You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Penegasan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra Sebagai Wali Khatam Pada Abad Ke-12

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Penegasan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra Sebagai Wali Khatam Pada Abad Ke -12

Perlu diketahui bahwa sejak awal hingga akhir abad ke-12, di seantero Maroko tidak ada wali Allah yang mengaku, bahwa dirinya telah mencapai maqam khatmiyyah, tidak pula ada yang menisbatkan maqam ini kepada seseorang yang dianggap memilikinya seperti halnya Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby yang secara gamblang mengkhususkan maqam khatmiyyah ini bagi dirinya.

Jika kalian katakan, bahwa Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby belum mengabarkan kepada khalifah-nya terkait terbebasnya diri beliau dari pengakuan wali khatam tersebut, maka begitu juga Ibnu al Musyri, beliau tidak mensifati khatmiyyah pada diri Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra seperti pada ulasan sebelumnya. Namun jika kalian katakan, bahwa Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby telah sampai pada maqam khatmiyyah di abad ke-13, sementara keduanya meninggal dunia pada abad ke-13.

Maka kami katakan: Ini hanyalah alasan terkait keduanya tidak disifati sebagai wali khatam, juga sebagai hasil takwil pengarang Al Jami’ tentang maqam khatmiyyah. Terkait dengan kebenaran bahwa mereka adalah wali khatam, maka kemunculan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pada tahun 1115 H, yang tergolong abad ke-12, ini jika dilihat dari sampainya Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pada maqam khatmiyyah pada abad ini atau abad setelahnya, sebab keberadaan wali khatam ada sekitar abad ke-12 ini.

Jika dikatakan seperti yang dikatakan oleh al Arifbillah al Kattani yang mengaku dirinya sebagai wali khatam pada abad ke-12, maka kami (penulis) jawab: Beliau tidak mengatakan itu secara jelas seperti jelasnya pengakuan Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby. Dengan demikian, maka tidak diragukan lagi bahwa maqam khatmiyyah yang sedang kita bahas ini adalah untuk selain beliau. Kitapun tahu bahwa Syaikh al Kattani telah meninggal dunia beberapa tahun sebelum meninggalnya Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, dimana sepeninggal Syaikh al Kattani tidak ada yang memperbincangkan sisi kewalian khatam beliau, maka apa yang beliau akui itu adalah maqam khatmiyyah untuk selain beliau, meski beliau ungkapkan itu secara kiasan pada dirinya, sungguh ungkapan dengan kiasan itu lebih mengena dibandingkan ungkapan secara nyata yang mengindikasikan dirinya tidak pada maqam tersebut.

Sementara Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra jelas mengaku memiliki maqam khatam itu untuk diri beliau sendiri tanpa adanya keraguan. Hal ini ditunjukkan ketika beliau (Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra) ditanya mengenai maqam dan juga apa yang Allah khususkan bagi beliau; beliau Ra menjawab, “Maqam ini belum pernah diberikan kepada salah seorangpun selain para sahabat Nabi Saw.”

Al Musyri menyebutkan dalam Al Jâmi’, bahwa ada seseorang yang hadir dalam majelis Sayyidi Syaikh Ra ketika beliau mengatakan hal tersebut, “Ini jelas sebuah kefanatikan!,” Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menimpali, “Ini jelas bukan fanatik, tetapi sungguh ini merupakan keutamaan yang sesuai dengan kehendak Allah Swt, Allah mengkhususkan rahmat-Nya bagi siapa saja yang Dia kehendaki, dimana tidak ada seorangpun yang bisa menentang hukum Allah Swt.

Sayyidi al Musyri pun menyebutkan dalam Al Jâmi Aku katakan: Dikatakan kepada orang tersebut, bahwa secara mutlak Sayyidil wujud Saw adalah makhuk yang paling utama dan tidak ada orang yang mengatakan bahwa itu adalah sebuah kefanatikan dan tidak pula mengurangi sisi kemampuan Allah Swt seperti yang dianggap oleh orang-orang yang sesat. Keutamaan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra itupun merupakan pemberian Allah dari lautan hakekat al Muhammady sesuai dengan yang Allah Swt kehendaki.

