You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pendahuluan : Awalnya Thariqah dan Akhirnya Berupa Pengamalan Al Qur`an dan As-Sunnah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pendahuluan : Awalnya Thariqah dan Akhirnya Berupa Pengamalan Al Qur`an dan As-Sunnah

Alhamdulillah, Ash-Shalâtu was-Salâmu ‘Alâ Rasulillah, Shafwatuhu min kholqihi, wa ‘Ala Alihi wa Man Wâlah.

Mari kita mulai ulasan kita ini dengan sebuah hadits Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tirmidzi, dimana beliau bersabda,

إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلَا دِرْهَمَا وَلَكِنَّهُم وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama merupakan pewaris para Nabi. Sungguh Nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah meraup banyak kebaikan.”

Tidak diragukan lagi, salah satu ilmu yang diwariskan oleh para Nabi Saw adalah tentang cara melepaskan diri dari belenggu kegelapan dan membersihkannya dari segala kotoran materi serta mengarahkannya untuk menyelami Alam Ruh dan Alam Malakut, sehingga dia tidak lagi terperdaya oleh materi dan yang lainnya.

Ilmu ini bahkan dapat menyingkap segala sesuatu yang sangat halus dengan kejernihan jiwa dan Nur Ilahi, hingga dengannya dia dapat melihat, mendengar, berdiam, bergerak, mengetahui, mengambil sesuatu, dan meninggalkan suatu pekerjaan. Dengan sucinya hati, kelak dia menjadi orang yang dicintai Allah Swt. Inilah bentuk kecintaan yang murni nan agung.

Ulama ruhani merupakan pewaris para Nabi.

Allahlah yang mengajarkan mereka segala penyakit dan obatnya. Mereka merupakan dokter kalbu dan dokter rusaknya ruh atau jiwa. Salah satu nikmat yang Allah Swt berikan kepada ummat Nabi Muhammad Saw adalah keberadaan para ulama ruhani ini di setiap zaman, hal tersebut sealur dengan hadits Nabi Saw:

لا تزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ حَتَّى تَقُوْمَ الساعة

“Masih saja segolongan dari umatku selalu berada atas Al Haqq (kebenaran) hingga Hari Kiamat dibangkitkan.”

Allah Swt telah menyuruh kita untuk melakukan tazkiyatun nafs dan mendidiknya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰٮهَا 
wa nafsiw wa maa sawwaahaa

“demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya,”
(QS. Asy-Syams 91: Ayat 7)

فَاَ لْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰٮهَا 
fa al-hamahaa fujuurohaa wa taqwaahaa

“maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,”
(QS. Asy-Syams 91: Ayat 8)

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰٮهَا 
qod aflaha mang zakkaahaa

“sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu),”
(QS. Asy-Syams 91: Ayat 9)

وَقَدْ خَا بَ مَنْ دَسّٰٮهَا 
wa qod khooba mang dassaahaa

“dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams 91: Ayat 10)

Nabi Saw menganjurkan kepada kita agar berkumpul dan bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan pengaruh baik dalam proses pensucian jiwa. Ada sebuah hadits shahih, yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim, yang mengkisahkan keberadaan orang yang ingin bertobat setelah dia membunuh seratus orang. Dimana dia meminta petunjuk kepada seorang ‘Alim, kemudian orang Alim itu memberinya saran; “Hendaknya engkau pergi ke suatu tempat, disana ada sekelompok orang yang menyembah Allah Swt, beribadahlah bersama mereka dan jangan engkau kembali lagi ke negeri asalmu, karena itu merupakan tempat kejahatan.” Maka dia pun bersigegas pergi ke tempat itu, namun sangat disayangkan pada pertengahan jalan dia meninggal dunia. Malaikat Rahmah dan malaikat Adzab berselisih prihal orang ini. Hingga di akhir kisah, dia tergolong orang-orang yang mendapat rahmat Allah Swt. (Kisah ini diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan oleh Al Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Imam Ahmad, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda,

إنَّمَا مَثَلُ الجَلَيْسِ الصَّالِحِ وَ الْجَلِيْسِ السُّوْءِ كَحَامِلِ المِسْكِ ونافخ الكيْرِ. فَحَامِلَ المِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَ إِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْه وَإِما أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحَةً طَيِّبَةً، وَنَافِخِ الْكَبِرِ إِمَّا أَنْ يَخْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحةً خَبِيثَةً

“Perumpamaan seorang sahabat yang baik dengan sahabat yang buruk, layaknya penjual minyak wangi dan pande besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak tersebut, atau engkau akan membeli darinya ataupun engkau bisa mencium semerbak bau harum darinya. Sedangkan pande besi, dia bisa menjadikan bajumu terbakar, atau engkau dapat mencium bau yang tidak sedap darinya.”

Shuhbah atau persahabatan itu memiliki beberapa tingkatan, yang paling tinggi adalah bertemunya ruh dengan ruh dan bercampur antara keduanya di alam qadasah wa shafa’, berkumpul karena Allah Swt dan saling mencintai di dalam ketaatan dan jalan-Nya.

