
Elsubha.com – Penutup Kitab Az-Zuhrul Fâ`ih fi Fadhli Shalâtil Fâtih : Faedah Ketiga
Syaikh kami sang muhaqqiq dalam Hillul Aqfal Li Qurra’i Jauharatul Kamal juga menyebutkan: Boleh menghadiahkan pahala bacaan shalawat nabi kepada beliau Saw sebagai bentuk cinta, pengagungan dan berpegang pada sisi jubah beliau Saw. Orang yang bershalawat pun mendapatkan manfaat dari kekonsistenannya bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Hal itu ditunjukkan oleh hadits Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan yang lainnya; dari riwayat Ubay bin Ka’ab,
فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلاةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْهَا ؟ قَالَ : مَا شِئْتَ قَالَ : الرُّبُعُ ؟ قَالَ : مَا شِئْتَ، وَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ، قَالَ : النِّصْفُ ؟، قَالَ: مَا شِئْتَ وَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ، قَالَ : الثُّلُثَيْنِ ؟، قَالَ: مَا شِئْتَ وَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَجْعَلُهَا كُلَّهَا لَكَ ؟، قَالَ : إِذَا تُكْفَى هَمَّكَ ، وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ.
Aku berkata: Wahai Rasulullah Saw, Aku termasuk orang yang banyak bershalawat padamu; lantas berapa banyak shalawatku untuk baginda?” Beliau Saw menjawab, “Terserah engkau,” Aku berkata, “Seperempat?” Beliau Saw menimpali, “Terserah engkau, andai engkau tambah itu lebih baik bagimu,” Aku berkata, “Aku jadikan seluruh shalawatku untukmu,” beliau Saw menimpali, “Maka keinginanmu dicukupi, dan dosamu diampuni.”
Hadits diatas berbicara seputar menghadiahkan pahala bacaan shalawat untuk Nabi Muhammad Saw, berbeda halnya dengan apa yang dikemukakan oleh Al Mundziri dan ulama lainnya, mereka menafsirkan shalawat dengan makna do’a. Makna zhahir yang diinginkan dari perkataan diatas diperkuat dengan apa yang ada di Al ‘Uhud karya Asy-Sya’rani dari Abul Mawahib Asy-Syadzili, ia berkata: “Aku pernah melihat Nabi Saw, aku berkata pada beliau, ‘Apa makna perkataan Ka’ab bin ‘Ujrah, ‘Berapa banyak shalawatku untuk baginda’?” Beliau Saw menjawab, “Maksudnya engkau menghadiahkan pahala shalawat tersebut untukku dan bukan untuk dirimu.”
Abul Mawahib At-Tunisi pernah mengatakan: Nabi Al Musthafa berkata padaku dalam sebuah berita gembira, “Engkau bisa memberikan syafa’at pada 100.000 manusia,” dengan apa baginda bisa mendapat ini?,” beliau Saw menjawab, “Dengan pemberian shalawatmu untukku.” Perkara ini bukanlah bagian dari adab yang buruk sebagaimana yang diduga oleh sebagian ulama, bahwa sebenarnya maksud memberikan hadiah bacaan shalawat untuk sosok yang memiliki kedudukan tinggi adalah untuk mengagungkan, memuliakan dan menghormati, namun itu bukan berarti bahwa mereka butuh pada apa yang dihadiahkan untuk mereka. Hadiah itu sebenarnya sesuai dengan kadar sosok yang memberikannya, sedangkan amal perbuatan itu lebih bernilai bagi orang yang memberikannya, sebab amal tersebut adalah sebuah upaya untuk memberikan sesuatu dengan memandang sisi kekurangan diri dan ketidakmampuan, memang benar jika kita mengagungkan apa yang kita hadiahkan, maka itu baru dinilai sebagai su’ul adab (adab yang buruk).
