You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Memusuhi Wali Allah Mendatangkan Petaka

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Memusuhi Wali Allah Mendatangkan Petaka

Perkara yang wajib dihindari bagi seseorang yang tidak ingin jiwa dan agamanya tercerai-berai adalah perkara memusuhi, mengingkari, mencari-cari aib, memata-matai kesalahan serta menafikan kekhususan yang karuniakan kepada wali Allah lantaran adanya hasud dan benci terhadap mereka. Sebab ini lahan kejahatan dan balasannya adalah adzab yang pedih. Sungguh balasannya adalah seperti yang telah dikatakan oleh para ularna; yaitu, keharaman, kerugian, su ‘ul khatimah lantaran menabuh genderang perang dengan Allah al Qahhar yang sergapan-Nya sangat kuat.

Al Imam asy-Sya’rani pernah mengatakan, “Tidaklah ada salah seorang dari kalian mengingkari sesuatu yang diberitakan oleh ahli kasyaf kecuali sebagai hukuman baginya, Allah haramkan ia mendapatkan keberkahan ahli kasyaf tersebut meski suluk-nya telah sampai puncak.”

Dinukil dari syaikh Muhammad al Maghribi Ra bahwa beliau pernah berkata: “Apabila Allah ingin mencerabut keimanan hamba-Nya saat kematian, Allah kuasakan ia pada salah satu dari wali Allah, dan ia menyakiti beliau.” Aku katakan: “Inilah yang disebut sebagai su ‘ul khatimah.”

Imam al Ghazali juga pernah mengatakan dalam Ihya Ulumuddin. Andai engkau katakan: Sungguh kebanyakan dari mereka takut akan su ‘ul khatimah, maka apa makna su ‘ul khatimah tersebut?

Ketahuilah, bahwa su ‘ul khatimah itu ada dua martabat, salah satunya lebih besar dari yang lain: Pertama, tingkatan yang paling besar adalah kala sakaratul maut datang, kalbunya dengan berpenampakan buruk, baik berupa adanya keraguan jiwa, atau juga adanya kekufuran, maka Allah pun cabut nyawanya dalam kondisi jiwanya banyak melakukan kekufuran atau keraguan, sehingga mayoritas yang ada dalam kalbunya adalah ikatan kekufuran, yang selamanya menjadi hijab dia menghadap Allah Swt. Itulah yang menjebaknya pada posisi jauh dari Allah dan gambaran adzab yang abadi.

Kedua, tingkatan dibawahnya; kala sakaratul maut tiba, kalbunya dominan mencintai satu dari perkara dunia juga satu dari ragam syahwat dunia, hal ini terpatri dalam kalbunya dan jiwanya tenggelam memenuhi perkara itu hingga tidak tersisa ruangan pada kalbunya selain perkara tersebut, dan dalam kondisi itulah ruhnya dicabut. Tenggelamnya kalbu pada perkara dunia sebagai simbol dirinya tunduk pada dunia dan dirinya pun berupaya menggapai perkara itu, meski ia berusaha memalingkan wajahnya pada Allah, namun tetap saja ada hijab yang menghalanginya. Ketika adanya hijab pada dirinya, disitulah adzab diturunkan, dimana api neraka Allah yang bergolak hanya akan menyantap orang-orang yang ter-hijab dari-Nya. Hal ini diperkuat dengan firman Allah Swt, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كَلَّاۤ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَ 
kallaaa innahum ‘ar robbihim yauma-izil lamahjuubuun

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya.”
(QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 15)

ثُمَّ اِنَّهُمْ لَصَا لُوا الْجَحِيْمِ 
summa innahum lashoolul-jahiim

“Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.”
(QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 16)

Beliaupun mengatakan dalam ath-Tharâ if wat-Talâ ‘id. Kamipun telah buktikan, bahwa tidaklah ada seorang faqih (ahli fikih) mengingkari sufi kecuali Allah musnahkan dia dan Allah jadikan akhir hidupnya pun sengsara.