Inilah ruh Sunan Al Muhammadi, yang merupakan jalan menuju Allah yang telah disepakati oleh para ‘Arifin. Jalan inilah yang mengumpulkan mereka, sekalipun jalannya berbeda-beda. Diantaranya; ada yang berjalan dengan cepat, ada pula yang berjalan dengan lambat, ada pula yang terpengaruh dengan kecantikan, ada juga yang terpengaruh dengan kekuasaan serta ada pula yang dipengaruhi oleh keduanya. Semua itu kelak akan kembali kepada satu asal, “Mencari Allah, dan berlari menggapai-Nya, dengan meninggalkan segala perkara selain-Nya serta dengan menyempurnakan pengabdian dalam ibadah dan menunaikan berbagai hak Rububiyyah Nya.”

Inilah gambaran global yang ada pada setiap thariqah atau jalan menuju Allah Swt, diantaranya thariqah At-Tijaniyyah ini. Apabila keluar dari manhaj ini, maka gugurlah penisbatan “Thariqah” tersebut batil.

Sudah seharusnya seseorang tidak tertipu dengan hawa dan membiarkan dirinya dalam gumulan maksiat. Jagalah diri, bergaullah dengan para Ash-Shadiqîn dan Ash-Shalihîn. Dimana tidak diragukan lagi bahwa merekalah orang yang paling utama untuk dijadikan sahabat; mereka adalah para ulama ruhani Ahlul Haq yang Allah Swt pilih dan Allah ajarkan kepada mereka ilmu ini.

Barangsiapa yang tidak yakin dengan wali Allah dan karomah yang Allah Swt berikan kepada mereka; berupa suatu pengetahuan atau tindakan di luar daya nalar akal manusia; baik dia masih hidup maupun sudah meninggal dunia. Hendaknya dia kembali merujuk kepada Al Qur’an dan As-Sunnah serta ketetapan ulama. Ada banyak hadits shahih yang membahas tentang hal ini.

Ulasan pada tulisan ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang Allah beri pemahaman dan memiliki keteguhan hati untuk dapat terbebas dari belenggu materi serta untuk membuka tabir penghalang hatinya. Oleh karenanya, hendaklah dia memilih satu dokter (ulama ruhani) dari sekian banyak dokter (ulama) yang ada.

Semua thariqah itu kelak sampai pada hadrah Nya Allah Swt, layaknya masjidil haram dengan pintunya yang banyak, siapapun yang masuk dari satu pintu, maka dia sudah berada di hadrah-Nya Allah Swt.

Aku telah melakukan persahabatan dengan mereka, betapa banyak orang jahat bisa berubah menjadi orang baik, betapa banyak mata yang gelap (memiliki pandangan suram akan masa depan [pesimis]) menjadi cerah nan bersinar (pandangan yang dipenuhi harapan akan masa depan), dan masih banyak hal lainnya, seperti yang banyak disaksikan; baik dari sahabat maupun musuh.

Seorang Ahlul Fath thariqah At-Tijaniyyah menyebutkan, bahwa masyrab (sumber kucuran ruhani) kita memiliki tingkatan paling tinggi dibanding yang lainnya, yang terangkum dalam setiap thariqah tarbiyah.

Orang-orang yang Arif menggembleng dirinya melalui thariqah Allah Swt; sebagian mereka ada yang menggembleng diri mereka dengan perkara zhahir (yang nampak dengan panca indera) dan bukan dengan perkara bathin. Sebagian lainnya ada yang mengembleng dirinya dengan cara ber-khalwat (menyendiri). Ada pula yang mengembleng dirinya melalui sisi sirr (rasa). Dan ada pula yang menggembleng dirinya dengan Dzikr Jahry (dzikir yang dibaca dengan suara keras).

Sebagian orang ada yang wushul kepada Allah dengan jalan bersholawat kepada Nabi Saw, ada pula yang menggapai peningkatan aspek ruhani dengan cara bertafakkur dan bertawajjuh. Ada pula yang melalui sarana dzikir dengan berbagai lafazh maupun nama Allah dan lain sebagainya.

Hal ini ditentukan atas izin Syaikh atau sirr ruhani, sehingga dengan hal itulah, dia menjadi lebih sempuma dalam mengamalkannya. Nah, disinilah berkumpulnya keistimewaan setiap tarekat, dimana semua thariqah akan menyendiri dengan kekhususannya masing-masing. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
zaalika fadhlullohi yu-tiihi may yasyaaa, wallohu zul-fadhlil-‘azhiim

“demikianlah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki; dan Allah memiliki karunia yang besar.”
(QS. Al-Jumu’ah 62: Ayat 4)

Murid dalam suatu thariqah, dapat dibagi menjadi dua kategori:

(a) Murid tabarruk; dia tidak terikat dengan syarat-syarat tarbiyah.

(b) Murid tarbiyah, yang diharuskan terkait pada segala syarat-syarat tertentu.

Para Syaikh thariqah sepakat, bahwa seorang murid hendaknya percaya kepada Syaikhnya bahwa beliaulah yang paling utama dibanding Syaikh thariqah yang lain, dimana thariqah beliau juga merupakan yang thariqah yang paling tinggi.

Ulasan kita ini akan difokuskan pada bahasan murid tarbiyah, dimana thariqah ini tidak diizinkan untuk diamalkan kecuali setelah memenuhi segala persyaratnya.

Sumber : BUKU QASDUSSABIL FI ATH-THARIQAH AT-TIJANIYAH, SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI