You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pendahuluan Kitab Nahjul Hamid fima yajibu ‘alal muqaddami wal muriid

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pendahuluan Kitab Nahjul Hamid fima yajibu ‘alal muqaddami wal muriid

Motto:

اِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْـكَهْفِ فَقَا لُوْا رَبَّنَاۤ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَـنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا
iz awal-fityatu ilal-kahfi fa qooluu robbanaaa aatinaa mil ladungka rohmataw wa hayyi lanaa min amrinaa rosyadaa

“(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan Kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 10)

Yang berkata ini adalah seorang hamba Allah yang paling fakir, yang paling lemah tingkatan ketakwaannya lagi hanya memiliki sedikit amalan, bahkan yang paling banyak kesalahan dan kebodohan; Ibrahim bin Shaleh bin Yunus Al Husaini- Semoga Allah menjaga dan memperlakukannya dengan lemah lembut di dunia dan akhirat.

Aku telah menerima beberapa surat dari pada ikhwan yang memintaku untuk menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan, namun dengan syarat agar jawaban yang diberikan adalah jawaban yang cukup; ulasannya tidak panjang dan tidak terlalu sedikit. Akupun berupaya menjawab ragam pertanyaan tersebut setelah sebelumnya sempat ragu lantaran aku sadar bahwa aku bukan pakar dalam bidang ini terlebih dari itu akupun rasa tidak cocok orang sepertiku ini memberikan fatwa di zaman sedikitnya ulama berkompeten. Adapun ragam pertanyaan yang diajukan adalah:

Pertama : Nasehat yang cocok untuk Muqaddam At-Tijany

Kedua : Adab murid kepada muqaddam

Ketiga : Adab sesama ikhwan thariqah

Keempat : Ragam persyaratan wiridan dalam thariqah At-Tijaniyyah

Kelima : Seputar ikhwan yang bertayammum untuk membaca wiridan lazimah atau wazhifah?

Keenam : Seputar ikhwan yang bepergian; bolehkah dia tidak membaca wiridan?

Ketujuh : Seputar ikhwan/akhwat yang sedang sakit; apakah dia masih harus membaca wiridan? Lantas amaliyah apa yang bisa dilakukan bagi wanita yang sedang haid?

Kedelapan : Seputar kondisi ikhwan sedang membaca wiridan lazimah kemudian iqamah shalat berjama’ah berkumandang?

Kesembilan : Apakah ikhwan yang masbuq membaca wazhifah harus memulainya dari awal atau langsung saja mengikuti pola bacaan wazhifah yang sedang dilakukan

Kesepuluh : Seputar ikhwan yang membaca dzikir hailalah sendirian dan bagaimana dengan orang yang lupa membaca dzikir hailalah hingga sampai waktu matahari tenggelam?.

Ragam pertanyaan diatas ini diajukan oleh Al Qûni Muhammad Saifa -Semoga Allah senantiasa berikan dia taufik untuk terus melakukan perbuatan baik.

Sumber : BUKU NAHJUL HAMID RAGAM KEWAJIBAN BAGI MUQADDAM DAN MURID (NAHJUL HAMID FIMA YAJIBU ‘ALAL MUQADDAMI WAL MURIID) SYAIKH IBRAHIM AL HUSAINI AT-TIJANY