Dalam Latha ‘if al Minan disebutkan: Sayyidi ‘Ali Khawwash pernah berkata: Sebagaimana kita diwajibkan beriman kepada para nabi, mempercayai dan mencintai mereka, begitu pula dengan para wali Allah (kita harus beriman, mempercayai dan mencintai mereka). Orang yang percaya dengan semua wali Allah kecuali dengan satu wali tanpa adanya udzur syar’i, maka ia telah mendustai semua wali Allah dan Allah tabuh genderang perang dengannya. Orang yang menolak dakwahnya seorang wali sama saja dengan ia menolak dakwahnya seorang nabi.

Imam asy-Sya’rani Ra pernah berkata: Ibnu Labban pernah tidak suka pada Sayyidi Ahmad al Badawi, maka tercerabutlah Al Qur’an, ilmu dan keimanannya. lapun terus ber-istighatsah dengan perantara para wali hingga ia ditunjukkan kepada Sayyidi Yaqut al ‘Arsy yang pernah berjalan di kuburan Sayyidi Ahmad al Badawi dan beliau berbicara kepada Sayyidi Ahmad al Badawi, Sayyidi Yaqut al ‘Arsy pun berkata: Engkau adalah ayahnya para pemuda, kembalikan kepada si miskin ini apa yang menjadi miliknya (Al Qur’an, ilmu dan keimanan). Sayyidi Ahmad al Badawi menjawab, “Dengan syarat (dia) bertobat.” Ibnu Labban pun bertobat dan kembalilah apa yang menjadi miliknya kepadanya (Al Qur’an, ilmu dan keimanan).

Syaikhuna asy-Syannawi mengabarkan pada kami, bahwa ada seorang yang ingkar menghadiri maulid sayyidi Ahmad al Badawi, kemudian keimanannya tercerabut, iapun tidak pernah merasakan syi’ar Islam. lapun ber istighatsah dengan sayyidi Ahmad al Badawi. Sayyidi Ahmad al Badawi mengatakan. “Dengan syarat agar engkau tidak ulang kembali.” Orang tersebut pun berkata: “Iya,” maka kembalilah keimanannya. Kemudian syaikh asy-Syannawi berkata kepada orang tersebut: “Lantas apa yang engkau ingkari?” Lelaki itu menjawab, “Bercampur-nya lelaki dan perempuan dalam acara tersebut.” Sayyidi Ahmad al Badawi berkata, “Itu terjadi dalam thawaf dan tidak ada seorang pun yang melarangnya.’

Sayyidi al Yadali menukil pernyataan Ibnu Hajar: Terkait dengan kecondongan perkara tiga orang yang menziarahi wali ghauts akbar, kemudian ada orang yang mengkritik para wali. Tiga orang tersebut adalah Imam thariqah; sayyidi Abdul Qadir al Jilani yang ketika itu masih dalam usia muda; Ibnu asy-Syaqa dan Imam tokoh ulama asy-Syafi’iyyah; Abu Sa’id Abdullah bin Abi ‘Ashrun. Kisah mengenai mereka telah masyhur dan kami pun tidak akan berpanjang kalam mengenai ini. Orang yang melukai kehormatan wali Allah dan tidak dibarengi dengan datangnya musibah padanya, maka ia pun tidak akan selamat dari ancaman Allah Swt; terkadang musibahnya lebih besar dari apa yang menimpa pada agamanya.

Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari pernah mengatakan: Terkadang musibahnya berupa kerasnya hati atau mata beku (tidak bisa menangis) atau berupa halangan diri untuk berbuat taat atau ia terjerembab dalam kemaksiatan. Nau’dzubillah min dzálik.

Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari juga mengatakan dalam Latha `if al Minan sebagai wasiat dan juga irsyad. Berhati-hatilah engkau wahai saudaraku, hendaknya engkau memperhatikan orang-orang yang terjebak pada kelompok ini (orang yang ingkar terhadap wali Allah) dan orang-orang yang menistakan mereka agar engkau tidak jatuh dari pandangan Allah dan mendapatkan kemurkaan-Nya. Mereka ini adalah kaum yang senantiasa duduk bersama Allah dengan hakekat kejujuran dan keikhlasan jiwa, ketulusan dalam menepati janji dan senantisa mem-perhatikan posisi jiwa mereka dengan Allah. Mereka telah menyerahkan kendali diri mereka kepada-Nya, mereka juga telah menyyerahkan jiwa mereka di hadapan Allah, merekapun tidak mau membela diri lantaran merasa malu pada sisi Rububiyah Allah bagi mereka dengan mencukupkan diri dengan sisi Qayyum-Nya Allah. Allah pun memelihara mereka dengan apa yang mereka lakukan untuk diri mereka, Allah lah yang sejatinya memerangi orang yang memerangi mereka (para wali Allah) dan mayoritas kepada orang yang mampu mengalahkan para wali Allah tersebut.

Allah Swt uji kelompok ini dengan ahli ilmu zhahir, sedikit sekali orang yang berkecimpung pada ilmu zhahir mau mempercayai wali tertentu, tetapi ia akan berkata padamu, “Iya, kami tahu bahwa para wali Allah itu ada, tetapi dimana mereka, maka tidak seorang pun yang menyebutkan posisinya,” bahkan seringkali ia menolak kekhususan yang Allah berikan pada mereka. Memang, lisan mereka bagus dalam menyusun kata namun kosong dari cahaya kepercayaan. Berhati-hatilah engkau dengan orang yang memiliki sifat ini, larilah engkau darinya seperti engkau lari dari kejaran singa. Semoga Allah menjadikan kami dan engkau termasuk orang-orang yang mempercayai para wali-Nya, yang itu semua tentu dengan karunia dan keutamaan-Nya. Dialah yang mampu atas segala sesuatu. (Selesai).

Pengarang Ar-Rimah, -sosok yang terkenal menguasai ilmu syari’at dan ilmu hakekat serta kemampuan beliau dalam menggali kedua sisi keilmuan tersebut- pernah menulis sebagai berikut: Diantara ragam keburukan mengenai keingkaran seseorang terhadap para wali Allah Swt, yaitu bahwa orang-orang yang ingkar itu sejatinya mereka mengikuti jejak orang Yahudi dan Nasrani. Tidak diragukan lagi Allah akan menghukum mereka (orang-orang yang mengingkari wali Allah Swt) dengan hukuman yang setimpal lantaran mereka mensifati diri layaknya orang Yahudi dan Nasrani.

Diantara keburukan lainnya adalah, mereka akan lebih mengutamakan bergumul dengan orang fasik lagi durjana dari kalangan pelaku dosa dan orang-orang yang menyimpang lagi nakal.

Diantara keburukan lainnya adalah, mereka akan senantiasa berkata, bahwa kekuasaan, kezhaliman dan orang-orang yang menolong mereka adalah agama yang kokoh lagi jalan yang lurus. Sedangkan apa yang dilakukan oleh ulama akhirat yang senantiasa berdo’a pada Rabb mereka di pagi dan sore hari dengan niatan mengharap wajah Allah adalah jalan yang bengkok lagi menyakitkan. Mereka pun akan mengaku, bahwa apa yang dilakukan orang yang punya kebiasaan buruk dan bid’ah buruk yang mewarisi kesesatan yang nyata, itu adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dan golongan beliau.

Diantara keburukan lainnya adalah, penyakit parah yang memalingkan orang Yahudi untuk mengikuti sayyidil wujud Saw lantaran runtuhnya kepemimpinan orang-orang Yahudi adalah penyakit hasud. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَمْ يَحْسُدُوْنَ النَّا سَ عَلٰى مَاۤ اٰتٰٮهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ ۚ فَقَدْ اٰتَيْنَاۤ اٰلَ اِبْرٰهِيْمَ الْـكِتٰبَ وَا لْحِكْمَةَ وَاٰ تَيْنٰهُمْ مُّلْكًا عَظِيْمًا
am yahsuduunan-naasa ‘alaa maaa aataahumullohu ming fadhlih, fa qod aatainaaa aala ibroohiimal-kitaaba wal-hikmata wa aatainaahum mulkan ‘azhiimaa