Khalifah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra di Tunis; Abu Ishaq, Sayyidi Ibrahim at-Tunisi menggubah sya’ir yang mensifati sosok Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, berikut sya’irnya:

خَاتِمٌ خَصَّهُ الإِلهُ بِفَضْلٍ # وَعَطَايَا مِنَ الْمَزَايَا عِظَامُ

دُوْنَهَا تَنْتَهِي النُّهَى لِعِلْمٍ # وَارْتِقَاءِ عَنْ مُدْرَكَ الإِفْهَامِ

هَكَذَا أَنْبَأَ النَّبِيُّ فَصَدَّقَ # أُوتِيْهِ الرَّشْفَةَ مِنْ سِهَامِ

إِنْ تَقُلْ كَيْفَ ذَاكَ وَهُوَ أَخِيْرُ # أَيَفُوْقُ الْمَأْمُوْمُ قَدْرَ إِمَامٍ

قُلْتُ: فَاقَ النَّبِيُّ وَهُوَ أَخِيْرُ # كُلُّ ذِي رَتْبَةٍ سَمَتْ فِي الْأَنَامِ

لَيْسَ لِلْقُدْرَةِ الْقَدِيمَةِ عَجْرٌ # وَكَذَا الْفَضْلُ لَمْ يَزَلْ فِي انْسِجَامِ

جُلَّ نَعْتَ النَّبِيِّ فَهُوَ مُحَالُ # وَالسَّوَى جَائِزٌ بِغَيْرِ مَلَامٍ

“Allah telah mengkhususkan wali khatam (penutup) dengan keutamaan # dan ragam pemberian yang agung Maqamnya tidak bisa digapai dengan nalar cendekiawan dan tidak pula bisa dipahami

Seperti inilah Nabi mengabarkan dan kabar beliau benar adanya # maqam ini diberikan layaknya bidikan anak panah yang tajam

Engkau mengatakan bagaimana itu bisa terjadi sementara beliau datangnya belakangan, # ‘Bisakan seorang ma’mum mendahului kadarnya imam?’

Aku katakan, Nabi pun unggul pada setiap tingkatan manusia dan meski datang belakangan #

Sisi kemampuan Allah yang lampau itu tidak tersisipi kelemahan # begitu juga keutamaan yang senantiasa terajut

Melepaskan tanda nabi adalah sebuah kemustahilan, # sedangkan selain itu diperbolehkan tanpa adanya celaan.

Dalam bait sya’ir ini, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra disifati dengan maqam khatmiyyah sesuai dengan perkara yang ada pada diri beliau. Penulis sya’ir tersebut adalah sahabat sekaligus sosok yang mengambil thariqah dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, sosok yang benar-benar mengenal dan juga tenggelam dalam kecintaan pada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra semasa hidup beliau Ra; tak diragukan lagi beliau adalah al ‘Allamah Sayyidi al Hajj ath-Thâlib al Libâr yang dalam sya’ir “Dal beliau memuji Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dalam 40 bait sya’irnya:

يَا مَنْ أَرَاهُ مُسَائِلًا عَنْ كُنْهِهِ # صِدْقٌ بِمَا تَعْطَاهُ لَا تَسْتَبْعِدْ

قَدْ كُنْتُ قَبْلَكَ ذَا أُنَاسٍ فِي الْوَرَى # لَمَّا تَأَخَّرَ مَوْجُوْدٌ عَنْ مُنْجِدِ

حَتَّى رَأَيْتُ جَمَالَهُ فَتَشَنَّفَتْ # أُذُنِي بِسَمْعِهِ وَالْحِجَا بِتَفَقَّدْ

فَشَكَرْتُ تَأْخِيْرَ الْوُجُودِ لِأَجْلِهِ # أَجْمَلَ بِهِ سَعْدٌ أَنَاخَ بِأَسْعَدَ

