
Elsubha.com – Mengapa Kupilih Thariqah Tijaniyyah?
Setiap muslim selalu dalam kebaikan dan menginginkan hal yang baik pula, tetapi Allah Swt telah menegaskan, bahwa Dia akan mengangkat derajat sebagian manusia dari sebagian lainnya beberapa derajat, yaitu dalam bidang agama, ilmu dan keduniawian. Sebagian orang ada yang telah merasa cukup dengan mengerjakan perkara fardhu dan menjauhi perkara yang dilarang oleh Allah Swt, ini adalah derajat yang mendasar. Sebagian lain ada yang menambahkan perkara fardhu tersebut dengan ragam perkara sunah, dirinya wara’ terhadap sebagian perkara yang telah jelas dimubahkan, lantaran takut terjerembab dalam keharaman, inilah derajat yang paling tinggi.
Barangsiapa yang beranggapan bahwa segala sesuatu yang dia lakukan; -baik perkara fardhu atau sunah, dengan adanya izin secara umum, namun niatnya tidak ikhlas. Jika demikian kondisinya, maka seyogyanya dia harus mencari guru yang dapat memperbaiki niat dan memberinya izin secara khusus, mentarbiyah ruh, menundukkan hawa serta dapat memastikan nasab ruhani keagamaannya, sehingga dengan perkara itu, dirinya mampu me-mi’rajkan jiwa pada kesempurnaan dan terus berusaha meningkatkannya menuju titik puncak: Selepas seorang itu mengerjakan kebajikanı dan perkara yang dapat mendekatkan dirinya pada surga, maka dirinya akan meningkat secara bertahap menuju terwujudnya rasa ikhlas beribadah hanya untuk Allah Swt.
Setelah seorang itu mengerjakan sesuatu dan melihat kondisi dirinya dalam mengerjakan perkara tersebut, maka hal itu akan menunjukkan bahwa Allahlah yang sebenarnya telah mengerjakan itu. Posisi seorang hamba hanyalah sebatas objek belaka, maka saat seseorang masih melihat, bahwa dirinyalah yang mengerjakan suatu perkara, lantas bagaimana dirinya dapat masuk ke hadrah Tuhannya? -Demi Allah, dirinya tidak akan dapat masuk ke dalam hadrah Allah selagi hal itu masih melekat pada dirinya.-
Lantas mengapa banyak kaum muslimin yang secara khusus berafiliasi ke dalam thariqah Tijaniyyah?
1. Wiridan thariqah Tijaniyyah. Talqin wiridannya dilakukan dengan izin khusus dan dengan sanad yang bersambung sampai Rasulullah Saw. Sudah kita ketahui bahwa izin umum untuk orang secara umum, sedangkan izin khusus itu untuk orang yang khusus pula.
a. Contoh Izin Umum: Sabda Rasulullah Saw ,
أَيُّهَا النَّاسُ قُولُوا : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، تُفْلِحُوا
“Wahai manusia, katakanlah: ‘Tiada Tuhan selain Allah’, niscaya kalian akan menang.” (Hadits ini diriwayatkan dari Rabi’ah bin ‘Abbad Ad-Diliyyu; dia berkata: Aku melihat Rasulullah Saw pada masa jahiliyah di pasar Dzil Majaz; beliau bersabda; “Wahai segenap manusia; katakanlah; Tiada Tuhan selain Allah’, nicsaya kalian akan mendapatkan kemenangan. Beliau mengulanginya berulang-ulang kali.” (HR. Ahmad; Al Baihaqi; Al Hakim; Ath-Thabrani dan Abu Nu’aim dalam Al Ma’rifah serta diriwayatkan juga oleh Al-Lâlikâ’i.)
Sabda Rasulullah lainnya:
أكْثِرُوْا مِنْ قَوْلِ لَا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا بِاللهِ، فَإِنَّهَا كَنزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ
“Perbanyaklah kalian membaca, ‘Tiada daya dan upaya kecuali dari Allah’, sebab itu merupakan satu dari perbendaharaan surga. (HR. Ahmad dan Ath-Thabâri dari riwayat Abu Hurairah dalam pembahasan; Do’a; Ath-Thabrâni dari riwayat Hazim bin Harmalah; Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahân, Ath-Thabrani dalam pembahasan; Do’a dari riwayat Umar bin Al Khaththab; Ath-Thabrani dalam pembahasan; Do’a dari riwayat Sa’d bin Abi Waqqash; Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya dari riwayat Abu Bakar Ash-Shiddiq.)
b. Sedangkan contoh dari izin secara khusus adalah proses Rasulullah Saw mentalqin kalimat tauhid kepada Sayyidina ‘Ali bin Abi Thâlib dengan cara yang sudah diketahui bersama; juga seperti yang Rasulullah Saw sabdakan kepada Abu Musa Al Asy’ari, saat itu dia sedang menjaga hewan tunggangan Nabi Saw, Nabi Saw bersabda kepadanya, “Wahai ‘Abdullah bin Qais,” Aku menjawab, “Aku datangi panggilanmu wahai Rasulallah,” Nabi Saw bersabda, “Tidakkah ingin engkau aku tunjukkan kalimat yang merupakan satu dari perbendaharaan surga?,” Aku menjawab, “Iya, wahai Rasulallah, demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu,” Nabi Saw bersabda, “Tiada daya dan upaya kecuali dari Allah. (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka; Abu Daud; Ahmad; An-Nasa’i dalam As-Sunan Al Kubra, Al Baihaqi; Al Bazzar dan Al-Lalika i.)
Rasulullah Saw telah menalqin semua umat manusia ini dengan lisan, kemudian beliau pun juga menalqin orang tertentu dengan lisan, maka dzikirannya orang khusus dengan lafazh dzikiran yang khusus ini pula, statusnya menyamai dzikiran semua manusia saat orang tersebut berdzikir dengan lafazh yang sama dengan orang lain secara umum.
Orang yang telah ditalqin atau yang telah mendapatkan izin khusus dalam sebuah dzikir dari beragam dzikiran yang ada, apabila dia berdzikir satu kali saja, maka Allah Swt akan memberikannnya beragam cahaya, keberkahan dan kebaikan setiap umat manusia kala dia berdzikir dengan dzikiran yang sama. Semua wiridan thariqah Tijaniyyah ini dinukil dengan izin khusus dari Rasulullah Saw kepada wali quthb Tijany secara sadar dan tidak dalarn kondisi bermimpi. Kemudian talqin khusus ini berpindah dari satu kepada yang lainnya melalui jalur sanad dari para khalifah dan muqaddam kepada para murid.
2. Semua manusia yang dikumpulkan di Padang Mahsyar pada hari Kiamat, mereka dalam kondisi di adzab dengan adzab yang pedih, di Padang Mahsyar berisikan cobaan dan adzab. Namun Allah Swt memilik sekelompok manusia yang berada di bawah naungan ‘Arasy-Nya. Derajat paling tinggi dari orang-orang pilihan Allah Swt adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah Swt, mereka tidak merasa takut saat yang lainnya ketakutan. Kecintaan kepada Allah Swt inilah yang teraplikasikan secara sempurna dalam diri pemeluk suatu thariqah, yaitu dengan hubungan yang tercipta diantara mereka yang bentuknya berupa kecintaan kepada Allah Swt, mereka berkumpul untuk berdzikir dan melakukan kebaikan, mereka tidak kumpul untuk tujuan duniawi ataupun tujuan lainnya.
