
Elsubha.com – Nafa`is dan Asrar : Ciri-Ciri Kehinaan Di Dunia
Diantara ciri kehinaan di dunia adalah terus-menerus tidak kembali pada Allah Swt setelah nampak beragam ciri kehinaan diri pada orang yang ingkari lagi fanatik dengan apa yang digiring oleh hawa-nya, padahal itu tidak diridhai oleh Allah Swt, sebagaimana yang terjadi pada banyak orang yang bernafsu, yang telah dipatrikan padanya sifat takabur dan tidak mau menerima kebenaran dari yang lain, serta dirinya tidak ridha karena disalahkan. (Lihat, As-Sirr ar-Rabbani fi Tarahhât Ibnu Ma Ya’ba al Jâni al-Lati Tabahhaha biha fi Ta ‘lifihi al Kharif al Jani.)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَقَا لَ رَجُلٌ مُّؤْمِنٌ ۖ مِّنْ اٰلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ اِيْمَا نَهٗۤ اَتَقْتُلُوْنَ رَجُلًا اَنْ يَّقُوْلَ رَبِّيَ اللّٰهُ وَقَدْ جَآءَكُمْ بِا لْبَيِّنٰتِ مِنْ رَّبِّكُمْ ۗ وَاِ نْ يَّكُ كَا ذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهٗ ۗ وَاِ نْ يَّكُ صَا دِقًا يُّصِبْكُمْ بَعْضُ الَّذِيْ يَعِدُكُمْ ۚ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّا بٌ
wa qoola rojulum mu-minum min aali fir’auna yaktumu iimaanahuuu a taqtuluuna rojulan ay yaquula robbiyallohu wa qod jaaa-akum bil-bayyinaati mir robbikum, wa iy yaku kaazibang fa ‘alaihi kazibuh, wa iy yaku shoodiqoy yushibkum ba’dhullazii ya’idukum, innalloha laa yahdii man huwa musrifung kazzaab
“Dan seseorang yang beriman di antara keluarga Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata, “Apakah kamu akan membunuh seseorang karena dia berkata, ‘Tuhanku adalah Allah’, padahal sungguh, dia telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu. Dan jika dia seorang pendusta maka dialah yang akan menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika dia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas dan pendusta.”
(QS. Ghafir 40: Ayat 28)
Demi Allah, sungguh merupakan orang yang merugi yaitu orang yang bermaksiat pada Rabb-nya dan mengaku bahwa dia adalah hambanya yang taat, yang berhak mendapatkan maqam yang tinggi. Tidaklah dia kecuali termasuk orang yang merugi dari ragam pahala malam yang dia kira bahwa pahala tersebut menggiringnya pada kemuliaan, sementara dia maju ke hadapan Allah dan Rasulnya dengan menyesatkan orang-orang yang beriman; menganggap mereka kafir, menuduh bid’ah terhadap perkara sunnah yang baik, dimana ia cepat-cepat menggolongkan orang tersebut ke dalam penjara zindiq dengan beragam perkara yang belum dipastikan kembali titik masalahnya, juga dengan dalih bahwa dirinya adalah orang yang memiliki keyakinan benar. Pada kondisi ini, sebenarnya dia hanyalah orang yang memuji diri sendiri, seolah-olah dari apa yang telah ia tetapkan, telah hilang panca indranya. Semua kondisinya menunjukkan bahwa dia senang menonjolkan diri bersamaan dengan kondisi ghaflah dari Allah, semua perkara yang ia lakukan tak lain hanya untuk keridhaan dirinya.
Dalam kitab al Hikam al ‘Athaiyyah disebutkan, “Asal dari segala kemaksiatan, kelalaian serta syahwat adalah ridha dengan jiwa dan asal dari segala ketaatan, kesadaran dan penjagaan diri adalah ketidakridhaan terhadap jiwanya.”
Juga perkataan, “Bersahabat dengan orang bodoh yang tidak ridha terhadap jiwanya itu lebih baik daripada engkau bersahabat dengan seorang ‘alim yang ridha terhadap jiwanya. ” (Lihat, As-Sirr ar-Rabbani fi Tarahhât Ibnu Ma Ya’ba al Jâni al-Lati Tabahhaha biha fi Ta ‘lifthi al Kharif al Jâni.)
