
Elsubha.com – Pendahuluan Kitab Al Qaul As-Sadid fi Shifat Al Murid, Syaikh Muhammad bin Muhammad Al Hajuji At-Tijany radhiyallahu ‘anhu
Segala puji bagi Allah yang mengaruniakan pakaian ma’rifat pada kalbu orang-orang pilihan dari hamba-Nya dan khususkan mereka dengan ragam kekhususan sisi ihsan, sehingga kalbu mereka pun siap menerima kucuran bantuan ruhani nan suci, mereka pun siap menerima ragam cahaya nan agung, sehingga mereka pun memandang dunia dan dirinya dengan pandangan hina, mereka pun berpikir akan perjalanan mereka di dunia sehingga mereka pun menolak dunia dan memilih untuk terus beribadah pada Allah yang Maha Kuasa. Oleh karena itu leher mereka senantiasa menghadap kepada Allah Swt, mata mereka fokus memandang ke alam yang luhur, sehingga ruh mereka berada di sekitar ‘Arasy, hati mereka pingsan dari ragam simpanan ketuhanan.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada penghulu dan tuan kami Muhammad Saw yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta, pembeda antara hidayah dan kesesatan, antara kesesatan dan petunjuk, antara ragu dan yakin. Juga bagi semua keluarga, para istri beliau, para sahabat dan tabi’in. Juga atas semua orang-orang shaleh dan semua yang mengikuti mereka hingga hari Kiamat. Amma ba’du.
Ketika posisi thariqahnya Ahlullah berdasarkan pada Al Qur’an dan As- Sunnah, dimana sesama rukunnya saling menguatkan, tidak ada kebatilan padanya dan tidak pula dari yang datang setelahnya, ia senantiasa terjaga oleh Allah Yang Maha bijaksana, Maha mengetahui, Maha lembut Lagi Maha memberi beragam nikmat.
Pengamal thariqah, Allah lebihkan dari hamba Allah yang lainnya setelah para nabi dan rasul. Allah jadikan mereka sebagai kelompok yang tinggi dan orang-orang pilihan dari golongan orang-orang yang dicintai Allah, mereka adalah penolong bagi makhluk Allah, merekalah yang menggiring manusia menuju Allah Swt dengan kemampuan dari-Nya. Allah Swt posisikan mereka untuk senantiasa menjalankan ragam hak ubudiyyah, dimana Allah pun tampakkan pada mereka ragam hukum Rububiyyah. Para murid senantiasa mengikuti jejak para guru, dengan itulah mereka memperoleh keagungan dan kedalaman rasa, kemudian ragam kondisi jiwa pun berubah hingga yang tersisa hanyalah bekasnya saja, bahkan thariqah pun berangsur menghilang hingga yang tersisa hanya ada diantara dua hekekat khabar saja.
أَمَّا الْخِيَامُ فَإِنَّهَا كَخِيَامِهِمْ # وَأَرَى نِسَاءَ الْحَيِ غَيْرَ نِسَائِهَا
“Sedangkan tenda itu, sungguh itu seperti tenda mereka # akupun lihat perempuan setempat yang bukan bagian perempuan mereka.”
Para guru pembesar thariqah pun telah pergi sementara para murid semakin terkenal, namun sifat wara’ telah lenyap, sikap tamak semakin menguat dan kehormatan syari’at pun telah hilang, perseteruan dalam thariqah pun semakin menjadi-jadi begitu pula kesombongan diri, hasud, benci dan perkara memalu-kan lainnya semakin muncul, para murid pun beribadah dengan bersembunyi, bahkan seringkali mengikuti syahwat mereka. Kemudian tidak cukup sampai disini saja; mereka pun mengaku bahwa dirinya memiliki tingkatan ahli hakekat dan ahwal yang tinggi, dengan demikian kondisinya malah berbalik, mushibah datang bertubi-tubi, Mereka pun kini berada di lembah keterputusan dari Allah lagi terpenjara. Inna lillahi wa inna ilaihi râji’ûn.
Karena latar belakang inilah penulis memberani-kan diri untuk menuliskan buku yang tipis ini namun memiliki muatan ilmu yang besar tantang ragam perkara yang seyogyanya ada pada diri seorang murid dalam suluk-nya ketika dia ingin bisa wushul kepada Allah Swt. Maka aku beri judul, “Al Qaul As-Sadid Fi Shifat Al Murid.”
Akupun memohon taufik dari Allah Swt, Dialah yang mampu memberi (apa saja) kepada siapa saja yang Dia kehendaki.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَّذَكِّرْ فَاِ نَّ الذِّكْرٰى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ
wa zakkir fa innaz-zikroo tangfa’ul-mu-miniin
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 55)
Diantara ragam perkara yang harus diperkuat oleh ikhwan Tijany adalah perkara yang berkaitandengan akidah dengan ragam rukunnya. Poros semua itu adalah Iman, Islam dan Ihsan.
