
Elsubha.com – Kutipan Fash Al Hikmah karya al ‘Arif Manla ‘Abdurrahman bin Ahmad al Jâmi : Catatan I
Ketahuilah, bagi kami, pernyataan Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby merupakan hujjah yang kuat akan kebenaran pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, meski mungkin tidak ada seorang pun yang sepakat dengan itu. Namun kenyataannya ada banyak orang yang sepakat dengan pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, terlebih mereka adalah para ulama pakar dalam ilmu zhahir dan ilmu bathin, dengan demikian, orang-orang yang menyelisihi Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tidak berarti sama sekali. Alhamdulillah, kami termasuk barisan orang yang percaya pada pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Cukuplah kami tergolong orang yang percaya pada hal ghaib dan bagian dari hizbullah.
Kami telah menambahkan nukilan dari para pen-syarah Fushûsh al Hikam, baik para pen-syarah itu memberikan penjelasan yang panjang, pendek, secara ringkas, bahkan catatan untuk menjelaskan maksud daripada kewalian sisi nubuwwah, kewalian sisi risalah. Juga seputar penutup kewalian secara umum dan khusus.
Aku pernah mencari syarah Al Jami yang dinisbatkan kepada Ahmad bin Ahmad bin Ranh Az-Zabidi, disana disebutkan bahwa kitab tersebut selesai pada tahun 992 H. Sedangkan Al Jâmi, disana disebutkan bahwa buku tersebut selesai ditulis pada tahun 896 H, maka kita pun memaklumi semuanya agar kita tetap mendapatkan rahmat Allah Swt.
Kamipun telah memaparkan perdebatan antara kami dengan sekelompok ulama kenamaan; seperti Syaikhuna Almarhum al ‘Allamah ar-Ra’is Sayyidi al Hajj Abd al Karim Banîs dan al ‘Allamah Abu Muhammad al Fâthimi an-Nasyrad; beliau inilah yang menginisiasi adanya mudzakarah lantaran beliau kesulitan memahami masalah ini, kemudian beliau pun taslim setelah mendengar paparanku. Allah Swt pun memberikan pemahaman tentang maksud pernyataan diatas lantaran niatan baik beliau.
Hasil mudzakarah ini adalah sebagai berikut:
“Sungguh setiap dari nabi adalah wali Allah, setiap rasul adalah wali Allah, begitu juga selain mereka para pemilik kewalian dan orang khusus, sesuai dengan apa yang Allah Swt berikan. Maka tidak ada yang lebih tinggi daripada kewalian nabi dan rasul. Sebab sisi kenabian dan risalah merupakan maqam ma’rifat tertinggi kepada Allah Swt, dimana Allah mengkhususkan sosok yang Dia pilih. Perkara ini berakhir dengan tanda kematian sang nabi, namun pahala atas apa yang beliau upayakan teruslah mengalir.
Terkait dengan kewalian nabi dan rasul; pada sisi kewalian ini sang nabi dan rasul akan senantiasa ber-tarqiyah semasa hidup mereka hingga mereka wafat. Beginilah kondisi sisi wali mursyid dan yang bukan wali mursyid, bahkan sampai pada tingkatan wali khatam sekalipun. Kewalian seorang nabi tidak diikuti dengan kewalian nabi yang bukan rasul. Dengan demikian, kewalian nabi dan rasul pun ditutup.
Dari sinilah alam semesta ber-istimdad, sang wali khatam al Muhammady memberikan madad kepada wali lainnya dengan perantara Nabi Muhammad Saw; dengan perantara para nabi yang ber-talaqqi dari sang penutup nabi dan rasul; Nabi Saw; dan juga dengan perantara sosok yang telah Allah tentukan, baik yang bersangkutan menyadarinya atau tidak. Perkara ini sesuai dengan sisi kesempurnaan kasih sayang Allah Swt, seperti yang telah kami paparkan sebelumnya.
Aku teringat sebuah kejadian ketika aku melakukan sebuah perjalanan; aku bermimpi, yang mimpi itu hampir tergambar dalam kondisi yaqzhah; kala itu aku bersama dengan syaikh kami Banîs; beliau berkata padaku, “Aku telah pastikan dari Sayyidi Muhammad al Habib bin Sayyidina al Quthub at-Tijany Ra, bahwa kewalian seorang nabi itu lebih utama dibanding kenabiannya,” Seketika itupun aku terperanjat bangun atas apa yang aku mimpikan. Sepulang dari perjalanan tersebut, akupun lanjut mengikuti mudzakarah sampai akupun mampu menguasai masalah ini. Akupun tenang dengan pernyataan yang secara gamblang diucapkan oleh Ibnu ‘Araby dan mimpi tersebut mengisyaratkan kepada makna itu. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan ilham dan mengajarkan manusia apa yang mereka tidak ketahui. Sudah cukup petunjuk Allah bagiku dibanding aku menggiring sesuatu atas landasan kebodohan atau berpura-pura tidak tahu untuk tujuan tertentu, akupun mencukupkan diri dari ilmu yang dengan ilmu tersebut seorang wali ditampakkan, namun hal itu mengarah pada penolakan wali tesebut.