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang telah diberikan Allah kepadanya? Sungguh, Kami telah memberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepada mereka kerajaan (kekuasaan) yang besar.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 54)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ اُوْتُوْا نَصِيْبًا مِّنَ الْكِتٰبِ يُدْعَوْنَ اِلٰى كِتٰبِ اللّٰهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلّٰى فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ وَهُمْ مُّعْرِضُوْنَ
a lam taro ilallaziina uutuu nashiibam minal-kitaabi yud’auna ilaa kitaabillaahi liyahkuma bainahum summa yatawallaa fariiqum min-hum wa hum mu’ridhuun

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian Kitab (Taurat)? Mereka diajak (berpegang) pada Kitab Allah untuk memutuskan (perkara) di antara mereka. Kemudian sebagian dari mereka berpaling seraya menolak (kebenaran).”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 23)

Renungi pernyataan sang wali quthub al Futi ini, engkau telah melihat beliau menyingkap ragam kondisi orang-orang yang ingkar, semoga kita diselamatkan dari ujian yang menimpa mereka.

Dalam al Bahr al Maurûd disebutkan: Kamipun diambil janji untuk tidak mendustakan orang-orang shaleh kala mereka mengabarkan sesuatu yang akal kami menganggapnya perkara itu mustahil, kecuali jika perkara itu bersebrangan dengan nash syari’at. Hal tersebut karena puncak dari yang ingin dijabarkan oleh mereka adalah bahwa kemampuaan ilahiyyah hanya mampu melakukan perkara yang jaiz saja.

Dalam al Yawâqît wal Jawahir karya al Imam asy-Sya’rani disebutkan: Syaikh Islam al Makhzumi pernah berkata: Tidak boleh orang alim ingkar kepada sufi kecuali ia telah bersuluk pada thariqahnya dan melihat mereka menyimpang dari Sunnah Nabi Saw. Tidak pula ia serta merta langsung ingkar hingga ia mengetahui tujuh puluh perkara. Diantaranya adalah mengetahui istilah tajalli dzati dan tajalli ash-shuwari, apa itu Dzat dan apa pula Dzatu adz-Dzat, mengetahui ragam hadhrah asma wash-shifat dan perbedaan antar hadhrah tersebut, perbedaan antara al ahadiyyah dan al wahidiyyah, mengetahui rahasia sisi zhahir dan sisi bathin, al azal, al abad, mengetahui alam ghaib, alam semesta, syahadah (yang nampak) dan apa itu syauq (rindu), juga mengetahui alam hekekat inti dzat dan identitas, mengetahui kondisi isyq (mabuk cinta pada Allah) dan kondisi mahabbah (cinta). Juga mengetahui siapa yang benar dalam kondisi sakar-nya hingga ia ditolerir dan siapa yang berdusta dengan kondisi sakar-nya hingga ia patut diberikan balasan, dan perkara lainnya.

Sayyidi syaikh Mukhtar al Kattani Ra pernah menulis dalam at-Tadzlil Wali quthub asy-Syairazi Ra pernah berkata: Ketahuilah, bahwa ingkarnya orang awam terhadap orang khusus (yang Allah berikan kekhususan diri) tidaklah menciderai pangkat mereka, sebagaimana tidak cideranya risalah para nabi dengan keberadaan orang-orang yang menisbatkan sihir, gila dan kondisi lain pada mereka. misla

Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari Ra pernah berkata: Orang yang kau lihat mengerdilkan para wali Allah dan mengingkari ragam pemberian Allah pada orang-orang yang jernih kalbunya, maka ketahuilah bahwa mereka sejatinya sedang memerangi Allah dan Rasul-Nya.

Abu Yazid al Busthami Ra pun pernah berkata: “Apabila kalbu dilekatkan untuk berpaling dari Allah, maka ia akan diliputi dengan perkara menyerang para wali Allah.’