وَتَوَسَّمْتُ مَعْنَى عَسَى أَنْ تَكْرَهُوا # نَفْسِي وَشُمْتُ مَنَائِحًا لَمْ تَفْقَدْ

وَالْبِرُّ فِي إِفْضَالِهِ ذُوْ رَأْفَةٍ # يَخْتَارُ فِي الْأَحْكَامِ لَمْ يَتَرَدَّدْ

“Wahai sosok yang perangainya dipertanyakan # kebenaran perkara yang diberikan padanya pun tidak lagi dielakkan

Sebelumnya aku telah banyak melihat sosok diantara manusia # wijdanku pun tidak telat dari sosok penolong Hingga aku melihat ketampanannya, telingaku nyaman mendengar (suaranya) dan pikiranku senantiasa mencarinya

Aku bersyukur hidup belakangan untuknya # dengannya hidupku menjadi paling indah nan bahagia serta betah Aku menghiasi diriku dengan makna ‘bisa jadi aku membenci diriku sendiri’, # tapi engkau meninggalkan jejak yang tidak bisa dilacak

Kebaikannya diselimuti kemurahan hati # dia memilihkan hukum tanpa ragu.

Hingga sya’ir:

قُلْ لِلَّذِينَ تَصَدَّرُوا لِمَقَامِهِ # وَتَوَلَّوْا بِمَنَالِهِ الْمُسْتَبْعَدِ

أَيْدِي الْعِنَايَةِ قَدْ قَضَتْ فِي غَيْبِهَا # تَخْوِيْلَهُ ذَلِكَ الْمَقَامِ الأَحْمَدِي

مُسْتَوْجِبًا إِدْرَاكُهُ بِتَفَضَّل # مَحْضٍ فَانِي الْإِهْتِدَا لِلْحَسَدِ

أَيُقَالُ لِلْبُرِّ الْحَكِيمِ عَلَامَ ذَا # تُحِبُّوا الْجَزِيلَ وَتَحْتَبِي مَنْ يَهْتَدِي

فَالْفَضْلُ لَيْسَ مُحَجَّرًا طُوْفَانِهِ # وَالْبِرُّ وَكَقُّهُ بِمَ يَسُمُّ بِتَعَدُّدِ

إِنْ قُلْتَ لَا إِلَّا فَذَلِكَ وَصْفُ ذِي # بُخْلٍ وَإِلَّا فَالنَّدَى لَمْ يُحَدِّدْ

لَا تَحْسَبَنَّ مَنَالَهُ مِنْ كَسْبِهِ # بَلْ مِنْحَةٌ سَبَقَتْ لَهُ بِتَوَدُّدِ

“Katakan pada orang yang menentang maqam beliau # nan meratapi apa yang didapatkan beliau yang jauh untuk bisa digapai

Sisi perhatian Allah telah melimpah dari sisi keghaiban # yang menganugerahkan beliau maqam Ahmadi itu

Perhatian tersebut mewajibkan datangnya pengetahuan murni dari sisi keutamaan # sosoknya tenggelam dalam sisi fana hidayah yang memancing orang untuk hasud

Apakah dikatakan pada orang baik lagi bijaksana, ‘atas dasar apa engkau suka sesuatu yang banyak dan melampaui orang yang diberi petunjuk?’

Keutamaan (Allah) tidak terbatas pada sekelilingnya # dimana kebaikan dan tangan untuk menghitung (keutamaan itu) tidak mengenal bilangan

Andai engkau katakan ‘tidak,’ berarti Dia disifati dengan Dzat yang bakhil, jika tidak, maka panggilan itu tidak terbatas

Jangan engkau kira apa yang telah diterima itu dari hasil usahanya # tetapi itu merupakan pemberian yang telah ditetapkan sebelumnya dengan perantara cinta.”

