jangan menangis wahai kekasih Allah, andai setetes air matamu jatuh ke tanah, ia akan terus ditumbuhi tanaman hijau hingga hari Kiamat’, maka akupun diam sebagai bentuk kasih sayangku terhadap umatku.” Al Abbas kembali tertegun seraya berkata, “Engkau tahu itu kala umurmu baru empat puluh hari?” Nabi Saw menjawab, “Wahai paman, Demi Allah yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, aku telah bisa mendengar guratan pena di lauh mahfuz kala aku masih di dalam perut,” Apa perlu aku tambahkan lagi paman?” Al Abbas menjawab, “Iya,” Nabi Saw melanjutkan, “Demi jiwaku yang ada dalam genggaman-Nya, Allah telah menciptakan 124.000 nabi, tidak ada diantara mereka yang mengetahui dirinya sebagai nabi kecuali setelah masa matangnya usia mereka yaitu 40 tahun, kecuali Nabi Isa As, sebab ketika ia turun kepada umatnya, ia mengatakan, ‘Sungguh aku adalah hamba Allah, Allah telah memberikan aku kitab dan juga anak dari saudaramu’. Apa perlu aku tambahkan lagi paman?” Al ‘Abbas menjawab, “Iya,” Nabi Saw melanjutkan, “Ketika aku dilahirkan pada hari Senin, Allah menciptakan tujuh gunung di langit ketujuh dan mengisinya dengan malaikat, tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah, para malaikat bertasbih dan mensucikan Allah hingga hari Kiamat. Allah jadikan pahala tasbih dan pensucian mereka kepada Allah untuk hamba yang namaku disebutkan olehnya. Maka tubuh beliau (Al Abbas) pun gemetaran dan bershalawat padaku dan pada keluargaku.”
Diriwayatkan bahwa Nabi Saw pernah bersabda, “Tidaklah suatu kaum duduk dalam sebuah majelis kemudian mereka berpisah tanpa bershalawat padaku, kecuali mereka berpisah seperti bau bangkai yang lebih busuk dari bangkai keledai yang mati. Dan tidaklah suatu kaum yang duduk dalam sebuah majelis yang didalamnya bershalawat padaku, kecuali akan terhembuslah wewangian yang harum, bahkan baunya hingga sampai atas langit, sampai-sampai malaikat berkata, “Ini adalah bau wewangian majelis yang didalamnya bershalawat kepada Muhammad Saw.”
Bahkan shalawat memiliki semerbak bau wangi yang mengalahkan semua parfum, inilah yang dikenal oleh para malaikat, sehingga malaikat mampu membedakan semerbak bau wangi shalawat dengan parfum lainnya.
إِنَّ الصَّلَاةَ عَلَى الْمُخْتَارِ إِنْ ذُكْرَتْ # فِي مَجْلِسٍ فَاحِ فِيْهِ الطَّيِّبُ إِذْ نَعَجَا
فَأَسْكَرَ الْقَوْمُ رَيَّاهُ فَتَعْرِفُهُ الْـ # أَوْلَادَ لِمَا تَبْدَأُ النُّوْرُ وَاتَّضَحَا
وَالْقَوْمُ فِي مَضَرَّةٍ بِالذِّكْرِ طِيْبَةٌ # هَذَا وَمَحْبُوْبُهُمْ فِي الْقَلْبِ مَا فَرَحَا
مُحَمَّدْ أَحْمَدَ الْمُخْتَارُ مِنْ مُضَرٍّ # أَزْكَى الْخَلَائِقَ جَمْعًا أَفْصَحُ الْفُصَحَا
صَلَّى عَلَيْهِ الإِلهُ الْعَرْشِ ثُمَّ عَلَى # أَهْلِهِ وَالصَّحْبِ نِعْمَ السَّادَةِ النَّصَحَا
“Sungguh shalawat atas Al Mukhtar (Muhammad Saw) andai ia disebutkan # dalam sebuah mejelis, akan memunculkan semerbak wangi yang lembut
Semerbak aroma parfum wangi itu membuat kaum tersebut pun mabuk, sampai anak-anak mengetahui itu # lantaran cahaya yang nampak dan sangat jelas
Kaum tersebut tetap baik dengan berdzikir meski dalam kemudharatan # inilah kodisinya dimana selagi yang mereka cintai ada didalam kalbu, merekapun akan selalu bahagia
Muhammad Ahmad; sosok pilihan yang berasal dari suku Mudhar #makhluk paling mulia nan paling fasih diantara orang yang fasih
Semoga Tuhannya ‘Arasy berkenan bershalawat padanya # juga kepada keluarga dan para sahabat nabi; para pemimpin yang senantiasa menasehati
Diriwayatkan dari Wahab bin Munabbih, ia pernah berkata: Ketika Allah Swt menciptakan Nabi Adam As dan meniupkan ruh, maka ia bisa membuka mata dan melihat pada pintu surga dan membaca yang tertulis; yaitu La Ilaha Illallah, Muhammadur-Rasulullah (Tiada Ilah yang patut disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah). Nabi Adam menimpali, “Wahai Rabb, apakah ada makhluk ciptaan-Mu yang lebih agung dari aku?” Allah berfirman, “lya, seorang manusia dari keturunanmu.” Ketika Allah menciptakan Hawa untuk Adam dan memberikan syahwat padanya, Adam berkata, “Wahai Rabb, nikahkanlah aku dengannya,” Allah berfirman, “Berikanlah maharnya,” Nabi Adam lanjut menjawab, “Apakah maharnya?” Allah berfirman, “Maharnya adalah engkau bershalawat pada pemilik nama ini sebanyak seratus kali,” Nabi Adam berkata, “Aku lakukan dan kemudian Engkau nikahkan aku dengannya,” Allah Swt berfirman, “lya,” maka Nabi Adam pun kemudian membaca shalawat pada Nabi Saw sebanyak 100 kali, sebab itulah maharnya, lalu Allah Swt pun menikahkan mereka.