Abu Yazid al Bustami Ra juga pernah berkata: Daging para wali Allah itu beracun dan permusuhan Allah pada orang yang membenci mereka (para wali Allah) nyata adanya. Orang yang dengan lantang menggunjing mereka, maka Allah akan uji ia sebelum kematiannya dengan matinya kalbu, sebagaimana firman Allah Swt,

لَا تَجْعَلُوْا دُعَآءَ الرَّسُوْلِ بَيْنَكُمْ كَدُعَآءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۗ قَدْ يَعْلَمُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ يَتَسَلَّلُوْنَ مِنْكُمْ لِوَا ذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَا لِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖۤ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَا بٌ اَ لِيْمٌ
laa taj’aluu du’aaa-ar-rosuuli bainakum kadu’aaa-i ba’dhikum ba’dhoo, qod ya’lamullohullaziina yatasallaluuna mingkum liwaazaa, falyahzarillaziina yukhoolifuuna ‘an amrihiii ang tushiibahum fitnatun au yushiibahum ‘azaabun aliim

“Janganlah kamu jadikan panggilan rasul (Muhammad) di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang keluar (secara) sembunyi-sembunyi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”
(QS. An-Nur 24: Ayat 63)

Syaikh Abu ‘Abdillah al Qursyi pernah berkata: Barangsiapa yang merendahkan para wali Allah, Allah akan panah ia dengan panah beracun pada kalbunya, dan ia tidak meninggal dunia kecuali akidahnya sudah rusak.

Imam al Ghazali juga pernah berkata: Orang yang belum punya ilmu pengetahuan mengenai kaum sufi, ia ditakutkan meninggal dunia dalam keadaan su`ul khatimah. Paling tidak kita percaya dan berserah diri pada kaum sufi tersebut.

Beliau Ra pun pernah mengatakan: Sungguh wali abdalitu terputus pada penjuru bumi dan tersembunyi dari pandangan mayoritas orang, lantaran mereka tidak melihat eksistensi ulama zaman tersebut. Karena bagi mayoritas orang, ulama zaman tersebut adalah orang-orang yang bodoh terhadap Allah, sementara mereka sendiri menganggap diri mereka adalah ulama, sehingga mereka berpandangan bahwa melawan orang-orang yang bodoh adalah bagian dari akhlak orang mukmin sesuai dengan firman Allah Swt, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِا لْعُرْفِ وَاَ عْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ
khuzil-‘afwa wa-mur bil-‘urfi wa a’ridh ‘anil-jaahiliin

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 199)

Imam an-Nawawi pernah mengatakan: “Haram hukumnya orang yang berakal berburuk sangka pada para walinya Allah, namun wajib bagi orang yang berakal menakwilkan ragam perkataan dan perbuatan mereka yang tidak pantas dan berupaya menyelami masyrab mereka.

Syaikh Badruddin az-Zarkasyi pernah berkata:

Jangan engkau dengar fatwa seseorang dari kaum sufi sebelum engkau bisa memastikan ragam istilah yang ia gunakan dan mengetahui hakekat lafazh yang ia pakai, sebagaimana engkau jangan dengar fatwa dari pakar ushul fikih dan pakar ilmu nahwu secara taqlid, kecuali setelah engkau cocokkan dengan hakekat dari Al Qur’an, As-Sunnah, juga ushul fikih lantaran mereka tidak menguasai dan tidak pula menekuni keilmuan tersebut. Sebab, ilmu nahwu dan ushul fikih merupakan alat untuk mencocokkan bahasan fikih, meski keduanya (ilmu ushul fikih dan ilmu nahwu) bukanlah inti dari kajian fikih itu sendiri. Jika engkau masih melakukan itu, maka engkau telah sesat lagi menyesatkan.

