
Elsubha.com – Nafa`is dan Asrar : Tentang Fotografi
Aku pernah bertanya kepada beliau tentang fotografi beliau pun menyenandungkan perkataan Syaikh Al Azhari berikut ini:
وَتِثْمَالُ ذِي ظِلٍّ إِذَا دَامَ حَرَمُوْا # وَمَا لَمْ يَدُمْ أَيْضًا وَأَصْبِغْ خَالِفًا
وَمَا لَيْسَ ذَا ظِلَّ وَصَاحِبِ مِهْنَةٍ # فَتَرْك لَهُ أَوْلَى وَقَيْتَ الْمُخَالِفًا
وَإِنْ يَعْرُ عَنْهَا فَهُوَ يَكْرَهُ ثُمَّ ذَا # بِغَيْرِ تَمَاثِيْلَ الْجَمَادَاتُ فَاعْرِفًا
فَأَمَّا تَمَاثِيْلُ الْجَمَادِ فَجَائِزٌ # كَنَاقِصِ عَضْرٍ مَنْ سِوَاهُ بِلَا خَفَا
“Patung yang memiliki bayangan ketika itu statusnya permanen, maka ulama telah mengharamkannya # begitu juga yang tidak permanen, telitilah perlahan engkau akan tahu bedanya
Patung yang tidak memiliki bayangan, begitu juga orang yang memiliki profesi tersebut, tinggalkan perkara itu untuknya itu lebih baik bagimu, Engkau telah menjaga dirimu berselisih dengannya
Dan andai patungnya telanjang, maka itu dimakruhkan kemudian itulah yang berlaku selain pada patung yaitu pada benda mati, maka ketahuilah itu.
Sedangkan patung dari benda mati, maka itu diperbolehkan, dengan syarat berkurangnya suatu anggota tubuh dan pada yang lainnya tidak ada keringanan.”
Sebagaimana tidak boleh pula menggantungkan-nya di rumah-rumah. (Lihat, al Mudzakkirät)
