
Elsubha.com – Murâqabah
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ
allaziina yazkuruunalloha qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuubihim wa yatafakkaruuna fii kholqis-samaawaati wal-ardh, robbanaa maa kholaqta haazaa baathilaa, sub-haanaka fa qinaa ‘azaaban-naar
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 191)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَا جُنَا حَ عَلَيْكُمْ فِيْمَا عَرَّضْتُمْ بِهٖ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَآءِ اَوْ اَکْنَنْتُمْ فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ سَتَذْكُرُوْنَهُنَّ وَلٰـكِنْ لَّا تُوَا عِدُوْهُنَّ سِرًّا اِلَّاۤ اَنْ تَقُوْلُوْا قَوْلًا مَّعْرُوْفًا ۗ وَلَا تَعْزِمُوْا عُقْدَةَ النِّکَاحِ حَتّٰى يَبْلُغَ الْكِتٰبُ اَجَلَهٗ ۗ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ فَا حْذَرُوْهُ ۗ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ
wa laa junaaha ‘alaikum fiimaa ‘arrodhtum bihii min khithbatin-nisaaa-i au aknangtum fiii angfusikum, ‘alimallohu annakum satazkuruunahunna wa laakil laa tuwaa’iduuhunna sirron illaaa ang taquuluu qoulam ma’ruufaa, wa laa ta’zimuu ‘uqdatan-nikaahi hattaa yablughol-kitaabu ajalah, wa’lamuuu annalloha ya’lamu maa fiii angfusikum fahzaruuh, wa’lamuuu annalloha ghofuurun haliim
“Dan tidak ada dosa bagimu meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran atau kamu sembunyikan (keinginanmu) dalam hati. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut kepada mereka. Tetapi janganlah kamu membuat perjanjian (untuk menikah) dengan mereka secara rahasia kecuali sekadar mengucapkan kata-kata yang baik. Dan janganlah kamu menetapkan akad nikah sebelum habis masa idahnya. Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 235)
Murâqabah adalah kondisi jiwa saat merasa dilihat oleh Allah Swt dengan kewibawaan-Nya dan sirnanya keraguan didalam hati. Ia juga bermakna selalu merasa hadir bersama Allah Swt dengan selalu mengagungkan dan mensucikan-Nya.
Kucuran rahmat Allah Swt kepada seseorang sehingga dia mampu membedakan antara perkara yg haq dan bathil, jika hal itu sampai pada keyakinan dalam hati yang membuat orang tersebut bisa hudhur (selalu merasakan kehadiran Allah), maka kucuran rahmat itu akan menguasai kalbu, sehingga berimplikasi pada kondisi dirinya yang selalu merasa diawasi. Bahkan suatu pengetahuan yang tidak lagi diragukan pun tidak bisa mengalahkan kondisi hati tersebut kala itu. Sebagai contoh: pengetahuan tentang kematian; itu merupakan hal yang diyakini keberadaannya, bahkan banyak orang yang lalai akan hal ini.
Yang mereka maksud dengan murâqabah adalah kondisi jiwa tersebut. Jika kondisi tersebut berlangsung secara kontinyu, maka ia pun menjadi maqam, sehingga kalbu orang tersebut tenggelam dengan kondisi yang selalu memperhatikan Dzat Allah Swt, kalbunya hancur di bawah wibawa Allah Swt, dirinya mampu merasakan nikmatnya kucuran cahaya Allah Swt, dirinya senang dengan kedekatan diri dengan Allah Swt. -Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan khalifah dalam keluarga, harta dan anak.-
Maka orang yang berada dalam kondisi muraqabah ini kerap menyaksikan Rabb-Nya sebelum ia melakukan amal perbuatan, sehingga ia pun mengetahui keridhaan Rabbnya kepadanya. Saat ia melakukan perbuatan tersebut ia pun merasa bahwa hal itu terlaksana semata-mata karena karunia Allah Swt. Setelah ia melakukan amal perbuatan itu, ia pun memuji Allah Swt dengan keyakinan diri, bahwa pujian itu sejatinya berasal dari-Nya semata.
Hatim Al Asham pernah ditanya, “Atas dasar apa saja engkau lakukan suatu perbuatan itu?.” la menjawab, “Aku bangun atas empat dasar; aku sudah tahu bahwa aku memiliki rezeki yang tidak akan dimakan orang lain, sehingga aku pun merasa tenang, aku pun sudah tahu bahwa aku memiliki amalan yang tidak akan dilakukan oleh orang lain, maka aku sibukkan diri untuk mengerjakannya; aku pun sudah mengetahui bahwa aku memiliki ajal (kematian) yang tidak kuketahui kapan, maka aku pun bersegera melakukan banyak kebaikan; aku pun tahu bahwa aku memiliki Rabb dan pada diriku ada hak-Nya; yaitu ‘janganlah menyembah tuhan selain-Ku’. Aku pun tidak akan mampu bersembunyi dari Allah Swt, selamanya aku akan malu kepada-Nya dan selalu merasa diawasi oleh-Nya.”
Sebagian orang ‘Arif berkata, “Menuju Allah Swt dengan kalbu saat melakukan suatu pekerjaan lebih baik daripada dengan gerakan badan.”
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi Ra pernah berkata, “Suatu kaum tidak akan berjalan maju ke sisi Allah Swt dengan kefakiran diri atau kekayaannya, akan tetapi ia maju ke sisi Allah Swt dengan ilmu dan ma’rifatnya.”