Sebelum ini beliau sempat menggubah sya’ir yang memuji Alu bait dan para wali Allah, beliau menyenandungkan:

مَنَحَ الإِلهُ بِقَدْبِهِمْ عِبَادَهُ # فَهُمُ الْعِبَادُ وَمَنْ يَلِي تَعَبُّدٌ

وَتَوَارَثُوا الْأَزْمَانَ اِرْثَ مُوْثِرٍ # مَنَحَ الْمَزِيدَ سَيِّدًا عَنْ سَيِّدٍ

وَلِرَبِّنَا الْحَطِيمُ فِي اسْتِخْلَافِهِمْ # بِإِرَادَةِ إِيْقَاعِهَا لَمْ يَلْحَدْ

وَرَاءَ الْوَرَى فِي طُوَرِهِمْ نَارَ الْهُدَى # فَاسْتَقْبَسُوْا مِنْهَا وَلَمَّا تَحْمَدُ

دَامَتْ فَمَا أَقَلَّتْ شُمُوسُ كَمَالِهِمْ # فَسَنَاؤُهَا هَادِ لِكُلِّ مَقْصَدِ

وَرِثُوا الْخِلَافَةَ وَالتَّقَى مِنْ ذَاتِهِ # مَعْنَى وِرَاثَةُ مَاجِدٌ عَنْ أَمْجَدَ

وَتَسَلْسَلُوْا فِي طِيْبٍ وَمُطَهِّرٍ # قَدْ تَسَلْسَلَ مُوْقِدٌ عَنْ مُوْقِدِ

قِدَمًا عَلَى أَثَارِ إِرْسَالٍ مَضَتْ # فِي الْقَوْمِ جَلَّتْ فِي الْعُلَا وَالسُّوْدَدِ

فَتَفَاوَتُوْا وَالْخَتْمُ فِيْهِ حَقَائِقَ # أَحَدِيَّةٍ فِي الصَّوْتِ ذَاتَ تَوَحُدِ

بَابُ النُّبُوَّةِ وَالرِّسَالَةِ مُغْلَقٌ # وَخِتَامُهُ بِيَدِ الْمَقَامِ الْأَحْمَدِي

وَإِلَى الْوِلَايَةِ مُنْتَهَى خُتِمَتْ بِهِ # تَبَعًا لِيَكْمُلَ وَصْفَهُ الْيَدُ بِالْيَدِ

سَمِعَتْ مَفَاخِرَهَا الْأَكَابِرُ سَابِقًا # فَتَنَافَسُوْا شَغَفًا بِهَا فِي مَرْصَدِ

وَاسْتَيْقُوْا بِوُجُوْدِهَا فِي حَيِّهِمْ # خَتْمًا فَمَا أَيْسُوْا وَكُلُّ يَحْتَدِى

وَسَعَوْا لَهَا بِتَحَمُّلٍ وَتَحَبُّلٍ # وَتَفَرَّقُوْا بِتَزَهُدٍ وَتَعَبُّدٍ

حَتَّى إِذَا أَنْبَأَهُمْ مِنْهَا النِّدَا # إِنِّي حَجَبْتُ عَلَى الْمُحَالِ لَوْ هُدِمَ

رُتَبِي سَمَتْ مِنْ ذَاتِهَا هِبَةً وَفِي # طَيِّ الْكَمَالِ وَفَاؤُهَا لَمْ يَنْفَدْ

زَمَنِي الْأَخِيْرِ وَإِنْ تَقَدَّمَ مَنْهَلِي # وَتَعَلَّلَ لِذَوِي الْبَقَاءِ السَّرْمَدِي

فَفُيُوْضِكُمْ مِنِّى وَأَنْتُمْ عِتْرَتِي # وَمَقَامِكُمْ فِي بَرْزَنِي الْمُتَشَّهِد

عَرَفُوْا هُنَا مَعْنَى الْكَمَالِ مُؤَخَّرًا # عَنْ عَصْرِهِمْ وَاسْتَسْلِمُوْا لِلْمُرْشِدِ