3. Seseorang itu tidak dapat berpindah dari posisinya Ahl Yamîn menuju Ahl Muqarrabîn dengan banyaknya shalat dan puasa, tetapi dia mampu berpindah pada kondisi itu dengan adanya izin khusus dan shahih dari pemegangnya. Atau juga dengan cara Allah Swt mengujinya dengan ujian yang dahsyat dan dirinya bisa bersabar dengan optimal. Semua pemeluk thariqah tidak dapat masuk ke kawasan Al Muqarrabîn kecuali setelah dirinya bertalqin secara khusus, semua mereka berada pada kawasan yang penuh dengan curahan keutamaan Allah yang Maha Agung.
4. Allah kelak menampakkan semua makhluk dengan dua bentuk pengadilan:
a. Pertama, dipanggil secara perorangan, sebagaimana yang tertera dalam sebuah hadits:
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ، لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ وَلَا حِجَابٌ يَحْجُبُهُ.
“Tidaklah seorang diantara kalian kecuali Rabb-nya akan berbicara kepadanya, tidak ada penerjemah dan penghalang antara dirinya dan diri-Nya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka; At-Tirmidzi; Ibnu Majah; Ahmad; Ath-Thabrani; Al-Baihaqi; Ibnu Hibbân; Ibnu Mandah; Ibnu Huzaimah; Ad-Daruquthni; Ibnu Abi ‘Ashim dan Al-Lälika’i dari riwayat ‘Adi bin Hatim.)
Juga seperti yang disebutkan dalam hadits lain,
لا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ
“Tidaklah kedua kaki seorang hamba itu tergelincir pada Hari Kiamat, hingga dia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan…” (HR. At-Tirmidzi; Ad-Dârimi dan Abu Ya’la dari riwayat Abu Barzah; Ibnu Abi Syaibah; Ath-Thabrani; Al Baihaqi; Ad-Darimi; Al Bazzar; Hinad dan Waki’ keduanya menyebutkan dalam pambahasan; Zuhud dan disempurnakan dalam Fauâ id-nya dari riwayat Mu’adz. Ath-Thabrani dari riwayat Ibnu ‘Abbas, Ath-Thabrani dari riwayat Abu Ad-Darda; Al Bazzar dalam Al Bihar Az-Zakhkhår dari riwayat Ibnu Mas’ûd.)
Pengadilan semacam ini di dalamnya terdapat kesengsaraan dan pedebatan untuk dihisab, keberhasilan dari perkara ini bergantung pada sifat adilnya Allah Swt.
b. Kedua, yaitu pengadilan yang didalamnya terdapat sifat keutamaan Allah Swt yang lebih dominan, seperti yang Allah Swt firmankan,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَ نَدْعُوْا كُلَّ اُنَا سٍ بِۢاِمَا مِهِمْ ۚ فَمَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِيَمِيْنِهٖ فَاُ ولٰٓئِكَ يَقْرَءُوْنَ كِتٰبَهُمْ وَلَا يُظْلَمُوْنَ فَتِيْلًا
yauma nad’uu kulla unaasim bi-imaamihim, fa man uutiya kitaabahuu biyamiinihii fa ulaaa-ika yaqro-uuna kitaabahum wa laa yuzhlamuuna fatiilaa
“(Ingatlah), pada hari (ketika) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya; dan barang siapa diberikan catatan amalnya di tangan kanannya mereka akan membaca catatannya (dengan baik), dan mereka tidak akan dirugikan dizalimi sedikit pun.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 71)
Pada Hari Kiamat, semua Nabi sibuk dengan Allah Swt, namun tetap pada setiap kaum itu ada pemimpinnya, dimana setiap pemimpin itu panji dimana Allah Swt mengumpulkan orang yang mencintai dan mengikuti jalan-Nya di bawah panji itu. Apabila pemegang panji itu adalah orang yang fasik, maka pemimpinnya itulah yang pertama kali akan masuk neraka, seperti yang ditegaskan dalam sebuah hadits Rasulullah Saw
امْرُزُ الْقَيْسِ صَاحِبُ لِوَاءِ الشُّعَرَاءِ إِلَى النَّارِ
“Imru ‘ul Qais, sang pemegang panji penyalr itu masuk ke dalam neraka. (HR. Ahmad; Ibnu Asakir; Al Khathib Al Baghdadi dari riwayat Abu Hurairah. Ath-Thabrâni; Ibnu Abi Ad-Dunya; Ibnu ‘Asakir dari ‘Afif bin Ma’di Yakrib.)