Keimanan adalah bentuk keyakinan yang ada didalam batin, yang meyakini segala sesuatu yang datang dari Nabi Saw tentang ragam perkara yang wajib diketahui. Iman yang wajib diyakini oleh seorang mukallaf adalah yakin kepada Allah bahwa Dialah Dzat yang tunggal; yang tidak ada sekutu bagi-Nya; tidak ada Dzat yang semisal dengan-Nya; tidak ada yang menyerupai-Nya; yang menyendiri dengan sifat Qidam pada Dzat dan perbuatan-Nya; sifat yang wujudnya perbuatan adalah mencipta dan sifat yang menunjukkan Dzat-Nya adalah Dzatnya hidup; perbuatan, kehendak, pendengaran, penglihatan, firman-Nya; Dzat-Nya Maha mengetahui, Maha Mampu. Firmannya kekal, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. Apa yang Dia inginkan pasti terjadi. Dia menciptakan alam dengan kehendak-Nya. Dzatnya tersucikan dari batasan, pertentangan dan gambaran. Dia sesuai yang Dia kehendaki, Dia tidak butuh pada sesuatu, Dialah Yang Maha Bijaksana, Pemaaf dan Pengampun.
Keimanan terhadap para utusan Allah dan semua perkara yang datang dari mereka; mereka adalah hamba Allah yang paling utama.
Keimanan kepada para malaikat, bahwa mereka adalah para pemegang amanat wahyu ilahi dan semua kitab yang Allah turunkan dengan semua kebenaran didalamnya.
Keimanan kepada datangnya hari Akhir dengan semua persyaratan dan rentetannya. Awal mulanya adalah pada saat Allah Swt bangkitkan semua yang mati dan yang berada di alam barzakh.
Keimanan pada qadar Allah; yaitu bahwa semua yang telah ditetapkan akan terjadi sesuai dengan keinginan-Nya kala berfirman pada sesuatu, “Jadilah …maka perkara itupun terjadi.”
Sedangkan Islam adalah bentuk penyerahan diri terhadap ragam perkara yang datangnya dari Allah melalui lisan Rasulullah Saw; yang wujudnya mengucapkan dua kalimat syahadat bagi yang mampu melafalkannya. Lalu mendirikan shalat dengan memper hatikan ragam hukumnya, juga termasuk melalukan istibra setelah buang hajat, ber-thaharah dari hadats kecil dan besar yang ada pada tubuh, yang telah dijelaskan dalam As-Sunnah. Kemudian menunaikan zakat sesuai dengan syarat dan rukunnya, lalu berpuasa di bulan Ramadhan dengan semua persyaratannya, kemudian menunaikan ibadah haji bagi yang mampu melakukannya dengan memenuhi ragam persyaratan dan rukunnya.
Selaras dengan itu, ihsan adalah engkau menyembah Allah seolah engkau melihat-Nya dengan bentuk muraqabah yang maksimal, keikhlasan yang maksimal serta berpegang teguh dengan ketakwaan diri, sebab itulah semua sebab yang paling kuat menghantarkan seorang hamba untuk menyembah Allah dengan ihsan.
“Iman adalah awalnya, Islam adalah pertengahannya dan Ihsan adalah penyempurnanya.”
Maka agama yang tulus adalah keberagamaan yang menghimpun ketiga perkara ini. Maka selamatlah bagi orang yang keislamannya telah benar dan telah mendapat bagian yang melimpah darinya; dia mendirikan shalat, menunaikan zakat, dia berpuasa, menunaikan ibadah haji dan menziarahi Nabi Muhammad Saw.
Ragam sifat yang sudah sepatutnya menghiasi diri seorang murid thariqah Tijany adalah:
1. Ash-Shidq
2. Al Wara’
3. At-Taubah
4. At-Taqwa
5. Al Mujahadah
6. Al Khalwah wal ‘Uzlah
7. Az-Zuhd
8. Ash-Shumt
9. Al Khauf
10. Ar-Roja
11. Al Huzn
12. Al Ju’ wa Tark Asy-Syahwah
13. Al Khusyu’ wat- Tawadhu’
14. Mukhalafah An-Nafs
15. Husnul Khuluq
16. Al Ikhlas
17. Al Haya
18. Al Hurriyyah
19. Adz-Dzikr
20. Al Futuwwah
21. Al Farâsah
22. Al Jud was-Sakha’
23. Al Ghairah
24. Al Wilayah
25. Ad-Du’a
26. Al Faqr
27. Al Adab
28. Ash-Shuhbah
29. Al Ma’rifah
30. Al Mahabbah
31. Asy-Syauq
32. Husnul Istima’
33. Tidak memiliki pilihan bersama syaikh (Mengikuti setiap arahan Syaikh)
34. Tidak mengaku dirinya lebih tinggi diatas syaikh
35. Ketika kondisi jiwa syaikh dianggap bermasalah
36. At-ta’zhim wat-taslim
37. Menjaga waktu dan syari’at
38. Tidak mendekat kepada pemerintah
39. Meyakini syaikh tidak memiliki ‘Ishmah
40. Menjaga ragam adab syari’at
Motto
مَنْ ضَيْعَ الْأُصُولَ حُرِّمَ الْوُصُولَ
Siapa yang menyia-nyiakan ragam pondasi (suluk), dia diharamkab untuk bisa wushul (ke hadhrah Allah)
(Al Imam Al Qusyairi)