وَبَدَا التَّرْبِيَةَ الْوَرَى فِي عَصْرِهِ # الْمَمْنُوْحُ مِنْهُ شَفَاعَةً لَمَّ تَرَدَّدَ

خُتِمَتْ وِلَايَتُهُمْ بِهِ جَاحِدًا # لِكَمَالِهِ مِنْهُمْ وَلَا مِنْ مُلْحِدِ

“Dengan hidayahnya, Allah memberikan anugerah kepada hamba-Nya # merekalah para hamba Allah dan orang setelahnya yang turut menyembah-Nya

Zamanpun berganti dan saling mewarisi, ditambah # anugerah seorang sayyid dari sayyid lainnya

Lantaran Allah Al Hakim lah yang memilih mereka # dengan kehendak menjatuhkan itu pada mereka dan tidak bisa dielakkan

Sosoknya bagaikan api hidayah diantara manusia, # sehingga mereka pun mengambil dari api hidayah itu dan apinya tidak pernah padam

la terus menyala, matahari kesempurnaan mereka # tidak pernah terbenam, dimana sinarnya adalah petunjuk pada setiap maksud

Mereka mewarisi kekhilafahan dan juga ketakwaan diri dari Dzat-Nya # secara maknawi berupa pewarisan sosok yang beruntung dari yang paling beruntung

Mereka saling terkait dalam kebaikan dan kesucian # sejak lama; yaitu terkaitnya suatu perapian dari perapian lainnya

Mengikuti bekas pengutusan yang telah lampau # pada suatu kaum, yang nampak dalam keluhuran dan ketinggian

Sehingga merekapun saling berbeda, dan wali penutup memiliki hakekat # Ahadiyyah dalam perlindungan yang memiliki sisi kesatuan

Pintu kenabian dan risalah telah ditutup # sisi penutupnya ada di tangan maqam al Ahmady

Sisi kewalian itu berakhir dengan ditutup olehnya # ini bertujuan untuk menyempurnakan sifatnya

Para pembesar wali telah mendengar kebanggaan itu sejak lama, # sehingga mereka pun saling berlomba untuk menggapainya dari sisi teropong

Mereka yakin keberadaan sosoknya di desa mereka # yaitu sang wali khatam, mereka tidak pernah berputus-asa dan seluruhnya itu saling mengikuti (turut mengakui)

Mereka saling berusaha dengan cara menanggung dan juga mengkaitkan diri # merekapun terus mendekat dengan menzuhudkan diri dan beribadah

Sampai ketika mereka diberitakan dengan panggilan # ‘aku telah terhijab dari upayaku meski aku diberikan hidayah’

Martabatku luhur dari asalnya sebagai sebuah pemberian dan dalam #kitaran kesempurnaan yang penempatan martabatnya tidak pernah habis

Zamanku yang terakhir meski telagaku telah ada terlebih dahulu # dan itu menjadi alasan untuk yang memiliki kebaqa’an yang kekal

Maka pancaran ilahiyyah kalian itu dariku dan kalian adalah keturunanku # maqam kalian ada di barzakh yang dapat disaksikan

Disini kalian telah tahu makna kesempurnaan yang datang di akhir # zaman mereka, dimana mereka semua berserah diri pada sosok yang telah ditunjuk

Nampaklah tarbiyah bagi manusia pada zamannya # yang merupakan anugerah dari beliau sebagai syafa’at yang tidak lagi diragukan

Kewalian mereka ditutup, tidak ada yang bisa memungkirinya # lantaran kesempurnaan beliau diantara mereka, sehingga tidak ada lagi yang menyangsikannya.”

Dalam Mawahib al Mannân Li A’yanish-Shûfiyyah Wa al Ikhwan karya Sayyidi Muhammad bin Al Musyri Ra disebutkan dengan redaksi: Aku mendengar Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkata: Sayyidil wujud, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Tidak ada maqam diatasmu kecuali maqam-ku.’

(ا م ز ش م و ا ص 11 ).”