Namun apabila sang pemimpin itu adalah seorang wali Allah, maka Allah Swt dengan keutamaan dan keagungan-Nya, akan menerima orang-orang yang berafiliasi padanya tanpa ada proses perdebatan penghitungan hisab, juga bukan pula adzab dan ini teraplikasikan dalam thariqah Tijaniyyah yang Allah muliakan ini.
5. Apabila kamu tidak terikat pada suatu thariqah, maka semua amalmu akan dinaikkan kepada Allah Swt sesuai dengan kemampuanmu, sedangkan jika kamu mencintai seorang Syaikh yang memiliki keagungan di sisi Allah Swt, maka semua amalmu kelak diangkat sesuai dengan keagungan orang engkau cintai itu. Kelak pada hari Kiamat engkau akan didatangkan dengan derajat orang yang engkau cintai itu. Rasulullah Saw pernah bersabda,
الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Seorang itu kelak bersama orang yang dicintainya. ” (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka dari riwayat Ibnu Mas’ûd. Al Bukhari dalam Shahih-nya dari riwayat Abu Musa; Abu Daud dan At-Tirmidzi dari riwayat Anas bin Malik; At-Tirmidzi dari riwayat Shafwan bin ‘Assål.)
Yaitu, dimana semua amalan yang engkau lakukan sebagai perwakilan dari amalannya Sayyidi Syaikh ini.
6. Seorang pesuluk dalam suatu thariqah; jika dia meninggal dunia sebelum sampai pada derajat yang sempurna, maka dia akan ditulis sebagai orang yang wushul kepada hadrah Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يُّهَا جِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَ رْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةً ۗ وَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَا جِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
wa may yuhaajir fii sabiilillaahi yajid fil-ardhi murooghomang kasiirow wa sa’ah, wa may yakhruj mim baitihii muhaajiron ilallohi wa rosuulihii summa yudrik-hul-mautu fa qod waqo’a ajruhuu ‘alalloh, wa kaanallohu ghofuuror rohiimaa
“Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di Bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 100)
7. Semua murid yang jujur kondisi jiwanya; apabila maqam Syaikh ini meningkat ke tingkat yang tertinggi, maka sang murid pun akan mewarisi maqam ini, yang mana semuanya itu sesuai dengan futuh dan dzauq nya. Ini merupakan maqamat tertinggi yang tidak pernah terdetik sedikit pun dalam kalbu manusia.
8. Rasulullah Saw telah memberikan jaminan kepada Syaikh kami secara sadar dan tidak dalam kondisi bermimpi dengan beragam jaminan, yang mana orang yang mengambil thariqah ini pun akan mendapatkannya. Beragam jaminan Rasulullah Saw ini tertulis dalam buku thariqah, jaminan Rasulullah Saw ini semacam kabar gembira bagi orang yang senantiasa bersuluk didalam thariqah Tijaniyyah, sekalipun hanya dengan mahabbah. Hal ini sungguh membuat kami senang dan tidak membuat kami tertipu dengannya.
Jika bukan karena keutamaan thariqah ini, maka selain murid pun dapat termasuk kedalam jaminan yang Rasulullah Saw jaminkan bagi Syaikh kami; Sayyidi Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra, maka hal itu sudah lebih daripada cukup.
9. Melihat Rasulullah Saw secara sadar merupakan perkara yang jarang sekali dapat terjadi sebelum masa Syaikh kami At-Tijany. Para wali kamil yang pernah melihat Rasulullah Saw secara sadar dapat dihitung dengan jari. Namun peristiwa melihat Nabi Saw ini selalu berulang-ulang terjadi pada orang bernisbat ke dalam thariqah Tijaniyyah, sebagai salah satu karamah Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.