Ada yang mengatakan kepadanya, “Lantas apa ibadahyang dilakukan orang yang ‘Arif kepada Allah Swt?.” Yahya berkata, “Dunia adalah tempat berjalannya seseorang kepada Allah Swt. Jika seseorang tidak berjalan kepada Allah Swt dengan amalan tubuhnya, maka ia berjalan kepada-Nya dengan kalbu. Langkah kaki jauhnya sehasta, sedangkan langkah kalbu itu jauhnya 1000 farsakh.”
Hal ini dikarenakan sumber dari pekerjaan yang dilakukan oleh tubuh adalah kalbu. Maka barangsiapa yang selalu merasa diawasi oleh Allah Swt pada detikan-detikan kalbunya, maka Allah Swt akan menjaga tubuhnya. Sebab, anggota tubuh itu mengikuti kalbu, layaknya seorang raja dengan para prajuritnya.
Jika kemaksiatan yang dilakukan pada maqam tobat adalah dengan melakukan hal yang haram, sedangkan kemaksiatan pada maqam istiqomah adalah mendekat kepada hal yang haram meskipun tidak melakukannya, maka kemaksiatan pada maqam murâqabah adalah lalai dari mengingat Allah Swt.
Kemaksiatan dalam setiap maqam berbeda-beda sesuai dengan maqam-nya, maka kebaikan orang-orang yang berbuat kebaikan (Al Abrar), itu adalah hal buruk bagi orang-orang yang mendekat kepada Allah Swt (Al Muqarrabîn).
Di saat maqam kenabian berada di atas maqam kewalian, maka bayangkanlah bagaimana para Nabi itu sangat jauh dari kemaksiatan maqam tobat; yaitu meninggalkan perkara yang wajib. Maka setiap hal yang bersumber dari mereka (para nabi) tidak mungkin berupa kemaksiatan jika dicocokkan dengan makna ini. Sebab, tidak masuk akal jika kemaksiatan yang seperti itu dilakukan oleh contoh terbaik dalam perihal adab kepada Allah Swt; yaitu para nabi.
Sudah kita ketahui, bahwa perbuatan yang bersumber dari para nabi itu ada yang sifatnya wajib dan ada pula yang sifatnya sunah. Dalam hal ini, menyelisihi perbuatan yang lebih utama dinilai sebagai kemaksiatan pada maqam para nabi, hal itu lantaran tingginya martabat mereka, sehingga kemaksiatan ini menjadi kemaksiatan yang nisbi lantaran tingginya derajat para nabi.
Hakikat dari murâqabah adalah berusaha mengaplikasikan kebersamaan diri dengan Allah Swt, sebagaimana firman-Nya,
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّا مٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى الْاَ رْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَا ۗ وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
huwallazii kholaqos-samaawaati wal-ardho fii sittati ayyaaming summastawaa ‘alal-‘arsy, ya’lamu maa yaliju fil-ardhi wa maa yakhruju min-haa wa maa yangzilu minas-samaaa-i wa maa ya’ruju fiihaa, wa huwa ma’akum aina maa kungtum, wallohu bimaa ta’maluuna bashiir
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 4)
Yaitu pengaplikasian yang mampu menguasai hakikat diri, sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya. Kalbu pun harus selalu mengedepankan adab, sebab dengan inilah Allah Swt tidak akan menolaknya. Jangan sampai ia berkhayal tentang Dzat Allah Swt, sehingga ia menisbatkan “penjuru” bagi Allah Swt. Karena, keharusan mensucikan Allah Swt dari sifat-sifat jasmani yang dimiliki manusia juga merupakan seruan untuk meniadakan semua hal yang terkait dengannya (seperti sisi atas dari tubuh, kedekatan jasmani, kebersamaan jasmani), tanpa ada tawar menawar lagi.
Hatinya pun tidak lagi lalai, sekalipun jika dirinya menginginkan kelalaian itu, maka ia pun tidak dapat melakukannya, bagaimana mungkin itu bisa dilakukan, sementara hal itu tidak pernah terdetik sama sekali dalam kalbunya?
Ibnu Al Faridh pernah berkata,
وَلَوْ خَطَرَتْ لِي فِي سِوَاكَ إِرَادَةٌ # عَلَى خَاطِرِي سَهْوًا قَضَيْتَ بِرَدَّتِي
“Jikalau saja pada diriku terdetik keinginan pada selain-Mu; # lantaran aku lupa, niscaya Engkau akan memupuskan hal itu.”
Maksud perkataan di atas adalah mengembalikan diri pada maqam-nya. Dia tenggelam pada Dzat Allah Swt dengan kedekatan diri dengan-Nya. Allah Swt memberikannya kedekatan khusus, sebagaimana yang tertera dalam firman-Nya,
وَا لسّٰبِقُوْنَ السّٰبِقُوْنَ
was-saabiquunas-saabiquun
“dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga),”
(QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 10)
اُولٰٓئِكَ الْمُقَرَّبُوْنَ
ulaaa-ikal-muqorrobuun
“mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah),”
(QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 11)
Allah pun juga memberinya kedekatan umum, seperti yang tertera pada firman-Nya,
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖ وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ
wa laqod kholaqnal-ingsaana wa na’lamu maa tuwaswisu bihii nafsuh, wa nahnu aqrobu ilaihi min hablil-wariid
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
(QS. Qaf 50: Ayat 16)