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra memberikan perumpamaan maqam yang diatasnya tidak ada maqam dengan,

(ا م ص ت)

Seraya berkata: Seperti matahari yang berhadapan dengan benda yang mengkilat lagi mengkristal, lalu benda ini berhadapan dengan benda lainnya, kemudian benda yang kedua inipun berhadapan dengan benda yang ketiga, benda yang ketiga ini berhadapan dengan benda yang keempat, dimana benda yang keempat ini juga berhadapan dengan benda yang kelima, dengan demikian tidak diragukan lagi, bahwa cahaya matahari tersebut pun tembus pada semua benda itu, hanya saja cahaya yang sampai pada benda pertama tentu sangat terang, kemudian pada benda kedua sisi terang cahaya itu berkurang, pada benda ketiga terangnya cahaya mataharipun semakin berkurang, pada benda keempat cahayanya pun semakin berkurang dari sebelumnya dan pada benda kelima cahaya mataharipun menjadi redup. Akan tetapi semua cahaya matahari itu sampai pada semua benda.

Maqam pertama adalah maqam yang berada di bawah maqam sayyidil wujud Saw, itu adalah maqam-nya nabi Ibrahim As yang diperumpamakan dengan matahari, dua maqamat berikutnya adalah untuk maqam-nya para utusan Allah Swt dua maqamat lainnya adalah untuk maqam para nabi Allah Swt. Sedangkan maqam yang kelima adalah maqam tertinggi bagi para wali Allah Swt, itu adalah maqam para khalifah yang empat dan orang yang Allah anugerahkan kepada mereka dari kalangan pembesar wali Quthub, semisal Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby al Hatimi, Syaikh Abdul Qadir al Jilani dan Syaikh kita (Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra), hanya saja Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra paling tinggi dari kedua syaikh lainnya dalam maqam tersebut seperti yang sedang kita bicarakan. Semoga Allah meridhai Syaikh kita dan semua para wali Allah.-

Apa yang dirumuskan dengan ragam huruf tersebut menyatakan bahwa maqam Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra merupakan maqam tertinggi dari maqamat yang ada kecuali maqam para nabi dan juga maqam para utusan Allah Swt; seorangpun tidak bisa iri dengan maqam tersebut.

Sementara maqam selain para utusan Allah dan juga nabi, maka berdasarkan madzhab yang benar terkait dengan keyakinan kepada para sahabat nabi Saw, bahwa sungguh maqam mereka adalah maqam tertinggi dari semua wali yang ada dengan martabat yang berbeda-beda; baik martabat umum maupun martabat khusus, dimana martabat mereka yang paling rendah pun tidak sama dengan martabat lainnya, meski martabat kewalian lainnya lebih tinggi, ini adalah madzhab-nya Ahlussunnah.

Sebagian ulama memandang pengutamaan para sahabat Nabi Saw dari sisi lain, sehingga mereka menyamakan martabat para sahabat nabi Saw dengan martabat orang khusus yang telah melihat nabi Saw atau orang yang Allah khususkan dengan tingkat ketakwaan diri yang paling tinggi atau semisalnya dari pemilik martabat ini, sebab martabatnya sama dengan martabat sebagian sahabat nabi Saw lantaran martabat dan kekhususan yang ia miliki.

Al ‘Allamah Ibnu al Musyri menjabarkan dalam Al Jâmi; Para ulama berbeda pendapat terkait dengan pengutamaan martabat terendah sahabat nabi dengan seorang wali quthub: Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah mengatakan: Yang benar adalah, bahwa para sahabat nabi Saw itu lebih utama daripada seorang wali quthub lantaran adanya nash yang jelas mengenai ini; yaitu sabda Nabi Saw,

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى أَصْحَابِي عَلَى سَائِرِ الْعَالَمِينَ، مَا عَدَا النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ

“Sungguh Allah mengutamakan para sahabatku diatas seluruh (semua yang ada) alam ini, selain para nabi dan utusan-utusan Allah.”