Diantaranya, ada yang berpandangan bahwa Rasulullah Saw tidak pernah hilang sekejap mata pun, ada orang yang dalam sehari dapat melihat Rasulullah Saw sebanyak empat kali, bahkan ada yang sampai dua puluh kali. Ada pula orang yang tidak akan melakukan suatu pekerjaan sampai Rasulullah Saw memerintahkannya sendiri, perkara ini semua terwujud secara sadar dan tidak dalam mimpi.
10. Murid Tijany memiliki kebaikan yang berlipat ganda, saat murid Tijany membaca wiridan, maka dia mendapatkan pahala perkara yang fardhu, hal tersebut lantaran sang murid menjadikan bacaan wiridar-nya itu sebagai nadzar yang wajib bagi dirinya. Amalan fardhu itu pun dapat dilipatgandakan hingga tujuh puluh kali lipat, berbeda dengan amalan sunah lainnya. Hal itu seperti yang tertera dalam sebuah hadits Nabi Saw tentang keutamaan bulan Ramadhan:
مَنْ تَقَرَّبَ فِيهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ ، كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فِيْهِ فَرِيضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِينَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ.
“Barangsiapa yang mendekatkan diri (kepada Allah) di dalamnya (bulan Ramadhan) dengan suatu kebaikan, maka dia seperti orang yang telah melakukan suatu perkara fardhu pada bulan lainnya. Dan orang yang mengerjakan suatu ibadah fardhu di dalamnya (bulan Ramadhan), maka dia seperti orang yang mengerjakan tujuh puluh kali ibadah fardhu pada bulan yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi; Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya; Ibnu Syâhîn dari riwayat Salmån Al Farisi.)
Dari hadits ini dapat kita simpulkan, bahwa pahala ibadah fardhu itu dilipatgandakan sebanyak tujuh puluh kali lipat daripada pahala ibadah sunah, sebagaimana pahala yang ada dalam majelis dzikir itu pun dinaikkan pahalanya lantaran keberadaan orang paling bertakwa, yang kala itu sedang duduk di dalam majelis tersebut. Hal ini merupakan berita yang paling menggembirakan, tidakkah engkau berpikir, bahwa nilai shalat jama’ah itu dinaikkan pahalanya lantaran adanya orang paling bertakwa diantara jama’ah itu.
11. Thariqah Tijaniyyah merupakan thariqah yang memiliki sanad terdekat dengan Rasulallah Saw. Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra dapat melihat Rasulallah Saw secara sadar dan tidak dalam mimpi, sebagaimana yang pernah beliau katakan. Satu perkara dalam agama yang tidak kalah pentingnya, bahwa wali Allah Swt tidak akan pernah berbohong dan Rasulullah Saw pun telah mengizinkan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra untuk mentalqinkan wirid thariqah yang telah Rasulullah sendiri tentukan untuk beliau, tidak ada orang ketiga antara beliau dan Nabi Saw. -Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dilahirkan pada tahun 1150 H dan wafat pada 1230 H.-
Sementara thariqah lainnnya, sanad mereka berujung pada Sayyidina Ali Ra atau juga Abu Sayyidina Bakar Ash-Shiddiq Ra berupa sanad yang panjang. Kini beragam thariqah yang ada, mentalqinkan wiridnya dengan jalur sanad yang panjang sekali. Sedangkan rentetan sanad dalam thariqah Tijaniyyah, langsung dari Rasulullah Saw, sehingga antara aku (Syaikh Shalahudin At-Tijany) dan Rasulullah hanya ada empat orang perantara. Memang benar, bahwa sebagian wali Allah dapat melihat Nabi Muhammad Saw secara sadar, akan tetapi Nabi Muhammad Saw menetapkan, bahwa wiridan mereka itu tetap diambil dari silsilah para guru. Nabi Saw pun tidak memerintahkan mereka untuk mentarbiyah para murid, tarbiyah bagi para murid itu akan datang sendiri saat waktunya tiba, tidak lebih dari itu. Sanad para wali ini sebagaimana sanad yang ada pada para guru mereka.