Begitu juga bagi orang yang tidak mengetahui istilah yang biasa digunakan oleh kaum sufi. Sungguh apabila ia mendengar perkataan mereka (kaum sufi) tanpa mengetahui hakekat tujuan mereka dan juga tanpa mengetahui muatan isyarat mereka, maka engkau telah menuduh mereka. Sebab apabila ia mendengar perkataan mereka (kaum sufi), “Hakekat tobat adalah tobat dari tobat;” maka iapun akan mengingkari itu. Namun apabila engkau telah mengetahui maksud mereka yaitu “senantiasa menuduh diri terkait keikhlasan dalam tobat;” maka iapun tidak akan mengingkarinya. Contoh perkataan sufi lainnya; “Rabb adalah hamba dan hamba adalah Rabb;” jika orang yang tidak punya dzauq akan perkataan ini, maka iapun akan menyuruh untuk membunuh orang yang mengatakannya. Namun apabila engkau tahu maksud perkataan mereka sesungguhnya, yaitu apabila seorang hamba menyerahkan jiwa kepada Tuhannya, fana dalam keridhaan-Nya serta dengan menyaksikan-Nya, kesaksian terhadap dirinya pun hilang, hingga jiwanya dimiliki oleh Raja yang Besar, dimana perkara jiwanya ada di tangan-Nya, bahkan hingga ketika ia berkata terhadap sesuatu, ‘jadilah;’ maka sesuatu itu pun akan terjadi lantaran Allah Swt. Perkara ini seperti yang pernah dikatakan oleh al Jili:

وَأَمْرِى بِأَمْرِ اللَّهِ إِن قُلْتُ كُنْ يَكُنْ # وَكُلُّ بِأَمْرِ اللَّهِ فَأَحْكُمُ بِقُدْرَتِي

“Perkaraku ini dengan bantuan perkara Allah, andai kukatakan, jadilah, maka itu pun akan terjadi # dan segala sesuatunya itu atas bantuan dari Allah dengan hukum Allah, maka akupun menghukumi dengan kemampuanku.”

Imam al Haramain pernah mengatakan: Jikapun dikatakan kepada kami, ‘Rincikanlah kepada kami apa yang membuat kami kufur dan mengarah pada tuduhan sesat dari ragam perkataan para sufi;” kami pun akan katakan ini: ‘Ini merupakan ketamakan yang tidak pada tempatnya. Sebab perkara itu merupakan perkara yang memiliki pandangan jauh dan jalannya pun sulit ditempuh yang terbentang dari arus lautan tauhid. Orang yang belum memiliki ilmu dengan akhir dari sebuah hakekat, iapun tidak bisa menarik kesimpulan mengkafirkan meski sudah tertulis dalam piagam, ia seperti orang yang sedang menginginkan handphone tetapi dalam kondisi hidup yang susah atau seperti orang yang melempar api dari dirinya namun mengenai hidungnya, dimana bisa jadi yang bersangkutan ingin mengkafirkan orang lain namun terkena sendiri.

Imam an-Nawawi juga pernah mengatakan: Sungguh Allah telah memberikan ragam karamah kepada para wali-Nya, dimana itu merupakan cabang dari mukjizat. Maka bukan perkara baru lagi ketika mereka mengeluarkan ungkapan yang ulama tidak mampu memahaminya, terlebih selain mereka. Sebab, mereka mendapatkan itu dari madad Allah Swt dan Rasul-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّاۤ اُخْفِيَ لَهُمْ مِّنْ قُرَّةِ اَعْيُنٍ ۚ جَزَآءً بِۢمَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ
fa laa ta’lamu nafsum maaa ukhfiya lahum ming qurroti a’yun, jazaaa-am bimaa kaanuu ya’maluun

“Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.”
(QS. As-Sajdah 32: Ayat 17)

Mereka membakar ragam kebiasaan buruk hingga Allah membakarkan kebiasaan itu untuk mereka, mereka adalah orang-orang yang mampu mengabarkan sisi keperkasaan Allah atas izin dari-Nya, orang-orang yang terjaga dengan pertolongan Allah.

Sumber : BUKU FAIDHAH TIJANI (KASYIFUL ILBAS ‘AN FAIDHATI AL KHATMI ABIL ABBAS) SYAIKH IBRAHIM NIASS AL KULKHI AT-TIJANY