Sementara yang lain berdalil dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَآئِلَ لِتَعَا رَفُوْا ۗ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ تْقٰٮكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
yaaa ayyuhan-naasu innaa kholaqnaakum ming zakariw wa ungsaa wa ja’alnaakum syu’uubaw wa qobaaa-ila lita’aarofuu, inna akromakum ‘ingdallohi atqookum, innalloha ‘aliimun khobiir

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 13)

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra memberikan komentar terhadap ayat ini, bahwa ketakwaan seorang wali quthub tak lagi diragukan, begitupula amalannya, ini adalah nash yang jelas, akan tetapi keutamaan yang terkait dengan nash ini tidak bisa diukur dengan amalan atau yang lainnya jika belum nampak illat-nya (sisi kewalian) terlebih ciri kewalian yang nampak yaitu dapat berjumpa dengan Nabi Muhammad Saw.

Syaikh al Musyri kembali memberikan komentar dalam Al Jâmi’ setelah ulasan ini: Inilah ragam perkara yang seyogyanya diketahui lantaran adanya salah paham pada orang awam ketika mereka melihat ragam karamah wali quthub dan tingginya maqam mereka.

Nash yang menunjukkan keutamaan para sahabat nabi Saw juga ditunjukkan dalam Yawâqit al Ma’âni fi Madzhab al Quthub at-Tijany Ra:

وَعِنْدَهُ مَرْتَبَةُ الصَّحَابَةِ # أَفْضَلَ مِنْ مَرْتَبَةِ الْقُطَابَةِ

لِأَنَّهَا وُرِدَ فِيْهَا النَّصُّ # وَصَاحِبُ النَّصِّ لَدَيْهِمْ لص

وَهَلْ يُسَاوِي الْإِجْتِمَاعَ بِالنَّبِيِّ # شَيْءٌ مِنَ الْأَشْيَاءِ طُوْلَ الجَفَى

وَهَكَذَا أَحْوَالُ أَهْلِ الْمَرْتَبَةِ # فِي سَائِرِ الْأَعْمَالِ أَعْلَى مَرْتَبَةٍ

فَسَيْرِهِمْ كَسَيْرِ طَيْرِ الْحَجَلَةِ # وَسَيْرِ غَيْرِهِمْ كَسَيْرِ النَّمْلَةِ

وَفَضْلِ كُلِّ عَمَلٍ بِحَسَبِ # مَرْتَبَةِ الْعَامِلِ لَا بِالتَّعْبِ

لِذَاكَ كَانَ فَضْلُهُمْ لَا مَطْمَعًا # فِيْهِ يُرَى لِغَيْرِهِمْ لِمَنْ وَعَى

Beliau memiliki martabat sahabat nabi Saw # yang lebih utama daripada martabat Quthbaniyyah

Sebab terkait martabat sahabat nabi Saw, terdapat nash terkait mereka, # dimana pemilik nash mengatakan itu secara diam-diam

Apakah berjumpa dengan Nabi disamakan # dengan sesuatu yang penantiannya membuat sia-sia

Inilah perumpamaan martabat beliau # dalam semua amalan, mereka paling tinggi martabatnya.

Jalan mereka seperti jalannya burung puyuh # dan jalannya yang lain seperti semut

Keutamaan setiap amalan bergantung pada # martabat orang yang mengamalkannya, bukan bergantung pada letih yang dirasa

Oleh karena itu, kautamaan mereka (para sahabat Nabi Saw) tidak bisa diirikan, meski orang yang memperhatikannya melihat itu pada orang lain.”

Sumber : BUKU KUPAS TUNTAS MAQAM KHATMIYYAH & KHATMIYYAH SAYYIDI SYAIKH AHMAD AT-TIJANI RA (NAHJ AL HIDAYAH FI KHATM AL WILAYAH) SYAIKH AL ‘ALLAMAH SAYYIDI AHMAD SUKAIRIJ AT-TIJANY