12. Diwajibkan bagi seorang murid untuk berpindah dari thariqah yang tinggi dalam sanadnya ke thariqah yang paling tinggi, yang mana semakin dekat sanad suatu thariqah kepada Rasulillah Saw, maka semakin sedikit jumlah Syaikh yang ada dalam sanad dan silsilah thariqah tersebut pun akan semakin ringkas.
Thariqah Tijaniyyah merupakan thariqah yang memiliki sanad tertinggi pada abad ini, maka melazimkan diri bersuluk didalamnya akan lebih cepat mendatangkan futuh.
13. Thariqah Tijaniyyah merupakan thariqah yang muncul dari hadrah Allah yang Maha Agung, maka di dalamnya tidak banyak amalan yang memiliki tingkat kesulitan yang berarti, namun dia adalah thariqah syukur dan gembira dengan kebersamaan dengan Allah Swt, hal ini cocok dengan kondisi masa kini, dimana orang-orang banyak memiliki kesibukan dan sedikit sekali waktu luang yang dimiliki, maka amalan yang sedikit tersebut sangat cocok dengan kebanyakan orang, yang mana di dalam amalan yang sedikit ini mengandung pahala yang besar. Thariqah tersebut tidaklah mendapat keistimewaan ini kecuali lantaran kecintaan Rasulullah Saw bagi Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.
14. Thariqah Tijaniyyah adalah thariqah yang berlandaskan ilmu. Semua masyayikh di setiap penjuru dunia merupakan ulama, mereka saling mewarisi ilmu-ilmu syari’at; baik itu hadits, fikih, tafsir maupun qira`at. Allah Swt menjaga thariqah ini dari masuknya perkara bid’ah yang sesat, bahkan setiap amalan, wiridan maupun pendapat dalam thariqah ini, sungguh itu ditimbang dengan syari’at.
Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah berkata, “Apabila kalian mendengar dariku suatu perkara, maka timbanglah itu dengan neraca syari’at; jika cocok, amalkanlah, jika bertolak belakang (dengan syari’at), maka tinggalkanlah.”
15. Syaikh dalam thariqah Tijaniyyah adalah Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra, sosok yang Allah berikan martabat tertinggi, yaitu martabat khatmiyyah, martabat watriyyah. Beliau merupakan Syaikh yang ajarannya selalu hidup, seorang murid tidak perlu berpindah kepada Syaikh lainya hingga hari Kiamat.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَنَزَعْنَا مَا فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنْ غِلٍّ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْاَ نْهٰرُ ۚ وَقَا لُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدٰٮنَا لِهٰذَا ۗ وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَاۤ اَنْ هَدٰٮنَا اللّٰهُ ۚ لَقَدْ جَآءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِا لْحَـقِّ ۗ وَنُوْدُوْۤا اَنْ تِلْكُمُ الْجَـنَّةُ اُوْرِثْتُمُوْهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
wa naza’naa maa fii shuduurihim min ghilling tajrii ming tahtihimul-an-haar, wa qoolu al-hamdu lillaahillazii hadaanaa lihaazaa, wa maa kunnaa linahtadiya lau laaa an hadaanalloh, laqod jaaa-at rusulu robbinaa bil-haqq, wa nuuduuu ang tilkumul-jannatu uuristumuuhaa bimaa kungtum ta’maluun
“dan Kami mencabut rasa dendam dari dalam dada mereka, di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami. Sesungguhnya rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran.” Diserukan kepada mereka, “Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu, karena apa yang telah kamu kerjakan.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 43)
Sumber : BUKU KU PILIH TIJANY (AN-NUR FI ATH-THARIQAH AT-TIJANIYYAH) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
