
Elsubha.com – Nafa`is dan Asrar : Hati-Hati Dengan Keingkaran; Ambillah Pelajaran Dari Kisah Nabi Musa Dan Khidir
Semua orang yang mensifati dirinya dengan sebuah pengingkaran (dirinya mengingkari sesuatu), maka diharamkan baginya kebaikan dan tambahan dari kebaikan itu sendiri. Aku ambil pelajaran dari perkara nabi Musa As saat bersama Khidir As dengan kondisi berserah diri, terhindar untuk mengkritik meski dirinya pun tidak punya keinginan dalam jiwanya atas apa yang diingkarinya; yaitu saat menyaksikan apa yang tidak dia sukai sehingga ilmunya pun mengajaknya untuk mengingkari tanpa mengurangi keyakinannya, dimana nabi Musa As tidak bersabar atas apa yang dia saksikan dari perkara yang menyelisihi adat. Nabi Khidir As pun memaafkannya dalam gambaran penolakan untuk bisa diambil faedahnya. Beliau tegas terhadap dirinya seraya berkata,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَا لَ اِنْ سَاَ لْـتُكَ عَنْ شَيْءٍۢ بَعْدَهَا فَلَا تُصٰحِبْنِيْ ۚ قَدْ بَلَـغْتَ مِنْ لَّدُنِّيْ عُذْرًا
qoola ing sa-altuka ‘ang syai-im ba’dahaa fa laa tushoohibnii, qod balaghta mil ladunnii ‘uzroo
“Dia (Musa) berkata, “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup (bersabar) menerima alasan dariku.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 76)
Maka ilmunya Nabi Khidir As adalah ilmu laduni yang tidak bisa dicari. Pada maqam qurbah, ilmu tersebut tidak bisa diamalkan kecuali ia telah menguasai empat ilmu, yaitu: Ilmu farq wal jam’i (ilmu mengenal perbedaan dan cara mengumpulkanya), ilmu kitabah ilahiyyah (ilmu tentang ketetapan ilahiyyah), ilmu nur (ilmu yang berasal dari cahayanya Allah) dan ilmu ladunni (ilmu yang Allah ajarkan langsung, biasanya melalui ilham). Maka kami bisa katakan, bahwa alam semesta ini merupakan gambaran yang digambar oleh Allah Sang Pemilik Kemampuan dalam kanvas makhluk yang bisa dibaca oleh seorang yang ‘Arifbillah, maka orang yang belum ‘Arifbillah, ia pun tidak melakukan perbuatan yang dilakukan oleh Nabi Khidir As. (Lihat, Syathahat as-Sukairijiyyah.)
Maka betapa perlunya seorang mukmin menyempurnakan penyerahan dirinya pada orang yang telah diizinkan baginya mengambil pelajaran (ilahiyyah). Hal itu bertujuan untuk menyempurnakan keimanannya tentang perkara yang ghaib dan dirinya tidak diharamkan mengambil faedah ketika dia benar-benar berserah diri. (Ibid)
Pengetahuan terhadap ilmu qadim tidaklah terdapat pada makhluk dan pengetahuan berkaitan dengan ilmu yang baru, maka itu berlaku bagi Sayyidil Wujud Saw. Maka tidak ada selain beliau Saw yang menguasai itu, sebagaimana yang beliau kuasai dari ilmunya generasi awal dan generasi akhir, maka dengan itulah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَـقُّ ۚ وَلَا تَعْجَلْ بِا لْقُرْاٰ نِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّقْضٰۤى اِلَيْكَ وَحْيُهٗ ۖ وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
fa ta’aalallohul-malikul-haqq, wa laa ta’jal bil-qur-aani ming qobli ay yuqdhooo ilaika wahyuhuu wa qur robbi zidnii ‘ilmaa
“Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Dan janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur’an sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.””
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 114)
